Gunung (1) : Labuhan Merapi


Labuhan Merapi tak sekedar memohon restu arwah leluhur, penguasa Gunung Merapi, agar melindungi dan memberi keselamatan kepada Kraton Yogyakarta. Labuhan  juga menjadi bukti kuatnya ikatan antara masyarakat lereng Merapi dengan alam tempatnya hidup. Ikatan yang dibalut tradisi sejak berabad lalu, yang tak lekang oleh majunya peradaban.

menuju pos 2 merapi/foto: ary hana

Hujan rintik-rintik dan kabut tebal mengiringi langkah kami menuju Gunung Merapi. Hari itu, 1 Ruwah, jarum jam baru menunjukkan pukul 6.30. Namun arus manusia tak putus-putusnya melalui jalan setapak sepanjang jalur pendakian, meninggalkan Dusun Kinahredjo. Tua, muda, lelaki, perempuan, juga anak-anak, baik yang gagah, kuat, hingga yang renta dan terbongkok-bongkok dibantu kayu, merambat pelan, tertatih-tatih menuju pos II, tempat prosesi labuhan alit bakal digelar.

Sementara di belakang masih jelas terlihat bekas-bekas keramaian desa tadi malam. Penjual makanan dadakan yang membuka tendanya di jalan masuk desa. Umbul-umbul janur kuning yang mulai layu, tergelar di pintu masuk pendopo Raden Mas Ngabei Suraksoharjo alias Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. Wajah para punakawan, Gareng, Petruk, Bagong, dan belasan wajah tokoh wayang kulit, teronggok di atas peti beralas kain putih, kelelahan setelah semalaman diobrak-obrak tangan Ki Dalang. Tumpukan daun pisang, sisa-sisa tempe bacem, tahu, dan tulang-tulang ayam seolah menjadi bukti bahwa kenduri tadi malam, yang digelar dalam hamparan tikar, mampu mengenyangkan perut ratusan orang sekampung, bahkan para tamu.

Sejarah labuhan

Labuhan alit Merapi digelar sebagai runtutan labuhan di Pantai Parangkusumo dan bersamaan dengan labuhan di Gunung Lawu dan Dlepih. Acara yang dilakukan di penghujung Bulan Rejeb, sehari setelah ulang tahun penobatan Sultan Hamengku Buwono X ini diwariskan oleh Panembahan Senopati, Raja Mataram yang pertama. Dulu, upacara ini merupakan tanda syukur Senopati dan penghormatannya kepada Ratu Laut Kidul dan Penguasa Merapi atas bantuan mereka mendirikan Kerajaan Mataram. Upacara juga diadakan untuk memperingati jasa rakyat kecil yang membantu Senopati membuka Alas Mentaok, cikal bakal Kerajaan Mataram.

Begitu labuhan Parangkusumo usai, rangkaian acara pembuka labuhan Merapi pun dimulai. Pawai iring-iringan prajurit keraton, ulama, bangsawan, dan pemain gamelan dari pelataran Bebeng menuju rumah juru kunci di Kinahredjo, diikuti dengan  perebutan ubo rampe – hasil kebun penduduk setempat seperti sayur, buah, nasi lengkap dengan lauk dan ayam panggang – dan kesenian jathilan. Pada malam harinya dilakukan kenduri dan pagelaran wayang kulit hingga subuh menjelang.

Pagi itu, sebelum memulai pendakian, saya mengiringi langkah Pak dan Mbok Pudjo menuju rumah Mbah Maridjan. Mereka mengenakan pakaian adat jawa. Pak Pudjo dengan beskap berwarna gelap, blangkon, jarit, dan keris yang terselip di pinggang belakang. Sedang Mbok Pudjo memakai kebaya hijau, jarit, dan rambutnya berkonde. “Saya nanti yang membagi-bagikan berkah, lho!” kata Mbok Pudjo. Tugas membagi-bagikan sekepal nasi plus suwiran ayam yang dibungkus dalam plastik kecil, sudah diembannya sejak puluhan tahun lalu. Berkah dari Ngarso Dalem – julukan Raja Mataram yang berkuasa – inilah yang dinanti-nantikan pengikut labuhan, tanda bahwa labuhan  mereka diterima.

Para sesepuh desa dan abdi dalem keraton, ditandai dengan pakaian tradisional yang dikenakannya, terlebih dulu berkumpul di pendapa rumah Mbah Maridjan guna melakukan upacara pelepasan sebelum mendaki Merapi. Pukul enam tepat mereka baru mendaki. Sementara para peziarah dan simpatisan labuhan seperti saya, sudah berangkat lebih dulu. Agar bisa leluasa istirahat dan tidak keteteran di jalan.

Mendaki Merapi saat labuhan memiliki keasyikan tersendiri. Jarang ditemui  pendaki beratribut lengkap, mengenakan pakaian gunung, sepatu khusus, dan membopong rangsel besar penuh beban. Yang ada hanya manusia-manusia sederhana, yang beralaskan sandal, kadang malah telanjang kaki. Pakaiannya pun seadanya, bahkan dengan adat jawa. Yang perempuan dibalut jarit, kebaya, dan berkonde, yang lelaki dengan beskap warna gelap, jarit, dan blangkon. Rombongan juru kunci dipimpin oleh wakil juru kunci yang membopong peti berbentuk rumah joglo, berisi benda-benda yang akan dilabuhkan. Diikuti si pembawa payung kuning keemasan, untuk memayungi peti dan lakunya Sang Juru Kunci. Lalu.rois si pembaca doa, juru kunci dan anak buahnya, terakhir ibu-ibu yang membawa nasi sebakul besar dan sesajen.

Satu jam menyusuri jalan setapak yang terjal, sampailah saya di sebuah gapura. ‘Sri Manganti’, begitu tulisan jawa yang terbaca di atas gapura, yang menjadi pintu gerbang Kraton Merapi. Banyak orang tergolek, leyeh-leyeh di anak tangga yang menuju pintu gapura. Sebagian duduk bersila, berdoa di sebuah batu besar, sela dhampit, menaburkan bunga dan menyalakan dupa. Rombongan juru kunci pun bersemedi sejenak di Sri Manganti, meminta ijin memasuki Krraton Merapi.

Perjalanan lalu dilanjutkan ke pos II. Tanjakan terjal tak menghalangi mbah- mbah sepuh untuk terus berjalan, meski dengan nafas ngos-ngosan. “Saya selalu datang saat labuhan sejak masih belum menikah. Sekarang cucu saya sudah tujuh,” kata Mbah Pangarti, salah seorang mbah. Semangat mereka begitu luar biasa, merambat seperti semut, dan tak sekalipun mengeluh. “Sudah diniati ikut upacara kok mengeluh,” kata Mbah Kromo sambil tersenyum, memamerkan mulutnya yang ompong. Nenek berumur 91 tahun ini percaya, jika dia bisa mengikuti labuhan hingga selesai, maka keinginannya bakal terkabul. Namun ia enggan mengatakan apa keinginannya itu.

Menghormati alam

Ketika sampai di Pos II, ratusan manusia telah memenuhi tempat itu. Mereka duduk bersila di atas tikar, bahkan sampai meluber di luar batas pagar. Di depan pos ada monumen rudal bercat merah, karena itu di sebut pos rudal. Di belakangnya, tanah lapang yang cukup luasm tempat upacara digelar. Dulu, labuhan selalu dilaksanakan di Kendit, daerah bebatuan yang menjadi batas vegetasi dan pasir Merapi. Tingginya hanya beberapa puluh meter dari puncak  Tapi butuh waktu lama untuk mencapainya. Sejak Merapi meletus tahun 1993, Labuhan pun dipindah di pos II yang lebih aman dan luas.

iringan penari di bebeng/foto: ary hana

Rombongan juru kunci segera mengambil tempat di depan. Mbah Maridjan mulai mengambil barang-barang yang dilabuhkan dari peti, seiring dengan penyebutan masing-masing benda oleh Mbok Pudjo. Ada beberapa kain, seperti sinjang cangkring yang dipercaya dapat mengusir hawa jahat, semekan bangun tulak – kain biru yang di tengahnya berwarna putih – yang dipercaya dapat menolak bahaya, dan aneka kain lain dengan khasiat yang berbeda. Juga ada sebundel ses wangen (rokok berbau harum), amplop berisi uang, meratus atau kemenyan, dan apem mustika. Setiap barang dan sesajen yang akan dilabuhkan memiliki makna khusus, yang tujuannya untuk memberi perlindungan kepada keraton.

Setelah meratus dibakar dan asapnya memenuhi udara, Mbah Maridjan mulai menyerahkan barang-barang sesaji sambil membaca doa. Barang-barang itu dilabuh, yang bermakna mensucikan manusia kembali dari berbagai dosa dan kesalahannya di masa lalu, membuatnya bersih dan siap memulai hidup baru yang lurus dan baik. Lalu rois membaca doa, yang diamini oleh seluruh pengikut labuhan. Saat itu langit yang semula mendung menjadi semakin gelap. Kabut ada di mana-mana, bahkan di depan mata. “Bisa jadi saat ini semua lelembut Merapi turun ke sini,” kata Jondil, teman saya yang biasa menjadi pemandu wisata sambil bergurau.

Doa ini tak sekedar berisi rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada  Yang Maha Kuasa, atau penghormatan kepada leluhur. Tapi juga penghormatan kepada alam, Gunung Merapi yang telah menjadi sumber penghidupan mereka. Ketika krisis ekonomi mulai menyerang negeri ini, sebagian penduduk Merapi menjadi penambang pasir di sepanjang aliran Kali Bebeng, Kali Woro, atau kali-kali lainnya. Dan, pasir Merapi seolah tak habis-habisnya meski terus ditambang.

Mereka bersyukur karena Merapi yang sering batuk-batuk dan beberapa kali meletus itu tak membinasahkan mereka. Tapi justru memberi berkah karena pasirnya semakin banyak, bongkahan batu kalinya pun seolah tak ada habis-habisnya. Hutan-hutan merapi tetap alami, tanahnya yang subur lebat oleh aneka sayur dan rumput yang menjadi pakan ternak penduduk.

Bagi mereka, labuhan juga berarti kembali mendengar alam, menghayati kehidupan yang diberikan alam kepada mereka. Termasuk waspada membaca tanda-tanda alam, terutama di saat akan ada letusan. “Kami percaya Gunung Merapi tak akan mencelakakan kami. Anda gung akan meletus, pasti akan memberi tanda-tanda terlebih dulu,” tutur Mbah Maridjan suatu waktu.

Begitu doa usai dibacakan, cuaca berangsur terang. Para peserta pun berebut berkah nasi sekepal plus kembang kanthil. Rombongan juru kunci lalu turun ke desa. Peti tak lagi dipayungi. Benda-benda di dalamnya tak lagi dianggap sakral, dan bisa dimiliki oleh abdi Merapi. Sementara Mbah Maridjan mengutus orang untuk mengambil kembang gondopuro, suket selonjono, dan belerang di pucak Merapi, untuk diserahkan kepada  keraton sebagai bukti bahwa labuhan telah dilaksanakan. Konon ketiga barang itu merupakan bahan untuk membuat jamu. Suket selonjono akan membuat orang yang memakainya terus dicintai orang lain. Kembang gondopuro digunakan sebagai penghangat tubuh. Dan belerang, siapa pun tahu khasiatnya. Tiba-tiba saya tersadar betapa kayanya alam Merapi, dan betapa lebih kaya lagi penduduk di sekelilingnya yang menyadari kekayaan ini.

About these ads

9 thoughts on “Gunung (1) : Labuhan Merapi

  1. fantastic. Enak dibaca dan harus. I love it, full culture n tourist info. Suggestion, pls add info how 2 go there, calender of the year (masehi, don javaness). Congratulation, serasa baca tulisan Norman Edwin Alm. Tks.

  2. Asswrwb kami mhn pihak Kesultanan Ngayogyokarto Hadiningrat atau Pemprov. DIY harus menghilangkan dan meniadakan acara labuhan di Gunung merapi, Gunung Lawu(Surakarta) maupun di Pantai Parangkusumo karena ritual2 tsb bukannya mengundang keselamatan tetapi Alloh SWT akan mendatangkan bala maupun bencana kepada kite semua yang melakukan ritual-ritual tersebut, matur nuwun

  3. Pingback: Labuhan Merapi Paska Erupsi | Othervisions

  4. Pingback: Kinahrejo, Bernarasi Dalam Diam |

  5. Pingback: Labuhan Merapi Pascaerupsi | Othervisions

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s