Saya kerap kali mem-posting tulisan tentang traveling murah. Bukan cari perhatian. Karena kemampuan ekonomi saya memang pas-pasan. Jadi juga bukan sok gagah-gagahan atau agar masuk ‘guiness book of record’.
Kalau Anda hanya punya uang Rp500.000 lalu ingin jalan-jalan ke Flores, apa harus merampok dulu? Atau ngutang sana-sini? Atau.. mengubur impian Anda dalam-dalam, karena orang miskin tidak berhak traveling keliling Indonesia, apalagi keliling dunia?
Pendapat yang begini ingin saya lawan. Traveling bukan milik orang kaya saja, orang yang cukup uang, orang yang punya penghasilan lumayan dan tetap. Traveling itu milik semua orang, tentu saja dengan cara yang berbeda sesuai kemampuan ekonomi dan pendekatannya masing-masing.
Soal murah meriah ini, kerap saya dihina sesama teman traveler atau teman lain ‘yang kebetulan’ status sosial ekonominya lumayan tinggi. “Kok nggak malu numpang truk ke Flores? Apa nggak takut diperkosa?” Ada lagi yang bilang, “Kamu itu malu-maluin dunia traveling. Nggak modal, maunya gratis melulu.” Lain lagi komentar yang sinis, “Dasar rai gedeg, nggandol sana-sini gak duwe udel.”
Apa tanggapan saya? Mulanya tersinggung. Lalu saya pikir, toh saya jalan nggak ngutang dia, nggak minta-minta sangu dia, dan selama ini hidup saya pun tak membebani dia, jadi kenapa dia mesti repot-repot ngurusi tingkah saya? E-ge-pe banget! Kurang kerjaan kali yang komen!
Sebagai manusia, banyak sekali energi kita yang tersedot untuk mengurusi hal tak berguna seperti di atas. Menebar cemburu, iri, ketidaksukaan akan apa yang dilakukan orang lain. Kita lupa melihat ke dalam diri dan mengukur pencapaian serta kontribusi kita ke masyarakat umum. Bukan sumbangan yang berbalas materi seperti kita bekerja lalu menerima gaji. Tapi sumbangan ke khalayak yang semata-mata dilandasi ketulusan hati dan tak berbalas. Yang begini, kerap kita abaikan. Ketimbang ngurusi tetangga yang miskin dan belum makan hari ini, mending ngegosip atau memamerkan betapa kenyang perut kita setelah lunch di resto ini, atau dinner dengan steak ini. Basi!
Saya pun tak anti buku-buku traveling bertajuk ‘Keliling Anu-tempat dengan Modal Seratus Rupiah.’ Buku-buku semacam itu punya nilai positif, memacu mereka yang ingin traveling dengan dana pas-pasan. Jadi jangan ketus dan sinis dulu. Kalau Anda menganggap buku semacam itu mengada-ada, ya silakan. Tapi jangan lantas menuduh sembarangan. Berprasangka baiklah akan segala sesuatu. Tak usah mengorek-ngorek kekurangan dan kesalahan orang lain. Tapi belajarlah dari kesalahan dan kemustahilan mereka, jika Anda melihat itu.
Saya mulai jalan sekitar belasan tahun lalu, mungkin lebih, paling gencar saat kuliah. Naik gunung pada awalnya. Menjelajah gunung-gunung di Jawa tengah-Jogjakarta. Dari Merapi-Merbabu-Sumbing- Sundoro, Slamet, Lawu, dan lainnya. Dana menjadi alasan saya untuk naik gunung murah meriah. Apalagi saat itu kiriman bulanan orangtua sering telat. Honor jadi guru les kerap saya jadikan uang makan dan plesiran. Karena jika naik gunung beramai-ramai, iurannya kerap lebih banyak, serta bawaan lebih berat, saya pilih naik gunung sendiri. Bekal paling hanya 1-2 kotak sari kacang hijau, mie instan, air satu peples. Kadang saya beli sebungkus roti, kadang tidak. Yang saya bawa di dalam ransel, hanya jas hujan, senter, dan sarung. Saya tak punya sepatu ket waktu itu, jadi mengandalkan sandal jepit.
Bagi pendaki gunung lain di masa itu, agak langka melihat perempuan naik gunung sendirian. Padahal gunung-gunung di Jawa Tengah-DIY relatif cepat dan mudah dijangkau. Berangkat siang ini, besok sore atau malam sudah sampai kos kembali. Kalau toh harus menginap, paling hanya satu malam. Modal jalan sendiri dengan bekal minimal inilah yang kemudian saya kembangkan dalam perjalanan berikutnya, baik menjelajah Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Timor, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, hingga Maluku. Selalu sangu dengan uang mepet dan menggunakan segala kreativitas, termasuk otak, untuk menyelesaikan sebuah perjalanan yang kerap berminggu-minggu hingga bulanan.
Istilah jalan-jalan buat rekreasi, menenangkan pikiran, melihat-lihat keindahan, jarang saya lakukan. Kalau niat jalan, ya jalan. Nikmat yang saya dapatkan justru saat berinteraksi dengan masyarakat setempat, syukur-syukur bisa membantu ini-itu. Mirip mengumpulkan keluarga dan teman di mana-mana. Bahkan paska ke Flores, saya punya truk langganan dari Surabaya tujuan Ende jika mau numpang jalan-jalan. Namanya Kawi Indah. Orang yang bekerja di perusahaan truk itu mirip kawan-kawan dekat, sahabat.
Walau sebagai pejalan saya miskin materi, tapi kaya akan kawan. Inilah yang ingin saya tularkan lewat postingan berwisata murah meriah keliling Indonesia. Ke Bali yang dikenal surga itu ‘konon’ mahal, ternyata bisa diakali dengan cara murah. Apalagi jika mau mendekatkan diri dengan masyarakat lokal. Ke Banda Kepulauan yang konon mahal dan jauh itu pun, bisa dilakukan dengan cara murah. Apa itu salah? Ada lagi kiat ke Flores murah, mendapatkan tenun ikat asli langsung dari tangan pertama. Atau mendapatkan batik dan ramuan madura langsung dari pembuatnya dengan cara murah, dll. Dll. Trik-trik yang begini belum saya tuliskan, karena ‘agak malas’ setelah dituduh mencari gratisan.
Kita, masyarakat yang mengaku modern, pejalan yang high-tech (karena selalu dilengkapi gadget mutakhir dan kerap tak bisa meninggalkan sinyal HP dan internet) kadang tak menyadari. Sebagai manusia, kita semakin tidak manusiawi. Egosentris. Selalu mencari kemudahan. Kurang peduli dengan yang berada di bawah kita secara sosial-ekonomi, sok pintar, dan ‘cemburu’-an melihat apa yang tak mungkin kita lakukan. Jika ingin menciptakan dunia yang seimbang, yang nyaman, dan penuh cinta kasih. Maka, sebaiknya Anda, para pejalan, lebih mau melongok ke dalam diri sendiri, ketimbang meng-kritisi pejalan lain.
Salam Meta,

yang murah belum tentu murahan, bukan? pejalan negeri makin banyak, tapi banyak yang terlalu kaya sehingga pengaruhi budaya lokal, menjadikan mereka seperti peminta-minta?
hehe.. benar. seharusnya kalo mau kasih sesuatu lebih baik dalam bentuk barang atau bantuan mewujud langsung, jangan uang. misalnya lihat bak air kotor ya ajari langsung menjernihkan air pakai kerikil dan ijuk. lihat anak sakit, keluarkan saja obat simpanan kita, atau buka resep tanaman obat. mereka justru sangat menghargai hal itu.
di beberapa kampung di pulau seram n tidore, gara2 ulah kru syuting yang memberi uang kepala desa lumayan besar, sekarang tiap orang yg datang ke sana selalu kena pajak besar juga. parah! mental pengemis kok ditularkan.
Aku udah baca buku mbak Ary yang 30 Hari Keliling Sumatera dan sekarang sedang menyelesaikan membaca Negeri Pala, banyak pelajaran yang aku dapat setelah membacanya. Dan aku jadi tahu, kelebihan dari traveling irit ini bisa lebih banyak interaksi dengan orang lain. Banyak cerita yang didapat dari sana. Terus traveling dan berkarya ya mbak..
terimakasih, semoga bukunya bermanfaat.
saya hanya melihat traveler (di indonesia khususnys) itu bisa jadi penghubung antar suku, antar daerah, jika mau berkomunikasi dg orang lokal. dengan begitu perbedaan2 sosial, pandangan, pertikaian, kesalahpahaman n prasangka yang masih ada bisa diatasi.
justru, yang murah bahkan gratisan itu sebenarnya modalnya gede dan mahal…
tidak semua hubungan pertemanan bisa dibeli dengan uang. itu saja…
hehe.. begitu ya? kaya teman ternyata bermanfaat mang hadi
Stigma di negara ini jalan-jalan identik dengan buang-buang uang dengan jumlah besar…saya bahkan pernah dibilang hedonis gara2 suka traveling. Mereka kadang tidak memahami kalau traveling pun bisa dengan budget yang pas-pasan sesuai dengan kantong saya…saya biasanya cuma tersenyum kalau dibilang suka menghambur-hamburkan duit, tapi kalau punya energi berlebih ya menerangkan jika piknik tak selalu mahal (apalagi kalau gak kalap beli oleh2) heheheh. Perjalanan itu menyegarkan dan mengisi jiwa..belajar melihat, mendengar dan memaknai…*kok malah jadi curhat gini
…salam kenal
yah.. mirip meditasi, meditative journey namanya
salam kenal juga
Hihi, saya sering disindir gara-gara dapet suka dapet traveling gratisan. Mau gimana lagi mahasiswa kere hehe.
Kalimat terakhirmu bener banget. Banyak para traveler suka yang saling suka nyirnyir & mengkritik gaya traveling orang lain tanpa melihat dirinya sendiri..Salam kenal mba Ary
salam kenal juga wira,
mahasiswa kere tapi alat motretnya canggih
Sejak suami masih mahasiswa dulu kami sekeluarga sudah suka jalan-jalan. Bujetnya disesuaikan dengan isi kantong. Sebelum jalan lamaaa bikin riset agar biaya bisa seminim mungkin.
Jaringan pertemanan terbukti banyak sekali manfaatnya. Kami beberapa kali bisa menginap di rumah temannya teman secara gratis, diantar ke tempat2 wisata unik, dll.
Sampai sekarang pun kalau melakukan perjalanan, masih tetep pakai perhitungan njelimet agar bisa menekan biaya. hehe.
Salam kenal. Tulisan2nya sangat bagus.
ira
salam kenal juga,
yang penting kita juga siap ‘menjamu’ teman pejalan yang mampir di kota kita
jadi tali silaturrahmi tetap kuat
mau beli bukunya
digramedia ada enggak ya? penasaran nih
kalau menurut saya traveling itu hak siapa saja sih, kaya miskin, gak punya duit de el el. tapi memang budaya indonesia, terutama jawa sering menganggap kalau traveling itu pasti banyak duit. alhasil sering ditodong oleh2 juga –” selain itu juga sering dimarahin orang tua karena dianggap buang duit mulu. sayangnya dari dulu sampai sekarang saya menganggap kalau traveling itu memberikan manfaat besar buat saya, terutama dapet temen baru dan pengalaman baru
kalau begitu, teruslah berjalan. sometimes taveling is like a call, panggilan untuk menjelajah wilayah2 luar guna menemukan diri sendiri.
soal buku, saya nerbitkan sendiri karena aliran saya tidak disukai penerbit, ‘terlalu satir’ katanya
mbak ary, salam kenal.
tulisan yang sangat bagus sekali.
saya jadi mengenang awal dulu jalan jalan semasa SMP dengan menumpang mobil sayur atau truk.
dengan dana minimal,seseorang memang dituntut lebih kreatif.
namun mbak,seiring dengan rejeki bertambah saya tentu akan memilih membayar lebih mahal sedikit untuk mendapatkan kenyamanan lebih.
namun setidaknya saya pernah merasakan berjalan2 dengan dana minimal, dan bisa menjadi orang yang fleksibel.
anyway, terima kasih tulisannya. saya jadi mengenang masa muda dulu.
salam kenal juga mas,
selamat bernostalgia
saya cari low budget sebab kalau jalan bisa berbulan2, minimal 2 bulan. nggak ngirit2 juga, karena saya boros soal makanan, tak ingin kelaparan selagi jalan.
Sebagai low cost traveller saya setuju sm tulisan mbak ary
salam setuju mas hill-men
inspired banget.
perkenalan dengan traveling aku kadang-kadang suka terlalu sombong melihat gaya-gaya traveling. jadi setelah membaca blog ini saya sadar bahwa traveling milik manusia, bukan orang kaya, bukan orang miskin, tetapi milik hak semua orang yang mempunyai hidup bermakna dan asyik. intinya, gak usah mikirin gayanya kalau masalah budget tergantung keuangannya seperti apa dan tidak bisa dipaksakan semua tergantung kepada diri kita juga mau ikut rombongan, mau sendirian tergantung kita mau menjalankan traveling seperti apa yang penting ilmu dapat, berbagi ke orang lain tentang keindahan alam dunia, yang penting satu tidak gengsi dan terlalu pamer. saya sependapat dengan meta bahwa traveling milik manusia!
hidup traveling!
Sigit Nugroho
keep traveling bro
Hidup low-cost traveler!! Baca tulisan ini jadi semangat nyelesaiin jurnal trip 10 hari ke pedalaman Sumut-Aceh kemarin. Makasih loh, Mbak
sama2
setuju. orang pas-pasan juga bisa jalan-jalan. aku akan keliling Indonesia, moga ntar bisa ketemu ya
tapi aku selesain kontrak dulu sama ortu (tamatin kuliah) heheh
semangat
abis Indonesia, lanjut asia, trus dunia ^o^9
sepertinya menumpang truk akan saya realisasikan dalam perjalanan lombok bulan depan ! ceritannya sungguh semakin memacu diri….
selamat jadi hichhacker bro. numpang truk asyik kok, siap bawa rokok berlebih aja agar bisa ngobrol hehe
asik dah kalo begitu hehehehee