Alkisah, Sidaphaksa harus melaksanakan titah Raja Sindureja, mencari bunga abadi ke Kawah Ijen. Konon, bunga ini akan membuat permaisuri raja awet muda. Namun bunga ini pula yang membuat Sidaphaksa berpisah dengan istrinya, Sri Tanjung, dan melahirkan legenda Banyuwangi yang terkenal itu.

Banyuwangi hanyalah satu dari seribu legenda dari Pegunungan Ijen di ujung timur Pulau Jawa ini. Ada lagi legenda Banyupahit, Kawah Wurung, atau kisah menak seperti Dhamarwulan. Tanah bergunung-gunung yang nyaris tak tersentuh, terisolasi, dan bernuansa gelap ini banyak melahirlah aneka dongeng dan kisah magis. Termasuk budaya santet yang ditakuti itu.

Tanah Para Pemberontak

Dulu, Pegunungan Ijen adalah bagian dari Negeri Blambangan. Nama Blambangan mencuat dalam sejarah tatkala rajanya, Menak  Jinggo menolak mengakui kekuasaan Majapahit. Perang antara Blambangan dan Majapahit lalu melahirkan kisah Menak pada abad ke-14. Kisah yang menceritakan perjuangan Dhamarwulan, pemuda dari rakyat biasa yang menjadi tukang arit tapi mampu membunuh musuh kerajaan, Menak Jinggo. Dia lalu menikahi Ratu Majapahit, Dewi Kencono Wungu, dan menjadi raja.

Nama Ijen juga disebut-sebut tatkala seorang pangeran dari Kerajaan Wilis, bergerilya melawan VOC dari balik lereng pegunungan Ijen pada tahun 1722.  Meski akhirnya kalah, kisah  ini membuktikan Ijen sebagai tempat persembunyian yang ideal bagi para pemberontak. Tanahnya yang bergunung-gunung dan dipenuhi hutan lebat, sungguh menakutkan bagi orang luar. Kesan angker begitu melekat di wilayah tak bertuan ini.

Alam Ijen mulai tersentuh tatkala kompeni Belanda menyewakan tanah yang amat luas di daerah Besuki, Panarukan, Probolinggo dan sekitarnya kepada saudagar dan kapten penduduk Cina di Surabaya yang kaya raya, Han Chan Pit dan saudaranya, Han Ki Ko. Untuk menarik minat pekerja, mereka membagi-bagikan beras gratis saat ada kelaparan. Dalam waktu singkat, datanglah 40 ribu pekerja asal Madura. Mereka membuka lahan, bertanam padi dan sayuran, menggunakan sistem irigasi yang teratur. Namun meletusnya pemberontakan para petani yang dipimpin Kiai Mas pada 1813 membuat tanah sewaan ini dibeli kembali oleh Rafles.

Pelaksanaan politik culturstelse oleh Belanda di akhir abad ke-19 memaksa pembukaan kembali lahan-lahan terpencil ini, termasuk Pegunungan Ijen untuk dijadikan perkebunan kopi dan karet. Lagi-lagi didatangkan ribuan pekerja asal Madura. Maka  terciptalah ‘Madura kecil’ yang menjadi pusat pemukiman orang Madura beserta adat, budaya, dan bahasanya. Madura kecil kini masih bisa kita jumpai di sebagian Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Kawah Belerang

ary3

kawah ijen/foto: ary hana

Pegunungan Ijen dengan luas 134 km persegi memiliki tiga puncak utama:  Raung, Merapi, dan Kawah Ijen. Nama Ijen (2400 m dpl) mulai mendunia setelah kedatangan dua turis asal Perancis, Nicolas Hulot dan istrinya, Katia Kraft, pada 1971. dan menuliskan kisah mereka di majalah Geo, Perancis. Keelokan Ijen ditambah kerasnya kehidupan para penambang belerang tradisional di sana menjadi daya tarik utama wisatawan dan fotografer dunia.

Pusat penambangan belerang terbesar di Indonesia ini memang memukau. Di tengah kawah nampak danau berwarna kehijauan, yang mampu menampung air hujan hingga 200 meter kubik. Danau hijau ini dikelilingi oleh pabrik belerang hidup yang terus terbentuk meskipun  sudah puluhan tahun ditambang. Ketika semburan belerang mencapai puncaknya, yaitu menjelang tengah hari, sebagian danau akan tertutup kabut kuning yang kaya akan asam klorida dan asam sulfat yang membahayakan. Namun para penambang tak mempedulikannya. Berbekal sepatu karet hingga selutut, kaos panjang, dan kain penutup wajah, mereka terus bekerja sejak matahari terbit hingga menjelang petang.

Slamet misalnya, mengaku harus naik-turun kawah 2-4 kali sehari. Setiap kali naik kawah dia memikul belerang seberat 80 kg. Belerang ini lalu dikumpulkannya di Pos Bunder milik PT Candi Ngrimbi. Setelah jatahnya hari itu terkumpul, dan belerang-belarang ini selesai ditimbang, Slamet lalu membawa belerang ini turun ke Pos Paltuding untuk ditimbang ulang.

“Kami sering dirugikan dengan sistem penimbangan di sini,” keluh lelaki yang sudah menekuni pekerjaannya selama 25 tahun ini. Kalau berat timbangan di Pos Candi Ngrimbi lebih besar, maka para penambang dibayar berdasarkan berat timbangan di Pos Paltuding. Demikian sebaliknya. Setiap kilogram belerang, kata Slamet, dihargai Rp 330. “Namun setelah diangkut truk dan dijual di kota, harganya menjadi Rp 1.330,” tambah warga Desa Licin ini.

Pundak berpunuk yang keras dan menghitam menjadi saksi betapa keras pekerjaan mereka. Memikul 80 kg beban selama 2 jam setiap kali turun-naik kawah. Belum lagi risiko gigi keropos, penyakit sesak nafas dan paru-paru yang kerap menyerang, akibat terus-menerus menghirup udara bercampur belerang. Itu sebabnya Slamet dan teman-temannya hanya mampu bekerja 15 hari dalam sebulan. Sisa hari mereka gunakan untuk memulihkan kondisi dan menggarap sawah di desa. Namun imbalan yang besar, antara Rp 800.000 hingga Rp 1.500.000 per-bulan, menjadi daya tarik utama pekerjaan ini. “Asal tubuh masih kuat, saya akan menambang belerang,” katanya.

Layak jika banyak penambang telah bekerja hingga puluhan tahun, bahkan sampai tiga generasi. Tak peduli menu makanan sehari-hari mereka hanya nasi jagung, sayur, krupuk, dan ikan asin. Seusai bekerja, mereka beristirahat di tenda-tenda terpal sekitar Pos Paltuding, berbalut sarung dan ditemani nyala api unggun. Mulut mereka nyaris tak berhenti menghisap rokok. “Rokok itu pengusir dingin,” kata Slamet, seolah memberi alasan mengapa para penambang menjadi perokok berat. Papan bertuliskan larangan merokok yang terpampang di lokasi penambangan pun tak mereka hiraukan, padahal bisa mengundang bahaya ledakan. Apalagi penyakit paru-paru.

Membuka Isolasi

Dibanding obyek wisata lainnya, Kawah Ijen relatif sulit dijangkau. Angkutan umum dari terminal Bondowoso hanya sampai di Sempol. Perjalanan menuju Pos Paltuding dilanjutkan dengan ojek atau mencarter colt. Tawar-menawar tarif sebelum naik kendaraan amat diperlukan, karena para sopir dan tukang ojek yang mayoritas orang Madura ini amat sering memasang tarif sesuka hati. Sementara angkutan umum dari terminal Banyuwangi justru amat terbatas. Bisa-bisa, kita harus berjalan belasan kilometer menuju Pos Paltuding.

Sukardi, salah seorang petugas Pos PHPA, mengakui keterbatasan fasilitas dan akomodasi di Lereng Ijen ini. Di Pos Paltuding misalnya, hanya ada dua pondok penginapan dengan kamar yang terbatas isi dan jumlahnya. Lalu ada sebuah warung sederhana. Di hari-hari biasa, pos ini nampak gelap gulita. Baru saat akhir pekan atau ketika banyak tamu, petugas akan menyalakan lampu listrik yang digerakkan genset.

“Sebetulnya banyak obyek wisata alam yang mempesona di kawasan ini, tak hanya Kawah Ijen,” cerita Sukardi dari atas motornya, saat mengantarkan saya berkeliling. Ada Kali Banyupahit dan kawasan hutannya yang kerap dijadikan anak-anak muda ajang perkemahan. Air sungai yang berasal dari Danau Hijau, Kawah Ijen itu, dipercaya penduduk bisa menjadi obat berbagai penyakit. Ada lagi Kawah Wurung, kawah menghijau di lereng utara, 8 km dari Kawah Ijen. Juga wisata agro seperti menikmati kebun kopi, cengkeh, coklat, dan bunga-bungaan di  Jampit, 13 km dari Sempol. Kalau ingin bermalam, pengunjung bisa tidur di penginapan bawah tanah yang berasal dari jaman Belanda. “Tapi dinginnya luar biasa dan sedikit angker,” tambahnya, sedikit menakut-nakuti.

Tak hanya transportasi atau akomodasi, telekomunikasi pun susah di kawasan ini. Abdurrahman, petugas koramil di Sempol misalnya, harus menggunakan sambungan telepon via satelit jika menghubungi kota terdekat. “Mahal memang, tapi bagaimana lagi. Di sini memang serba susah, Mbak,” keluhnya.

Belakangan, keindahan kawasan Ijen mulai rusak akibat kebakaran hutan dan penjarahan lahan oleh penduduk sekitar. Membludaknya jumlah penduduk, dan kurangnya lahan pertanian, membuat mereka merambah tanah di gunung dan bukit untuk ditanami. Perkawinan usia muda yang menjadi budaya orang Madura pedalaman, dan tak terkendalinya angka kelahiran, menjadi faktor penyebabnya. Maka pembangunan jalan beraspal yang menjangkau tempat-tempat terpencil disambut dengan gembira. Pembangunan ini diharapkan dapat membuka isolasi, membuat anak-anak mau bersekolah, dan tak hanya puas sebagai buruh perkebunan. Perkawinan di usia muda pun bisa dihindari. Dengan begitu, penduduk tak perlu lagi menebang pohon dan merambah hutan untuk dijadikan kebun kubis dan pertanian. Mereka juga tak perlu carok (berkelahi dengan menggunakan clurit) untuk memperebutkan sepenggal lahan di hutan. Tanah tempat tumbuhnya bunga abadi ini pun tak perlu koyak, rusak, seperti nasib pegunungan lainnya di Pulau Jawa. (pernah dimuat di majalah familia, desember 2003)