Timor Leste (TL) harus menempuh perjalanan yang panjang sebelum merdeka 20 Mei 2002. Banyak darah dan peperangan mewarnai pembentukan negara di ujung timur Pulau Timor ini. Diawali sebagai wilayah jajahan Portugis selama hampir 4 abad, lalu bergabung menjadi propinsi ke-27 Indonesia yang diwarnai kekerasan, hingga di bawah pengawasan PBB tahun 1999. Sejarah panjang inilah yang membentuk TL menjadi negara seperti sekarang.

Pulau Cendana

Nama Timor  telah dikenal sejak abad ke-7, bersamaan dengan maraknya perdagangan cendana –hasil utama Pulau Timor—oleh orang cina dan arab. Fei Hsin –seorang pengelana– dalam catatan perjalanannya General Account of Peregrinations at Sea, melukiskan pegunungan Timor diselimuti oleh hutan cendana yang lebat. Minyak cendana yang berwarna putih (Santalum album) saat itu digunakan orang cina untuk bahan tongkat, parfum, kipas, kotak, dan peti mati

xtus 1

patung kristus/foto: ary hana

Cendana sendiri baru dikenal orang Portugis tahun 1515, tiga tahun setelah mereka menguasai Malaka. Tujuh tahun kemudian, tepatnya Januari 1522, Antonio de Abreau –salah satu anak buah Ferdinand Magellan– mendarat di Pulau Timor dengan maksud berdagang cendana. Melihat letak Timor yang strategis dalam lalu lintas perdagangan dunia dan kaya hutan cendana, membuat Portugis ingin menduduki pulau ini.

Rupanya orang Timor sudah mencium niat jahat orang Portugis. Mereka melarang  armada Portugis menebang pohon dan mendirikan pemukiman di sekitar pantai. Orang Portugis yang nekad bermukim di Timor kerap mendapat gangguan dari penduduk asli hingga mereka akhirnya pindah. Sikap penduduk berubah setelah kedatangan pendeta fransician, Frei Antonia Taveire. Pendeta ini menyebarkan ajaran katolik kepada penduduk sekitar, dan menjadi orang Portugis pertama yang tinggal lama di Timor.

Frei Antonia sendiri sebelumnya datang ke Flores untuk menyebarkan agama Katolik di Larantuka. Pendeta ini bahkan membangun benteng di Solor tahun 1566, untuk menahan gempuran orang Islam.

Setelah kedatangan Frei Antonia, semakin banyak orang Portugis yang menetap di Timor. Pembangunan benteng Solor terbukti memperkuat perdagangan Portugis di Timor. Umumnya perdagangan dilakukan oleh keluarga mestizo – keturunan campuran Timor Portugis—yang disebut Topas atau Portugis hitam.. Cendana asal Timor laku dengan harga mahal di Canton.

Monopoli Topas membuat orang Islam asal Bugis merasa tersaingi. Mereka mencoba mengusir orang Portugis di Flores dan Timor. Tapi usaha ini gagal karena kuatnya kapal dan bantuan armada Portugis yang datang tahun 1602. Sejak 1640 orang Topas yang berpusat di Larantuka, Flores Timur, memonopoli perdagangan cendana.

Perseteruan Portugis-Belanda

Tak mau kalah dari Portugis, tahun 1613 Belanda mendirikan benteng di Solor, dilanjutkan di  Kupang tahun 1653. Hal ini membuat orang Portugis tersingkir sampai ke Lifao di Ambeno (sekarang Oecussi). Sebetulnya Belanda tak begitu tertarik dengan Timor. Imperialis ini lebih memusatkan kekuasaanya di Batavia dan memonopoli perdagangan cengkeh. Namun dia ingin mengamankan jalur perdagangan rempah-rempah di timur Indonesia. Tahun 1655 Belanda mengirim pasukan ke Timor dipimpin Arnold de Valming. Sayang,  pasukan ini habis ditumpas orang Topas yang dibantu orang Timor di Amarasi. Baru seabad kemudian Belanda datang lagi  untuk membangun kekuasaan.

Kolonialisme Portugis di Timor resmi ditancapkan saat Vice Rei Portugia –Raja Muda Portugal – di Goa, India mengangkat Simao Luis sebagai kepala daerah Timor yang pertama pada 1665. Walau secara administratif Portugis yang berkuasa, di bidang perdagangan kekuasaan tetap di tangan orang Topas. Ketika Antonio Coelho Guerreiro ditunjuk menjadi Gubernur pertama tahun 1701, misinya adalah menggembosi kekuasaan orang Topas.

Persaingan antara orang Portugis dan Topas rupanya diketahui dan dimanfaatkan Belanda. Dengan bantuan pasukan bayaran orang-orang Ambon, Timor, dan Savu, Belanda mengalahkan orang Topas di Penfui, dekat Kupang tahun 1749. Hal ini membuat orang Topas lebih memusatkan persaingannya dengan orang Portugis di Lifao, Ambeno. Mereka membuat blokade untuk membatasi gerak Portugis. Akhirnya pada 1769 Gubernur Portugis memindahkan ke-1200 personilnya ke Dili, Timor Timur. Mereka menempuh jalan laut, melalui rawa-rawa, terserang malaria, dan –lebih buruk lagi– jauh dari pusat perdagangan cendana, menuju Ante-camara do Inferno atau gerbang ke neraka.

Pada pertengahan abad ke-18 Timor dikuasai tiga kekuatan, Belanda di barat daya, Portugis di timur laut, dan orang Topas di Oecussi dan barat tengah Timor. Namun orang Topas masih memonopoli perdagangan cendana dan budak.

Pada abad ke-19 terjadi perubahan drastis di Timor. Hutan cendana mulai habis ditebang. Portugis kemudian menjual kekuasaannya di Flores dan pulau-pulau seperti Solor, Adonara, Pantar, dan Alor kepada Belanda, dan hanya mempertahankan Timor pada 1851. Hal ini mendorong perjanjian tapal batas tahun 1858 yang membagi wilayah Timor Portugis dan Timor Belanda, dan dikuatkan dengan konferensi meja bundar tahun 1913. Kelak ketika Indonesia merdeka, wilayah Timor Belanda menjadi bagian Indonesia.

Sekutu Australia

Ketika meletus perang dunia kedua, Timor terkena imbasnya. Setelah berhasil menguasai Singapura, Jepang langsung menyerang koloni Belanda di India timur hingga di Papua Nugini. Kolonialisme Belanda pun berakhir.

Untuk menghadapi invasi jepang, Australia –sebagai bagian dari pasukan sekutu—mengerahkan beberapa ratus tentaranya di dua tempat : batalyon burung camar di Ambon dan batalyon burung pipit di Timor. Di Timor pasukan dibagi ke Kupang dan Dili. Pasukan Australia di Ambon akhirnya menyerah, begitu juga yang di Kupang. Mereka kalah setelah digempur 23.000 tentara Jepang.

beach in dili

pemandangan dari atas kristus rai/foto: ary hana

Sekitar 400 tentara Australia dibantu segelintir tentara Belanda yang berada di Dili memusatkan kekuatan di sekitar kota Dili dan bandara. Sadar tak bisa mengimbangi 12.000 tentara Jepang, mereka melancarkan perang gerilya. Selama setahun pasukan sekutu ini berhasil menewaskan 1.500 tentara Jepang, sedang hanya 40 pihak Australia yang gugur.

Kemenangan Australia tak lepas dari bantuan criado, orang Timor yang menjadi porter sekaligus penunjuk jalan pasukan. Para criado inilah yang memperkenalkan jalan tikus, tempat-tempat aman di gunung, kepada prajurit Australia. Bagi orang Timor sendiri, akibat perang dunia kedua begitu sadis. Sekitar 40.000-70.000 jiwa penduduk Timor tewas akibat kekejaman invasi dan pendudukan Jepang saat itu, baik karena disiksa, kelaparan, dan wabah penyakit. Keberhasilan pasukan Australia dibantu penduduk Timor melawan gempuran Jepang membuat benua kangguru ini terhindar dari invasi Jepang. Kelak jasa orang Timor ini dibayar Australia lewat dukungan pro kemerdekaan pada jajak pendapat 30 Agustus 1999 dan di awal kemerdekaan TL.

Bergabung dengan Indonesia

Sejak 1932-1968 negara Portugal dipimpin oleh diktator Antonio de Oliveire Salazar. Status  TL saat itu adalah wilayah jajahan Portugis. Ketika Salazar digantikan Marcello Caetano hingga 1974, status TL berubah menjadi propinsi di seberang lautan. Ironisnya, wilayah seluas 14.000 km2 itu hanya dihuni oleh 1.463 orang Eropa yang meliputi prajurit dan pegawai administrasi yang dikirim dari Goa. Hanya sedikit –kurang dari 5%– orang pribumi yang bisa berbahasa Portugis, sementara perekonomian dikuasai oleh etnis cina. Pada saat itu hanya sekitar 1500 orang yang memiliki kedudukan istimewa.

Ketika Caetano digulingkan Jendral Antonio de Spinola lewat kudeta tak berdarah 25 April 1974, terjadi perubahan yang radikal dalam sistem politik Portugal. Lewat Revolucao de Cravos atau Revolusi Carnation ini, rezim Spinola yang sayap kiri dan anti kolonialisme melakukan perubahan yang radikal. Dia menawarkan kemerdekaan kepada propinsi di seberang lautan seperti Angola, Guinea-Bissau, Mozambique –ketiganya gigih melakukan perlawanan terhadap Portugis—dan Timor Leste.

Tawaran kemerdekaan yang tak disangka-sangka ini disambut gembira. Dengan segera terbentuk tiga  partai besar pada musim semi dan panas 1974, yaitu : UDT, Fretilin, dan Apodeti.  UDT (Uniao Democratica Timorenses) beraliran konservatif , dan tokoh-tokohnya dekat dengan pemerintahan Portugis, seperti Mario Vegas Carascalao. Sedang  Fretilin (Frente Revolusionario Timor Leste Indepente) bersifat anti kolonialisme dan menganut faham marxist. Fretilin amat populer saat itu. Kedua partai ini anti integrasi dengan indonesia. Partai ketiga adalah Apodeti (Associacao Popular Democratica Timorese) yang didirikan oleh Jose Osorio Soares. Partai yang dipimpin Arnaldo dos Reis Aranjo ini ingin bergabung dengan Indonesia. Aranjo sendiri adalah sekutu Jepang ketika perang dunia kedua sehingga dianggap penjahat perang.

Hasil pemilu awal dimenangkan oleh UDT dan Fretilin. Keduanya lalu membentuk pemerintahan koalisi pada Januari 1975, namun hanya bertahan beberapa bulan. Joao Carrascalao, adik Mario Carrascalao yang memihak Fretilin, melakukan kudeta terhadap UDT pada 11 agustus 1975. Hal ini mengobarkan perang sipil yang memakan korban sekitar 2000-3000 orang meninggal. Tiga minggu kemudian Fretilin berkuasa, dan menyatakan kemerdekaan TL November 1975.

Sejak meletus perang saudara di TL, Indonesia –sebagai negara terdekat–   terus meningkatkan kewaspadaan. Berkuasanya Fretilin yang beraliran kiri merupakan ancaman komunis yang berbahaya bagi Indonesia sejak meletusnya pemberontakan G30S/PKI. Apodeti yang memihak Indonesia membuat negara ini melakukan invasi ke TL pada 7 Desember 1975. Ribuan pendukung Fretilin dan keluarganya dibantai dan diburu, sehingga banyak di antara mereka lari ke gunung-gunung untuk bersembunyi. Pada  17 juli 1976 TL resmi bergabung dengan Indonesia sebagai propinsi yang ke-27 dengan nama propinsi Timor Timur.

Selama 24 tahun bergabung dengan Indonesia, pembangunan prasarana fisik seperti jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, pelabuhan, gencar dilakukan. Namun sikap pemerintah Indonesia yang represif membuat banyak korban berjatuhan, baik dari pihak rakyat Timtim maupun tentara Indonesia. Apalagi pejuang Fretilin terus melancarkan perang gerilya. Tragedi yang terkenal adalah peristiwa Santa Cruz 12 November 1991 di pemakaman Santa Cruz Dili. Tekanan dunia internasional terhadap pelanggaran HAM di Timtim ditambah perubahan kepemimpinan politik di Indonesia, melahirkan jajak pendapat penentuan nasib sendiri bagi rakyat Timtim 30 Agustus 1999. Jajak pendapat yang didukung Australia dan AS ini dimenangkan oleh golongan pro kemerdekaan. Setelah lebih dua tahun di bawah pemerintahan PBB atau UNTAET (United Nations Trancitional Administration in East Timor), Republik Demokratik Timor Leste (FDTL) pun merdeka pada 20 Mei 2002.

Advertisements