Kisah Pulau di Uang Seribu


Kalau kita buka lembaran uang seribu kertas, ada gambar Kapitan Pattimura di depan, pahlawan nasional asal Ambon. Di belakangnya, tergambar dua gunung. Tepatnya sih dua pulau bergunung. Yang di bagian depan Pulau Maitara, belakangnya Pulau Tidore.

Gambar ini, kalau saya lacak, diambil dari sebuah tanjung, tak jauh dari Restoran Florida di Pulau Ternate. Pas banget sih tempatnya. Sayang beberapa kali pengambilan gambar, gunung di Pulau Tidore kerap berawan. Jadinya tak sesempurna dalam gambar uang kertas seribuan.

Pagi tadi, 13 Juni 2010, kembali saya mengunjungi Tidore. Rencananya mau ron gunung lewat utara. Begitu mendarat di dermaga Rum, saya tertarik melihat Pulau Maitara yang cerah dan hijau. Maitara selama ini menjadi target turis asing yang singgah sejenak di Ternate. Selain pantainya bersih, berpasir putih, keindahan karangnya terjaga baik. Banyak turis yang memanfaatkannya untuk diving dan snorkeling.

Iseng saya tanya bagaimana menuju Maitara. Lelaki di depan saya langsung menjawab, “Nah.. itu dia perahunya. Ci langsung naik saja, walau ada satu dua penumpang, perahu langsung jalan,” katanya. Saya pun langsung naik ke atap perahu motor kayu itu.

Sang kemudi, Ardi Fotunya, menawari saya keliling pulau Maitara. Kebetulan saat itu tak ada penumpang lainnya. Okelah, pikir saya, kapan lagi. Walau harus merogoh kocek agak dalam, saya terima ajakannya. Saya yakin seyakin-yakinnya, tak banyak orang Maluku Utara, baik Ternate atau Tidore, yang pernah mengelilingi Maitara.

Perlahan Ardi membawa perahunya mengelilingi pulau berlawanan arah dengan jarum jam. Sambil motret, saya banyak bertanya. Ardi pun mengisahkan pulau kelahirannya dengan bangga, khas orang Maitara.

Bagi orang Ternate, Maitara merupakan pulau penghasil kerajinan gerabah dapur, seperti cobek dan uleg-uleg. Selain itu, tanah Maitara dipenuhi pohon kelapa, pala, dan cengkeh. Ada juga sih pohon kenari, tapi cuma satu dua pohon. Kenari lebih dikenal di Makian dan Bacan. Kacang kaya lemak ini menjadi pengganti kemiri sebagai bumbu masak, dan bahan campuran aneka kue, selai, minuman, atau roti khas Maluku Utara.

Di masa lalu Maitara dikenal sebagai pulau perantara, baik armada dan pedagang yang hendak ke Kerajaan Ternate atau Tidore akan menyempatkan singgah di pulau ini sebelum yakin diterima oleh sultan di kedua pulau itu. Hanya butuh tiga sampai lima menit menyebrang dari Tidore ke Maitara.

Pulau hijau ini dihuni sekitar 1000 jiwa, perkampungan mereka menghadap ke arah Tidore. Sedang bagian yang menghadap ke Ternate berupa hutan lebat dan kebun saja. “Ada empat dusun dan dua kepala desa di Maitara. Kalau sekolah baru tk sampai SMP,” terang Ardi.

Menurut Ardi, mayoritas penduduk pulaunya bekerja sebagai nelayan. Hanya sebagian kecil yang bertani kelapa atau cengkeh. Sebetulnya, seperti umumnya penduduk pulau-pulau lain, para nelayan ini memiliki kebun kelapa atau cengkeh juga. Mereka tak menghabiskan semua waktunya untuk sebuah pekerjaan, tapi saling mengisi dan melengkapi.

Dibanding tetangganya Ternate dan Tidore, Maitara kurang mendapat prioritas. Jalan beraspal misalnya, hanya menghubungkan kampung di depan Pulau Tidore, tak sampai merambah bagian belakang pulau. Angkot jelas tak ada. Alat transportasi darat hanya ojek, sedang hubungan laut lewat perahu motor atau ketinting ke arah Rum, Tidore. Jika penduduk hendak menuju Ternate misalnya,  harus ke Tidore lebih dulu.

Lebih satu jam Ardi membawa saya berkeliling dengan perahunya. Melalui rumah-rumah sederhana, pemukiman penduduk, masjid, dermaga. Juga lewat tempat wisata snorkeling dan menyelam yang hanya diminati turis mancanegara. Lalu menyusur deretan panjang hutan bakau. Semoga tak ada buayanya, doa saya. Terakhir kami melalui barisan kapal-kapal kayu, sebelum akhirnya menuju Rum kembali.

Saking asyiknya menikmati panorama di sekeliling, tak hirau lagi saya akan sengatan mentari. Kulit saya sudah kelam, terlalu sering terbakar mentari khatulistiwa. Apa boleh buat, demi mengejar keindahan dan memuaskan rasa ingin tahu, saya mesti rela. Apalagi  keindahan kali ini nilainya seratus kali di gambar uang seribu. Mahal memang !

About these ads

2 thoughts on “Kisah Pulau di Uang Seribu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s