Negeri Ajaib Bernama Indonesia

Tags

,


pisani

Judul : Indonesia etc, Penulis : Elizabeth  Pisani, 416 halaman, penerbit Grata, London, 2014.

“Jika kau berlayar menuju sebuah pulau kecil di Maluku pada bulan Juli, saat cengkeh dijemur, maka kau akan bisa mencium ‘Natal’ sebelum melihat daratan.”

Itu satu kalimat yang saya suka dalam buku ini. Cengkeh mengingatkan pada natal, pada saat beberapa jamuan beraroma cengkeh atau rempah. Cengkeh yang dijemur, aromanya mendahului daratan, terbawa angin laut. Itu yang hendak disampaikan  Elizabeth Pisani -mantan jurnalis yang kemudian menjadi peneliti kesehatan- saat mengunjungi Maluku dalam setahun perjalanannya keliling Indonesia demi mencari tahu siapa sih Indonesia itu.

Pencarian tentang Indonesia menggelitik Pisani sejak dia menyadari betapa sedikitnya manusia di bumi ini yang tahu dan peduli tentang Indonesia. Padahal, jika dilihat dari jumlah penduduknya, Indonesia negara ke-4 dengan penduduk terbanyak di dunia, di bawah Cina, India, dan Amerika Serikat. Indonesia juga memiliki luas daratan no. 13 di dunia yang tersebar pada 17000 pulau dan memiliki bahasa lokal sekitar 700 bahasa. Namun, keanekaragaman dan kekayaan itu tak terlihat di mata dunia. Orang lebih mengenal India, Cina, atau Brasil dengan sepak bolanya.

Gemas akan itu, Pisani pun menjelajah Indonesia (minus Jawa dan Bali), mencari sosok Indonesia yang sesungguhnya. Sebelumnya, walau sudah bertahun-tahun malang-melintang di Indonesia, Pisani hanya mengenal Jawa, bali, dan bagian lain Indonesia sebagai turis saja. Tahun 1988 Pisani ditempatkan sebagai jurnalis Reuter di Jakarta, dan meninggalkan Indonesia 1991. Pengetahuannya hanya seputar Jawa -khususnya Jakarta-  dan wilayah seputar kasus yang diliputnya sebatas jurnalis. Kembali tahun 2001 sebagai seorang ahli epidemiologi, Pisani bertugas membantu departemen kesehatan berkaitan dengan kasus penyebaran AIDS. Daya jelajah Pisani terbatas pada pekerja seks di kota-kota besar, walau sesekali dia menjelajah bagian lain Indonesia dengan rasa penasaran yang timbul karena apa yang dilihatnya di berbagai wilayah Indonesia kerap kontradiktif, aneh, dan ajaib. .

Rasa penasaran sekaligus ingin memperkenalkan Indonesia kepada dunia inilah yang membuat Pisani terus mengunjungi Indonesia setiap tahun usai kembali ke negaranya 4 tahun kemudian.

Di bagian-bagian awal buku ini, mirip sebuah pengenalan akan Indonesia oleh Pisani kepada orang luar yang buta Indonesia. ‘Indonesia itu negeri yang ajaib, mustahil, bla bla bla karena ini. Dia dibentuk lewat sejarah yang panjang, lewat kolonialisme berabad-abad dan berdarah-darah oleh bangsa barat lalu Jepang, hingga peristiwa kebetulan kosongnya kekuasaan yang dimanfaatkan Sukarno cs sebaik-baiknya untuk memproklamirkan diri. Dalam bukunya Pisani mencari tahu bagaimana sebuah negara bernama Indonesia bisa dibentuk dari 17ribu pulau yang tersebar begitu luas? Apa yang mengikat orang-orang kepulauan hingga rela menyatukan diri ke dalam negara bernama Indonesia.

Membaca buku ini, saya harus membuang pengetahuan pribadi saya tentang sejarah Indonesia, atau apapun yang berkaitan dengan Indonesia. Saya harus meletakkan diri sebagai sosok bocah kecil yang dipenuhi rasa penasaran dan ingin tahu yang besar, yang tak memiliki pengetahuan cukup akan apa yang membuatnya penasaran. Bocah bernama Pisani yang mencoba mencari jawab akan penasarannya dengan langsung menjelajah Indonesia (minus Jawa Bali), lalu membuat teori dan kesimpulannya sendiri tentang Indonesia.
Continue reading

Tukang Jagal dari Takeo (2)

Tags

, ,


Paginya kuceritakan peristiwa itu kepada Hoo. Dia tak berucap sepatah kata pun. Pandangannya kosong, tak menyiratkan hal itu pernah terjadi sebelumnya atau sama sekali tak terjadi. Hoo malah menyibukkanku dengan rencana-rencana mulianya. Tak sekedar mengajar anak-anak berbahasa Inggris, tapi juga menanam beberapa sayur dan memancing di danau. Kubungkam mulutku rapat-rapat hari itu. Kupikir semua hanya efek kelelahan, atau sensasi sesaat tatkala menginjak negeri asing. Tetapi kejadian di malam berikutnya menghapus pendapat awalku tadi.

rawa-rawa di mana-mana memasuki kawasan Takeo

rawa-rawa di mana-mana memasuki kawasan Takeo

00000

Suatu pagi, kala hari masih berkabut, aku dan Kak Koo kembali menapaki jalanan menuju pasar besar. Kulihat orang-orang bergegas, menghindari pandangan atau perbincangan. Dengan langkah sopan tapi tegas, mereka juga menghindari kami. Aku dan Kak Koo hanya saling berpandang, mendoakan semoga tak terjadi hal mengerikan dengan orang-orang di kota.

Kami menuju sebuah rumah makan pinggir jalan. Lumayan besar bangunannya, pemurah pula pemiliknya. Tak pernah kami pulang dengan keranjang kosong. Beberapa meter sebelum kami sampai di depan pintu, segerombolan tentara memasuki warung makan itu dengan senjata teracung. Semua pengunjung warung bubar. Si pemilik warung tergopoh-gopoh mengeluarkan hidangan yang lezat-lezat buat tamunya, para serdadu. Dan serdadu itu melahap semua hidangan dengan rakus. Aku dan Kak Koo yang memandang dari seberang menjadi malu.

“Ayo kita tinggalkan tempat ini,” bisik Kak Koo. Belum dua langkah kami pergi, si pemilik warung memanggil dari belakang. “Maaf Banthe, telah mengabaikan kedatangan banthe berdua.” Dia lalu mengangsurkan sesuatu ke keranjang kami berdua. Setelah itu berlalu dengan cepat, penuh kecemasan.

Mungkin menjadi tentara lebih terhormat, aku menetapkan pilihan. Tak hanya membuat perutku kenyang sepanjang hari, tapi juga disegani orang. Musuh akan lari tunggang-langgang jika kutembaki dengan peluru. Orang-orang Prancis yang angkuh. Bisa jadi, orangtuaku pun segan dan hormat kepadaku. Tanpa kusadari aku menyeringai, membuat Kak Koo menegurku. “Adik sedang memikirkan sesuatu? Sebaiknya bukan hal yang buruk.”

Sebulan kemudian kutinggalkan biara dan bergabung dengan tentara di pinggiran kota. Mereka sedang menjalankan taktik mengusir musuh negeri, orang-orang Prancis itu dan pengikutnya. Kini aku tak perlu telanjang kaki lagi. Mereka menghadiahiku sepatu lars, sebuah senapan laras panjang, dan mengajariku menembak. Mereka takkan membiarkanku berjalan perlahan, justru memaksaku lari dan menyerang.

Apa? Kau tanya kepadaku rasanya membunuh orang? Tentu telah terjadi metamorfosa dalam diriku. Dulu sebagai pendeta, aku dilarang membunuh. Bahkan, jika itu seekor nyamuk yang baru mengisap darahmu atau semut yang mencuri gulamu. Sebagai serdadu, kehormatanku bergantung kepada seberapa banyak musuh yang kubinasakan. Tembakan pertama pastilah menyakitkan bagi jiwa dan perasaanku. Aku tak bisa tidur tiga hari tiga malam setelah menembak serdadu Prancis. Lalu kupikir, dia musuhku, dia membuat sengsara banyak orang di negeriku. Dia menyebabkan banyak orang meninggal. Jika tak kuhentikan, maka dia akan terus membunuh orang. Pikiran itu menenangkanku. Pembunuhan berikutnya menjadi lebih mudah. Bahkan setelah membunuh delapan musuh, aku jadi mati rasa.

00000

Cerita hantu satu ini lebih mengerikan ketimbang wujudnya. Siapakah dia? Mengapa selalu bertutur tentang darah dan kematian? Tentang musuh tentara Prancis? Aku penasaran. Pikiranku berputar-putar mirip pusaran.

Aku seperti duduk di atas perahu. Di sekitarku terbentang danau yang luas, mirip laut tapi tanpa arus. Teratai menyembul subur di kejauhan. Lelaki itu, yang kusebutp hantu, selalu memalingkan wajahnya menatap langsung sang surya. Bajunya hitam, juga celananya. Mirip pakaian petani. Bahkan seluruh kulit tubuhnya pun kelam. Dia menjadi pendayung perahuku. Aku tak ingat bagaimana bisa sampai di sini, pernah menyewa perahunya. Namun aku sedang mendengarnya berkata-kata, cerita tentang kesahnya yang tak masuk akal.

Sunyi sekitarku. Tak kulihat manusia lain, perahu yang lain. Bahkan burung-burung yang terbang pun tak memperdengarkan suara. Hanya senyap. Sunyi yang menyengat. Tapi tak membuatku jirih. Tak ada angin bertiup. Hantu itu kembali mendayung.

Continue reading

Tukang Jagal dari Takeo (1)

Tags

,


tak3Kalau bukan karena kemalaman sampai di Takeo, mungkin aku tak pernah kenal dengannya. Malam itu, pukul tujuh lebih, colt yang kutumpangi sampai di Takeo. Sopir colt menurunkanku di sebuah rumah megah. Keesokan harinya kutahu bahwa rumah penduduk ini satu-satunya yang termegah di desa itu, satu-satunya yang terbuat dari bata, berpenampilan ala Eropa. Sementara bangunan di sekitarnya hanyalah rumah-rumah panggung beratap seng, dengan bagian dasar rumah ditinggali hewan mirip sapi, babi, dan ayam. Sapinya kurus-kurus, babi-babi hitam menguik tanpa putus karena lapar dan kepanasan.

Sebetulnya masih ada lagi bangunan dari bata di desa itu. Sebuah sekolah dasar yang hanya beraktivitas sampai pukul sebelas pagi dan kuil di dekat sungai.

Kawan Hoo mengundangku. Dia bekerja di rumah besar itu sebagai guru. Hoo berasal dari Phnom Penh, lulusan sastra Inggris dan bercita-cita tinggi. Dia mau bergabung dengan sebuah LSM pendidikan yang bermarkas di Takeo semata-mata karena idealisme. “Cobalah kau datang ke Takeo dan melihat desa binaanku, barangkali kau akan mendapatkan sesuatu,” undangnya lewat email. Dia tahu aku hendak berkunjung ke negaranya waktu itu.

Perjalanan menuju Takeo tidaklah sulit. Aku mengambil angkutan umum dari terminal kecil di pinggiran kota Phnom Penh. Dalam tempo tiga jam, colt itu penuh penumpang dan berjalan membelah Jalan Utama No.2. Meninggalkan kota, aku mirip melihat Pulau Jawa di tahun 1970-an. Lebih banyak sawah dan rawa-rawa ketimbang rumah penduduk. Rumah-rumah muncul satu dua, kadang berderet, umumnya berupa rumah panggung beratap seng dan di depan rumah selalu tersedia gentong super besar.

Memasuki wilayah Takeo tiba-tiba hatiku empot-empotan, kegirangan. Pemandangan di depanku mirip latar dalam film ‘The Killing Fields’. Di mana-mana rawa, dengan pepohonan rindang, angker, atau semak rerumputan yang menyembul dari tengah-tengah danau. Kamboja memang negeri para sungai. Dari sungai mirip Mekhong inilah kehidupan dan bencana bergilir menimpa penduduknya. Air sungai menjadi penjamin melimpahnya hasil panen sawah-sawah sepanjang daratan. Namun kerap banjir tatkala musim hujan justru menenggelamkan rumah-rumah dan sesawahan, serta menghanyutkan ternak dan anak-anak.

Aku belum tahu bahwa di sinilah dulu dia dilahirkan dari sebuah keluarga makmur dan terpandang, anak manja yang dipaksa orangtuanya meninggalkan segala kenikmatan dunia demi menggapai kehormatan tiada akhir.

Jelang matahari meredup di balik awan, kegelapan pun menggapai rawa-rawa maha luas. Meninggalkan bayangan hitam dan kengerian. Di saat itu lamat-lamat kudengar jeritan dari masa lampau, para jelata yang dibantai atas nama politik. Tak kuasa merasai ngeri, kututup jendela dan mulai tertidur. Sopir membangunkanku beberapa puluh menit kemudian di sebuah rumah megah berpagar bata setinggi 1,3 meter. Rumah di mana Hoo bekerja dan tinggal.

Malam itu aku dan Hoo tidur di rumah samping. Sebuah rumah panggung yang bagian bawahnya berfungsi sebagai bangunan terbuka. Hoo menggelar dua kasur di tikar, untukku dan dirinya. Di atas kasur dipasang kelambu untuk mencegah nyamuk menggigiti tubuhku dan dia. Jendela-jendela dibiarkan terbuka lebar. Bulan menyembul bulat utuh dari balik salah satu jendela.
Continue reading

Candi Sewu, Buddha dan Orang Jawa

Tags

, ,


_MG_4870

candi sewu, di belakang panggung waisak 2016

Kula saking Pati, Mbak. Mriki niti bis. Nggih, bise disediaken vihara. Niki kulo taksih ngrantos yugo kulo sing teng Borobudur. Terose bade mriki ngangge motor kalihan kancane.”  Kalau diterjemahkan, kira-kira, “Saya dari Pati. Datang ke sini naik bus yang disediakan vihara. Sekarang saya menunggu anak saya yang masih berada di Candi Borobudur. Katanya dia akan menyusul kemari,” kata si ibu, sebut Sumarni, satu dari puluhan rombongan buddhist Pati yang datang ke Peringatan Waisak di Candi Sewu.

Waktu itu saya duduk bersama ratusan buddhist Jawa, yaitu para orang jawa yang menganut buddha. Umumnya penganut buddha di Indonesia adalah keturunan Tionghoa yang berpusat di sebagian Kalimantan, Sumatra Selatan dan Utara, serta Jakarta. Namun kali ini wajah-wajah Jawa yang memenuhi pelataran Candi Sewu. Mungkin sekitar 80% yang hadir dalam  peringatan Waisak di candi Sewu adalah Buddhist Jawa yang tergabung dalam KBI, keluarga Buddhayana Indonesia.

_MG_4829

sebagian peserta peringatan Waisak yang datang dari Pantai Utara Jawa, seperti Pati, Jepara, Lasem, Rembang.

“Kalau saya buddha asli, Mbak. Sejak lahir sudah beragama buddha. Istri saya yang menganut buddha karena perkawinan. Dulunya dia kristen, kawin dengan saya awalnya masih kristen. Lalu jadi buddha,” kisah Toro, lelaki berumur 50 tahunan yang tak henti-hentinya memandang kami yang sibuk berbagi cerita.
Continue reading

Menyabun di Lereng Merapi

Tags

,


Tulisan ini semacam curhatan, bisa juga dianggao keluhan, dan alasan mengapa saya jarang mau menerima permintaan belajar menyabun dari orang-orang atau komunitas. Kerap membuat pusing kepala, sekaligus membuang waktu sia-sia. Itu sebabnya jika ada yang berminat belajar menyabun, saya sarankan untuk belajar ke tempat profesional seperti kursus sabun dll. Memang berbayar, tapi itu konsekuensi logis menuntut ilmu.

jenis sabun yang dibuat di lereng merapi

jenis sabun kelapa

 

Sebetunya saya senang-senang saja jika diminta mengajar menyabun oleh komunitas (bukan pribadi) walau tak berbayar. Syaratnya hanya satu, semua peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembuatan sabun secara sederhana lengkap tersedia. Sederhana saja,

Alat pembuatan sabun biasanya berupa mixer, blender, timbangan dengan skala minimal 10gram, gelas kaca ukuran 300-400ml, sendok stainless steel tebal untuk mengaduk dan menyendok soda api, gelas ukur air (dalam ml) bisa berupa plastik atau kaca, lalu beberapa wadah plastik tebal buat adonan, serta cetakan plastik kotak besar agar mudah untuk mengeluarkan sabun yang mengeras.

Sedang untuk bahan saya biasa meminta minyak kelapa -entah yang tradisional atau produk pabrikan-, lalu soda api, daun pandan, kunyit,  daun sirih dan beberapa herbal yang banyak tersedia di daerah tujuan menyabun.

Hal di atas pula yang saya syaratkan tatkala seorang kawan di lereng merapi meminta saya mengajari warganya. “Pertama, kamu mesti mengajari anak-anak karang taruna desa saya, biar mereka semangat dan mau maju. Lalu kamu mengajari ibu-ibu PKK,” katanya beberapa bulan lalu. Saya iyakan, dan akan menjadi prioritas saya saat menjogja kemudian.

Jelang waisak, 20 Mei saya berkesempatan menjogja. Kawan yang di Merapi tadi saya kontak seminggu sebelumnya (13 Mei) untuk mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Dalam waktu seminggu, saya pikir dia memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan semua. Dia kan memiliki bawahan lumayan banyak di desa. Katanya sih, dia sudah siap semua. Saya kemudian memberi info kapan saya punya waktu luang dan akan naik memberi kursus gratis, usai waisak tanggal 22-23 Mei.

Continue reading

Mengenal Kampung Huaulu

Tags

, , ,


Dua kali saya mengunjungi Trans Huaulu, 4 malam dalam perjalanan pertama, dan 5 malam sepulang dari Kepulauan Banda. Kunjungan pertama mirip observasi, mengamati kehidupan mereka dan permasalahan sehari-hari yang muncul.

IMG_20160407_094854

dua anak huaulu bermain di halaman

Sepintas, Orang Alifuru yang merupakan penduduk asli Pulau seram adalah penduduk Huaulu. Mereka berdiam di tiga tempat, kampung dalam, kawasan transmigrasi yang biasa disebut Trans Huaulu, dan kawasan pantai di sekitar Akalama hingga Araara. Karena Bapak Raja Negeri Huaulu tinggal di kawasan trans Huaulu, saya pun tinggal di trans, bukan di kampung dalam. Tinggal bersama keluarga Bapak Raja. Sekali sekala saya naik ke atas, ke Kampung Huaulu bersama Bapak Raja, untuk melihat aktivitas di sana serta lebih mengenal orang-orang Huaulu.

Mobilitas orang Huaulu selalu berkisar di ketiga tempat tadi, kampung dalam, trans, atau pantai. Tak ada yang benar-benar menetap seumur hidupnya di kampung, selalu mereka bergerak ketiga tempat tadi, kecuali kaum renta, jompo, atau sakit, yang tak bisa bergerak leluasa lagi. Apalagi kini akses menuju kampung Huaulu semakin mudah. Dulu perlu berjalan kaki sejauh 5 km, menyeberangi dua sungai kecil dan besar, untuk sampai di kampung Huaulu. Sekarang sudah ada ojek dengan tarif Rp25.000. Saat saya ke Huaulu, 2km pertama berupa jalan beraspal, lalu ada dua jembatan -satu permanen- yang membelah sungai. Jalan tak beraspal pun sudah diperkeras, dan sedang menunggu pasukan pengaspal jalan dari dirjen PU untuk melanjutkan pengaspalan jalan. Nyaman santosa jadinya. Orang Huaulu yang hilir mudik keluar masuk kampung ramai sekali. Hanya, jika hari hujan, 3 km jalan tak beraspal mirip kawasan off road.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 446 other followers