Bisnis Ekspedisi di Mata Saya

Tags

, ,

Sudah hampir tiga bulan saya menggeluti dunia ekspedisi tanah air. Bermula dari seorang kawan yang kebingungan mengirimkan apel hasil panen yang melimpah. Apel lokal mudah busuk, umurnya sekitar dua minggu sebelum mulai berair dan menghitam. Kala itu kami menggunakan jasa ekspedisi kai log untuk pengiriman dalam jumlah 10kg ke atas. Sedang untuk pengiriman dalam jumlah kecil kami menggunakan beberapa jasa ekspedisi.

Lokasi usaha yang agak jauh dari pusat kota, membuat kami agak repot mengirimkan paket. Apalagi usaha kuliner teman lumayan lancar, setiap hari selalu saja ada barang yang dipaketkan. Saat itu terbersit keinginan membuka agen ekspedisi untuk mempermudah pengiriman. Pilihan saya adalah Wahana Ekspress.

Alasan saya sederhana saja. Selama sekitar 8 tahun berjualan sabun homemade, saya lebih sering menggunakan jasa pengiriman wahana. Memang kadang ada masalah, seperti pengiriman lambat atau nyasar, tapi paket belum pernah hilang. CS-nya juga sopan dan bersahabat menanggapi keluhan, dan yang terpenting harganya bersahabat, ramah di kantong pemilik usaha rumahan seperti saya dan tidak memberatkan pelanggan saya.

Proses menjadi agen ternyata cepat. Mungkin karena yang dijadikan kantor itu rumah -kawan- milik sendiri dan letaknya cukup strategis. Dua minggu kemudian sudah resmi agen Wahana kami berdiri, dan dimulailah tantangan baru mencari pelanggan.

Memulai bisnis pengiriman paket ternyata sulit-sulit nyandu. Kita mesti tahu kondisi lingkungan sekitar, membaca keinginan calon konsumen, luaar biasa sabar, dan banyak senyum. Jangan sekali-sekali melayani konsumen dengan melipat wajah, atau berkata kasar. Bisa kabur konsumennya. Dan jangan lupa banyak-banyak minta maaf dan berkata lembut jika konsumen mengeluh atau marah-marah, meskipun itu bukan kesalahan agen.

Untuk menarik pelanggan, saya menggunakan trik khusus. Pertama, jangan biarkan pelanggan menunggu lama. Untuk itu, jika pelanggan datang, segera saya cek ongkir yang harus dibayar, lalu mencatat no wa-nya. Resi akan saya kirim via WA. Pelanggan saya puas dengan cara ini. Memang kadang ada yang curiga atau was-was barangnya hilang. Jika begitu mereka saya bekali no. WA saya, dan sewaktu-waktu mereka bisa menjapri saya.

Trik kedua, begitu paket sampai, saya akan mengabari mereka. Cara ini terbukti efektif menarik kepercayaan pelanggan.Banyak pelanggan akhirnya datang kembali, memaketkan barang.

Trik ketiga, jujur. Ada kalanya pelanggan mendapat promo/ diskon jika bobot barang yang dikirimkannya banyak. Walau 1-2 ribu rupiah, hal ini saya beritahukan ke pelanggan. Mereka dapat mengambil lagi uang kembalian ini, atau menggunakannya untuk pengiriman berikutnya.

Trik terakhir, jangan lari jika ada masalah dengan paket. Walau Anda dimaki, diteror, hadapi saja. Justru jika ada paket telat datang, saya yang lebih dulu mengadu ke CS, bukan pelanggan, agar masalah cepat teratasi.

Masalah di Wahana mulai bermunculan menjelang lebaran. Ada paket yang terlambat lebih seminggu gegara libur lebaran. Konsumen pun memaki-maki via WA. Kalau sudah begitu ya blokir saja no.WA-nya namun paket yang bermasalah tetap diurus. Ada lagi kasus salah tempel gegara barang yang dipaketkan mirip. Untuk kondisi paket nyasar atau salah tempel, pihak Wahana cepat bereaksi, hanya si agen kena potong saldo alias lebih 100ribu. Hal itu sama dengan pemasukan bruto dari agen sejumlah sejuta rupiah (agen kota kecil seperti di tempat saya bekerja, hanya mendapat 15% keuntungan dari ongkir paket). Di kota kecil tempat saya tinggal, buat agen baru, dalam 2 minggu belum tentu dapat pemasukan sejuta rupiah. Tapi.. ya sudahlah.

Ada lagi kasus, paket dikirim ke agen ekspedisi lain untuk dikirim ke luar pulau. Bertepatan dengan paket sampai ke agen ekspedisi tersebut, ternyata kantornya tutup karena libur lebaran selama 2 minggu. Akibatnya paket ditarik ke gudang untuk diretur. Beruntung si pemilik paket tidak memaki-maki walau sempat panik, takut barangnya hilang. Memang mengirim barang jelang liburan hari besar penuh risiko karena akan ada banjir permintaan paket, dan barang menumpuk lebih lama di gudang.

Ada lagi kisah mengharukan yang membuat saya menabahkan hati menjadi agen. Suatu hari seorang bapak datang tergopoh-gopoh, sambil mengeluarkan segepok kunci yang dibungkus plastik. “Tolong, paketkan ini ke ### bisa?”

Menghadapi hal begini, pantang menolak pelanggan. Paling hanya membungkus ulang paketnya, meminta alamat dan no.hp tujuan dengan jelas, serta nama dan no.hp bapak tadi.

Beruntung di agen tempat saya bekerja sudah menerapkan paperless. Resi paket cukup saya kirimkan melalui WA pelanggan, kami hanya mencetak resi yang ditempelkan ke paket. Irit waktu, tidak merasa diburu-buru jika kebwtulan datang beberapa pelanggan dalam satu waktu.

Sering juga saya menghadapi ibu-ibu yang sudah sepuh, hendak mengirim paket buat anaknya di tempat yang jauh. Si ibu tak punya no. hp, hanya bermodal no.hp dan alamat anaknya. Uang yang dibawanya pun pas-pasan. Dalam kondisi begini saya merasa beruntung punya boss -kawan pemilik asli agen- yang baik hati. Dia akan membebaskan bea pengiriman paket si ibu, lalu resi paket langsung dikirim ke no.WA anaknya.

Banyak kejadian mengharukan dan menyebalkan selama hampir 3 bulan memulai jasa peepaketan. Saya merasa betah karena selalu ada yang bisa dipelajari, bisa bertemu dengan aneka manusia dengan watak yang berbeda-beda.

Satu pesan saya berdasar pengalaman di lapangan, jika orangtua Anda,kerabat di desa, atau yang kondisi ekonominya pas-pasan, mengirimi Anda paket makanan, jangan disia-siakan, tolong hargai. Tak mudah bagi mereka mengirimkan barang tadi. Apalagi jika mereka buta teknologi. Terimalah apapun isinya dengan suka cita, jangan dibuang makanannya.

catatan kaki: ini adalah bagian pertama dari beberapa tulisan tentang pengalaman di ekspedisi/ pengiriman barang. semoga bermanfaat. salam metta 🙏🙏

Kalimantan Utara di Mata Saya

Judul di atas adalah buku terbaru karya kawan saya, Handoko Widagdo yang sudah lebih sebulan di tangan saya. Namun karena kesibukan dedlen dan banyak perjalanan dadakan, baru sempat saya rangkum isinya hari ini.

Kumpulan tulisannya ini terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama tentang kondisi kaltara terkini, hambatan sebagai propinsi yang baru tumbuh dan jauh dari pusat pemerintahan, sekaligus usaha untuk mengatasi keterbatasan tadi. Fokusnya tak jauh dari apa yang digeluti Pak Han, sektor pendidikan, pertanian, dan pedesaan. Kalau Anda pernah membaca tulisan-tulisannya yang banyak tersebar di koki, baltyra, Kompasiana, indonesiana, maka tulisan di bagian pertama ini terasa ‘berat’, sarat data, dan agak membosankan. Biasanya Pak Han menuliskan kisah bergaya fiksi dengan anekdot lucu nan ironis. Di bagian ini, gaya itu menghilang dalam sungai informasi yang didapatnya langsung di lapangan atau mengutip data media lokal.

Gambaran hambatan tentang terbatasnya transportasi misalnya, dari ibukota kaltara, Tanjung Selor, menuju ibukota negara harus ditempuh lewat dua kali penerbangan. Begitu juga transportasi lokal yang masih banyak menggunakan sungai. Kondisi ini tentu menghambat pasokan barang sehingga perekonomian tidak berkembang maksimal. Akses pendidikan dan kesehatan juga kurang. Pak Han berkisah banyak guru SD yang hanya tamatan SMA, dan baru melanjutkan jenjang pendidikan selama dalam proses mengajar di sekolah.

Lalu tentang rendahnya kemampuan anak SD membaca di desa-desa kaltara. Bukan hal aneh jika menemui anak kelas 2-3 SD yang belum lancar membaca. Kondisi ini mengingatkan saya akan perjalanan ke pulau-pulau kecil di Kepulauan Banda bertahun lalu. Bukan hal aneh jika melihat anak kelas 3-4 bahkan 5 SD belum lancar membaca. Kemampuan mereka berhitung juga sangat buruk. Apalagi banyak orang dewasa yang mengandalkan kalkulator untuk berjual beli di pasar. Kata mereka, tak masalah tak pandai berhitung, kan ada kalkulator :-p

Kalau Anda punya cukup ilmu dan ingin mewariskannya kepada yang membutuhkan, mungkin desa-desa di kaltara jadi pilihan yang menarik sekaligus menantang. Anda dapat datang sebagai relawan pengajar, atau mendaftar menjadi guru di sini. Atau Anda memiliki buku-buku bacaan bermutu, maka dapat menyumbangkan ke sekolah-sekolah di sini.

Hal yang sama pada Anda yang baru lulus pendidikan dokter spesialis, dan ingin menyumbangkan kemampuan Anda, rumah sakit dan puskesmas di kaltara bisa menampung Anda. Tentu saja Anda harus lulus tes PNS dulu. Berdasar data yang dikumpulkan Pak Han, tahun lalu hanya ada 2 dokter spesialis yang mendaftar sebagai PNS, dan cuma satu yang lolos tes di kaltara.

Sebagai gambaran satu-satunya RS bertipe B hanya ada di Tarakan, sedang RS kabupaten baru bertipe C. Mungkin itu sebabnya mengapa sebagian warga kaltara yang mampu secara ekonomi lebih memilih berobat ke Jawa atau Malaysia. Walau, kini Pemda setempat sudah mengadakan program dokter terbang atau jemput pasien. Namun dana uang dibutuhkan cukup tinggi.

Untuk mengatasi keterbatasan ini, Bupati Malinau -seorang cendekia, politisi dan budayawan- dengan berani mencanangkan pembangunan berdasar kebutuhan rakyat (bottom-up atau pembangunan pastisipatif). Dengan begitu, pembangunan bukan sekedar buang anggaran dari pusat, atau membuat proyek-proyek mercusuar, atau proyek yang ditentukan pemerintah pusat, tapi benar-benar ide sesuai kebutuhan daerah.

Pada bagian kedua buku lebih banyak membahas tentang wisata dan budaya lokal. Mula-mula Pak Han mengajak pembaca berkeliling ke museum-museum di kaltara, baik yang berada di Tanjung Selor, Tarakan, dan Bulungan, lengkap dengan sejarah yang melatarinya.

Lelaki penyuka kuliner ini juga mengisahkan beberapa warung kopi dan cafe di Tanjung Selor yang kerap digunakan penduduk lokal untuk kongkow, nongkrong, termasuk rapat tak resmi pegawai daerahnya. Ada kedai kopi Aliong, Hidung Merah, lalu Cafe Orange Dan La Bolong. Meski pemilik kedai minum ini kebanyakan orang Tionghoa, namun kondisi kaltara justru jauh dari SARA.

Pada bagian akhir buku banyak dibahas tentang sejarah pembentukan propinsi termuda ini, siapa saja penduduk lokal dan pendatang, serta mengapa suku-suku lokal seperti Orang Bulungan, Dayak Kenyah, Orang Tidung kurang berani menonjolkan diri dengan identitas lokalnya.

Bagi penyuka sejarah, etnografi atau antropologi seperti saya, bagian ini justru menarik, karena banyak hal yang belum saya kenal. Begitu anya yang harus saya pelajari untuk memahami keanekaragaman yang nusantara yang kaya suku, bahasa daerah, dan tradisi ini. Setidaknya dengan demikian saya dapat lebih toleran dan tidak gampang nyinyir melihat tampang presiden saya, Joko Widodo kerap berganti kostum di acara kenegaraan. Justru membuncah rasa bangga. Saya juga tak termakan isu melihat lembar kertas 75 ribuan baru yang bergambar aneka pakaian daerah, mengira Orang Tidung sebagai dikira Orang China. Asal tahu saja di banyak belahan Kalimantan sudah terjadi akulturasi budaya lewat pernikahan antara orang asli seperti Dayak, Banjar, dengan pendatang asal Tiongkok sejak ratusan tahun lalu. Kala itu banyak orang Tiongkok daratan meninggalkan kampung halaman demi bekerja di pertambangan yang dibuka pemerintah Hindia Belanda sebagai kuli dan tenaga kasar. Jadi sudahi saja perasaan anti ini anti itu. Tak membawa kebaikan apalagi kebahagiaan. Justru Anda bisa sakit, menderita dimakan rasa dendam, benci, dan sakit hati.

Selamat membaca dan salam damai-bahagia :-p

Cerita dari Desa Cengkeh

Tags

,

Sore itu, ketika menyusuri  jalan dari Desa Banjar menuju Munduk dengan motor, saya mencium harum cengkeh. Yah.. sekarang musim cengkeh berbunga, panen raya malah. Aroma cengkeh menguar dari jajaran bunga cengkeh yang dijemur beralas plastik, juga dari pucuk-pucuk pohon cengkeh di beberapa bagian jalan. Tak jarang, saya melihat ada beberapa bunga cengkeh yang kelewat tua untuk dipetik. Warnanya merah, dan sudah mekar. Sayang sekali jika terlambat dipetik, harganya pasti jatuh, pikir saya.

Nyaris tak terlihat buruh pemetik cengkeh. Namun pemandangan orang sedang mengepik -memisahkan bunga cengkeh dari tangkainya- tampak di beberapa tempat.

satu tangkai 7 bunga saja

“Banyak buruh petik yang mudik ke Jawa karena lebaran haji,” tutur tukang ojek yang motornya saya naiki, seolah dapat membaca pikiran saya. Buruh pemetik umumnya datang dari luar desa, ada yang dari Seririt atau bagian lain Bali, dan belakangan ini banyak pendatang dari Jawa yang khusus datang ke Bali untuk memetik cengkeh. Mirip pekerjaan musiman, khusus di Bulan Juni hingga Oktober.

Tahun lalu nyaris tak ada cengkeh yang berbunga karena hujan salah musim. Tahun ini panen cengkeh terjadi serentak. Padahal biasanya berawal dari desa-desa di barat sebelum menuju desa-desa di utara seperti Munduk, Kayu putih, atau Gesing.

Panen serentak, diikuti lebaran haji, membuat Keberadaan buruh petik menjadi langka.  (Saya pernah menulis tentang cengkeh di Munduk dengan judul  ‘Cengkeh yang Menghidupi‘  lima tahun lalu.)

Continue reading

‘Tuhan’ Baru Saya Tokopedia, Bukalapak, Gojek, dan Traveloka

Tags

, , , , ,

Bukan maksud saya menyekutukan Tuhan, tapi di kehidupan nyata beragama, ber-Tuhan, berdoa, dan sembahyang saja tidak cukup. Apalagi dunia abad kini, saat korupsi milyaran bahkan trilyunan mirip pekerjaan ‘halal’, belum lagi phk yang terjadi setiap saat. Kemiskinan dan pemiskinan, mengambil hak orang lain tanpa peduli rasa kemanusiaan sudah mirip mandi dua kali sehari. Jadi, menyikapi hidup mesti jelas, bersiasat agar bisa bertahan tanpa mengorbankan  etika dan moralitas. Di kondisi inilah saya menemukan ‘tuhan-tuhan’ baru, ‘tuhan’ yang luar biasa membantu mempermudah kehidupan manusia, tuhan alam nyata ini adalah bukalapak, tokopedia, gojek maupun traveloka.

Saya ingat sekitar empat tahun lalu, saat memulai usaha pembuatan sabun rumahan hanya bermodal Rp.50.000. Yah, uang segitu dilogika seperti apa pun tak bakalan cukup buat memulai usaha, kecuali dagang kecil-kecilan mirip jual krupuk, jual pisang goreng, dll. Tapi ini sabun yang tidak berbasis bahan kimia seperti SLS atau S Le S. Sabun yang mengandalkan minyak tumbuhan seperti sawit, kelapa, lalu soda api. Sabun yang memanfaatkan pewangi mirip daun pandan, bunga kenanga, atau pewarna mirip bubuk secang, kunyit, dan pembungkus ala kertas koran atau kertas kado bekas. Namun toh akhirnya usaha ini semakin maju berkat kerja keras dan belajar tak putus-putus (memelototi internet setiap malam, sekurangnya 3-5 jam untuk kursus gratis tentang sabun, tanaman herbal, dan proses kimia :P).

Perlahan, bahan-bahan yang saya butuhkan untuk membuat sabun pun meningkat. Tak hanya minyak sawit dan kelapa yang cukup dibeli di pasar atau minimarket samping rumah, tapi juga beragam minyak nabati seperti zaitun, almond, palm cornel, jagung, wijen, jarak, jojoba, juga beragam butter (cocoa, shea, mango, milk, ilipe). Belum lagi aneka minyak esensial yang jumlahnya kini mencapai hampir seratus, dan beragam bahan lainnya. Di mana saya memperoleh bahan-bahan tadi? Ya di toko onlen semacam bukalapak, tokopedia, dan belakangan shopee. Ketiga toko onlen itu paling banyak menyediakan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari dengan harga terjangkau, aman pembayarannya, dan kerap promo sehingga membantu usaha saya. Bukan saja bahan murah saya dapat, tapi juga saya tak perlu menaikkan harga produk yang keuntungannya tak seberapa ini. Maka, bagi saya ketiga toko onlen itu mirip ‘tuhan’ di alam nyata. Benar-benar mempermudah usaha dan hidup saya.

Sebagai contoh, dulu untuk membeli 1 liter minyak zaitun saya mesti ke toko di kawasan Ampel, Kampung Arab. Di sana, 300 ml minyak zaitun paling murah dihargai Rp.35.000. Kini, terutama Novemver ini, beli minyak zaitun di Bulakapak (yang lagi promo free ongkir J&T, atau Tokopedia yang free ongkir hingga Rp.40.000 dengan pembelian minimal Rp.100.000), saya cuma membeli minyak zaitun seharga Rp.80.000 dengan kualitas sama dengan di Ampel. Kalau butuh minyak jarak? Saya cukup membeli di distributor minyak jarak di Tangerang via Bukalapak, seliter dikirim menggunakan ekspedisi J&T tak sampai Rp.70.000.

Tentu saja, untuk memilih produsen di toko onlen di atas perlu kejelian dan ketelitian luar biasa, agar tak mendapat barang kualitas abal-abal alias aspal. Tapi karena sudah lebih 3 tahun menjadi pelanggan toko onlen (shopee kurang setahun), jadi mata pun awas memilih mana produsen berkualitas, mana yang suka menjual barang palsu. Pada produsen berkualitas, saya akan loyal membeli terus ke sana apalagi jika sedang banyak promo seperti November- Desember ini. Pada produsen tak berkualitas, yang juga hobi menaikkan harga di luar kewajaran, saya hanya biliang, percayalah produk Anda tidak akan ada yang melirik, karena konsumen generasi milenia sudah sangat cerdas. Continue reading

Yinchuan (1) : Booking Hotel, Digiring ke Kantor Polisi

Tags

,

Ketika memasukkan Wudangshan ke dalam itirinary setahun lalu, saya berpikir daerah manalagi yang tidak umum dikunjungi tapi bisa menjadi kajian perjalanan yang menarik. Daerah yang bukan destinasi utama wisatawan, tapi memiliki ciri khusus, Maka saya pilih Ningxia. Selain propinsi otonomi Orang Hui -yang kerap dikaitkan dengan muslim- juga dekat dengan Mongol Dalam. Saya ingin ke Mongol, walau hanya mongol-mongolan. Yinchuan, ibukota Ningxia yang dekat dengan Mongol Dalam, dapat ditempuh dengan kereta api via Xi’an.

Pada 21 Oktober 2017, pukul delapan pagi saya sudah meninggalkan kamar saya di lantai 20 Jalan Xiguan Zheng, menuju stasiun kereta api alias huo che zhan. Kali ini saya pilih berjalan kaki membopong ransel seberat 5kg, bukannya naik bus, mengingat pengalaman naik bus hari sebelumnya yang 2 kali tersesat. Ke mana pun arah jalan di Xian, asal saya berjalan dari benteng kota, pasti tidak tersesat. Benteng kota menjadi ancer-ancer ajaib saya di kota ini.

Pukul 10.00 saya sudah sampai di dekat stasiun, lalu masuk ke dalam stasiun, di-scan petugas -ransel dang badan- lalu masuk ke loket pemesanan. Pesan tiketnya gampang saja. Saya angsurkan hp yang bertuliskan Yinchuan, hard seat, 17.38 dalam bahasa China. Berkat bantuan baidu translator, sebagian besar kendala bahasa yang saya alami di China terselesaikan dengan indahnya. Petugas langsung memberikan tiket dan uang kembalian 5 yuan dari 110 yuan yang saya angsurkan.

Sebelum meninggalkan stasiun saya cek ketersediaan tiket ke Yinchuan tinggal 20 seat. Padahal dalam sehari ada 5 kali jadwal kereta api Xi’an – Yinchuan dan 5 kali sebaliknya. Peminatnya begitu banyak. Berapa daya angkut kereta api sekali jalan? Saya bertanya-tanya.

Saya habiskan hari itu makan di KFC depan stasiun, menulis dan bersantai di taman, lalu kembali ke stasiun jam 4 sore untuk check in. Saya selalu membawa ransel ke mana-mana, lupa untuk menitipkannya di left luggage, tempat penitipan barang di dekat pintu masuk stasiun. Dasar bego 😛

 

keterangan searah jarum jam : 1.tiket kereta api ke Yinchuan. 2.di dalam kereta, senyap karena penumpang tinggal sedikit. 3. penginapan dekat stasiun, hanya dibatasi taman. 4.bunga-bunga yang memenuhi taman seribu bunga. 4.mie kebab, beli di rumah makan muslim. 6.toilet di hostel, bersih dan wangi. 7. stasiun kereta api yinchuan, di sampingnya terminal bus antar kota. 8.salah satu taman kota di musim gugur. Continue reading

eKTP, Lika-Liku Mengurusnya dan Manfaatnya di Masa Depan

Tags

,

gambar nyomot jakartainformer.com

Pulang dari perjalanan ke China, saya membawa oleh-oleh, kehilangan dompet berisi uang tunai, ATM BCA, dan eKTP yang sudah saya miliki sejak 2012. EKTP ini saya dapat setelah setahun proses perekaman data secara nasional, sekitar tahun 2011. Jadi memang barang berharga yang sulit didapat. Perkiraan saya, dompet cs ini bisa jadi tertinggal di kamar hotel terakhir di Yinchuan, jatuh atau diambil saat saya menitipkan barang di Stasiun Yinchuan atau Stasiun Xi’an. Yang jelas, begitu sadar kalau dompet hilang, dua jam setelah tiba di rumah saya membuat laporan kehilangan di kepolisian, lalu meluncur ke kantor cabang BCA untuk mengurus ATM, dan malamnya minta surat keterangan dari RT dan RW sebagai pengantar untuk mengurus eKTP keesokan harinya di kelurahan.

Saya mengurus eKTP berdasar penuturan petugas dukcapil kodya Surabaya seperti yang tertera pada blog mereka sebagai berikut :

Hingga kelurahan, proses berlangsung sangat cepat. Ketika sampai kecamatan, masuk ke ruang 3(foto), pegawai kecamatan yang berurusan dengan eKTP hanya meminta fotokopi surat kehilangan dan 2 fotokopi kk lalu menyerahkannya kepada saya 1 lembar fotokopi kk plus tanda terima yang berisi tulisan cek maret. Begitu saja. Tak ada kata-kata sebaiknya langsung urus ke dukcapil Surabaya, atau ini surat keterangan pengganti ektp yang hilang dan sebagainya. Saya bengong dan berpikir bagaimana menyelesaikan beragam urusan administrasi tanpa ektp. Itulah hal yang membuat saya posting di fb, mengeluh. Apalagi ibu saya dan banyak temannya tak memiliki ektp sejak pertama penerbitan ektp karena kesalahan pemasukan data. Tapi nasib ibu lebih baik, memegang ktp sementara berbentuk ktp lama yang cetakan kertas biasa.

Saat posting di fb, seorang kawan antropolog yang pernah penelitian layanan dasar (ktp, kk, dan akte kelahiran), juga pernah mewawancarai Pak Zudan Arif (dirjen dukcapil sekarang), memberi saya no pengaduan berikut :

Jika Anda yang membuat eKTP dan mengalami kendala, dipersilakan mengadu ke Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif, melalui SMS atau Whatsapp ke 081326912479. Silakan ditulis nama lengkap, NIK, kabupaten  dan kota, serta no. HP yang bisa dihubungi.’

ternyata no di atas sudah ditutup dan migrasi ke call centre 1500537.

Continue reading