Sungai itu bernama Mahakam. Di tengahnya tak putus-putus kapal dan perahu ting-ting  berlayar. Di tepinya, sepanjang Loa Kulu dan Loa janan, berjajar ribuan kerambah, tempat memelihara ikan mas. Setiap panen, ribuan kilogram ikan didulang, untuk mencukupi kebutuhan ikan tawar di sebagian Kalimantan Timur. Sayang, belakangan  limbah pabrik kerap mencemari sungai kehidupan itu. Tak hanya menodai keindahan si jalan air, tapi juga membuat ribuan pemilik kerambah menangis.

Sore itu, dalam perjalanan dari Tenggarong ke Samarinda, kami bermotor melalui jalur Loa Janan. Agak jauh memang dibanding jalur jalan baru, karena harus menyusuri tepian Sungai Mahakam. Namun jalannya relatif datar, dan kami bisa puas memandang keindahan sungai. Mengikuti gerak kapal pengangkut batubara yang berjalan seperti keong, berpapasan dengan  kapal penarik kayu gelondongan yang nampak kepayahan. Sementara di sekelilingnya, hilir-mudik ting-ting — perahu kecil — yang hendak menuju  Melak atau pedalaman Kalimantan lainnya.

Ketika memasuki Loa Kulu, Loa Ilir hingga Loa Janan, ribuan kerambah menghampar di tepian sungai. Dimana ada kampung, di depannya berjajar kerambah. Panjangnya bervariasi, mulai 10, 25, 100, hingga 500 m. Ada yang langsung menghadap kampung, ada yang tersembunyi di balik gubuk-gubuk atau kios-kios dengan papan bertuliskan ‘Di sini menjual benih ikan mas, Rp 125/ekor’. Seolah mengukuhkan kawasan itu memang daerah kerambah.

Untungnya Banyak

penajam 10_1_1

sungai mahakam/ foto : jack

“Mau cari ikan, Pak?” sapa seorang lelaki kepada teman saya, Jati. Jati hanya mengacungkan kameranya. “Oo.. mau difoto, ya?” tanyanya terperanjat, lalu tertawa ramah. “Nama saya Wasudi, asal Buton. Di sini saya punya 30 kerambah,” katanya kemudian sambil menunjukkan kerambah-kerambah miliknya. “Ini yang baru berisi benih, itu yang berumur sebulan, dan itu.. yang agak jauh, siap untuk dipanen,” katanya sambil meloncat ke sana – ke mari, di antara ruas kayu ulin yang dipasang melintang sebagai jalan yang menghubungkan kerambah satu dengan lainnya, termasuk milik tetangganya.

.Wasudi mengaku sudah 8 tahun mengusahakan ikan mas di kerambah. Hasilnya lumayan, katanya. Sekali panen dari 3 kerambah, dia bisa meraup untung bersih Rp 5 juta. Dengan 30 kerambah miliknya, dia bisa mendapatkan Rp 50 juta setiap 3 atau 4 bulan sekali. Pantas penduduk di tepi sungai ini begitu antusia menjadi pengusaha kerambah.

Walaupun demikian, menjadi pengusaha kerambah tidaklah mudah. Butuh modal besar. Setidaknya, kata Haji Idrus yang menjadi tetangga Wasudi, butuh biaya antara Rp 500.000 – Rp 2.000.000 untuk membuat sebuah kerambah. Semahal itukah? “Ya, kan butuh kayu ulin untuk membuat tiang pancang. Lalu papan, besi, dan sekrup yang menghubungkan tiang dan kayu,” jelasnya.

Itu baru bangunannya. Setelah kerambah berdiri, dibutuhkan minimal 3000-5000 benih ikan mas untuk setiap kerambah. Setiap benih berharga Rp 125-130 per ekornya. Itu pun tak semuanya hidup. Agar meraup untung, pengusaha kerambah harus memiliki setidaknya 5 kerambah. Dengan begitu dia bisa menempatkan ikan sesuai umurnya di setiap kerambah. Panen pun bisa berlangsung terus-menerus setiap bulan.

Seperti petani dan peternak ayam, ikan mas juga bergantung pada pakan dari pabrik. Harga perkilonya, kata Idrus, Rp 3300. “Itu pun harus dihaluskan dulu, baru diberikan ke ikan,” tambahnya. Dengan demikian, ikan-ikan dapat makan dengan lahap dan cepat besar. Sore itu Idrus nampak gusar. Mesin penghalus pakan ikannya rusak. Akibatnya dia harus menghaluskan sendiri pakan itu, lalu memberikannya ke ikan-ikan. “Biasanya saya cukup menghaluskan dan memberikan pakan dengan bantuan mesin. Kini…,” keluhnya. Maklum, kerambahnya memang luas. Memberi makan satu-satu bisa menghabiskan tenaga.

Sungai Tercemar

Bersama adiknya, Idrus memasarkan ikannya ke kota-kota seperti Balikpapan, Samarinda, Bontang, hingga Sangatta. “Biasanya ikan-ikan ini saya angkut pakai mobil sendiri. Sekali angkut bisa 4 sampai 6 kuintal,” jelasnya. Di kota-kota tersebut, ikannya bisa laku Rp 12.000-13.000 per kilogram. Belakangan, harganya malah lebih mahal. Hujan yang jarang turun membuat produksi ikan merosot tajam, tinggal hanya separo hasil biasanya. Padahal hujan ini membuat banjir besar di Samarinda dan Balikpapan.

Belum lagi pencemaran yang kerap melanda Sungai Mahakam.Di awal tahun misalnya, sungai tercemar limbah pabrik yang berasal dari hulu. “Bisa jadi itu limbah pabrik-pabrik dari Tenggarong atau Kabupaten Kutai Kartanegara,” jelas Wasudi. Akibatnya sungguh fatal. Semua ikan yang hidup dalam kerambah sepanjang tepian sungai mati. Baru dua minggu kemudian pencemaran berakhir. Namun, pengusaha kerambah terlanjur menanggung rugi. “Paling sedikit rugi Rp 30 juta. Karena banyak orang yang rugi sampai ratusan juta,” tambahnya.

Toh pengusaha kerambah tak bisa apa-apa. Takut dan tak tahu harus kemana harus protes. “Lagi pula kalau dipikir-pikir, nasib kami masih lebih baik dibanding saudara-saudara kita yang di Aceh,” tambah lelaki berkulit hitam ini mengeluh. Maraknya invasi militer di Aceh membuat mereka yang tinggal jauh di Kalimantan ini – Idrus, Wasudi, dan teman-temannya — ikut prihatin. Sehingga derita sendiri pun tak dirasakan.

Untuk mengatasi kerugian, Idrus dan sesama pengusaha kerambah saling turun tangan. Mereka mencoba dari awal lagi, meminjam modal dari sesama saudara atau tetangga. Soalnya, mereka enggan meminjam dari bank, apalagi tengkulak. “Takut tak bisa mengembalikan bunganya,” alasan mereka.

Tempat Hidup

Setelah agak lama duduk-duduk dan ngobrol dengan Wasudi di tengah kerambah,   beberapa lelaki kemudian ikut nimbrung. “Anak mahasiswakah?” tanya mereka. Soalnya, banyak mahasiswa perikanan Universitas Mulawarman yang kerja praktek di sini. “Setiap hari mereka datang melihat kami bekerja, bertanya macam-macamlah,” tambahnya. Kami hanya tersenyum.

Seorang lelaki bangkit berdiri saat melihat anaknya yang masih 3 tahun tertatih-tatih menyusuri lintangan kayu yang menuju sebuah kerambah. “Kalau sore di sini ramai. Kalau pagi malah ada pasar di bagian sana,” katanya kemudian, setelah membopong si kecil. Namun di siang yang terik, tak seorang pengusaha kerambah pun yang menampakkan batang hidungnya. Mereka lebih suka bersembunyi di rumah mereka – di seberang jalan – yang teduh. Kalau tidak, masuk ke bilik dari papan yang sengaja dibangun di tengah kerambah. Duduk-duduk di sana, atau malah tidur.

Mayoritas pemilik kerambah adalah suku Bugis. Hanya segelintir yang orang Dayak Kutai atau suku lain. Ketika mendekati hilir, menyusuri Loa Janan, nampak hamparan kerambah tak sekedar menjadi tempat hidup ikan mas, tapi juga manusia. Manusia-manusia ini mandi, mencuci, buang air, dan tidur di rumah-rumah di atas kerambah. Bahkan mereka memelihara kangkung dan ayam di atas kerambah.

Air sungai di sekitar kerambah pun kotor kecoklatan. Batang-batang enceng gondok memenuhi tepi kerambah. Seorang lelaki nampak telanjang, bersama dua anaknya yang masih balita di tepi sungai. Hendak mandi, nampaknya. Lalu saya teringat pencemaran yang baru saja diceritakan Wasudi. Di depan saya memang tak sedang ada limbah pabrik, hanya limbah manusia. Semoga saja Sungai Mahakam tak menangis karenanya. (pernah dimuat di majalah familia desember 2003)