Horodopi, Kisah di Tanah Terlarang


Ini kisah sebuah kampung di tengah kawasan taman nasional. Sebuah enclave, tempat mereka yang dianggap perambah liar dan perusak hutan dikandangkan. Mereka diberi tanah untuk digarap, sebuah rumah untuk dihuni, dan tunjangan beras setiap bulan untuk dimakan. Mirip program transmigrasi lokal.

Horodopi nama kampung itu. Berada di kawasan TN Rawa Aopa, 15 km dari Desa Aopa. Siang terik terdampar kami disanakarena sebuah kebetulan. Pagi itu kami berencana menuju Lanowulu, namun tertinggal Bus Damri. Terpaksa aku, Okto, Ronald, dan Abdi akhirnya harus berjalan sejauh 5 km lebih, sebelum mendapat tumpangan pick up yang turun di pertigaan ke arah horodopi.

Panas yang menyengat, jalan beraspal yang menyilaukan mata, dan keringat yang menguap dari sekujur tubuh, menjadikan Horodopi pilihan yang menarik. Menembus jalan setapak, menyusuri tahi anoa dan kerbau liar, masuklah aku dari satu kampong ke kampong sebelum mencapai enclave itu.

Dalam gontai kunikmati pemandangan tanah kosong dan tegalan kering. Kadang  menyeruak kebun coklat, merica, dan tanaman lokal yang entah apa namanya. Dangau-dangau di tengah tegal seolah melambai mengajak kami berteduh sejenak. Sempat  kami singgah di satu pondok kecil yang didirikan jauh di atas tanah itu,  minta beberapa teguk air dan ditawari sepiring ubi keras. Penunggunya, lelaki tua yang membawa parang sepanjang pinggang hingga mata kaki.

Continue reading

Orang Bajo dalam Buku (2)


Sanggai la ai sanggai batitu, ngire mandore ngire manditu.  

Ningkinda ai ningkinda batitu, ada mandore ada manditu.

                Angin manakah yang bertiup ini, ia bertiup di sana dan di sini

                 Gadis manakah gadis ini, kadang mau ini dan kadang mau itu

Ah, hati seorang gadis serupa angin. Tak tentu apa maunya. Kadang mau ini dan kadang mau itu. Kadang begini dan kadang begitu. Begitulah yang terbaca oleh orang Bajo dalam sebuah syairnya, melukiskan hati perempuan serupa angin musim timur.

Untuk syair yang indah di atas, saya harus berterimakasih kepada Francois Robert Zacot, seorang antropolog asal Perancis, yang mendedikasikan waktunya dalam hitungan bulan hingga tahun, tinggal dan meneliti kehidupan orang Bajo di  Pulau Nain dan Desa Torosiaje, Sulawesi utara.

Apa yang dilakukan Zacot adalah hal biasa dalam bidang antropologi. Seorang antropolog terbiasa tinggal dengan obyek penelitiannya selama masa tertentu. Continue reading

Bertemu Pemburu Jonga di Lanowulu


Malam pekat. Hamparan bintang di langit yang cerah tak mampu menyibak kegelapan di bawahnya. Savanah tetap gulita. Sesekali cahaya memercik dari sorot lampu mobil yang melintas jalan raya. Hanya sesekali, sebelum suasana kembali nyenyat dan mencekam, diusik lenguh kerbau liar dan deru angin dari jauh.

Kami sudah mulai merebahkan badan di menara pandang yang kedua. Ini malam kedua kami di padang rumput Lanowulu. Gemercik Sungai Laea mengalun. Baru saja lilin hendak ditiup ketika dua motor jagawana berhenti di bawah menara. Seorang jagawana yang mencangklong senapan AK menaiki tangga.

“Adik darimana?” tanyanya curiga. Begitu membaca surat ijin penelitian yang kami angsurkan dan mengetahui siapa kami, dia pun berubah ramah.

“Maaf,” lanjutnya, “saya hanya ingin bertanya apakah adik melihat jeep putih yang melintas tadi?”

Padang Rumput Lanowulu

Kami saling berpandangan. Seperempat jam lalu ada mobil berwarna terang berhenti tak jauh dari menara. Hanya beberapa menit, dan nampak mencurigakan gelagatnya.

Continue reading

Crocodile myths kept alive in SE Sulawesi


For the people who live in the Aopa and Mokaleleo villages around the swamp area, mentioning Rawa Aopa automatically brings to mind bokeo (the Bugis word for crocodile). Before Rawa Aopa became a national park area it was a common place for swamp crocodiles. These wild animals lived and bred in this area. And when they were flushed out by the fishermen who burnt the swamp grass they went to other places.

Some people think that the crocodiles that live around the big Southeast Sulawesi rivers come from here. Moreover, Rawa Aopa is a place where many rivers from the surrounding mountains end their courses. That’s why so manymyths about bokeo come from this place and, are to this day, kept alive.

source : cartoondori.blogspot.com

Mrs. Karate, an old woman whose husband worked as a canoe-keeper warned: “”You can’t take a canoe on Friday or bokeo will bite you.”” Continue reading

Rawa Aopa is a heaven on earth for bird-watchers


“”Watch out. Crocodile! Crocodile!”” shouted Sunardi, our 15-year-old guide. Without thought we rowed as fast aswe could to get away. Crocodiles, locally called bokeo, are common in the area.

mycteria ceneria are flying around three mountains

It was our fourth day of traveling along the edge of Rawa Aopa, the largest swamp in Rawa Aopa Watumohai National Park, Southeast Sulawesi. We were looking for a kind of heron locally called aroweli (Mycteria cinerea), one of the rare birds which lives in the swamp, to photograph it and complete our research on bird watching.

For almost five hours we rowed without a rest. The canoe was made from a hollowed-out tree and was almost full of water. The rocking of the canoe and the rain allowed water to enter. I had to drain it with a plastic tumbler while my friend continued rowing.

For bird-watchers around the world, Rawa Aopa is known as a heaven for the birds. Some of them are migratory birds, who visit Rawa Aopa on route to their final destination. For example, many birds which fly from Australia to Asia will stop here.

A survey by Leeds University and Symbiose Birdwatchers Club from University of Indonesia during September and October 1995 found 155 bird species, 32 among them rare birds and 37 endemics.

Continue reading

Memburu Aroweli di Rawa Aopa


Namanya aroweli. Di Jawa ia dikenal sebagai bangau bluwok. Ia termasuk binatang langka. Habitatnya dijaga ular dan buaya. Salah satu habitat mereka adalah rawa aopa, kawasan rawa-rawa amat luas di Sulawesi Tenggara.

Mengamati satwa langka di habitat aslinya pasti penuh liku. Salah satu yang termasuk menantang adalah mengamati kehidupan burung aroweli (Mycteria ceneria) di Rawa Aopa, kawasan rawa-rawa amat luas di Sulawesi Tenggara. Betapa tidak; medan yang harus dilalui untuk mencapai rawa tempat hidup mereka tergolong sulit. Belum lagi harus berhadapan dengan buaya dan ular ketika dalam perjalanan mencapai tempat tujuan.

daerah tiga gunung/foto: ary hana

Continue reading