Tags

,

Gurabunga namanya, sebuah desa di kaki Gunung Api Kiematubu, Tidore. Nama desa asri ini mencuat tahun lalu saat terpilih menjadi salah satu desa terbersih di Indonesia. Bayangkan, di pulau seluas 180 km2 dengan penduduk sekitar 100.000 jiwa ini bisa tercipta desa bersih di kaki gunung. Itu salah satu alasan saya mengunjungi Pulau Tidore.

bunga1

Desa Gurabunga yang Menanjak/foto: ary amhir

Pagi buta saya meninggalkan Kampung Makassar menuju dermaga Bastiong. Mulanya saya berjalan kaki karena mengira dekat. Rupanya masih jauh di ujung, akhirnya saya naik ojek. Ada dua jenis angkutan menuju Tidore, feri dan speedboat. Kapal feri milik Pelni berangkat setiap 7 pagi. Sedang speed beroperasi setiap saat, sejak pukul 6 pagi hingga 6 petang.

Speed yang diisi antara 12-16 penumpang, hanya menempuh waktu sekitar 10 menit menuju dermaga Rum di Tidore. Ongkosnya sedikit mahal, Rp 8.000. Dari dermaga Rum banyak angkot menuju Soasio, pusat kota Tidore. Kebetulan di depan dermaga adalah terminal angkot. Angkot ini memutar lewat selatan pulau, bukan utara. Padahal jika melihat peta, jalur utara lebih dekat. Namun ternyata harus mendaki gunung, sehingga angkot pun enggan merambah.

Perjalanan memutari 2/3 Pulau Tidore sangat menyenangkan. Jalan beraspalnya bagus, licin, tanpa lubang. Pemandangannya pun indah. Di kanan jalan adalah laut dengan gugusan pulau-pulau seperti Maitara, Ternate, dan Mare. Sedang di kiri jalan adalah Gunung Kiematubu.

Suasana sangat tenang, asri. Begitu teduh, banyak pohon di tepi jalan. Saking nyamannya sampai banyak anjing yang berjemur di tengah jalan. Bunyi klakson tak mampu mengusir mereka. Anjing baru lari ketakutan setelah mendengar makian sopir. Di sepanjang pantai, kawanan kambing liar dengan cueknya merumput. Seolah kebebasan mereka dapat dimana-mana. Tak ada yang mengusik.

Tarif angkot menuju Soasio hanya Rp 9.000, yang ditempuh selama 40 menit. Angkot hanya 8 penumpang, satu di depan dan 7 di belakang. Sopir tak mau mengisi penumpang melebihi kapasitas, kecuali jika tujuannya ke bukit dan yang naik anak-anak sekolah.

Tiba di Pasar Soasio saya langsung berjalan menyusur pantai. Bersih. Itu kesan saya. Tak ada sampah. Paling hanya kotoran kambing. Beberapa nelayan dengan bebasnya mandi dan berenang di pantai. Telanjang pula. Mungkin karena jarang ada pengunjung, yang lalu lalang di situ hanya tukang ojek dan bentor, becak bermesin. Oya, baik angkot maupun bentor umumnya full music untuk menarik minat penumpang. Namun jangan harap mendengarkan musik dangdut. Paling jelek grup musik boys band ala Indonesia seperti Kuburan.

Dari pantai saya menuju Benteng Tahula, lalu ke Keraton Tidore naik bentor. Kapan-kapan saja saya kisahkan perjalanan ke benteng dan kraton ini. Saya kembali ke terminal pukul 11 pagi. Siap menuju Gurabunga. Namun angkot masih kosong. Terpaksa saya harus menunggu. Untuk mengisi waktu saya berjalan-jalan di pasar.

Namanya juga pasar tradisional, isinya hanya sayur, buah, kebutuhan makan pokok dan sedikit kios yang menjual pakaian dan bedak. Mirip pasar Comoro di Timor Leste. Saya tertarik dengan pinang, kayu manis, gula aren yang warnanya begitu hitam, dan trasi yang dibungkus daun nirah panjang-panjang. Juga ikan-ikan tore atau garing, yang sudah dibakar agak lama.

bunga2

sebuah gang bernama bunga-bungaan/foto: ary amhir

Yang membuat sedih justru melihat kios buku. Di kepulauan yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Tidore, buku-buku bernuansa agama Islam sangat laku dijual. Tapi harganya luar biasa. Buku tentang aqidah agama yang di Surabaya sekitar Rp 30.000-40.000 di sini harganya mencapai Rp 120.000. Nggak bisa ditawar lagi, dan selalu ada yang cari. Ngeri kan, bagaimana mau mencerdaskan masyarakat kepulauan kalau harga buku melambung luar biasa begitu?

Sejam menunggu, sopir angkot pun memberi tanda segera berangkat. Penumpang dewasa hanya empat orang, semua menuju Gurabunga. Yang anak sekolahan sekitar 10 orang, berjejal di belakang, bahkan melambai-lambai di pegangan pintu.

Perjalanan ke Gurabunga tak sampai satu jam. Tapi penuh tantangan. Angkot mendaki gunung. Kadang tanjakannya biasa saja, kadang sampai 60 derajat lebih. Tak banyak belokan. Pokoknya lurus mendaki. Sempat deg-degan juga, takut sopir tak menguasai keadaan lalu angkot mundur teratur. Ketakutan yang tak perlu.

Di kiri kanan jalan rumah penduduk nampak bersih dan indah. Rumah tembok biasa sebetulnya, hanya dicat warna-warni. Di setiap rumah selalu ada kebun bunga. Mulai mawar, gladiol, sepatu dan lainnya. Setiap kampung dipisahkan dengan hutan pala dan cengkeh.

Saya paling suka melihat buah pala bergoyang-goyang ditiup angin siap dipetik. Lalu harum cengkeh menyerbak di sepanjang jalan. Banyak penduduk menjemur cengkeh di halaman rumah. Tepat di sebuah lapangan sepakbola yang bertuliskan nama-nama negara finalis sepakbola dunia, angkot berhenti. Saya pun turun.

Gurabunga siang itu begitu bersih dan sejuk. Memang tak ada sampah terbuang sembarangan. Bahkan di salah satu halaman penduduk yang ramai orang, semacam ada hajatan, sampah juga tak bercecer sembarangan. “Kitorang selesai makan pagi langsung bersihkan rumah dan halaman. Jangan sampai ada sampah,” tutur seorang ibu. Saya manggut-manggut.

Selain bersih, di setiap rumah penduduk menyembul bendera Jerman, Belanda, Inggris. Apa pula ini? Gejala seperti ini saya amati juga di Ternate. Mulanya saya pikir orang-orang ini tidak nasionalis, mengibarkan bendera negara asing. Rupanya inilah cara mereka menyambut pesta sepakbola dunia 2010 di Afrika Selatan. Bendera yang mereka kibarkan adalah bendera negara idola mereka. Wow..

Jadi ingat juga saat menunggu di terminal Soasio tadi. Topi berlogo kesebelasan negara yang bertarung di piala dunia laku keras. Yang beli remaja tanggung. Yah, demam sepakbola sedang menyerang orang maluku utara, tak terkecuali Gurabunga. Semoga demam kebersihan di Gurabunga juga menyerang semua orang, tak hanya di maluku utara, tapi juga seluruh nusantara.

Advertisements