Tags


Maafkan saya yang udik ini, yang tak pernah naik pesawat berlama-lama. Apapun yang berkaitan dengan pesawat, selalu menarik perhatian saya. Jarak terjauh pesawat yang pernah saya naiki hanya Penang-Jakarta transit di Kuala Lumpur. Kalau di dalam negeri, baru Surabaya-Kupang transit di Denpasar.

ternate 1

pelangi di depan laut Ternate/foto: ary amhir

Kali ini saya coba naik Batavia air dari Surabaya ke Ternate transit di Makasar. Pesawat bertolak dari Bandara Juanda pukul 11.30 malam. Waktu yang aneh buat terbang. Satu jam kemudian, sampailah saya di Makasar, dan mesti menunggu pesawat ke Ternate sekitar 3 jam lagi. Cukup lama juga, sehingga banyak penumpang menggeletakd tiduran di Bandara Hasanudin.

Tidur di bandara nyaman juga. Kecuali mungkin bangkunya yang besi, keras, dan dingin. Malam itu, saya melihat seorang nenek tidur nyenyak di samping cucu perempuannya, juga bocah lelaki dengan kedua orangtuanya. Bahkan ada 4 bule tiduran di ruang tunggu khusus perokok yang cukup luas. Bandara Hasanudin memang megah, luas, nyaman dan aman. Kesannya juga terbuka. Malah saya rasa lebih nyaman ketimbang Juanda.

Pukul 2 pagi, berkali-kali diumumkan panggilan terakhir buat penumpang pesawat Garuda Indonesia tujuan Jayapura. Ada belasan kali pengumuman dikumandangkan, namun sasaran yang dituju tak jua nampak. Akhirnya seorang petugas sekuriti berteriak-teriak di sepanjang ruang tunggu, dari ujung ke ujung untuk memanggil penumpang tujuan Jayapura. Tepat di ruang perokok yang luas dan nyaman itulah keempat bule terbangun dengan gelagapan, menyambar rangselnya lalu berlarian menuju ruang boarding Garuda.

Kami, beberapa penumpang tujuan Ternate pun tergelak. “Coba di Juanda ada yang memanggil-manggil seperti ini, tentu kami tak ketinggalan pesawat kemarin,” seru Budi, kawan seperjalanan saya yang hendak menuju Buli, Halmahera Timur. Bersama tiga rekannya Budi kemarin malam ketinggalan pesawat, sehingga harus terkena denda Rp 183.000 untuk menumpang pesawat di hari berikutnya.

Pukul 4 kurang kami dipanggil boarding. Panggilan mengejutkan di antara mereka yang terlelap. Kini ganti kami berlarian menuju gerbang 1, masuk gerbang scan lalu menuju pesawat. Tak berapa lama pesawat pun lepas landas.

Saya yang udik ini selalu suka terbang, terlebih terbang melintasi waktu walau hanya beda satu dua jam. Saya suka sensasi pesawat take off, memacu kecepatan sekencang mungkin, membuat ruang bagasi di atas kepala bergoyang-goyang, semua benda di sekitar kita bergetar, lalu.. yah, semua seolah membeku. Tak nampak ada yang bergerak di sekitar kita. Betul-betul berhenti. Waktu seperti tak ada artinya. Inilah saat pesawat membelah angkasa. Seperti kata Einstein, mengalahkan kecepatan waktu berarti membunuh umur. Kita tak lagi tua tatkala sudah bisa mengatasi waktu.

ternate 2

Tidore dan Ternate dari udara/foto: ary amhir

Sejenak saya tertidur. Hingga tak menyadri sepotong roti isi coklat dan air kemasan terhidang di depan saya. Saya terbangun kemudian, silau oleh cahaya di luar. Rupanya pesawat sedang melintasi waktu. Gelap langit beberapa menit lalu berubah menjadi terang di antara awan putih yang beterbangan. Seperti gumpalan kapas yang dihembuskan ke atas. Balon-balon putih malaikat yang mengapung kehilangan berat badan. Terus mengangkasa, menghentikan waktu, pesawat terjerat ke dalam gumpalan asap yang panjang. Membutakan. Inilah gumpalan awan penurun hujan. Kabut putih yang bergerak cepat tanpa bentuk.

Lalu muncullah gunung-gunung yang memenuhi pulau kecil. Mulai-mula Gunung Maitara dan Kiematubu di Tidore, lalu Gunung Gamalama di Ternate. Di kaki gunung yang merupakan keliling luar pulau bermunculan rumah-rumah yang semarak. Penuh mengelilingi garis pantai. Di Tidore, deretan perumahan hanya satu dua lapis. Di Ternate bisa berlapis-lapis, yang menunjukkan padatnya penduduk Ternate dibanding Tidore.

Pukul 7 lebih waktu intim pesawat mendarat. Lagi saya rasakan sensasi aneh ketika roda pesawat menyentuh landasan. Berdecit, guncangan kasar, sebelum berhenti. Aspal bandara nampak basah, tanda hujan tadi turun. Saya naik ke bus penjemput, lalu menuju sebuah rumah yang disebut bandara. Rupanya itulah bandara Baabullah, mirip bandara di Kupang, begitu sederhana. Apa begini rupa bandara di pulau kecil. Bagai langit dan bumi di bandingkan Bandara Hasanudin Makasar, bahkan di banding toilet dan mushollanya, masih kalah bagus.

Saya pilih jalan kaki ketimbang naik taksi atau ojek. Hanya rangsel kecil dan tas kamera, apa beratnya. Sambil berjalan saya ambil foto sepanjang jalan. Di beberapa baliho saya baca bahwa festival Jailolo baru saja berakhir 30 Mei lalu. Sayang sekali, saya terlambat. Andai saya bisa sedikit lebih cepat, ah..

Cuaca pagi itu mendung, kurang cahaya. Tukang ojek hilir mudik ke sana ke sini. Rasanya setiap pengendara sepeda tunggal itu tukang ojek. Kelak, Ci Melly, kakak kompasianer Imagina berkisah, tukang ojek menjadi profesi favorit di Ternate. “Sekarang sudah mending, sejak Sofifi  menjadi ibukota propinsi Maluku Utara, sepertiga tukang ojek di Ternate lari ke sana. Dulu, jalanan penuh tukang ojek.”

Ojek di Ternate lumayan mahal. Dari bandara ke Kampung Makassar, Rp 10.000. Nggak sampai sepuluh menit. Kalau jalan kaki paling lama tiga puluh menit. Tak heran banyak orang pilih menjadi tukang ojek, karena penghasilannya lumayan. Kelak saya gunakan jasa tukang ojek untuk keliling pulau berdiameter 40 km itu.