Kedai Tuak ‘Tody’


tuak1-1

menyadap nira

Ketika Reddie menyebut ‘Tody Plantation’ kupikir kami akan menuju ke semacam perkebunan kelapa sawit. Ternyata dia menggiring kami ke kedai tuak. Mulanya jeep yang kami kendarai memasuki jalan kampung tak beraspal atau berbatu di wilayah Kerian, lalu berhenti pada sebuah halaman luas dengan warung bertudung terpal merah yang dipenuhi kursi dan sebuah meja kayu lebar di depannya. Di belakang, ada beberapa ember berwarna putih dan biru yang diletakkan di bangku kayu panjang, sebuah penciduk dari plastik, dan gelas-gelas besar yang siap diisi tuak. Benar-benar tuak, karena aku sempat mencobanya dan rasanya memang masam. Bukan manis ala legen.

Tak puas menyajikan ‘bir lokal’, begitu Reddie menyebutnya, dia menggelandangku menuju sebuah pondok kayu di belakang kedai, yang menghadap kebun nira lumayan luas. Seorang lelaki India –dia benar-benar berasal dari India Selatan, tak dapat bercakap Melayu atau Inggris- keluar dari pondok. Sepintas kulihat ada kesedihan di wajah gelapnya yang muram. Tak paham apa yang Reddie dan dirinya perbincangkan, aku pun bertanya langsung kepada Reddie.

“Ada dua pekerja di sini. Mereka langsung didatangkan dari India. Dia salah satunya. Maklumlah, tak ada orang lokal yang mau bekerja di kebun kelapa ini sebagai penyadap tody,” begitu katanya. Melihat keberadaannya, tiba-tiba pikiran nakalku menyerbu. Dia pekerja legal atau ilegal ya? Pasalnya masih di distrik ini juga, banyak pekerja sawit ilegal asal Indonesia. Menyelundupkan satu dua orang penyadap tuak asal Tamilnandu, India, tidak bakalan ketahuan.

tuak2-1

senjata utama

Melihat wajahnya yang sedih, aku juga bertanya-tanya, kenapa dia mau meninggalkan negaranya demi bekerja di sini? Apa benar di sana hidup sungguh susah? Rindukah dia kepada keluarganya? Puas dan berbahagiakah dia di sini? Sungguh pertanyaan tolol yang tak patut dijawab.

Continue reading

Daun Ungu, Bukan Sekedar Obat Ambeien


DaunUngu2

salah satu jenis daun ungu -nama latinnya g graptophyllum pictum- yang biasa saya konsumsi. gambar diambil dari googling

 

Ada beberapa penyakit yang suka sambang ke tubuh saya, salah satunya adalah ambeien bin wasir. Sudah bertahun-tahun saya mengidap ambeien, kumat-kumatan. Namun karena pembesaran pembuluh darah di anus terjadi di dalam, saya tak begitu memperhatikannya. Hobi makan super pedas terus jalan, kerja dengan duduk atau jongkok berjam-jam pun terus berlangsung, hingga akhirnya ambeien keluar dan mulai mengganggu. Saya pun panik.

Beragam cara saya coba untuk menyembuhkan ambeien, mulai makan biji pepaya, makan daun singkong, makan tape, minum rebusan akar kangkung, minum the mahkota dewa, dan lainnya. Memang mampu mengurangi efek ambeien seperti panas dalam, panas dan sakit di anus, tapi semua berjalan lambat. Saya juga menggunakan obat dari dokter yang dimasukkan ke anus selama 3 hari, tetap tak ada perubahan. Padahal sebutir kapsul harganya Rp.10.000. Hingga akhirnya saya mendapat informasi tentang daun ungu. Namun obat-obatan herbal yang memanfaatkan daun ungu relatif mahal. Kapsul daun ungu berharga seratus ribu rupiah lebih, itupun hanya untuk konsumsi 1-2 minggu.

Beruntung saya tinggal di kota pahlawan yang taman-taman kotanya selalu dihiasi satu dua batang daun ungu. Mencari daun ungu bukanlah hal sulit. Apalagi di kompleks Kodam V Brawijaya, saya temukan belasan tanaman daun ungu, menjadi tanaman pagar di sekolah, sekitar lapangan, dan markas tentara. Saya beruntung.

Continue reading

Sebelum Pertunjukan


Melaka di waktu malam

Melaka di waktu malam

Ranjangnya tepat di sisi jendela, sedang ranjangku berada paling ujung, dekat dengan pintu keluar. Kami dipisahkan oleh empat ranjang bertingkat kosong. Di hadapan kami masih ada tiga ranjang bertingkat, dua di antaranya diisi perempuan bule yang selalu pulang jelang subuh.

Kebiasaan kami serupa jika berada di dalam kamar. Otak-atik telepon genggam atau ipad, onlen. Wifi di penginapan bertarif 12 ringgit semalam ini lumayan lancar. Kalau sudah begitu, nyaris tak ada suara menyapa. Namun soal jalan, kami berbeda. Aku selalu keluar pagi, jelang matahari terbit, saat kupikir dia masih tertidur dengan dada telanjang. Tubuhnya hanya dibungkus celana pendek.

Kamar dormitori berukuran 4m x 8,5m itu terasa lapang karena hanya berisi empat orang. Kalau mau, kita bisa main kriket di dalamnya. Apalagi empat kipas angin yang menempel di langit-langit tak henti berputar. Namun cuaca panas di luar tetap membuat tubuh kegerahan.

Aku selalu pulang ke hostel di saat hari sangat panas, tengah hari jelang pukul dua. Kemudian aku akan keluar lagi menyambut matahari tenggelam hingga nyaris tengah malam. Sekedar menikmati terangnya lampu-lampu di bantaran Kali Melaka. Pada saat aku tiba di penginapan, biasanya dia sudah ada di dalam kamar. Telanjang dadanya. Kepanasan. Dia pun akan keluar lagi kala udara tak lagi menyengat. Dan balik lagi ke kamar satu dua jam usai aku pulang. Lalu dia sibuk dengan telgamnya lagi. Begitu tiga malam pertama kami jalani.
Continue reading

Tumor dan Minyak Kelapa


IMG-20150526-WA0000

kakek yang menderita tumor di telinga, awalnya ketika jadwal membersihkan luka di puskesmas, banyak darah keluar dan lukanya bernanah. setelah diolesi dengan minyak kelapa yang mengandung sari mahkota dewa, luka berangsur membaik. tak bernanah lagi, darah berkurang, dan mulai mengering.

Ini sekedar berbagi kisah. Beberapa hari lalu dokter puskesmas teman saya mengirim pesan singkat, “Masih ada lagi minyaknya nggak? Kata perawat, pasien tumor telinga, lukanya mengering setelah diolesi minyak yang kau berikan.”

Syukurlah, pikir saya. Beberapa bulan lalu saya pernah posting di fesbuk tentang seorang kakek yang hidup seorang diri dan menderita tumor di telinganya. Tumornya telah menyebar, meninggalkan luka di kepala. Karena hidup sendiri, kakek ini hanya sempat sekali seminggu ke puskesmas. Di puskesmas, perawat hanya bisa membersihkan luka tumornya. Ketika dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, kakek keberatan karena tak ada kerabat yang mengantarnya ke rumah sakit.

Kondisi kakek ini sempat menarik perhatian walikota Surabaya, Bu Risma. Saya tidak mengikuti kelanjutan berita si kakek. Hanya, ketika baksos kanker diadakan, saya sekedar menyumbang sabun -khsusnya sabun garam dan kanola- serta minyak kelapa yang mengandung berbagai ramuan, antara lain bunga melati dan mahkota dewa, untuk dioleskan pada luka/borok di bagian tubuh penderita kanker. Siapa tahu bisa membantu.

Continue reading

Kesah tentang Buruknya Agen Pengiriman Barang


paket2

andai paketku tak sampai, tolong katakan jujur saja, biar cepat kuganti dengan barang baru :P

 

Ini sekedar keluh-kesah akan pelayanan agen pengiriman barang -khususnya PT POS dan JNE- di Indonesia akhir-akhir ini. Bukan bermaksud memburukkan kinerja mereka, tapi sebagai ungkapan kecewa karena hal ini terjadi berkali-kali, bukan hanya satu dua kali.

Saya termasuk pemakai setia jasa pengiriman via pos dan JNE, terutama sejak saya mulai menerbitkan buku di tahun 2012. Banyak buku, kemudian sabun, saya kirimkan via dua jasa pengiriman di atas. Dalam sebulan, sekitar 30 kali saya mengirimkan buku mapun sabun via dua jasa pengiriman di atas. Saya mulai dengan PT Pos.

Beberapa kali kiriman buku tidak sampai via PT Pos, dengan alasan alamat tidak dikenal atau tidak jelas, Ketika saya mengirimkan sebuah buku ke Padang tahun lalu, buku pun kembali ke alamat rumah dengan tulisan tidak ada RT/RW. Padahal, setelah saya konfirmasi dengan alamat tujuan, alamat itu yang biasa dipakai dan biasanya kiriman sampai tanpa masalah.

Ada juga kiriman buku ke Jakarta yang kembali, dengan alasan yang sama. Si tertuju sampai bilang, “Jangan pakai pos Mbak, pakai JNE saja. Kalau alamat kurang jelas, JNE akan menelepon”.

Belakangan, kondisi ini saya akali dengan mencantumkan no. HP. tujuan pengiriman. Benar saja, Pak Pos akan mengirim SMS ke tujuan, menanyakan apa ada di rumah atau ‘ancer-ancer’ rumah. Saya pun merasa lega.

Continue reading

Plastik, Makanan, dan Kearifan Lokal


Saya kerap sedih melihat peran plastik yang membesar, khususnya di bidang makanan. Bukan hanya dalam skala industruri besar/pabrikan, tapi juga merambah penjual kue tradisional di pasar-pasar. Bahkan merambah ke acara kondangan, slametan, kenduri di kampung-kampung. Sungguh sulit menemukan jajanan yang ‘tak dibungkus’ plastik. Semua harus dimasukkan plastik. Entah itu apem, tetel, lemper yang sudah jelas-jelas dibungkus daun pisang, hingga kacang, telur, permen, krupuk udang. Seolah para pembuat makanan itu berkata, ‘Lihat, makananku ini sungguh higienis karena dibungkus plastiki!’ Jihaiii, jijay dan lebay amat.

Terpaksa, saya bongkar-ongkar foto lama, dan menuangkannya di bawah ini :P

IMG_7448

ini sagu yang banyak dijual di seantero Maluku. penjualnya masih menggunakan daun pisang sebagai pembungkus

IMG_7437

gula aren atau gula merah, memanfaatkan daun pisang kering sebagai pembungkus. kadang juga memanfaatkan semacam daun sagu dan woka

Continue reading