Kemurahan Hati Tukang Ojek

Tags

,


pengendara motor di poipet lebih sopan, model motornya pun lebih baru

kalau ini tukang ojek di poipet, bukan di seririt, Bali

Belum terlalu siang, baru sekitar pukul 11.00 ketika saya bergegas meninggalkan Brahmavihara. Memang, acara penutupan retreat yang diisi dengan menjawab pertanyaan peserta oleh Sayadaw U Osadha sudah usai. Kini tinggal acara makan siang. Tapi saya lewatkan makan siang, ingin segera menghirup kebebasan. Lagipula sudah dua hari ini saya kehilangan nafsu makan. Badan lemas, tentu saja, karena selama retreat meditasi saya memilih sayur dan buah dalam jumlah sedikit. Namun, makan ‘kenyang’ tanpa menyisakan ruang perut yang ‘lapar’ bukanlah cara bijak dalam bermeditasi, karena akan mengundang kantuk. Saya rasa dalam hidup pun begitu. Penuh di satu sisi akan membuat ruang kosong di sisi yang lain. Karena begitulah prinsip keseimbangan hidup.

Saya pilih berjalan kaki selama 10 menit sebelum bertemu tukang ojek ketimbang menunggu mereka di halaman brahmavihara. Rasanya menyenangkan menapaki jalanan dengan langkah-langkah kaki yang ringan tanpa perlu mencatat ‘kiri.. kanan’ atau ‘angkat.. letakkan’ atau ‘angkat .. dorong.. turunkan’ atau yang biasa saya lakukan dengan ‘niat.. angkat.. niat.. naik.. niat.. dorong.. niat.. turun.. sentuh… injak’. Saya pilih menuju Hardys, membeli sebatang coklat ketimbang langsung ke Munduk. Usai dari Hardys, baru saya cari ojek lain menuju Munduk.

“Tije?” tanya tukang ojek yang siap memacu motornya.

“Munduk, Bli!” kata saya, “berapa?”

“Empat puluh,” katanya.

“Biasanya dua puluh lima,” jawab saya menawar.

“Tiga puluh lima sudah,” kata tukang ojek menurunkan harga.

“Tiga puluh,” jawab saya sekenanya. Dia mengangguk, saya langsung naik ke motornya.

Continue reading

Sabun Garam dan Kesombongan Sosial di baliknya

Tags

,


Sering kali saya menerima email yang isinya permintaan resep sabun garam. Tapi maaf, semua permintaan saya tolak. Menurut saya si peminta resep tak mau sedikit bersusah payah. Mereka pasti punya jaringan internet di rumahnya, di kantornya, atau di HP-nya. Dengan sedikit browsing, googling, mereka akan menemukan banyak literatur tentang sabun garam. Tinggal mau sedikit meluangkan waktu, belajar, berpikir, maka resep sabun garam akan mereka dapatkan. Meminta sesuatu dari orang lain, sedang sumber informasi luas tersedia, adalah sebentuk kemalasan, sekaligus tidak menghargai kerja keras orang lain.

sabungaram

sabun garam yang dipoles dengan daun suji dan daun pandan

Banyak di antara mereka yang mengaku hendak mengembangkan sabun garam karena Indonesia negara kelautan yang kaya garam. Bagus itu, kata saya. Namun lebih bagus lagi jika mereka juga mengangkat nasib petani dan buruh garam. Bukan hanya membeli garam mereka setelah dimulai dengan tawar-menawar (meskipun saya yakin harga yang mereka tawarkan jelas lebih tinggi dari harga pabrik), lalu membungkusnya dalam sabun garam, menjualnya dengan harga berkali lipat, lalu keuntungan masuk kocek sendiri. Yang begini sama saja mengatasnamakan nasib malang orang lain demi kemakmuran pribadi.

Jadi apa mau saya?

Suatu siang saya berbelanja di Pasar Baru Bangkalan. Saya hendak mencari petis, lorjuk, garam, dan beberapa kain batik madura. Di sudut loji pasar, ada perempuan yang menjual garam krosok bersama bahan-bahan jamu lainnya. Orangnya sangar, garam seberat 300 gram diganjar dengan harga Rp.5000. ‘Dia pasti pengepulnya, bukan petani garam asli,’ pikir saya.

Continue reading

Membuat Lilin Lebah Sendiri

Tags

,


Dalam postingan sebelumnya, saya kisahkan mendapat bingkisan sarang lebah dari Rumah Intaran seberat 9 kg. Menurut teori, jika saya olah, akan menghasilkan sekitar 1,5 kg lilin lebah alias beeswax. Lilin lebah ini kemudian bisa digunakan untuk beragam kebutuhan, misalnya campuran bahan sabun, sampo, kosmetik, salep pengobatan, hingga menjadi lilin pembersih telinga. Benar-benar menggiurkan manfaatnya.

beeswax

sarang lebah dari rumah intaran

Saya memutuskan untuk mengolah sarang lebah ini dua kali, menggunakan panci lama yang nyaris tidak pernah digunakan ibu saya. Panci ini cukup besar, bisa menampung sekitar 5 kg sarang lebah. Tanpa banyak persiapan, termasuk pencucian, saya merendam 3/4 panci dengan air, lalu memanaskannya dalam api kecil di kompor gas. (Maklum, hidup di kota tak punya tungku kayu :( )

Sekitar 10 menit kemudian muncul reaksi sebagai berikut :

reaksi kedua

sarang lebah berubah menjadi bubur

Lalu beberapa menit kemudian, lapisan lilin mulai mencair

reaksi 3

bagian permukaan yang berwarna putih adalah lapisan lilin

Continue reading

Bingkisan dari Rumah Intaran

Tags

,


IMG_0047

pohon intaran di Rumah Intaran

Beberapa bulan lalu saya mendapat bingkisan dari Rumah Intaran, biro arsitek desa milik Gede Kresna di Desa Bengkala, Kubutambahan, Singaraja, Bali. Sekarung daun intaran kering, sesuatu yang tampak sepele tapi sangat berharga buat bahan obat tradisional dan bahan sabun.

Intaran atau yang lebih dikenal sebagai mimba, pohon sukarno, neem atau Azadirachta Indica A. Juss ini amat banyak manfaatnya, mulai dari buah, daun, batang, hingga akar. Di India, neem dikembangkan sebagai salah satu tanaman penting dalam pengobatan ayurveda. Di Rumah Intaran, pohon neem meraksasa, bergerak melampaui langit-langi rumah, seolah hendak menjangkau langit.

karungintaran

sekarung daun intaran kering

Sebagai tanaman obat, neem berfungsi sebagai anti virus, anti jamur, anti racun sehingga digunakan untuk mengobati gigitan serangga berbisa. Jika diminum neem bisa mengobati penyakit jantung, membunuh sel tumor dan kanker, juga penyakit malaria.

Continue reading

Tutorial- How to make your own beeswax


membuat beeswax sendiri dari sarang lebah yang telah diambil madunya

It is much easier than you think! The trick is to find the raw honeycomb that the process begins with. I suggest contacting local beekeepers and asking if they do anything with their old honeycomb.  The honeycomb I used came from a unique place—an entire cross section of an old fallen tree that was filled with an abandoned wild bee hive. When the giant tree fell the bees didn’t survive and I was able to harvest a lot of honeycomb. The shapes, colors, and smells of the honeycomb were so enticing have served as inspiration for some of my recent work visually. In addition to drawing and painting images of the comb I thought it would be a great experience to make my own beeswax from it! The process ended up being very simple.
1. Break all the honeycomb into smaller pieces and add them to a large pot that you…

View original post 263 more words

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 430 other followers