‘Bersih’ Kebun ala Bali

Tags

, , , ,


img_20161114_093837

banyak juga yang ikut upacara, ada 20-30an orang. guyup ala orang desa. kebun ini tepat di atas anak tangga menuju air terjun Mlanting bawah. di sela doa yang dipanjatkan pemangku, sayup-sayup terdengar gemercik air dan tiupan angin pegunungan.

Tanggal 14 November lalu saya diajak kawan ikut ke kebunnya. Dia sedang melakukan upacara sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen kebun tahun ini. Teman saya ini, petani kopi dan cengkeh yang suka VW kodok tahun 1975, memiliki banyak kebun. Ada kebun kopi, cengkeh, buah naga, dan juga sawah. Hampir semua kebun dan sawahnya dikelola secara alami, pupuk organik dia dan pegawainya buat sendiri. Nah, kali ini dia melakukan upacara di kebun yang dekat air terjun Mlanting, di Desa Munduk. Hari itu bertepatan dengan purnama, hari baik untuk melakukan upacara.

Perjalanan dimulai pukul 8.00, saya naik ojek menuju kebun. Ojek melalui jalanan tipis -sempit memanjang dan menurun- menuju arah air terjun Mlanting atas, lalu air terjun Mlanting bawah. Walau dibonceng, rasanya ngeri juga. Salah jalan sedikit, bisa-bisa tubuh saya melayang masuk jurang. Tukang ojeknya -lelaki berumur 50-an berbadan besar- terlihat riang, mengendalikan stang motor sambil berlagu. Sesekali meniup telinga anaknya yang duduk paling depan. Mungkin dia sedang berdoa agar anaknya tak meniru langkahnya menjadi tukang ojek, atau sekedar menularkan keberanian?

Ketika melihat motor kawan saya diparkir di tepi pohon, dia berteriak sambil tertawa, “Lha.. orangnya takut turun. Motornya diletakkan di sini.!”  Gembira sekali, mirip mendapat lotre.

Di kebun sudah banyak orang datang. Halaman rumah penjaga kebun kopi -Kadik OO- diatur mirip ada pesta kecil. Kursi-kursi plastik warna merah ditata memanjang, para perempuan lengkap dengan kebaya dan kamen duduk, ngopi, ngeteh, dan melahap jajak -jajanan- yang disajikan. Mungkin saya satu-satunya yang tak mengenakan kamen, sebab saya pikir tak banyak yang datang. Anjing-anjing berkeliaran ke sana ke mari mencari sisa makanan tanpa menggonggong atau mempedulikan orang. Kalau melihat ada tamu bar datang, satu persatu anjing-anjing itu mendekat, lalui membaui kita. Mungkin mau kenalan.

Di sana saya jumpai beberapa kawan lama, antara lain Kadek OO yang pernah saya wawancarai tentang menyambung batang kopi agar tanaman kopi menjadi kuat. Juga Pak Lengkong, lelaki yang menjaga sawah di depan Puri Lumbung. Lalu beberapa perempuan kerabat si pemilik kebun, beberapa petani kopi tetangga.

Sebelum upacara, kami dipersilakan makan. Mula-mula para lelaki yang makan, lalu perempuan. Usai makan, baru upacara dimulai.

Upacara ini, selain ungkapan sukur kepada Dewata, juga “Penjaga Kebun’ dan para leluhur, atas panen kopi dan cengkeh, juga sebagai penanda didirikannya pura baru -pengganti pura lama yang rusak- di kebun. Karena itu, dihadirkan sesaji berupa babi gulung yang besarnya mirip anak umur 3-4 tahun. Upacara diakhiri dengan mecaru -bersih-bersih kebun- yang ditandai dengan orang-orang berjalan memutari halaman penjaga kebun berkali-kali.

Ritual kebun ini, mirip pemujaan kepada Dewi Sri di Jawa, yang menjadi ciri khas budaya lama nusantara. Pemujaan seperti ini tidak ditemukan di India, negeri asal Hindu. Ritual kebun berakar dari kepercayaan animisme dinamisme di masa lama, sebelum agama-agama dunia menyerbu nusantara.
Continue reading

Visualisasi Novel ‘Lelaki Harimau’ karya Eka Kurniawan

Tags

,


img-20161020-wa0005

sampul buku visualisasi novel ‘Lelaki Harimau’ karya Eka Kurniawan

Ketika sambang Munduk 7 bulan lalu, saya berbincang dengan teman pencinta buku dan kopi tentang novel-novel karya Eka Kurniawan. Dia memiliki koleksi buku Eka Kurniawan lengkap sekali, lalu meminta saya membaca buku-buku itu sekilas.

“Ini yang paling saya suka, Lelaki Harimau. Novelnya ini menurut saya mirip puncak karya Eka,” katanya sambil menyodorkan buku tipis dengan latar gelap dan gambar kepala harimau mengaum. Karena hanya 2 malam di Munduk, tak semua novel itu saya baca ‘kilat’. Bahkan si “Lelaki Harimau’ hanya saya ulik belasan halaman.

Saya mulai membaca ‘Lelaki Harimau’ usai meminjam buku tersebut di C2O Library Surabaya. Berbeda dengan novel ‘Raden Mandasia’ karya Yusi Avianto Pareanom atau kumpulan cerpen ‘Murjangkung’ karya AS Laksana yang bisa dilibas dalam 1-2 hari baca, maka membaca ‘Lelaki Harimau’ butuh banyak energi dan waktu. Saya baru menamatkannya dalam 2 minggu, itu pun setengah frustrasi karena harus membacanya perlahan, kadang dengan rasa muak, kadang lelah, kadang bersemangat. Ini sebagai pertanda ‘kemampuan sastra’ saya memang lemah.

Orang awam mirip saya yang kurang memahami sastra mungkin membutuhkan pengantar awal memahami novel sastra berat seperti ini. Mungkin karena itu butuh buku visualisasi novel karya Eka Kurniawan. Buku ini sengaja diadakan sebagai pelengkap -mungkin juga pengantar- pada pameran buku di Frankfurt 19-21 oktober  tahun ini. Beruntung saya mendapat file pdf buku visualisasi ini, karena pembuatnya masih kolega. Beruntung juga sempat bertemu dan bertanya langsung kepada pembuatnya – Andrew dan Ari- karena memahami buku visualisasinya pun tidaklah mudah.
Continue reading

Antara Bisnis dan Teman


Awal tahun 2000-an, saat masih tinggal di Jogjakarta, saya berteman dengan seorang lelaki sederhana. Memang dia pernah kuliah, namun putus di tengah jalan karena ketiadaan biaya. Lelaki ini -enggan disebut namanya- juga baik hati walau kerap hidup kembang kempis yang banyak kempisnya. Dia kelahiran GunungKidul, tak banyak bicara, tapi ‘prigel’ dan ‘ubet’. Kami berteman akrab, kerap saya menjumpainya saat naik bus kota jalur 2. Dia mengamen bersama teman-temannya.

img_8257

kalau ini angkringan di Jalan Magelang -lebih dekat ke Magelang ketimbang kota Jogja

Suatu ketika dia berkata kepada saya kalau sudah membuka warung kucing di jembatan dekat Kali Code. Ada teman yang memodalinya. Bersama seorang teman, suatu malam, mampirlah saya ke sana. Seperti warung kucing lain, jualannya termasuk laris dan jadi pusat tongkrongan. Sebagian yang nongkrong saya kenal, karena memang sebagian temannya adalah teman saya. Sebagian lagi tidak. Lelaki itu melayani teman-temannya dengan penuh senyum, setulus hati. Usai makan, kongkow, dan ngobrol ngalor-ngidul, saya bayar jajanan kami, lalu berlalu. Saya pikir pada saat itu hidupnya tak lagi keras, tak harus mengamen dan berlari dari satu kopaja ke kopaja lain. Cukup duduk manis di sore hingga tengah malam, melayani pembeli, lalu uang masuk ke kantong. Seharusnya begitu.

Namun pikiran, pandangan, dan keyakinan tak selalu sejalan kenyataan. Tiga bulan kemudian kembali saya bersua dengannya di atas kopaja jalur 2.

“Kamu kenapa di sini lagi?” tanya saya heran.

“Bangkrut Mbak, ” jawabnya sambil nyengir.

Continue reading

Sutera Samatoa (2) : Manusia dan Benang

Tags

, , ,


Ini bagian kedua kisah tentang Sutera Samatoa. Bagian pertama, bisa Anda baca di sini:  Sutera Samatoa .

Pada bagian kedua, saya tak akan berkisah panjang. Hanya ingin membeberkan sederet foto disertai sedikit penjelasan. Kebetulan waktu itu saya hanya bermodal DSLR Canon 1000, plus lensa 50mm. Maklum, pejalan yang malas segalanya😛

_mg_5668

kokon yang direbus, cikal bakal benang sutera

_mg_5669

sesekali mereka sempat bercanda, meski dengan suara lirih

_mg_5670

wajah tanpa ekspresi, mungkin lelah. atau bosan?

_mg_5673

petugas QC pun memeriksa benang yang sudah jadi.


Continue reading

Sutera Samatoa

Tags

, ,


Discover the Silk Farm

Free Daily Guided Tours

Free Shuttle Bus

      Artisans d’Angkor

 

Tulisan di belakang tuktuk itu menarik perhatianku. Rupanya ada juga tur gratis di Siem Reap ini. Tak hirau tawaran sopir tuktuk untuk membawa saya keliling Angkor Wat dan Kampung Phluk, aku memilih berjalan menuju gedung Artisan d’Angkor dekat pasar malam.

_mg_5307

tulisan di tuk-tuk yang menggugah selera

“Kami orang Khmer-Kamboja tak biasa membuang barang begitu saja. Setelah kokon dipisahkan dari serat sutra, akan kami goreng sebagai camilan. Rasanya gurih, kaya protein, dan lemak.”

Keterangan pemandu wisata itu membuatku tersenyum kecut. Ingat akan bagian kepala, kaki, usus, brutu, dan hati ayam yang kerap dibuang oleh tukang jagal Malaysia. Tapi sejak orang Indonesia banyak bekerja di sana, bagian yang dianggap menjijikkan itu dijual murah meriah. Pembelinya tentu saja orang Indon. Tapi memakan serangga, apalagi kokon alias kepompong ulat yang berwarna kekuningan itu? Ah, rasanya aku harus banyak belajar dari negeri ini.

Lelaki pemandu itu lalu menuju ke bagian pewarnaan benang sutra. “Kain sutra buatan kami memanfaatkan pewarna alami. Misalnya dari kunyit, daun kipa, kecubung. Bahkan untuk menghasilkan warna merah atau coklat aneh, kami menggunakan karat dari paku atau sampah logam.” Senyum kemenangan menghias wajahnya.

Aku tertarik pada benang warna karat yang digantung pada papan kayu di dekatku. Belakangan ini, sejak Angkor Watt ramai dikunjungi turis, Kamboja semakin gencar memasarkan produk sutranya lewat jalur wisata. Sutra alam, begitu selalu mereka menyebut. Tak kurang ada sekitar tujuh atau delapan perkebunan sutra di seluruh negeri Sihanouk. Itu belum termasuk yang dikembangkan keluarga-keluarga secara mandiri.

Continue reading

Minyak Cengkeh dan Sakit Gigi

Tags

,


_MG_9213

kopi cengkeh membantu menghangatkan badan

Khasiat minyak cengkeh sebagai obat sakit gigi sudah dikenal ribuan tahun lalu di Cina. Namun, mungkin tak banyak orang yang menggunakan resep kuno ini sekarang. Kalau gigi sakit, ya minum antalgin atau ponstan. Padahal kedua obat tadi hanya meredakan sementara sakit gigi, karena beberapa jam kemudian gigi akan sakit lagi, jadi terpaksa minum lagi, begitu seterusnya.

Khasiat minyak cengkeh sebagai pertolongan pertama pada sakit gigi saya rasakan lebih sebulan lalu. Jelang lebaran, tambalan di geraham bungsu kanan lepas. Padahal itu tambalan lama, yang saya dapatkan sekitar 20 tahun lalu. Tambalan amalgam yang lumayan awet. Beberapa hari kemudian gigi pun terasa linu, lalu nyeri luar biasa, terutama jika terkena air, panas, atau dingin. Jangan-jangan lubangnya sampai ke saraf gigi, pikir saya waktu itu.

Kesibukan di rumah membuat saya tak sempat ke dokter gigi. Lalu teringat saya akan nasihat kawan untuk memanfaatkan minyak cengkeh sebagai obat sakit gigi. Kebetula, minyak cengkeh merupakan satu dari sekitar 50 koleksi minyak di laboratorium mini demi penelitian sabun dan sebangsanya. Maka, tanpa membuang waktu saya celupkan cotton bud ke minyak cengkeh, baru saya oleskan ke bagian gigi yang sakit dan berlubang tadi. Continue reading