Sebelum Pertunjukan


Melaka di waktu malam

Melaka di waktu malam

Ranjangnya tepat di sisi jendela, sedang ranjangku berada paling ujung, dekat dengan pintu keluar. Kami dipisahkan oleh empat ranjang bertingkat kosong. Di hadapan kami masih ada tiga ranjang bertingkat, dua di antaranya diisi perempuan bule yang selalu pulang jelang subuh.

Kebiasaan kami serupa jika berada di dalam kamar. Otak-atik telepon genggam atau ipad, onlen. Wifi di penginapan bertarif 12 ringgit semalam ini lumayan lancar. Kalau sudah begitu, nyaris tak ada suara menyapa. Namun soal jalan, kami berbeda. Aku selalu keluar pagi, jelang matahari terbit, saat kupikir dia masih tertidur dengan dada telanjang. Tubuhnya hanya dibungkus celana pendek.

Kamar dormitori berukuran 4m x 8,5m itu terasa lapang karena hanya berisi empat orang. Kalau mau, kita bisa main kriket di dalamnya. Apalagi empat kipas angin yang menempel di langit-langit tak henti berputar. Namun cuaca panas di luar tetap membuat tubuh kegerahan.

Aku selalu pulang ke hostel di saat hari sangat panas, tengah hari jelang pukul dua. Kemudian aku akan keluar lagi menyambut matahari tenggelam hingga nyaris tengah malam. Sekedar menikmati terangnya lampu-lampu di bantaran Kali Melaka. Pada saat aku tiba di penginapan, biasanya dia sudah ada di dalam kamar. Telanjang dadanya. Kepanasan. Dia pun akan keluar lagi kala udara tak lagi menyengat. Dan balik lagi ke kamar satu dua jam usai aku pulang. Lalu dia sibuk dengan telgamnya lagi. Begitu tiga malam pertama kami jalani.
Continue reading

Tumor dan Minyak Kelapa


IMG-20150526-WA0000

kakek yang menderita tumor di telinga, awalnya ketika jadwal membersihkan luka di puskesmas, banyak darah keluar dan lukanya bernanah. setelah diolesi dengan minyak kelapa yang mengandung sari mahkota dewa, luka berangsur membaik. tak bernanah lagi, darah berkurang, dan mulai mengering.

Ini sekedar berbagi kisah. Beberapa hari lalu dokter puskesmas teman saya mengirim pesan singkat, “Masih ada lagi minyaknya nggak? Kata perawat, pasien tumor telinga, lukanya mengering setelah diolesi minyak yang kau berikan.”

Syukurlah, pikir saya. Beberapa bulan lalu saya pernah posting di fesbuk tentang seorang kakek yang hidup seorang diri dan menderita tumor di telinganya. Tumornya telah menyebar, meninggalkan luka di kepala. Karena hidup sendiri, kakek ini hanya sempat sekali seminggu ke puskesmas. Di puskesmas, perawat hanya bisa membersihkan luka tumornya. Ketika dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, kakek keberatan karena tak ada kerabat yang mengantarnya ke rumah sakit.

Kondisi kakek ini sempat menarik perhatian walikota Surabaya, Bu Risma. Saya tidak mengikuti kelanjutan berita si kakek. Hanya, ketika baksos kanker diadakan, saya sekedar menyumbang sabun -khsusnya sabun garam dan kanola- serta minyak kelapa yang mengandung berbagai ramuan, antara lain bunga melati dan mahkota dewa, untuk dioleskan pada luka/borok di bagian tubuh penderita kanker. Siapa tahu bisa membantu.

Continue reading

Kesah tentang Buruknya Agen Pengiriman Barang


paket2

andai paketku tak sampai, tolong katakan jujur saja, biar cepat kuganti dengan barang baru :P

 

Ini sekedar keluh-kesah akan pelayanan agen pengiriman barang -khususnya PT POS dan JNE- di Indonesia akhir-akhir ini. Bukan bermaksud memburukkan kinerja mereka, tapi sebagai ungkapan kecewa karena hal ini terjadi berkali-kali, bukan hanya satu dua kali.

Saya termasuk pemakai setia jasa pengiriman via pos dan JNE, terutama sejak saya mulai menerbitkan buku di tahun 2012. Banyak buku, kemudian sabun, saya kirimkan via dua jasa pengiriman di atas. Dalam sebulan, sekitar 30 kali saya mengirimkan buku mapun sabun via dua jasa pengiriman di atas. Saya mulai dengan PT Pos.

Beberapa kali kiriman buku tidak sampai via PT Pos, dengan alasan alamat tidak dikenal atau tidak jelas, Ketika saya mengirimkan sebuah buku ke Padang tahun lalu, buku pun kembali ke alamat rumah dengan tulisan tidak ada RT/RW. Padahal, setelah saya konfirmasi dengan alamat tujuan, alamat itu yang biasa dipakai dan biasanya kiriman sampai tanpa masalah.

Ada juga kiriman buku ke Jakarta yang kembali, dengan alasan yang sama. Si tertuju sampai bilang, “Jangan pakai pos Mbak, pakai JNE saja. Kalau alamat kurang jelas, JNE akan menelepon”.

Belakangan, kondisi ini saya akali dengan mencantumkan no. HP. tujuan pengiriman. Benar saja, Pak Pos akan mengirim SMS ke tujuan, menanyakan apa ada di rumah atau ‘ancer-ancer’ rumah. Saya pun merasa lega.

Continue reading

Plastik, Makanan, dan Kearifan Lokal


Saya kerap sedih melihat peran plastik yang membesar, khususnya di bidang makanan. Bukan hanya dalam skala industruri besar/pabrikan, tapi juga merambah penjual kue tradisional di pasar-pasar. Bahkan merambah ke acara kondangan, slametan, kenduri di kampung-kampung. Sungguh sulit menemukan jajanan yang ‘tak dibungkus’ plastik. Semua harus dimasukkan plastik. Entah itu apem, tetel, lemper yang sudah jelas-jelas dibungkus daun pisang, hingga kacang, telur, permen, krupuk udang. Seolah para pembuat makanan itu berkata, ‘Lihat, makananku ini sungguh higienis karena dibungkus plastiki!’ Jihaiii, jijay dan lebay amat.

Terpaksa, saya bongkar-ongkar foto lama, dan menuangkannya di bawah ini :P

IMG_7448

ini sagu yang banyak dijual di seantero Maluku. penjualnya masih menggunakan daun pisang sebagai pembungkus

IMG_7437

gula aren atau gula merah, memanfaatkan daun pisang kering sebagai pembungkus. kadang juga memanfaatkan semacam daun sagu dan woka

Continue reading

Proyek 100 Sabun : Sebuah Metamorfosa


_MG_4054Agustus tahun lalu saya membuat proyek iseng untuk mengatasi insomnia : membuat 100 sabun dengan bahan sealami mungkin. Saya lalu menulis salah satu resep dalam postingan ‘Membuat Sabun Sendiri’. Sebulan terakhir ini postingan ‘Membuat Sabun Sendiri’ selalu menjadi posting terbanyak pembacanya di blog ini. Mungkin begitu banyak pembaca yang ingin dapat membuat sendiri sabun mandinya, untuk dikonsumsi sendiri tentunya. Mungkin pula banyak yang ingin memulai usaha dengan menjadi seorang  pembuat dan penjual sabun.

Harus saya katakan bahwa tulisan ‘Membuat Sabun Sendiri’ berdasar pengalaman awal saya saat mulai belajar membuat sabun dan sabun itu saya konsumsi sendiri. Kebetulan waktu itu saya masih memiliki sekitar setengah kilogram cocoa butter yang sudah saya simpan di kulkas selama lebih setahun. Sabun hasil sendiri tersebut kemudian saya bagi-bagikan ke kawan-kawan dekat.

Ketika saya memutuskan untuk menjual sabun produk saya, maka tatacara dan aturan dalam postingan ini pun banyak yang tak berlaku. Saya menciptakan banyak resep sabun kemudian, termasuk belasan resep sabun coklat/cocoa butter baru, yang saya rasa lebih bagus hasilnya. Saya juga menggunakan teknik yang saya anggap lebih efisien dan efektif, sehingga hasil sabun lebih maksimal.

Continue reading

Opa Si Pemberi Wangsit


11025802_962837407061465_6056156226101827688_n

rumah tempat saya menginap

Ini lanjutan tulisan diburu hantu di Semarang dan Lasem.

Saya meringis saat memasuki halaman rumah tua calon tempat menginap. Ingin rasanya hengkang segera, meninggalkan tempat ‘seram’ itu. Sekali pandang, tampak rumput di halaman belakang meninggi seolah berbulan-bulan tak pernah dipangkas. Pendopo di rumah samping begitu kotor dan berdebu. Pintu menuju rumah terkunci selama berbulan-bulan. Kata Mas Pop -tuan rumah saya- kemudian, kuncinya hilang entah di mana. Sedang calon rumah penginapan yang akan saya tinggali menebar aroma debu lama, apek dan dingin.

Saya pandang sekilas atapnya yang gegar menjulang. Singup, walau berkesan angkuh dan rapuh. Seolah ada sepasang mata yang mengawasi kedatangan saya, segera mata saya tertuju ke sosok pengawas itu. Namun tidak ada siapa-siapa di sana, sepasang mata ini menghilang, tinggalkan aroma yang mengancam.

Continue reading