Melongok Sisi Positif Sarkem, Jogjakarta


Reputasi Sarkem sebagai tempat esek-esek memang sudah melegenda. Tapi menginap di sana, nyaman juga!

Setiap kali ke Jogja dan tak menumpang di rumah teman, saya selalu menginap di Sarkem. Iya, kawasan Pasar Kembang samping Stasiun Kereta Api Tugu itu, kawasan yang dikenal sebagai lokalisasi di kota gudeg !. Kenapa pilih Sarkem? Tak ada tempat lainkah? Mau jual dirikah? Amankah di situ? Begitu selalu pertanyaan yang dilontarkan teman-teman saya dengan wajah takjub ketika tahu saya menginap di losmen sekitar Sarkem.

tulus wichaksono

jalan itu/foto: t.wichaksono

Biasanya saya hanya tertawa sambil berlalu. Yang jelas bukan karena suka jajan maka saya menginap di Sarkem. Sayakan perempuan. Bukan pula mau menjajakan diri. Saya sudah kisut, bertampang preman, dan takut kena aids. Yah, tak kenal maka tak sayang. Karena saya kenal Sarkem, maka saya sayang Sarkem, dan mau menginap di Sarkem. Hehe..

Reputasi Sarkem sebagai tempat esek-esek memang sudah melegenda. Di masa kolonial, Sarkem tempat yang nyaman untuk melepaskan syahwat. Bahkan di sinilah para selir dan gundik disembunyikan oleh raja-raja dan bangsawan Jawa tempo dulu. Banyaknya media, baik cetak maupun elektronik, yang memberitakan betapa seronoknya Sarkem dengan para ciblek, penjaja seksnya membuat pamor merah Sarkem semakin menyala. Jadi, sekeras apapun usaha pemkot Jogja kini untuk mengangkat Sarkem sebagai kawasan wisata yang menarik, selalu gagal total. Kecuali di mata turis asing mungkin. Kok bisa?

Baiklah saya ceritakan pengalaman saya. Dulu, ketika tinggal di Jogja, saya suka keluyuran di Sarkem. Jalan ke sana ke mari, keluar masuk gang-gang Sosrowijayan, untuk menemui kawan-kawan anak jalanan maupun seniman yang nangkring di situ. Iya, beberapa kawan seniman membuka konter seni mereka di depan rumah penduduk yang kamarnya disewakan buat bule-bule. Kawan saya menjual lukisan batik, kartu pos, dan suvenir berupa selendang batik dan wayang kulit. Ada juga yang berprofesi sebagai tukang tindik dan tato.

Saya juga suka nongkrong di Rama Bookstore, kios kecil yang menjual buku-buku asing dengan harga murah di gang pertama. Di sini saya dapatkan empat seri novel Stephen King dalam bahasa aslinya hanya Rp 100.000. Juga puisi Pablo Neruda maupun novel Milan Kundera masih dalam bahasa Spanyol dan Prancis. Kalau tidak punya uang, kita bisa barter novel yang sudah kita baca dengan novel yang ada. Jadi suasananya mirip kios-kios buku di Kuta atau Ubud. Bisa berjam-jam saya duduk di situ, apalagi kalo ketemu bule yang bisa diajak ngobrol sambil minum wedang ronde.

Setelah tinggal di luar kota, saya usahakan menginap di Sarkem kalau sedang ke Jogja. Saya pilih losmen-losmen yang masuk gang, bukan yang di sepanjang Jalan Sarkem. Selain tarifnya murah, penduduk sekitarnya pun ramah-ramah. Misalnya di gang pertama Jalan Sarkem, ada losmen 35, maksudnya semalam Rp 35.000. Di gang kedua ada losmen ‘Setia Kawan’, tempatnya menghadap masjid. Sebetulnya lebih cocok disebut hotel melati, karena kamarnya besar, perabotnya lengkap, ada kamar mandi dalam, dan tarifnya Rp 60.000 per malam. Nyaman sekali.

Selain murah meriah losmennya, Sarkem juga strategis. Mau ke Malioboro dekat, mau ke Museum, Keraton, Ngasem, Taman Sari atau wisata tengah kota Jogja, cukup berjalan kaki. Bus kota dan trans Jogja dari segala arah pun ada di dekat Malioboro. Mau pulang ke kota asal naik kereta pagi pun tinggal nyebrang ke Stasiun Tugu. Itu nikmatnya.

Ada lagi. Di Sarkem kita tak takut kelaparan. Penjaja makanan selalu ada 24 jam. Kalau tengah malam atau subuh buta perut kita keroncongan, ada warung hik yang menjual nasi kucing atau gudeg di sepanjang gang. Pagi-pagi selalu ada penjual soto yang ngetem di Jalan Malioboro. Dan, di gang masuk yang pertama, ada warung super enak. Supnya enak, tahu dan tempe bacemnya bikin ngiler. Harganya pun murah. Itu warung nasi idola saya, warungnya Mbok Sumini.

t.wichaksono
losmen he eh / foto :t.wichaksono

Pernah juga saya menginap di losmen esek-esek saat turun Gunung Lawu dengan teman. Waktu itu sudah kemalaman. Kami cuma butuh tidur beberapa jam, lalu pagi-pagi langsung pulang ke Jakarta dengan kereta api. Saya menemukan losmen setelah blusukan di gang pertama. Tuan rumahnya tidak cerewet. Setelah melihat ktp saya, dan menerima pembayaran Rp 30.000, kami dibawa ke bangunan samping rumah, di tingkat kedua. Ada empat kamar berjajar di situ.

Ketika masuk kamar, ranjangnya besar. Cukup untuk tidur bertiga. Ada meja kayu sederhana, satu kursi, sebuah tempat sampah dari plastik yang pudar warnanya. Tirai jendelanya berwarna oranye dan bolong-bolong, seperti bekas sundutan rokok. Ada yang lubangnya cukup besar sehingga mudah bagi orang luar melongok ke dalam. Terpaksa kami kaitkan dengan peniti.

Yang luar biasa kamar mandinya. Walau kamar mandi dalam, sempit sekali rasanya. Ukuran setengah kali setengah meter persegi. Isinya berupa lobang wc dengan kran, serta ember dan gayung merah. Bahkan untuk mandi pun tak nyaman. Tapi cukuplah untuk sekedar buang hajat.

Ketika sedang mandi, saya dikejurkan oleh jeritan teman. “Ada apa?” tanya saya tergopoh-gopoh keluar dari kamar mandi. Dia menunjukkan semacam noda di sprei yang tadi ditidurinya. Sudah kering sih, tapi nampak belum lama. “Bau nggak?” tanya saya. Dua kawan saya malah nyengir. Terpaksa saya yang membauinya. Amis-amis gimana, seperti noda itu tuh.. Akhirnya kami keluarkan kain pantai untuk menutup sprei dan bantal. Iseng-iseng saya toleh bantal yang kami tiduri, jangan-jangan ada noda lipstik atau apa gitu.

Namanya juga losmen esek-esek dan murah, kejadian seperti di atas lumrah saja. Pemilik losmen tak selalu mengganti sprei atau sarung bantal setiap ada tamu. Apalagi kalau tamunya cuma jam-jaman seperti kami atau mereka. Rugi dong! Setelah itu, setiap kali saya menginap di losmen murah yang mungkin saja dijadikan lokasi esek-esek, saya selalu siap kain pantai sebagai alas sprei dan bedak bayi yang ditaburkan di bantal. Biar wangi.

t.wichaksono
mari mase…/ foto:t.wichaksono

Pernah juga ketika sedang menginap di Sarkem, tengah malam saya dibangunkan teriakan ‘Aduh..!’ keras sekali. Suara perempuan. Di samping kamar. Entah gaya apa yang dilakukan pasangan itu sampai heboh begitu. Paginya saya intip mereka, tak ada luka sedikitpun di wajahnya. Di tempat lain, mungkin.

Kalau nggak ingin kesasar di losmen esek-esek ya lihat lokasinya dulu. Kumuh nggak, bersih nggak. Bule biasanya pilih losmen yang murah dan bersih. Sedang losmen yang buat esek-esek nampak dari banyaknya perempuan mejeng di depan, sambil merokok. Jadi, ikuti saja gerak bule.

Walau pernah mengalami dua kejadian lucu di atas, saya tak pernah kapok menginap di Sarkem. Menurut saya penjaja seks ada dimana-mana. Entah di Sarkem, losmen murah, atau hotel berbintang sekali pun. Selama masih memberi manfaat lebih, saya akan terus menginap di Sarkem.

About these ads

15 thoughts on “Melongok Sisi Positif Sarkem, Jogjakarta

  1. Hahaha, aku sampe sekarang belum pernah masuk Sarkem mbak, penasaran sih. Gara-gara dulu baca tulisan ini, aku jadi selalu bawa kain pantai saat kemana-mana dan terbukti sangat berguna. Saat di Semarang sempat salah nginep di kawasan merah & penginapan esek-esek yg banyak noda dimana-mana hahahaha, jd ingat tulisan ini. Untung bawa sarung pantai :)

  2. Ah toko buku itu, aku pernah kesana dan ngiler habis tapi pulang dengan hati patah sebab nggak punya uang untuk beli buku-bukunya. Makasih telah sharing tulisan ini sebab membuatku teringat masa-masa itu, miskin habis.

  3. hahaha, saya juga kalo lagi getaway ke jogja nginepnya pasti di sarkem. di mana lagi bisa dapet hotel murah semalem cuma lima puluh ribu tapi kamarnya bersih :))

    di luar usaha lokalisasinya, nginep di sarkem itu oke banget kok buat para backpacker macem saya hahaha

    • ada lagi losmen murah di samping mall, ada gang kecil. nah hotel-hotel kecil di situ sekitar 40-50an dan nyaman, tanpa esek2 :P

  4. Weh weh weh…seru juga pengalamanmu Ry… Uji nyali juga nginep di situ kalo salah masuk ya?
    ‘Aduh!’….hahaha, ngakak aku bayanginnya. Kok ya pake acara ambus2 seprei segala. Ya gak mungkin bekas es krim toh, tumpah di situ… ;p

  5. Wah, lucu ceritanya, jadi pengen coba coba nih nanti ke jogja nginep di sarkem, dulu pernah sempat ditawari losmen murah sama bapak-bapak di sana pas lewat daerah sarkem, tapi malah ngibrit takut, pikirannya macem-macem sih -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s