Menembus Wudang

Hari ke 7, 16 oktober 2017.

Seporsi 30 yuan di danjiangkou, cukup buat 2-3 orang

Saya tinggalkan hostel di dongti men pukul 7 pagi. Host dan anak lelaki mereka masih tertidur. Dengkurnya terdengar dari luar. Saya sendiri sudah bangun sejak 5 pagi. Hanya mencuci muka, menyikat gigi. Malas mandi. Di negeri mao ini saya mandi 2-3 hari sekali. Dingiiin. Padahal baru musim gugur, bagaimana kalo musim dingin?

Kali ini saya tak mau nyasar lagi, jadi memilih menghadang taksi. Banyak taksi kosong lewat di dongti men. Tapi saya baru naik taksi dekat bus stop. Taksi berwarna hijau dengan argo. Sopirnya langsung mengangguk saat saya tunjukkan tulisan yang diberikan anak host semalam. (Saya lupa menanyakan namanya padahal dia bisa berbahasa inggris dengan baik.)

10 menit kemudian taksi berhenti di train station. Walau ragu saya turun juga. Saat saya tanyakan harga dia menunjuk argo. 8,5 cny. Saya ulurkan duit 10 cny.

Saya turun dan berjalan mengikuti arus orang masuk halaman stasiun tapi saya keluar menuju pintu lain di belakang dan di sanalah saya melihat tulisan KFC. Berdasar data yang saya baca, tempat membeli tiket bus ada di samping kfc. Jadi saya menyeberang jalan. Masuk ke ruangan dengan banyak loket dan antrian. Mirip orang bodoh saya tanya ke petugas sambil menunjukkan tulisan wudang, dia lalumenunjuk loket.

Pada petugas loket saya tunjukkan kembali kertas itu, petugas menggeleng dan berbicara yang saya anggap tak ada bus ke wudang. Lalu saya bilang shiyan, petugas meminta paspor saya dan membolak baliknya mirip orang bingung. Rupanya dia bingung mencari nama saya. Tiket bus xian shiyan 129 yuan. Setelah tiket bertuliskan pinyin saya terima, saya menebak-nebak jam berapa bus berangkat. Saya lihat 08.00, saya pun berlari masuk ruang check in dan pemeriksaan barang. Sudah pukul 7.23.

Lalu saya memasuki terminal dengan nomer-nomer gerbang di atasnya sesuai yang ada di tiket. Itu nomer tujuan. Dasar ga bisa baca, nomer tempat duduk saya pikir nomer gerbang. Untung cepat sadar. Dan lagi-lagi salah bus, harusnya no. 13 masuk ke no.14. Untung petugas pemeriksa tiketnya ramah, lalu menunjuk bus yang benar.

Saya duduk di bangku no.22, samping saya lelaki dan dua temannya di depan. Lelaki itu tampak baik, beberapa kali mengajak bicara, dasar nggak mengerti bahasanya saya pun menggeleng. Dia suka berdahak dan meludahkannya di tempat sampah. Agar tak terganggu, saya pasang headphone.

Bus sekali berhenti di sebuah stasiun untuk menaikkan penumpang lalu membelah kota xian yang padat lalu lintas. Begitu keluar kota bus membelah jalan lapang dan sepi. Setiap jalan berlaku satu jalur. Kerap jalan menembus bukit. Jalan menuju shiyan di propinsi hubei ini memang berbukit-bukit. Buat saya, pemandangan dalam perjalanan ini luar biasa. Bukit-bukit bermunculan, menjulang, diselimuti tumbuhan warna merah dan hijau kecoklatan. Khas musim gugur. Dibanding wudang nantinya, pemandangan ini jauh lebih bagus dan indah.

Setelah dua jam perjalanan, bus memasuki kawasan rehat. Di sini penumpang masuk tandas, merokok, makan dan minum. Saya menuju toilet, buang air kecil. Toiletnya tak sehoror yang diceritakan. Memang masih memakai wc jongkok dengan lubang dicat hitam dan tak ada air buat cebok. Jadi persiapkan tissu basah. Saya baru sadar hanya saya yang menekan flush -terdengar darj gemuruh suara-, penghuni lain usai beser langsung kabur hehe… Sunyi.

Sekitar tengah hari bus memasuki daerah pemukiman yang datar lalu berhenti. Di sini pemberhentian terakhir, begitu kata sopir. Penumpang pun turun, mengambil bagasi. Saya ikut turun tanpa harus tahu kemana. Seorang laki paruh baya keluar dari bilik mirip ruang satpam, saya dekati dia sambil menunjukkan tulisan wudang. Dia menggerakkan jarinya mirip angka. Bingung membaca maksudnya saya berikan pulpen dan kertas. Dia lalu menuliskan angka 67 dan menunjuk bus stop di depan. Berjalanlah saya ikut antrian orang-orang. Ketika bus 67 lewat semua menyerbu. Saya yang terakhir masuk, menyodorkan 1 yuan ke kotak. Kondektur teriak menyuruh saya cepat masuk.

Jujur saya tidak tahu harus berhenti di mana, jadi saya diam dan mengamati. Ada kalanya bus melewati rel kereta api yang kumuh, atau mirip terminal. Mungkin di situ seharusnya saya berhenti tapi saya tak mau berspekulasi di negeri yang huruf dan bahasanya tak saya mengerti. Jadi saya turun di pemberhentian terakhir.

Saat hendak turun saya tanya kondektur dengan menunjuk tulisan wudang, kondektur membentak saya sambil menunjuk perempuan di halaman sekolah. Jadi saya turun menghampiri perempuan itu sambil membawa tulisan, perempuan itu menunjuk kawannya, perempuan cantik yang menyebrangkan anak-anak sekolah. Peremouan cantik itu menuliskan sesuatu, termasuk angks 202 lalu menyuruh saya mengikuti anak-anak menyebrang.

Ada bocah lelaki yang mendekati saya bertanya tujuan saya. Saya tunjukkan tulisan perempuan cantik itu. Lalu di akhir tanjakan bocah itu memanggil saya, menyuruh saya masuk ke celah sempit pagar, sebelum meninggalkan saya. Ternyata itu jalan pintas menuju sesuatu. Ada percabangan di ujung jalan, ke bawah atau ke atas. Saya pilih ke atas, lalu berakhir ke lorong pertokoan. Kembali saya tunjukkan tulisan perempuan cantik ke seorang perempuan, dia menunjuk arah bawah. Saya salah pilih jalan.

Kalau mengikuti jalur ke bawah, akan berakhir di terminal bus yang berhadapan dengan stasiun kereta api. Saya tanya petugas yang berjaga di situ, lelaki setengah baya, dia menunjuk bus 202 yang baru datang. Itu bus menuju wudangshan. Tarifnya 4 yuan.

Tapi kesulitan belum berakhir. Dari booking.com, saya tahu hostel yang saya pesan di dekat bus stop wudangshan gongxiaoshi. Jadi selama perjalanan saya simak baik-baik speaker dua bahasa. Setiap menuju perhentian, akan ada pemberitahuan dan alarm di telinga menyala. Namun hingga pemberhentian terakhir tak ada kata wudangshan gongxiaoshi. Lalu saya simak peta hostel dan mulai mencari. Saya naik hingga pintu masuk tn wudangshan bertanya kepada tentara yang jaga. Serius tentaranya cakep banget, kalah aktor kdrama. Saya disarankan turun, jika menuju bank of china. Hostel ada di depan bank of china. Seorang perempuan di tepi jalan yang menanyakan tujuan saya, juga menyarankan saya turun. Jadi saya turun hingga 500m namun tak menemukan bank of china. Ada sekumpulan atm di pompa bensin tapi bukan taman dan hotel di depannya. Akhirnya saya putuskan naik kembali dan menemukan papan jalan bertuliskan jika ke kanan menuju wudangshan, ke kiri jalan tol, dan lurus danjiangkou. 

Kejadian di xian terulang kembali, sulit menemukan lokasi hostel. Sudah satu jam saya jalan kaki sejak keluar bus, namun hostel tak ketemu. Saya nencoba menelpon no hotel tapi jawaban reseosionisnya malah membuat bingung. Dia menyuruh saya mencari bank of china. 

Tapi saya tak ingin panik. Danjiangkou itu mirip kota yang sedang dibangun. Sepi. Bangunan yang belum jadi berwarna abu-abu beton. Memang ada sedikit penginapan dan restoran namun benar-benar sepi. Saya mengambil beberapa foto dengan hp, terpesona. Tak terasa sudah jelang pukul 6 petang. Saya berpikir akan tidur di penginapan sekitar. Badan mulai lelah, sejak pukul 7 sudah berangkat. Beberapa wanita menawarkan penginapannya, saya mulai bimbang. Hingga seorang lelaki bersepeda motor mendekati saya menawarkan hotelnya. ‘Kamu akan tidur di kamar tersendiri dengan kamar mandi dalam,’ begitu kira-kira katanya. Saya tanya berapa, dia tunjukkan 6 jari. Saya tunjukkan 4 jari, dia ganti 5. Ok pikir saya. Lima malam di xian dan berjalan kaki 15-20km sehari cukup melelahkan. Waktunya hibernasi. Dia menggonceng saya, menurunkan di hotelnya. Saya meminta single bed, bukan 2 bed. Kamarnya lumayan di lantai 2, tidak menghadap jalan raya. Dapat king size bed, ada ac yang tak berguna di musim begini, teve, pc komputer, pemanas air. Kamar mandinya bersih sejali dengan heater dan tempat menyikat gigi. Semua berfungsi baik.

Bukannya mandi, saya justru memesan makan. Agak mahal, standar hitel. 30 yuan. Saya bebas memesan menu, malah disuruh memilih bahan sendiri. Nasi, tumis sawi dan orak-arik telur tomat. Porsi tumis dan telurnya cukup buat 3 orang. Saya rasa malam ini akan tidur nyenyak.

Advertisements

Tokcernya Minyak Bunga Tahi Kotok

Tags

, , , , ,

bunga gumitir alias tahi kotok alias telek lencung alias marigold tagetes

Orang Bali menyebutnya bunga gumitir, satu dari sekian bunga yang menjadi menu wajib canang -sesaji dari bebungaan- setiap hari. Itu sebabnya mendapatkan gumitir di pulau dewata ini amatlah mudah, murah pula. Yang jual banyak, di mana-mana. Satu tas kresek ukuran kecil hanya Rp.5000.

Pada era sebelum 1980-an gumitir alias kembang telek lencung atau tahi kotok ini begitu mudah ditemukan di tempat tinggal saya. Selain kembang kertas dan dahlia, telek lencung mendominasi halaman kosong perumahan di markas kodam V Brawijaya Surabaya itu. Kalau orang ditanya mengapa menanam bunga tahi kotok di halaman rumah, jawabannya sederhana, warna bunganya menyegarkan mata. Kuning cerah atau oranye. Namun jangan harap ada yang mau memetiknya, lalu  meletakkannya dalam jambangan untuk pajangan di dalam rumah.. Mengapa? Aromanya tajam, nyegrak, dan tidak menyenangkan. Di masa itu mungkin para tetangga saya -dan juga saya- tak tahu bahwa aroma bunga tahi kotok ini ampuh buat menghalau nyamuk serta serangga di halaman rumah.

Bunga tahi kotok atau nama kerennya marigold, atau tagetes sp, merupakan keluarga asteracea, masih satu keluarga dengan bunga matahari, dalam kerajaan plantae. Ada yang mengatakan bunga ini berasal dari afrika lalu menyebar ke Eropa, Amerika, dan penjuru dunia. Namun ada yang mempercayai ini bungan asli Amerika latin,  Tagetes ada beragam jenis, yang banyak tumbuh di Indonesia adalah tagettes minuta dan tagetes erecta. (informasi lebih lengkap coba baca tagetes in wikipedia. )

Bunga beraoma nyegrak ini sudah dimanfaatkan suku-suku Indian Amerika sejak berabad lalu. Mereka menggunakannya sebagai penawar gigitan serangga, meredakan infeksi dan bengkak. Bukan hal aneh karena bunga jenis kenikir-kenikiran ini mengandung zat seperti limonene, ocimene, tagetone dan valeric acid.

tagetes erecta, satu jenis tagetes yang mudah didapat di Indonesia

Zat-zat di atas yang membuat bunga tahi kotok bersifat : antibiotik, antimikroba, antiparasit, antiseptik, disinfektan, insektisida, meredakan kejang (antispasmodik), dan menenangkan (sedatif).  Itu sebabnya tahi kotok banyak digunakan sebagai obat alami, seperti :

    • Infeksi saluran napas bagian atas.
    • Batuk rejan (pertussis).
    • Radang saluran napas (bronkhitis).
    • Radang mata (conjunticitis).
    • Radang tenggorokan (Pharyngitis).
    • Sariawan (aphthae), sakit gigi.
    • Gondongan (parotitis).
    • Panas kejang pada anak-anak.
    • Radang kulit bernanah (pioderma), luka.
    • Pembengkakan payudara (mastitis)

Continue reading

Lidah Buaya, Dari Minuman, Sabun, hingga Penambal Luka

Tags

, , , ,


Awal Juni saya mendapat kiriman lidah buaya dari seorang teman maya -belum pernah berjumpa muka- yang setia menjadi pelanggan sabun-sampo saya. Teman ini sedang panen lidah buaya di kebunnya. Kaget juga menerima paketnya. Gel lidah buaya seberat 2 kg dipaketkan dalam kardus dengan botol plastik berlapis plastik. “Banyak sekali,” pikir saya. Karena sudah menempuh semalam perjalanan -dari Sidoarjo ke Surabaya via Wahana- gel lidah buaya ini tak bisa dimakan, namun bisa dipacaki menjadi aneka produk non makanan. Hanya, ‘banyaknya’ itu yang membuat kepala keliyengan. Sebelum kadaluarsa, saya harus segera mengawetkannya agar tahan berbulan-bulan disimpan di kulkas, yah minimal 3-6 bulanlah. Eman-eman kalau tak bisa dioptimalkan manfaatnya.

Mengawetkan Lidah Buaya

Saya lalu mempersiapkan vitamin C dalam bentuk kristal (asam sitrat)-tidak boleh menggunakan xonce, vit c yang kapsul atau pil yang siap ditelan- dan vitamin E dalam bentuk minyak dengan kadar tertentu yang cukup buat mengawetkan 2 kg gel lidah buaya. Lalu kedua vitamin saya campur gel lidah buaya lalu saya mixer agar tercampur merata. Kemudian campuran lidah buaya baru saya masukkan botol kembali dan disimpan di kulkas. Akhirnya saya memiliki persediaan lidah buaya untuk beberapa  bulan :D.

jus lidah buaya

Selama ini kaum perempuan lebih mengenal lidahbuaya sebagai penyubur rambut. Biasanya mereka menggunakan lidah buaya secara langsung. Lidah buaya dibelah, lalu gelnya dioleskan langsung ke rambut. Beberapa saat kemudian mereka keramas. Memang, lidah buaya berkhasiat menyuburkan rambut sekaligus mencegah rambut rontok.

Mengkonsumsi Lidah Buaya

Adakalanya kita temui penjual es lida buaya. Gel lidah buaya dalam bentuk kotak kecil-kecil dijual sebagai campuran es. Konon, es lidah buaya mampu mengobati panas dalam. Yang kurang pembeli sadari, lidah buaya juga bisa menurunkan berat badan asal tidak dikonsumsi campur gula hehe.. Paling bagus gel lidah buaya dicuci dulu, dibuang lendir kekuningannya, dijus, dicampur tomat, buah naga, atau jeruk, lalu diminum setiap pagi sebagai pembuka sarapan. Dijamin, selain tubuh mengurus, juga semakin kuat dan awet muda. Jika Anda memiliki kebun lidah buaya, sila mencoba setiap hari. Hasilnya nanti laporkan saya setelah sebulan 😛

 

es lidah buaya, peredam panas dalam dan pengurus badan (tanpa gula)

Belakangan, lidah buaya sudah banyak diproduksi sebagai minuman instan, berbentuk serbuk dan siap tuang. Yang perlu Anda perhatika, lidah buaya olahan seperti ini sudah kehilangan sebagian besar nutrisinya. Jadi, jangan berharap banyak mendapat manfaat hebat jika meminum lidah buaya instan. Cukup sudah jika dahaga Anda terobati.

Jika berniat mengkonsumsi lidah buaya, sebaiknya menggunakan lidah buaya segar. Andai ingin menyimpannya di kulkas, maksimal hanya bagus disimpan semalam. Lebih dari itu nilai nutrisinya menurun drastis. Continue reading

Minyak Kelapa (2), Teknik Pembuatan dari Munduk hingga Pulau Seram

Tags

, , ,

sambungan dari Minyak Kelapa (1), dari Ngasem Hingga Banda Neira

kelapa sisa banten atau sesajen yang kerap dijadikan Mbok Luh minyak kelapa

Setidaknya dua-tiga  kali saya terlibat langsung dalam pembuatan minyak kelapa tradisional dalam lima tahun terakhir ini. Tapi sungguh, saya tak ingin mempraktekkannya di rumah. Buah kelapa di kota besar seperti Surabaya tidaklah murah. Lebih baik beli di toko saja. Saya menghemat waktu dan doku, si penjual mendapat untung, ah simbiosis mutualisme yang pas.

Sekali saya melihat langsung pembuatan lengis – istilah minyak kelapa di Bali- beberapa tahun lalu, saat tinggal di Munduk. Saya menyaksikan Mbok Luh,perempuan perkasa pembuat banten dan canang dan segala tetek bengek upacara, membuat lengis di dapur bendesa Putu Ardana. Mula-mula, Mbok Luh mengumpulkan kelapa-kelapa tua sisa banten -sesaji yang dipergunakan dalam ritual di Bali- memecah cangkangnya, dan memarut buahnya -tentu saja dengan tangan-sampai satu baskom besar. Mungkin ada 7-8 butir kelapa yang diparutnya bersama-sama beberapa pekerja Don Biyu.

Kelapa hasil parutan lalu diambil santannya -yang cukup kental- lalu dimasukkan ke wajan, dipanaskan dengan api sedangl -via kompor gas- dan Mbok Luh bersiap dengan erosnya menyiduk setiap tetes minyak kelapa yang mencuat dari atas santan.

Mbok Luh dan anaknya


Continue reading

Meditasi, Moralitas, dan Agama

Tags

Setiap kali hendak mengikuti retreat meditasi, pasti ada teman yang bertanya, “Kenapa menyiksa diri? Apa kau ingin menjadi sakti? sehat? melarikan diri dari masalah?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap mereka lontarkan, dan saya hanya menjawab, “Karena suka, semata suka.” Dan mereka akan terus bertanya jika saya hendak mengikuti retreat meditasi berikutnya, begiatu seterusnya. Dan saya mungkin akan terus menjawab karena suka. Tanpa target dan motif tertentu.

Lima enam tahun lalu, ketika mengikuti retreat meditasi pertama kali, alasan saya karena ingin mengendalikan diri saya. Saya begitu mudah tersinggung, bahkan oleh hal-hal yang sepele. Meditasi menurut teman, dapat membantu kita mengendalikan diri, baik pikiran maupun perasaan. Saya lalu mulai rutin mengikuti retreat meditasi, mencoba beberapa metode yang berbeda, dari yang total hanya duduk selama seharian sambil ‘scanning’ bagian tubuh, ada yang bertujuan melatih konsentrasi atau meditasi samatha, lalu yang fokus pada pikiran, terakhir meditasi pandangan terang atau vipassana satipatthana. Pada teknik yang terakhir ini saya merasa pas. Walau dilakukan seharian selama belasan jam namun tak membuat tubuh saya remuk redam, karena dilakukan bergantian antara duduk dan berjalan, serta selalu menekankan pada kondisi sadar pada apapun yang dilakukan.

Tentu, setiap peserta meditasi akan menemukan teknik yang dirasanya cocok bagi tubuhnya. Ada yang suka meditasi samatha, ada yang memilih meditasi metta bhavana atau meditasi cinta kasih, ada yang mirip saya, dan mungkin ada yang lebih suka fokus pada pikiran. Yang terpenting, mereka merasa nyaman saat bermeditasi dan mendapatkan manfaat usai meditasi.

Ya, manfaat meditasi umumnya baru dirasakan usai mengikuti retreat meditasi, ketika kita hidup di dunia nyata, bergaul dengan banyak manusia, menghadapi segala pikuk kehidupan. Hal itu yang saya rasakan lima enam tahun lalu. Emosi menurun drastis, amarah bisa jadi hanya terbangkitkan sekali sebulan, lalu semakin berkurang, berkurang, bahkan kini bisa 3-4 kali sebulan baru bisa merasakan marah. Itu pun hanya beberapa saat. Lalu adem. Andai dikompori kolega pun, lebih banyak acuh tak acuh. Ketika mendengar gosip atau berita panas ini itu, cuma diam dan menyingkir. Banyak hal menjadi dingin. Menghindari hal-hal penyebab panas, seperti berita di teve, berkumpul dengan tema atau kolega yang ujung-ujungnya gosip, pamer ini itu, menjadi kegiatan rutin. Kalau hendak bicara pun yang perlu dan baik saja, pasang status di medsos pun yang ‘semoga’ berguna buat orang lain. Bukan yang membangkitkan rasa tidak suka, panas, atau komentar jahat. Walau, masih ada saja yang berkomentar jahat, atau berburuk sangka. Namun hati dan pikiran selalu adem, tak bergeming.

Namun manfaat meditasi tak sekedar itu. Saya jadi mawas diri. Ketika mengambil makanan misalnya, saya jadi tahu dan merasakan itu karena lapar atau sekadar serakah memenuhi perut. Ketika membeli sesuatu saya sadar karena kebutuhan atau sekadar menumpuk barang atau memperbanyak koleksi. Saat merasa berlebihan, maka saya harus membaginya dengan orang lain. Begitu juga saat merasa tidak suka dengan seseorang, saya akan menganalisa apakah karena iri, merasa tersaingi, atau sekedar tidak suka dengan perilakunya yang tidak pantas. Dengan demikian, saya akan logis bersikap. Dan saya tak perlu berpura-pura, berbohong, ketika berhadapan dengan seseorang. Jika dipaksa bertemu orang yang suka mengeksploitasi orang lain, saya akan berkata tidak. Menghindari hal-hal yang tidak perlu, atau hal-hal yang mungkin membawa bencana, biasa saya lakukan kini.
Continue reading

Mengintip Nyepi di Desa (1)

Tags

, ,

Dua tahun lalu saya sempat merasakan nyepi di sebuah desa pegunungan utara Bali. Saya tiba di Seririt tepat tengah hari, saat arak-arakan melasti pulang dari labuhan/laut. Melasti merupakan rangkaian awal acara penyucian bhuana alit dan bhuana ageng. Pada saat itu umat hindu membawa peralatan persembahyangan di pura untuk disucikan di laut.

Terjebak dalam arus lalu lintas padat peserta melasti, saya pilih berteduh di sebuah warung yang menyajikan sup ikan ‘sedap’ di depan kantor pos Seririt. Satu porsi sup, sayur, nasi putih dan es teh gelas besar dihargai Rp.11.000. Murah, mengenyangkan, dan enak sekali. Beberapa orang yang pulang dari melis juga mampir di warung ‘ikan sedap’ tersebut. Meninggalkan warung sejam kemudian, saya menuju Desa Munduk.

Menyambut Nyepi, warga desa Munduk pun berbenah. Tampak beberapa orang mempersiapkan ogoh-ogoh di depan arena -gedung pertemuan yang berkaitan dengan kegiatan di desa- walau diguyur gerimis.

Keesokan harinya saya sempatkan mengikuti persembahyangan di Pura Dalem, Ritual ini  merupakan bagian dari upacara Buta Yadnya, yaitu  penyucian Buta kala dalam rangka nelenyapkan segala leteh/kekotoran di alam dunia. Hiruk suasana di depan pura saat itu. Ratusan orang datang membawa banten. Begitu banyaknya orang, membuat pesembahyang harus bergilir memasuki pura. Ketika hujan deras mengguyur, umat pun berlarian mencari tempat berteduh.

Usai sembahyang di pura, maka pawai ogoh-ogoh pun dimulai. Sebagai bentuk pengrupukan, ogoh-ogoh adalah lambang betara kala, yang kemudian diarak keliling lalu dibakar,. Hal ini melambangkan pengusiran dan pembinasahan kekotoran, kejahatan dan hal-hal buruk  dari kehidupan .  Karena melambangkan buta kala, maka ogoh-ogoh selalu berbentuk makhluk yang mengerikan, ganas, dan buas.
Continue reading