Chesire Home, Rumah Cinta Para Difabel Penang


Seorang anak lelaki keturunan Cina memiringkan wajahnya ke kiri. Tangan kanannya memegang es krim. Sebentar mulutnya menjilat es krim di tangan, sebentar bibirnya berdecak. Namun wajahnya selalu miring ke kiri. Melihatku turun dari motor tua Ang, pandangannya jadi waspada. Aku tersenyum, selebar-lebarnya.

cs2

menonton teve

“Halooo,” sapanya.

“Halooo juga,” kataku mendekat. Ang memarkir motornya. Aku berjalan memasuki aula Chesire Home.

Kuacungkan jempolku ke arah anak itu. “Sedaap?”

Dia membalas acungkan jempol. Tanda “Sedaaap!”

Aula ramai orang. Beberapa di antaranya pengguna kursi roda. Ang menyapa beberapa kenalannya, juga beberapa anak. Berbincang dengan mereka, bergurau. Aku mengikutinya dari belakang. Mengulurkan tangan jika diperkenalkan. Hujan yang mereda tak mengganggu hangat suasana santai sore itu.

Seorang lelaki kecil keturunan Tamil, bertubuh kurus, mirip tubuh anak kecil, mendekatiku dengan kursi rodanya. Dari raut wajahnya kutahu dia tidak muda lagi.

“You nama siapa?” tanyanya. Kusebutkan namaku.

“Saya nama Kalimutu, tapi orang biasa panggil Mutu.” Kujabat tangannya.

“Di negeriku, Kalimutu itu nama sebuah danau,” kataku, ingat Danau Kalimutu di Flores sana.

“Oya? You boleh cerita danay itu.” Nada suaranya bangga. Aku pun sedikit bercerita tentang danau para arwah itu.

“You umur berapa?” Aku tertawa.

“You tebak saya umur berapa!” Kami berbincang sejenak. Mirip main tebak-tebakan.

Tak kusangka umurnya 51 tahun, itu menurut pengakuannya, dan nyaris seumur hidup dihabiskannya di atas kursi roda. Mutu masih mencercaku dengan banyak pertanyaan, sebagian bersifat pribada. Mirip wawancara kerja saja, pikirku. Kalau berkenan, kujawab pertanyaannya dengan jujur. Kalau tidak, kulontarkan gurauan. Dan dia menikmatinya.

“Hei Ary, nanti you tolong saya dorong ini kursi keluar ya. Sebentar sore harus ambil makan di sana,” pintanya. Aku mengiyakan. Para difabel di sini hanya meminta tolong jika mereka merasa tak mampu mengerjakan sesuatu. Aku ingat pesan Ang tadi, jangan cepat merasa iba dan gampang menolong jika tak diminta. Oye!.

_MG_4343_1_1

soo ing dengan jarum dan benangnya

Seorang lelaki muda, keturunan Tamil juga mendekatiku. Tampan wajahnya. Mutu menarikku.

“Ini Reddie, lelaki paling handsome di sini,” kenal Mutu. Reddie hanya nyengir, matanya meneliti wajahku.

“Hallo Reddie.. saya Ary,” kuulurkan tangan.

“Awak cakap Malaykah?” dia tampak terkejut. Aku tersenyum.

Tak berapa lama aku dikerumuni para difabel dengan kursi rodanya. Menjawab berbagai pertanyaan sebagai keingintahuan mereka. Ang sudah mewanti-wantiku sebelumnya. Para handicap -menurut istilahnya- bisa sangat ramah, dapat pula tertutup. Namun mereka yang tinggal di Chesire Home ini lebih mudah bergaul dan didekati oleh orang luar yang fasih berbahasa Malay.

Reddie sedang menikmati godaan dari kawan-kawannya. Pemuda itu baru merayakan ulang tahunnya yang ke-21 minggu lalu. Bibirnya berulang menyungging senyum tipis. Benar, dia tampan dengan sepasang mata kelamnya. Sangat sangat rupawan.

Ang mendatangiku, lalu menarik tanganku tiba-tiba. “You must see others, women.”

Aku mengikutinya memasuki sebuah ruangan. Dua wanita keturunan Cina, lagi-lagi di atas sepatu roda, sedang berbincang dibatasi sebuah meja. Aku duduk di samping yang lebih muda, menghadap ke yang lebih tua, yang sibuk dengan jarum dan sebuah kain. Tepat di depanku, menghadap dinding ada rak, mirip alamari terbuka, yang dipenuhi boneka dan aneka kerajinan tangan.

“You nama siapa?” tanya wanita yang lebih tua. Pandangannya tak pernah lepas dari jarum dan benang di kedua tangannya. Dia sedang menjahit sesuatu. Walau, dalam pandangan mataku, sepasang tangannya itu tak normal. Kusebutkan namaku.

“I nama Soo Ing,” katanya sambil tertawa.

“You buat apa?” tanyaku penasaran.

“I buat doll. Itu di rak sana buatan I semua.” Nada suaranya bangga.

Aku terbelalak kagum. Soo Ing punya target. Seminggu minimal dia harus dapat menyelesaikan satu boneka. Lewat tangannya yang tak sempurna itu! Boneka-boneka buatannya lalu dijual, dari sana dia mendapat penghasilan. Walau dapat dikatakan seumur hidup dia berada di kursi roda, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Chesire Home, itu tak membuat semangat hidupnya surut. Justru sebaliknya. Dia memotivasi warga Chesire Home lainnya untuk berkarya, menghasilkan sesuatu, sekaligus menjadi mandiri.

“You tahu umur saya berapa?” Aku menggeleng. Lagi-lagi orang di sini suka sekali mmbicarakan umur, pikirku. Apakah waktu begitu berharga sehingga selalu dikaitkan dengan umur? Tapi kemudian aku mengerti maksudnya. Soo Ing berumur 55 tahun, penghuni tertua. Tapi wajahnya itu, membuatku mengiranya berumur 30-an. Apakah menjahit doll dapat membuat orang awet muda? Boleh juga kucoba tipsnya.

Keluar dari ruang menjahit, aku disambut Renuka, salah satu voluteer asal Eropa Timur. Sudah sebulan Renuka menghabiskan waktu di Chesire Home, membantu dengan terapi pijat dan terapi air di kolam renang pada pagi hari. Dia berencana melakukan perjalanan ke India kembali (Kisah tentang Renuka kuceritakan kapan-kapan saja). Aku berbincang dengannya, wanita yang mirip Demi Moore saat memerankan film Ghost. Dua volunteer lelaki dari Jerman kemudian bergabung, sambil menyodorkan dua cake coklat dan strawberry untukku dan Renuka.

Renuka memotong cakenya menjadi dua, dia hanya memakan sebagian. Sisanya diberikan kepada seorang anak keturunan Cina yang tinggi besar. “Dia kuat sekali, harusnya menjadi atlet gulat. Dia tentu butuh makan banyak,” jelas Renuka sambil menepuk-nepuk punggung anak itu penuh sayang.

Ang berkisah ada 16 difabel tetap yang menghuni dan tinggal di Chesire Home. Mereka berumur antara 19-55 tahun. Tapi, lebih banyak difabel tidak tetap yang datang setiap pagi, mendapat pelatihan dan ketrampilan, termasuk terapi air dan pemijatan, lalu balik ke rumah setiap sore.

Penang Chesire Home adalah anggota Leonard Chesire International yang didirikan tahun 1978 oleh Toh Puan Datuk Hajjah Sardiah. Yayasan sosial ini bertujuan membantu para difabel di Penang agar hidup mandiri. Dana untuk mengoperasikan Chesire Home berasal dari berbagai sumber, mulai bantuan pemerintah negeri Penang, donasi warga sekitar, para difabel sendiri, hingga usaha sampingan rumah cacat ini.

Rumah cacat ini terbuka bagi para difabel berumur 12-40 tahun yang sudah mendapat rekomendari dari dokter. Setiap difabel dikenai bea minimal 100 ringgit per bulan sebagai bea administrasi karena mendapat pelatihan dan akomodasi. Sedang para difabel yang datang harian dikenai 50 ringgit per bulan. Tergolong ringan dan tak membebani.

Perhatian pemerintah negara bagian Penang memang besar bagi para difabel. Mereka mendapat hak-hak istimewa, seperti hanya dikenakan bea setengah harga jika membeli barang elektronik seperti televisi, komputer, telepon genggam. Mereka juga dibebaskan dari bea rumah sakit jika berobat di rumah sakit pemerintah, bebas tiket naik bus umum seperti rapid bus. Dan, ketika tiba musim durian, para difabel bebas makan durian sepuasnya. Nah, ini yang bikin banyak orang iri. Hehehe..

Sepintas kulihat beberapa volunteer yang bekerja di Chesire Home, termasuk volunteer asing. Sayangnya syarat menjadi volunteer di sini tergolong berat. Selain memiliki keahlian khusus, juga harus mendapat ijin dari yang berwenang, dan merelakan waktunya minimal sebulan melayani para difabel ini. Sebulan! Buatku ini agak masalah. Tapi Ang yang juga aktif di couchsurfing, bahkan menjadi ambassador CS Penang, rajin membawa kawan-kawan CS dari berbagai negara mengunjungi Chesire Home, sekedar menghibur para difabel dengan lagu dan tarian.

“Bergembira, bergembira dengan para handicap akan membuat harimu menyenangkan,” begitu selalu diteriakkan Ang.

Ketika malam turun, saat kutinggalkan Chesire Home dengan Ang, kulihat lagi wajah kawan-kawan baruku. Wajah dan tubuh mereka dilingkupi aura kasih sayang. Begitu juga rumah tempat mereka tinggal, Chesire Home. Pancaran cinta itu menghangatkan seluruh ruangan. Bukan sekedar iba atau belas kasihan, tapi kasih. Kasih yang membuat mereka, para difabel, pribadi yang setara dan mandiri. Seolah halangan fisik tak lagi jadi hambatan.

About these ads

2 thoughts on “Chesire Home, Rumah Cinta Para Difabel Penang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s