Candi Sewu, Buddha dan Orang Jawa

Tags

, ,


_MG_4870

candi sewu, di belakang panggung waisak 2016

Kula saking Pati, Mbak. Mriki niti bis. Nggih, bise disediaken vihara. Niki kulo taksih ngrantos yugo kulo sing teng Borobudur. Terose bade mriki ngangge motor kalihan kancane.”¬† Kalau diterjemahkan, kira-kira, “Saya dari Pati. Datang ke sini naik bus yang disediakan vihara. Sekarang saya menunggu anak saya yang masih berada di Candi Borobudur. Katanya dia akan menyusul kemari,” kata si ibu, sebut Sumarni, satu dari puluhan rombongan buddhist Pati yang datang ke Peringatan Waisak di Candi Sewu.

Waktu itu saya duduk bersama ratusan buddhist Jawa, yaitu para orang jawa yang menganut buddha. Umumnya penganut buddha di Indonesia adalah keturunan Tionghoa yang berpusat di sebagian Kalimantan, Sumatra Selatan dan Utara, serta Jakarta. Namun kali ini wajah-wajah Jawa yang memenuhi pelataran Candi Sewu. Mungkin sekitar 80% yang hadir dalam  peringatan Waisak di candi Sewu adalah Buddhist Jawa yang tergabung dalam KBI, keluarga Buddhayana Indonesia.

_MG_4829

sebagian peserta peringatan Waisak yang datang dari Pantai Utara Jawa, seperti Pati, Jepara, Lasem, Rembang.

“Kalau saya buddha asli, Mbak. Sejak lahir sudah beragama buddha. Istri saya yang menganut buddha karena perkawinan. Dulunya dia kristen, kawin dengan saya awalnya masih kristen. Lalu jadi buddha,” kisah Toro, lelaki berumur 50 tahunan yang tak henti-hentinya memandang kami yang sibuk berbagi cerita.
Continue reading

Menyabun di Lereng Merapi

Tags

,


Tulisan ini semacam curhatan, bisa juga dianggao keluhan, dan alasan mengapa saya jarang mau menerima permintaan belajar menyabun dari orang-orang atau komunitas. Kerap membuat pusing kepala, sekaligus membuang waktu sia-sia. Itu sebabnya jika ada yang berminat belajar menyabun, saya sarankan untuk belajar ke tempat profesional seperti kursus sabun dll. Memang berbayar, tapi itu konsekuensi logis menuntut ilmu.

jenis sabun yang dibuat di lereng merapi

jenis sabun kelapa

 

Sebetunya saya senang-senang saja jika diminta mengajar menyabun oleh komunitas (bukan pribadi) walau tak berbayar. Syaratnya hanya satu, semua peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembuatan sabun secara sederhana lengkap tersedia. Sederhana saja,

Alat pembuatan sabun biasanya berupa mixer, blender, timbangan dengan skala minimal 10gram, gelas kaca ukuran 300-400ml, sendok stainless steel tebal untuk mengaduk dan menyendok soda api, gelas ukur air (dalam ml) bisa berupa plastik atau kaca, lalu beberapa wadah plastik tebal buat adonan, serta cetakan plastik kotak besar agar mudah untuk mengeluarkan sabun yang mengeras.

Sedang untuk bahan saya biasa meminta minyak kelapa -entah yang tradisional atau produk pabrikan-, lalu soda api, daun pandan, kunyit,  daun sirih dan beberapa herbal yang banyak tersedia di daerah tujuan menyabun.

Hal di atas pula yang saya syaratkan tatkala seorang kawan di lereng merapi meminta saya mengajari warganya. “Pertama, kamu mesti mengajari anak-anak karang taruna desa saya, biar mereka semangat dan mau maju. Lalu kamu mengajari ibu-ibu PKK,” katanya beberapa bulan lalu. Saya iyakan, dan akan menjadi prioritas saya saat menjogja kemudian.

Jelang waisak, 20 Mei saya berkesempatan menjogja. Kawan yang di Merapi tadi saya kontak seminggu sebelumnya (13 Mei) untuk mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Dalam waktu seminggu, saya pikir dia memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan semua. Dia kan memiliki bawahan lumayan banyak di desa. Katanya sih, dia sudah siap semua. Saya kemudian memberi info kapan saya punya waktu luang dan akan naik memberi kursus gratis, usai waisak tanggal 22-23 Mei.

Continue reading

Mengenal Kampung Huaulu

Tags

, , ,


Dua kali saya mengunjungi Trans Huaulu, 4 malam dalam perjalanan pertama, dan 5 malam sepulang dari Kepulauan Banda. Kunjungan pertama mirip observasi, mengamati kehidupan mereka dan permasalahan sehari-hari yang muncul.

IMG_20160407_094854

dua anak huaulu bermain di halaman

Sepintas, Orang Alifuru yang merupakan penduduk asli Pulau seram adalah penduduk Huaulu. Mereka berdiam di tiga tempat, kampung dalam, kawasan transmigrasi yang biasa disebut Trans Huaulu, dan kawasan pantai di sekitar Akalama hingga Araara. Karena Bapak Raja Negeri Huaulu tinggal di kawasan trans Huaulu, saya pun tinggal di trans, bukan di kampung dalam. Tinggal bersama keluarga Bapak Raja. Sekali sekala saya naik ke atas, ke Kampung Huaulu bersama Bapak Raja, untuk melihat aktivitas di sana serta lebih mengenal orang-orang Huaulu.

Mobilitas orang Huaulu selalu berkisar di ketiga tempat tadi, kampung dalam, trans, atau pantai. Tak ada yang benar-benar menetap seumur hidupnya di kampung, selalu mereka bergerak ketiga tempat tadi, kecuali kaum renta, jompo, atau sakit, yang tak bisa bergerak leluasa lagi. Apalagi kini akses menuju kampung Huaulu semakin mudah. Dulu perlu berjalan kaki sejauh 5 km, menyeberangi dua sungai kecil dan besar, untuk sampai di kampung Huaulu. Sekarang sudah ada ojek dengan tarif Rp25.000. Saat saya ke Huaulu, 2km pertama berupa jalan beraspal, lalu ada dua jembatan -satu permanen- yang membelah sungai. Jalan tak beraspal pun sudah diperkeras, dan sedang menunggu pasukan pengaspal jalan dari dirjen PU untuk melanjutkan pengaspalan jalan. Nyaman santosa jadinya. Orang Huaulu yang hilir mudik keluar masuk kampung ramai sekali. Hanya, jika hari hujan, 3 km jalan tak beraspal mirip kawasan off road.

Continue reading

Kembali ke Banda

Tags

, ,


Semula tak ada rencana ke Banda, hanya Seram dan mungkin akan sambang Lease tatkala singgah di Ambon. Namun begitu banyak kasus di Huaulu yang hanya bisa dikonsultasikan via internet. Sedang Huaulu pelit sinyal telepon maupun internet. Jadi saya mesti saba kota atau tempat yang sinyal internetnya lancar jaya.

image

Menikmati gunung api dari atas kapal

Kebetulan ada kapal pelni tujuan Banda yang berlabuh di Ambon. Maka setelah 4 malam tinggal di trans Huaulu -kawasan transmigrasi Huaulu- saya putuskan turun gunung, menuju Banda. Kelak usai dari Banda kembali saya menuju Huaulu membawa solusi masalah setempat.

Perjalanan ke Banda kali ini sungguh perjuangan yang menguras tenaga. Dalam hujan pukul 14.00 saya meninggalkan Tulehu menuju Pelabuhan Yos Sudarso. Kapal pelni yang dijadwalkan masuk Ambon jam 18.00 ternyata tiba pukul 21.00. Ruang tunggu pelabuhan sesak dengan manusia, mungkin ada sekitar 800 orang baik penumpang maupun pengantar. Saya melihat satu dua penumpang membawa 5-6 barang berupa kardus, tas, koper, atau karung. Benar-benar gila. Umumnya mereka hendak menuju Tual. Ada sekitar 400 mahasiswa yang mau KKN di kepulauan Banda dengan gaya mentereng. Sangat mudah dibedakan dengan penumpang. Ada juga beberapa turis asing yang tampak stress dan kepanasan.

Ketika pintu ruang tunggu menuju kapal berlabuh dibuka, orang pun berebut keluar dan naik ke kapal. Saya sempatkan membeli tikar seharga Rp.10.000 bukan karena butuh, tapi tertarik melihat kegigihan bocah yang menjualnya.

Continue reading

Menuju Huaulu

Tags

, , ,


image

area trans huaulu dipandang dari sebuah warung makan

Lebih sebulan saya dilanda gamang ketika memutuskan kembali ke Maluku. Tiket promo Lion Air Surabaya-Ambon pp sudah di tangan, namun saya tak jua mampu membuat itirinary perjalanan selama 25 hari. Begitu banyak tempat yang ingin saya kunjungi, tapi begitu mengerikannya tarif transportasi di Pulau Seram. Saya siap mempertaruhkan seluruh tabungan yang tak seberapa jumlahnya, namun saya tak yakin itu cukup.

Saya coret beberapa destinasi wisata terkenal seperti Sawai dan Ora Beach. Saya juga tak hendak mendaki Gunung Binaiya. Saya hanya ingin tinggal beberapa waktu di pedalaman, dan beberapa saat di pantai. Saat itulah muncul nama Huaulu, sebuah negeri di kaki Gunung Binaiya yang dihuni Suku Alifuru tapi tidak masuk kawasan Taman Nasional Manusela.

Saya juga ingin mengunjungi Waimital gegara membaca buku bertitel ‘Lelaki dari Waimital’ karya Hana Rambe. Waimital adalah daerah pertama di Seram Barat yang dijadikan lokasi transmigrasi.

Saya juga tertarik mengunjungi Pulau Geser di Seram Timur atau Suku Nuaulu di pantai Seram Selatan.

Hingga sehari menjelang keberangkatan saya belum bisa memutuskan daerah mana yang pertama saya tuju. Beban ransel saya mencapai 13kg, berisi bantuan sarung, sabun kulit, obat-obatan herbal dan buku. Barang pribadi saya tak sampai 3kg. Saya juga harus membawa daypack berisi mini dvd, buku gambar, makanan dan minuman. Andai saya menuju Huaulu saya tak yakin mampu berjalan kaki sejauh 5-6km, menembus hutan dengan jalanan becek dan harus menyeberangi sungai dua kali.

Awalnya perjalanan ini akan saya lakukan bersama seorang bocah petualang terkenal. Makanya saya mengiyakan saja saat ada teman-teman yang menitip bantuan, entah buku atau sarung. Namun kawan saya mundur karena ada masalah keluarga, jadilah saya kembali bersolo traveling seperti biasa.

Keluar dari Bandara Pattimura saya disambut hujan. Dengan menjinjing ransel depan belakang saya putuskan naik angkot menuju Passo disambung Tulehu. Sudah petang waktu itu. Di Tulehu saya menginap di Penginapan Salam milik Pakcik Melayu yang super ramah dan kaya informasi. Di penginapan ini pula saya bersua lelaki keturunan Buton yang mengaku baru selesai melakukan pengerjaan jembatan yang menghubungkan sungai besar menuju Huaulu. Hati saya aedikit tenteram. Tak perlu takut terseret arus saat menyeberang sungai nanti.

Continue reading

Tidore yang Sulit Berubah

Tags

, ,


tidore3

pantai Tidore yang sunyi

Di Tidore, waktu berjalan lambat. Jika gerakmu ke berbagai tempat dibatasi oleh angkutan umum, maka hidupmu hanya berlangsung dari pukul 06.00 hingga 16.000. Setelah itu yang ada sunyi. Jalanan lengang, lampu-lampu malam memudar, seiring deburan ombak yang mengelilingi pulau.

Sayup terdengar suara adzan, saat maghrib atau Isya, berkumandang mirip kerlip lampu, di mana-mana. Tidore memang pulau seribu masjid. Di setiap kampung, ada lebih dari satu masjid. Bandingkan dengan jumlah penginapan yang tak sebanyak jari tangan. Rumah makan mungkin hanya kau temui di dekat pasar atau terminal. Dan, inilah satu dari sedikit pulau terkenal berpenghuni yang tak memiliki rumah makan padang.

 

IMG_6459

rumah dan kerambah di tepi pantai, bersih !

IMG_6410

menyeberang ke Tidore

Tidore di masa lalu pernah jaya. Pamornya mengalahkan Ternate. Tidore juga pernah gemilang di bawah kepemimpinan Sultan Nuku. Begitu beringas dan kuatnya Nuku sehingga membuat Spanyol dan Portugis pontang-panting. Kekuasaan Nuku tak hanya merambah Ternate, Jailolo, atau bacan, tapi meluas sampai ke Seram dan Kepulauan Aru yang masuk kerajaan Raja Empat. Nuku yang bijak, Nuku yang tegas, Nuku yang garang, Nuku yang tanpa ampun melawan kezaliman. Nuku yang membawa Tidore masyur di abad ke-18 hingga kematiannya 14 November 1805.
Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 442 other followers