Di Balik Sarung Samarinda


Lahir dari tangan penenun Bugis, sarung samarinda berkembang karena berhasil memadukan motif bugis dengan dayak asli. Pangsa pasarnya pun meluas. Tak hanya sekitar kota Samarinda atau Indonesia, namun meluas ke mancanegara. Sayangnya, kini sulit mendapatkan sarung yang asli akibat maraknya pemalsuan.

Siapa yang tak kenal sarung samarinda? Ketika berjalan-jalan ke Kebun Sayur –pasar cenderamata di Balikpapan- kain satu ini banyak diperjualbelikan. Motifnya yang khas, coraknya yang menyala, sungguh menarik minat wisatawan. Apalagi harganya beragam. Dari yang  Rp 15.000 hingga Rp 150.000. Sekilas sulit membedakan yang asli dari yang palsu, yang murah dari yang mahal, karena bahan dan teksturnya mirip.

samarindabox.com)Di sebuah toko busana muslim Jalan Malioboro, sarung ini pun tersedia. Harganya cuma Rp 17.000. Halus, licin, dengan cap ‘sarung asli samarinda’ terpampang di bawahnya. Namanya yang melambung, membuat kerajinan ini diperdagangkan dimana-mana.

Kampung Penenun

Sejarah sarung ini bermula dari Kampung Pamanah di Gang Pertenunan, Samarinda Sebrang, tempat para perantau bugis tinggal. Jauh dari tanah leluhur, tak membuat perempuan bugis meninggalkan tradisi. Ketika menunggu suami pulang bekerja, sembari mengasuh anak, mereka menenun sarung. Untuk dipakai sendiri, awalnya. Namun sarung bermotif kota-kotak menyala ini rupanya menarik minat orang untuk membeli. Karena masih tinggal di kota yang sama, meski terpisah oleh Sungai Mahakam, maka sarungnya pun disebut sarung samarinda.

Kini, sudah ada belasan kampung penenun, berada di gang-gang yang berdekatan.  Namanya pun beragam. Ada Kampung Wajo, Senglang, Sidrap, sesuai nama kampung asal mereka di Sulawesi. Sementara di sepanjang jalan raya Samarinda Sebrang, bermunculan galeri, toko, dan koperasi yang menjajakan hasil kerajinan satu ini.

Kala menyusuri gang-gang pertenunan, nampak mesin pintal dan tenun menghiasi halaman depan rumah penduduk. Sementara di samping dan emperan rumah, dijemur  sarung yang masih basah oleh kanji. “Biar awet dan nampak baru,” kata Juhra, salah seorang penenun.

Juhra adalah satu dari puluhan penenun tradisional yang memilih bekerja sendiri, tanpa terikat toko atau galeri. Dia menenun 5-6 jam sehari, antara pukul 8-11 pagi, dan pukul 14-17 sore. Juhra mampu menyelesaikan selembar sarung dalam waktu sebulan. “Saya menenun kalau sempat. Berbeda dengan yang bekerja untuk galeri atau toko,” sambungnya. Sarung karyanya lalu dititipkan ke koperasi, dijual seharga Rp 125-150 ribu per lembar.

Banyak penenun yang memilih mengikatkan diri dengan toko atau galeri tertentu agar memperoleh penghasilan tetap. Seperti Anita, yang bekerja di Galeri Berdikari. Dalam sebulan dia mampu menyelesaikan 2-3 sarung, bahkan lebih. Biasanya sarung buatannya sudah ditentukan motifnya, sesuai keinginan pemilik galeri.  Upah yang diterimanya antara Rp 200-300 ribu per bulan, sesuai sarung yang dihasilkannya.

Memadukan Motif

Tak semua pengrajin sarung tenun dapat mereguk kehidupan yang layak. Persaingan di antara penenun begitu ketat, sehingga hanya penenun bermodal besar dan kreatif saja yang bisa menangguk keuntungan yang lumayan. Seperti pengrajin sarung tenun samarinda yang tergabung dalam kelompok Berdikari pimpinan Syarifah Naisyarah Ariyani. Menurut Naisya, kelompoknya maju pesat karena mampu mengembangkan motif tradisional yang ada. “Saya tidak puas hanya membuat sarung dengan motif yang sudah ada. Saya lalu menggabungkan 2-3 motif dalam satu sarung,” aku perempuan yang menghimpun 33 penenun ini.

Naisya juga mengganti warna dalam sarung karyanya, serta membatasi ciptaannya antara 2-3 sarung bermotif sama. Hasilnya sungguh luar biasa. Sarungnya banyak dicari dan dipesan, bahkan sampai ke mancanegara. Negara seperti Brunai, Malaysia, Arab Saudi menjadi pelanggannya yang setia. Apalagi setelah kelompoknya digandeng PT Pupuk Kaltim sebagai mitra. Berkat bantuan perusahaan ini, Naisya bisa mengikuti kursus dan pameran ke luar negeri. Penghargaan best execitive awards 2003-2004 dari asean international networking business program pun diraihnya. Apa rahasianya?

Motif tradisional sarung samarinda adalah kotak-kotak. Ada kotak-kotak merah yang disebut motif hatta, ada kotak-kotak dengan lubang yang besar dan disebut 10 bolong. Ciri yang lain adalah adanya motif gunungan di bagian pinggir sarung. Di tangan Naisya, motif ini dicampur, diubah warnanya, dan digabung dengan motif dayak. Sehingga ada motif kotak-kotak besar yang di tengahnya berisi motif ukir dayak. Bahkan, ada sarung yang semata-mata membuat pola motif dayak besar. Keluar dari pakem, memang, namun usahanya berhasil.

Sayang, tak banyak yang mengikuti jejak Naisya. Para penenun tradisional lebih suka mempertahankan motif yang sudah ada, sesuai pakem. Sehingga, tak banyak kemajuan ekonomi yang mereka capai. Kehidupan mereka pun pas-pasan.

Berdasarkan pemakainya, sarung dibedakan atas sarung laki-laki dan perempuan. “Sarung lelaki biasanya memakai selendang, motifnya polos, kecil, dan tak ada bordirannya,” jelas Naisya. Sementara motif perempuan coraknya lebih berani, motifnya lebih besar dan menyala. Bordirannya pun banyak. Harga sepasang sarung bisa mencapai Rp 750.000, dengan sarung lelaki lebih murah ketimbang sarung perempuan. “Sarung lelaki bisa ditenun 3-5 hari selesai, sementara sarung perempuan butuh 2-4 minggu,” alasan Nasya.

Sering Dipalsu

Mengembangkan motif yang berbeda dan terbatas, selain berkesan eksklusif, juga merupakan cara Naisya untuk menghindari pemalsuan. Tenun satu ini memang kerap dipalsu. Pemalsu umumnya adalah pabrik tekstil di Surabaya. Tak tanggung-tanggung, para pemalsu menempelkan cap ‘sarung samarinda asli’ pada produknya dan menjualnya dengan harga miring.  “Cara ini jelas mematikan pengrajin sarung tenun yang asli,” tegas Naisya. Menurutnya, banyak penenun yang gulung tikar karena kalah bersaing harga dengan penjual sarung tenun aspal tadi.

Lantas, bagaimana membedakan sarung tenun yang asli dari yang palsu? Naisya punya kiat tertentu.  “Kalau itu sarung tenun asli, tak hanya mencantumkan cap ‘sarung tenun asli samarinda’, tapi juga alamat pembuatnya,” tambahnya. Kalau yang palsu, mana berani melakukan hal itu. Bisa-bisa dituntut oleh pembuat aslinya.

Ciri yang lain, sarung tenun asli selalu dijahit tengahnya, sebagai sambungan. Pasalnya, lebar mesin tenun terbatas. Jadi dua tenunan harus disambung untuk menghasilkan selembar sarung. Sayangnya, cara ini pun mulai ditiru pemalsu, yang sengaja menjahit sambungan agar mirip aslinya. Karena itu, Naisya menciptakan sarung dengan tiga lapis warna sehingga susah dipalsu sarung ‘pabrik’ ini. Sarung aspal rupanya tak bisa meniru beberapa motif khusus yang hanya bisa dihasilkan mesin tenun.

Tapi, tetaplah sulit bagi mata awam untuk membedakan yang asli dari yang palsu. Maka, kalau benar-benar ingin mendapatkan sarung tenun samarinda yang asli, sebaiknya  datang langsung ke Samarinda Sebrang. Selain bisa memilih motif sesuai keinginan, kita juga bisa menyusuri gang-gang pertenunan sambil mendengarkan bunyi “jeg.. jeg.. jeg”,   mesin tenun yang menjadi irama khas setiap rumah. Belum lagi, belajar langsung dari tangan cekatan ibu-ibu yang menghitung dan menggilas benang, lalu menenunnya di mesin tenun sederhana. Dengan begitu, kita bisa melestarikan budaya satu ini. Syukur-syukur bisa mengurangi pemalsuan. (pernah dimuat di majalah familia, april 2004)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s