Sutera Samatoa (2) : Manusia dan Benang

Tags

, , ,


Ini bagian kedua kisah tentang Sutera Samatoa. Bagian pertama, bisa Anda baca di sini:  Sutera Samatoa .

Pada bagian kedua, saya tak akan berkisah panjang. Hanya ingin membeberkan sederet foto disertai sedikit penjelasan. Kebetulan waktu itu saya hanya bermodal DSLR Canon 1000, plus lensa 50mm. Maklum, pejalan yang malas segalanya😛

_mg_5668

kokon yang direbus, cikal bakal benang sutera

_mg_5669

sesekali mereka sempat bercanda, meski dengan suara lirih

_mg_5670

wajah tanpa ekspresi, mungkin lelah. atau bosan?

_mg_5673

petugas QC pun memeriksa benang yang sudah jadi.


Continue reading

Sutera Samatoa

Tags

, ,


Discover the Silk Farm

Free Daily Guided Tours

Free Shuttle Bus

      Artisans d’Angkor

 

Tulisan di belakang tuktuk itu menarik perhatianku. Rupanya ada juga tur gratis di Siem Reap ini. Tak hirau tawaran sopir tuktuk untuk membawa saya keliling Angkor Wat dan Kampung Phluk, aku memilih berjalan menuju gedung Artisan d’Angkor dekat pasar malam.

_mg_5307

tulisan di tuk-tuk yang menggugah selera

“Kami orang Khmer-Kamboja tak biasa membuang barang begitu saja. Setelah kokon dipisahkan dari serat sutra, akan kami goreng sebagai camilan. Rasanya gurih, kaya protein, dan lemak.”

Keterangan pemandu wisata itu membuatku tersenyum kecut. Ingat akan bagian kepala, kaki, usus, brutu, dan hati ayam yang kerap dibuang oleh tukang jagal Malaysia. Tapi sejak orang Indonesia banyak bekerja di sana, bagian yang dianggap menjijikkan itu dijual murah meriah. Pembelinya tentu saja orang Indon. Tapi memakan serangga, apalagi kokon alias kepompong ulat yang berwarna kekuningan itu? Ah, rasanya aku harus banyak belajar dari negeri ini.

Lelaki pemandu itu lalu menuju ke bagian pewarnaan benang sutra. “Kain sutra buatan kami memanfaatkan pewarna alami. Misalnya dari kunyit, daun kipa, kecubung. Bahkan untuk menghasilkan warna merah atau coklat aneh, kami menggunakan karat dari paku atau sampah logam.” Senyum kemenangan menghias wajahnya.

Aku tertarik pada benang warna karat yang digantung pada papan kayu di dekatku. Belakangan ini, sejak Angkor Watt ramai dikunjungi turis, Kamboja semakin gencar memasarkan produk sutranya lewat jalur wisata. Sutra alam, begitu selalu mereka menyebut. Tak kurang ada sekitar tujuh atau delapan perkebunan sutra di seluruh negeri Sihanouk. Itu belum termasuk yang dikembangkan keluarga-keluarga secara mandiri.

Continue reading

Minyak Cengkeh dan Sakit Gigi

Tags

,


_MG_9213

kopi cengkeh membantu menghangatkan badan

Khasiat minyak cengkeh sebagai obat sakit gigi sudah dikenal ribuan tahun lalu di Cina. Namun, mungkin tak banyak orang yang menggunakan resep kuno ini sekarang. Kalau gigi sakit, ya minum antalgin atau ponstan. Padahal kedua obat tadi hanya meredakan sementara sakit gigi, karena beberapa jam kemudian gigi akan sakit lagi, jadi terpaksa minum lagi, begitu seterusnya.

Khasiat minyak cengkeh sebagai pertolongan pertama pada sakit gigi saya rasakan lebih sebulan lalu. Jelang lebaran, tambalan di geraham bungsu kanan lepas. Padahal itu tambalan lama, yang saya dapatkan sekitar 20 tahun lalu. Tambalan amalgam yang lumayan awet. Beberapa hari kemudian gigi pun terasa linu, lalu nyeri luar biasa, terutama jika terkena air, panas, atau dingin. Jangan-jangan lubangnya sampai ke saraf gigi, pikir saya waktu itu.

Kesibukan di rumah membuat saya tak sempat ke dokter gigi. Lalu teringat saya akan nasihat kawan untuk memanfaatkan minyak cengkeh sebagai obat sakit gigi. Kebetula, minyak cengkeh merupakan satu dari sekitar 50 koleksi minyak di laboratorium mini demi penelitian sabun dan sebangsanya. Maka, tanpa membuang waktu saya celupkan cotton bud ke minyak cengkeh, baru saya oleskan ke bagian gigi yang sakit dan berlubang tadi. Continue reading

Keloid dan Minyak Jarak

Tags

, ,


Saya memiliki keloid yang cenderung memanjang dan melebar, hasil operasi 7 tahun lalu. Panjangnya lebih 12 cm, belakangan ini terasa gatal, panas, cenut-cenut, dan melebar serta menebal.

minyak jarak

minyak jarak,

Dulu, beberapa waktu usai operasi, saya rajin mengoleskan salep dari dokter, misal salep merk mederma. Namun harga salep ini tidak murah, sekitar Rp.140-160 ribuan, dan sebulan bisa menghabiskan 3-4 salep tanpa hasil yang berarti. Akibatnya, penggunaan salep pun saya hentikan. Mau operasi atau laser, tidak punya cukup bea. Jadi saya pasrah saja punya keloid. Namun rupanya keloid saya cenderung berkembang seiring aktivitas badan yang meningkat.

Iseng saya browsing mencari obat tradisional untuk mengatasi keloid. Lalu saya temukan beberapa, di antaranya madu, bawang putih, baking soda, dan jus lemon. Saya pun mulai bereksperimen.

 

Madu memang menghaluskan keloid, namun kerap membuat lengket di kaos atau baju. Harganya pun tidak murah. Lagipula sayang kalau cuma dijadikan obat oles. Mending madunya buat jamu atau campuran teh.
Continue reading

Negeri Ajaib Bernama Indonesia

Tags

,


pisani

Judul : Indonesia etc, Penulis : Elizabeth  Pisani, 416 halaman, penerbit Grata, London, 2014.

“Jika kau berlayar menuju sebuah pulau kecil di Maluku pada bulan Juli, saat cengkeh dijemur, maka kau akan bisa mencium ‘Natal’ sebelum melihat daratan.”

Itu satu kalimat yang saya suka dalam buku ini. Cengkeh mengingatkan pada natal, pada saat beberapa jamuan beraroma cengkeh atau rempah. Cengkeh yang dijemur, aromanya mendahului daratan, terbawa angin laut. Itu yang hendak disampaikan  Elizabeth Pisani -mantan jurnalis yang kemudian menjadi peneliti kesehatan- saat mengunjungi Maluku dalam setahun perjalanannya keliling Indonesia demi mencari tahu siapa sih Indonesia itu.

Pencarian tentang Indonesia menggelitik Pisani sejak dia menyadari betapa sedikitnya manusia di bumi ini yang tahu dan peduli tentang Indonesia. Padahal, jika dilihat dari jumlah penduduknya, Indonesia negara ke-4 dengan penduduk terbanyak di dunia, di bawah Cina, India, dan Amerika Serikat. Indonesia juga memiliki luas daratan no. 13 di dunia yang tersebar pada 17000 pulau dan memiliki bahasa lokal sekitar 700 bahasa. Namun, keanekaragaman dan kekayaan itu tak terlihat di mata dunia. Orang lebih mengenal India, Cina, atau Brasil dengan sepak bolanya.

Gemas akan itu, Pisani pun menjelajah Indonesia (minus Jawa dan Bali), mencari sosok Indonesia yang sesungguhnya. Sebelumnya, walau sudah bertahun-tahun malang-melintang di Indonesia, Pisani hanya mengenal Jawa, bali, dan bagian lain Indonesia sebagai turis saja. Tahun 1988 Pisani ditempatkan sebagai jurnalis Reuter di Jakarta, dan meninggalkan Indonesia 1991. Pengetahuannya hanya seputar Jawa -khususnya Jakarta-  dan wilayah seputar kasus yang diliputnya sebatas jurnalis. Kembali tahun 2001 sebagai seorang ahli epidemiologi, Pisani bertugas membantu departemen kesehatan berkaitan dengan kasus penyebaran AIDS. Daya jelajah Pisani terbatas pada pekerja seks di kota-kota besar, walau sesekali dia menjelajah bagian lain Indonesia dengan rasa penasaran yang timbul karena apa yang dilihatnya di berbagai wilayah Indonesia kerap kontradiktif, aneh, dan ajaib. .

Rasa penasaran sekaligus ingin memperkenalkan Indonesia kepada dunia inilah yang membuat Pisani terus mengunjungi Indonesia setiap tahun usai kembali ke negaranya 4 tahun kemudian.

Di bagian-bagian awal buku ini, mirip sebuah pengenalan akan Indonesia oleh Pisani kepada orang luar yang buta Indonesia. ‘Indonesia itu negeri yang ajaib, mustahil, bla bla bla karena ini. Dia dibentuk lewat sejarah yang panjang, lewat kolonialisme berabad-abad dan berdarah-darah oleh bangsa barat lalu Jepang, hingga peristiwa kebetulan kosongnya kekuasaan yang dimanfaatkan Sukarno cs sebaik-baiknya untuk memproklamirkan diri. Dalam bukunya Pisani mencari tahu bagaimana sebuah negara bernama Indonesia bisa dibentuk dari 17ribu pulau yang tersebar begitu luas? Apa yang mengikat orang-orang kepulauan hingga rela menyatukan diri ke dalam negara bernama Indonesia.

Membaca buku ini, saya harus membuang pengetahuan pribadi saya tentang sejarah Indonesia, atau apapun yang berkaitan dengan Indonesia. Saya harus meletakkan diri sebagai sosok bocah kecil yang dipenuhi rasa penasaran dan ingin tahu yang besar, yang tak memiliki pengetahuan cukup akan apa yang membuatnya penasaran. Bocah bernama Pisani yang mencoba mencari jawab akan penasarannya dengan langsung menjelajah Indonesia (minus Jawa Bali), lalu membuat teori dan kesimpulannya sendiri tentang Indonesia.
Continue reading

Tukang Jagal dari Takeo (2)

Tags

, ,


Paginya kuceritakan peristiwa itu kepada Hoo. Dia tak berucap sepatah kata pun. Pandangannya kosong, tak menyiratkan hal itu pernah terjadi sebelumnya atau sama sekali tak terjadi. Hoo malah menyibukkanku dengan rencana-rencana mulianya. Tak sekedar mengajar anak-anak berbahasa Inggris, tapi juga menanam beberapa sayur dan memancing di danau. Kubungkam mulutku rapat-rapat hari itu. Kupikir semua hanya efek kelelahan, atau sensasi sesaat tatkala menginjak negeri asing. Tetapi kejadian di malam berikutnya menghapus pendapat awalku tadi.

rawa-rawa di mana-mana memasuki kawasan Takeo

rawa-rawa di mana-mana memasuki kawasan Takeo

00000

Suatu pagi, kala hari masih berkabut, aku dan Kak Koo kembali menapaki jalanan menuju pasar besar. Kulihat orang-orang bergegas, menghindari pandangan atau perbincangan. Dengan langkah sopan tapi tegas, mereka juga menghindari kami. Aku dan Kak Koo hanya saling berpandang, mendoakan semoga tak terjadi hal mengerikan dengan orang-orang di kota.

Kami menuju sebuah rumah makan pinggir jalan. Lumayan besar bangunannya, pemurah pula pemiliknya. Tak pernah kami pulang dengan keranjang kosong. Beberapa meter sebelum kami sampai di depan pintu, segerombolan tentara memasuki warung makan itu dengan senjata teracung. Semua pengunjung warung bubar. Si pemilik warung tergopoh-gopoh mengeluarkan hidangan yang lezat-lezat buat tamunya, para serdadu. Dan serdadu itu melahap semua hidangan dengan rakus. Aku dan Kak Koo yang memandang dari seberang menjadi malu.

“Ayo kita tinggalkan tempat ini,” bisik Kak Koo. Belum dua langkah kami pergi, si pemilik warung memanggil dari belakang. “Maaf Banthe, telah mengabaikan kedatangan banthe berdua.” Dia lalu mengangsurkan sesuatu ke keranjang kami berdua. Setelah itu berlalu dengan cepat, penuh kecemasan.

Mungkin menjadi tentara lebih terhormat, aku menetapkan pilihan. Tak hanya membuat perutku kenyang sepanjang hari, tapi juga disegani orang. Musuh akan lari tunggang-langgang jika kutembaki dengan peluru. Orang-orang Prancis yang angkuh. Bisa jadi, orangtuaku pun segan dan hormat kepadaku. Tanpa kusadari aku menyeringai, membuat Kak Koo menegurku. “Adik sedang memikirkan sesuatu? Sebaiknya bukan hal yang buruk.”

Sebulan kemudian kutinggalkan biara dan bergabung dengan tentara di pinggiran kota. Mereka sedang menjalankan taktik mengusir musuh negeri, orang-orang Prancis itu dan pengikutnya. Kini aku tak perlu telanjang kaki lagi. Mereka menghadiahiku sepatu lars, sebuah senapan laras panjang, dan mengajariku menembak. Mereka takkan membiarkanku berjalan perlahan, justru memaksaku lari dan menyerang.

Apa? Kau tanya kepadaku rasanya membunuh orang? Tentu telah terjadi metamorfosa dalam diriku. Dulu sebagai pendeta, aku dilarang membunuh. Bahkan, jika itu seekor nyamuk yang baru mengisap darahmu atau semut yang mencuri gulamu. Sebagai serdadu, kehormatanku bergantung kepada seberapa banyak musuh yang kubinasakan. Tembakan pertama pastilah menyakitkan bagi jiwa dan perasaanku. Aku tak bisa tidur tiga hari tiga malam setelah menembak serdadu Prancis. Lalu kupikir, dia musuhku, dia membuat sengsara banyak orang di negeriku. Dia menyebabkan banyak orang meninggal. Jika tak kuhentikan, maka dia akan terus membunuh orang. Pikiran itu menenangkanku. Pembunuhan berikutnya menjadi lebih mudah. Bahkan setelah membunuh delapan musuh, aku jadi mati rasa.

00000

Cerita hantu satu ini lebih mengerikan ketimbang wujudnya. Siapakah dia? Mengapa selalu bertutur tentang darah dan kematian? Tentang musuh tentara Prancis? Aku penasaran. Pikiranku berputar-putar mirip pusaran.

Aku seperti duduk di atas perahu. Di sekitarku terbentang danau yang luas, mirip laut tapi tanpa arus. Teratai menyembul subur di kejauhan. Lelaki itu, yang kusebutp hantu, selalu memalingkan wajahnya menatap langsung sang surya. Bajunya hitam, juga celananya. Mirip pakaian petani. Bahkan seluruh kulit tubuhnya pun kelam. Dia menjadi pendayung perahuku. Aku tak ingat bagaimana bisa sampai di sini, pernah menyewa perahunya. Namun aku sedang mendengarnya berkata-kata, cerita tentang kesahnya yang tak masuk akal.

Sunyi sekitarku. Tak kulihat manusia lain, perahu yang lain. Bahkan burung-burung yang terbang pun tak memperdengarkan suara. Hanya senyap. Sunyi yang menyengat. Tapi tak membuatku jirih. Tak ada angin bertiup. Hantu itu kembali mendayung.

Continue reading