Kesah tentang Buruknya Agen Pengiriman Barang


paket2

andai paketku tak sampai, tolong katakan jujur saja, biar cepat kuganti dengan barang baru :P

 

Ini sekedar keluh-kesah akan pelayanan agen pengiriman barang -khususnya PT POS dan JNE- di Indonesia akhir-akhir ini. Bukan bermaksud memburukkan kinerja mereka, tapi sebagai ungkapan kecewa karena hal ini terjadi berkali-kali, bukan hanya satu dua kali.

Saya termasuk pemakai setia jasa pengiriman via pos dan JNE, terutama sejak saya mulai menerbitkan buku di tahun 2012. Banyak buku, kemudian sabun, saya kirimkan via dua jasa pengiriman di atas. Dalam sebulan, sekitar 30 kali saya mengirimkan buku mapun sabun via dua jasa pengiriman di atas. Saya mulai dengan PT Pos.

Beberapa kali kiriman buku tidak sampai via PT Pos, dengan alasan alamat tidak dikenal atau tidak jelas, Ketika saya mengirimkan sebuah buku ke Padang tahun lalu, buku pun kembali ke alamat rumah dengan tulisan tidak ada RT/RW. Padahal, setelah saya konfirmasi dengan alamat tujuan, alamat itu yang biasa dipakai dan biasanya kiriman sampai tanpa masalah.

Ada juga kiriman buku ke Jakarta yang kembali, dengan alasan yang sama. Si tertuju sampai bilang, “Jangan pakai pos Mbak, pakai JNE saja. Kalau alamat kurang jelas, JNE akan menelepon”.

Belakangan, kondisi ini saya akali dengan mencantumkan no. HP. tujuan pengiriman. Benar saja, Pak Pos akan mengirim SMS ke tujuan, menanyakan apa ada di rumah atau ‘ancer-ancer’ rumah. Saya pun merasa lega.

Continue reading

Plastik, Makanan, dan Kearifan Lokal


Saya kerap sedih melihat peran plastik yang membesar, khususnya di bidang makanan. Bukan hanya dalam skala industruri besar/pabrikan, tapi juga merambah penjual kue tradisional di pasar-pasar. Bahkan merambah ke acara kondangan, slametan, kenduri di kampung-kampung. Sungguh sulit menemukan jajanan yang ‘tak dibungkus’ plastik. Semua harus dimasukkan plastik. Entah itu apem, tetel, lemper yang sudah jelas-jelas dibungkus daun pisang, hingga kacang, telur, permen, krupuk udang. Seolah para pembuat makanan itu berkata, ‘Lihat, makananku ini sungguh higienis karena dibungkus plastiki!’ Jihaiii, jijay dan lebay amat.

Terpaksa, saya bongkar-ongkar foto lama, dan menuangkannya di bawah ini :P

IMG_7448

ini sagu yang banyak dijual di seantero Maluku. penjualnya masih menggunakan daun pisang sebagai pembungkus

IMG_7437

gula aren atau gula merah, memanfaatkan daun pisang kering sebagai pembungkus. kadang juga memanfaatkan semacam daun sagu dan woka

Continue reading

Proyek 100 Sabun : Sebuah Metamorfosa


_MG_4054Agustus tahun lalu saya membuat proyek iseng untuk mengatasi insomnia : membuat 100 sabun dengan bahan sealami mungkin. Saya lalu menulis salah satu resep dalam postingan ‘Membuat Sabun Sendiri’. Sebulan terakhir ini postingan ‘Membuat Sabun Sendiri’ selalu menjadi posting terbanyak pembacanya di blog ini. Mungkin begitu banyak pembaca yang ingin dapat membuat sendiri sabun mandinya, untuk dikonsumsi sendiri tentunya. Mungkin pula banyak yang ingin memulai usaha dengan menjadi seorang  pembuat dan penjual sabun.

Harus saya katakan bahwa tulisan ‘Membuat Sabun Sendiri’ berdasar pengalaman awal saya saat mulai belajar membuat sabun dan sabun itu saya konsumsi sendiri. Kebetulan waktu itu saya masih memiliki sekitar setengah kilogram cocoa butter yang sudah saya simpan di kulkas selama lebih setahun. Sabun hasil sendiri tersebut kemudian saya bagi-bagikan ke kawan-kawan dekat.

Ketika saya memutuskan untuk menjual sabun produk saya, maka tatacara dan aturan dalam postingan ini pun banyak yang tak berlaku. Saya menciptakan banyak resep sabun kemudian, termasuk belasan resep sabun coklat/cocoa butter baru, yang saya rasa lebih bagus hasilnya. Saya juga menggunakan teknik yang saya anggap lebih efisien dan efektif, sehingga hasil sabun lebih maksimal.

Continue reading

Opa Si Pemberi Wangsit


11025802_962837407061465_6056156226101827688_n

rumah tempat saya menginap

Ini lanjutan tulisan diburu hantu di Semarang dan Lasem.

Saya meringis saat memasuki halaman rumah tua calon tempat menginap. Ingin rasanya hengkang segera, meninggalkan tempat ‘seram’ itu. Sekali pandang, tampak rumput di halaman belakang meninggi seolah berbulan-bulan tak pernah dipangkas. Pendopo di rumah samping begitu kotor dan berdebu. Pintu menuju rumah terkunci selama berbulan-bulan. Kata Mas Pop -tuan rumah saya- kemudian, kuncinya hilang entah di mana. Sedang calon rumah penginapan yang akan saya tinggali menebar aroma debu lama, apek dan dingin.

Saya pandang sekilas atapnya yang gegar menjulang. Singup, walau berkesan angkuh dan rapuh. Seolah ada sepasang mata yang mengawasi kedatangan saya, segera mata saya tertuju ke sosok pengawas itu. Namun tidak ada siapa-siapa di sana, sepasang mata ini menghilang, tinggalkan aroma yang mengancam.

Continue reading

‘Diburu Hantu’ di Semarang dan Lasem (1)


Kemampuan melihat makhluk kasat mata, sudah saya rasakan sejak usia SD. Namun entah mengapa, sejak banyak wira-wiri ke Bali dua tahun terakhir, kemampuan ini semakin menjadi. Dulu, sebelum melihat, saya perlu menenangkan diri sejenak. Sekarang, serba otomatis. Mirip tak terkendali. Wira-wiri, mondar-mandir, makhluk-makhluk itu, tanpa permisi. Untung tak separah Gong Shil dalam serial drama Korea ‘Master’s Sun’. Untung.

Awal Februari, menebus hutang singgah kepada Meitasari, saya pun bertandang ke Semarang. Tidak lama, sekitar 26 jam. Si Mei pun mengajak saya berkeliling maskot wisata kotanya. Dimulai dari Klenteng Sam Poo Kong.

Kompleks Sam Poo Kong yang sekarang mirip bangunan baru mienurut saya. Terlalu baru malah. Jadi nggak antik lagi. Agak sulit menangkap aura magis, kecuali yang di gua bagian dalam.Terasa hening, sedikit menusuk hati, tapi energinya menenangkan. Ada beberapa ‘penjaga’ di sana. Bisa jadi itu sisa-sisa energi di masa lalu.

_MG_3894

di sumur dalam ruangan ini, energinya tua

Keluar dari Sam Poo Kong, kami menyusuri pecinan lama, dan berhenti untuk melahap lumpia khas Semarang di Jalan Lombok. Di samping warung aneka makanan khas ini berdiri klenteng yang lumayan tua umurnya. Dibangun awal abad ke-19. Saya tak berani masuk ke dalam walau membawa Hio. Segan rasanya. Niat saya kurang kuat. Jadi saya hanya melihat-lihat dari luar. Ironisnya malah membawa ‘oleh-oleh’, yang mengikuti sampai ke rumah Mei. Seorang perempuang bermata bulat.

_MG_3939

paling suka di sini, energinya jernih

Kenyang makan lumpia dan minum es campur, Mei langsung memboncengkan saya dengan motornya menuju Lawang Sewu. Halah, padahal pintunya nggak sampai seribu kok namanya sewu :D

“Walau tinggal di Semarang seumur hidup, saya belum pernah masuk ke bagian dalam Lawang Sewu,” kata Mei. Jadi ada alasan baginya membawa saya ke sana. Padahal dulu banyak kawan baltyra berkunjung ke Semarang dan mampir tempat ini.

Continue reading

Amanah Itu (1)


IMG_20150201_154132_1CS

jalan di kampung keputran kejambon, sebelum menuju kedondong kidul untuk besuk ‘pasien’

Ruangan itu mungkin hanya berukuran 2,5 meter x 3,5 meter. Ada sebuah dipan kayu tanpa kasur di sana, dengan tiga bocah terlelap. Dua bocah lelaki seumuran anak SD dengan kaki yang dipenuhi bekas luka gatal. Di bawahnya, beralaskan kain seprei atau kain gendongan, tidur seorang bocah. Dialah Isbal Saputra, putra pasangan Ja’i dan Sukarti.

IMG_20150201_150534_1CS

isbat yang digendong ibunya

Saya ke rumahnya sore itu di kawasan rumah petak bertingkat dekat lapangan, untuk menyalurkan bantuan dari kawan-kawan. Membawakan susu, biskuit, dan sekedar uang guna keperluan Isbat. Ihwal Isbat, saya dapatkan dari dokter puskesmas setempat, yang bercerita tentangnya. “Isbat nyaris diberikan kepada orang lain karena orangtuanya tidak mampu,” kata si dokter beberapa hari sebelumnya. Saya pun tergerak menemuinya.

Tak banyak pembicaraan yang saya lakukan dengan ibunya, Sukarti. Perempuan itu terlihat lelah. Pekerjaannya banyak. Mengurus keempat anaknya, berjualan di sekitar lapangan, serta membantu membersihkan rumah orang. Saya lupa bertanya apa pekerjaan suaminya, kebetulan saat itu suaminya tak ada di rumah juga. Usai memberi bantuan, saya segera pamit dan berjanji akan datang dua minggu lagi.

Continue reading