Kapal Ulin Yang Dilupakan


Jauh sebelum mengenal kapal besi, nelayan bugis, mandar, dan bajo yang menghuni Teluk Balikpapan telah menggunakan kapal kayu. Mereka menyeberangi lautan, mencari ikan, lalu terdampar di pulau-pulau jauh hanya dengan kapal ini. Kini kapal kayu itu masih ada, masih sekuat dan sekokoh dulu, karena terbuat  bukan dari sembarang kayu. Kapal itu dibuat dari kayu ulin, halaban, dan bungur yang mulai langka di bumi Borneo.

Kampung pembuat kapal

Siang itu saya mengunjungi sebuah kampung nelayan. Hanya satu jam menyeberang laut dari Pelabuhan Somber, Balikpapan. Kampung itu tepat di tepi Pantai Panajam, menjorok ke mulut teluk. Rumah-rumah panggung meringsek ke dalam, sementara di depannya berjajar belasan kapal kayu yang belum jadi, berlindung di balik atap dari serpihan kayu ulin.

Untitled-5_1_1_1

foto : dok. jack

Orang-orang Panajam menjuluki kampung itu dengan “kampung pembuat kapal”, mungkin karena  mayoritas warganya adalah perajin kapal. Mereka ahli membuat aneka kapal penangkap ikan dari kayu, bahkan juga kapal pesanan berdasarkan gambar. Menurut Wak Lana’, perajin tua yang saya temui saat itu, keahlian ini mereka warisi secara turun-temurun, dari generasi ke generasi.

“Kami semua masih keluarga besar, diikat oleh tali pernikahan,” katanya.  Wak Lana’ merupakan generasi tertua perajin kapal yang tersisa. Meski umurnya sudah lebih dari 60 tahun, dia masih sigap mengasapi kayu untuk membuat lambung kapal.

Mencipta kapal dari kayu ulin

Butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan sebuah kapal, apalagi kalau bahannya sulit didapat.  “Kalau seluruh kayunya tersedia, 2-3 bulan kapal selesai. Kalau tidak, mesti tunggu sampai 5 bulan,” kata Rachmad Lubis, salah seorang pembuat kapal.

Kayu bundar sebagai bahan baku kapal didatangkan dari Petung. Kalau kayu kiriman Petung terlambat, perajin kapal tak bisa berbuat apa-apa. Petung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Panajam Paser Utara, Kalimantan Timur, yang hutannya masih lebat. Kayu bungur, meranti, ulin, dan halaban banyak terdapat di sana. Kayu-kayu ini dijual murah. Satu meter kubik ulin misalnya, dihargai Rp 1.000.000,00 sedangkan bungur dan meranti lebih murah lagi.

Setelah kayu datang, Rachmad yang biasa dibantu Wak Lana’ akan menjemur kayu-kayu ini. Kalau cuaca panas, kayu bisa kering dalam sebulan. Rachmad kemudian membuat daging (dinding) kapal, sementara Wak Lana’ mengasapi kayu (mengulas) dengan asap hasil pembakaran sisa-sisa potongan kayu. “Kayu harus dipulas agar mudah dibentuk,” kata Wak Lana’.

Berbeda dengan cara umumnya, perajin Panajam membuat kapal mulai dari dagingnya (dinding) dahulu, baru tulangnya (rangka). Menurut mereka, kapal yang dibuat dengan cara seperti ini jauh lebih kuat ketimbang membuat tulang dahulu baru daging kapal. “Dengan cara seperti ini, bila ditabrak, kapal kita hanya retak. Tetapi, kalau yang dibuat tulangnya dulu, kalau tertabrak, tuas atau paku pengikatnya akan lepas dan kapalnya hancur,” jelas Rachmad yang kemudian dibenarkan teman-temannya sesama perajin  kapal.

Papan penyusun kapal berasal dari kayu bungur. Palka (ruang muatan) , lunas (fuselage), dan tuas terbuat dari kayu ulin, sedang gading (anjungan) terbuat dari kayu halaban. Untuk melekatkan papan pembentuk tubuh kapal, digunakan kayu baru yang bentuknya mirip kulit pohon kayu putih. Kayu ini menyerap air, sehingga bersifat seperti perekat. Setelah dilem, kayu pun dipaku dengan tuas ulin, bukan paku besi. “Agar tidak betagar atau berkarat,” alasan Rachmad.

Ketika kapal sudah terbentuk, badannya lalu dihaluskan dan dicat anti poli agar kuat dan tahan lama.  Sebuah kapal bisa bertahan 15-20 tahun, bergantung dari perawatannya. “kapal harus dicat anti poli tiap 3 bulan, dibersihkan, dan diperiksa minyaknya, baru tahan lama,” kata Barudi, yang juga pengrajin.

Untitled-13_1_2_1

foto: dok. jack

Kurang modal

Untuk sebuah kapal dengan panjang 15 meter dan berukuran 8 papan, Barudi mematok harga  di atas Rp 20.000.000,00. Jika kapal dilengkapi dek dan kamar, harganya Rp 2.000.000,00-Rp 3.000.000,00 lebih mahal. Kapal sepanjang 12 meter dan berukuran 9 papan, harganya sekitar Rp 10.000.000,00-Rp 12.000.000,00 tergantung kelengkapan kapal dan mesin yang dipakai. Kapal nelayan kecil seperti yang banyak terdapat di Pantai Manggar harganya hanya Rp 4.000.000,00.

Meskipun sebuah kapal bisa laku jutaan rupiah, kehidupan para perajin jauh dari kemewahan. Mereka tinggal di rumah panggung kayu, khas perkampungan Bugis, Bajo dan Mandar. Uang jutaan rupiah yang diterima, mereka akui, lebih banyak ditabung untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci nanti. Lagipula, kebutuhan sehari-hari mereka tidaklah banyak, hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, biaya sekolah anak-anak, dan membeli sedikit perhiasan untuk istri. “Kami terima gaji 3 bulan sekali, jadi mesti berhemat,” kata Barudi.

Meskipun bentuk kapal buatan Panajan tak seindah dan sehalus kapal-kapal nelayan buatan Camplong, Madura, kapal Penajam dikenal kuat, murah, dan tahan banting. Peminat kapal mereka pun banyak. Rachmad dan Barudi kerap menerima pesanan kapal dari daerah lain, seperti Makassar, Pantai Selatan Jawa, dan Australia. Selain itu, mereka juga punya pelanggan tetap, misalnya nelayan dari Pantai Manggar dan Kampung Baru, Balikpapan, Samarinda, dan pantai timur Kalimantan.

Meskipun sudah ada sejak dulu, industri kapal rakyat tak pernah tumbuh menjadi lebih besar. Kondisinya justru kembang-kempis karena terbatasnya modal. Barudi terpaksa merogoh koceknya tatkala harus menyelesaikan sebuah kapal pesanan. Pelanggannya hanya membayar panjar pesanan setengah dari harga yang ia tetapkan, dan akan melunasinya seelah kapal selesai dibuat. “Kami susah mendapatkan pinjaman dari bank,” keluh Barudi.

Dituduh merusak hutan

Siang itu, ketika calon pembeli memesan kapal dengan palka berlapis serat gelas (fiberglass), Rachmad tampak kebingungan. “Kami tak bisa buat kapal dengan palka seperti itu, bahkan tak tahu caranya,” tolaknya halus. Bersama rekan-rekannya sesama perajin, dia berharap bisa mendapat bantuan modal serta pengetahuan. Dengan begitu, mereka bisa meningkatkan daya jual kapalnya. Tidak seperti sekarang, mereka bisa berbulan-bulan tidak mendapatkan pesanan. Kalau hal ini terjadi, mereka terpaksa  lebih banyak melaut.

Suatu hari pernah perajin kapal dituduh telah merusak hutan karena mereka telah menggunakan aneka kayu dari hutan. Mereka menolak keras tuduhan itu. “Berapa sih, kayu yang kami pakai? Tak ada artinya jika dibanding dengan yang dikelola pengusaha HPH,” tandas Rachmad.

Yah, apalah artinya beberapa gelondong kayu yang mereka gunakan jika dibanding dengan ribuan hektar hutan yang dibabat pemilik HPH. Justru, para pembuat kapal ini sadar, berkurangnya hutan Kalimantan Timur akan mengancam industri yang mereka kelola. Jika hal itu terjadi, kisah kehebatan kapal kayu bertuas ulin Panajam pun tinggal kenangan. (pernah dimuat di majalah familia)

About these ads

5 thoughts on “Kapal Ulin Yang Dilupakan

    • ada pun ga banyak gunanya, paling sudah ganti. ini laporan perjalanan yang dilakukan tahun 2003, saat HP bukan barang biasa seperti sekarang :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s