Tags

Pagi ini, 9 Juni 2010, saya terbangun di Penginapan Camar dengan perasaan gerah. Semalam saya tak mandi, langsung tersuruk begitu masuk penginapan. Perjalanan dari Terminal Baru Tobelo menuju Jailolo cukup menguras tenaga.

Saya check out dari Hotel Juliana di Tobelo pukul 11.00, lalu segera ke Terminal Baru diantar ojek. Setelah menyantap bakso jawa yang sangat tidak enak dan es kacang, saya segera mencari oto-sebutan bagi mobil seperti avanza, luv- menuju Jailolo. Walau sudah dapat oto, saya harus menunggu hampir 4 jam, hingga oto penuh. Pukul 14.30 oto baru melaju, membawa 5 penumpang.

jailolo1
sunset di dermaga jailolo/foto: ary amhir

Perjalanan ke Jailolo sendiri memakan waktu 4 jam. Melalui jalan beraspal mulus, menyisir sepanjang timur pantai Halmahera, sebelum menyeberang ke Sidangoli, lalu menyusur barat pulau. Tiba di penginapan pukul 7 malam. Sudah ko, apalagi mendengar  banyak penumpang muntah di kursi belakang. Untung saya duduk di samping sopir sehingga tak perlu melihat itu semua. Saya sangat menikmati sopir yang ngebut dan jago membalap di tikungan.

Setelah mandi, shalat Subuh, saya langsung berjalan keluar. Bersiap menyongsong sunrise yang baru muncul pukul enam lebih. Saya berjalan menyisir pasar ikan, menuju dermaga, bersiap dengan senjata saya, kamera. Memburu kemana sang surya meninggalkan bayangan benda-benda.

Pengalaman mengajarkan, jika melakukan perjalanan ke pulau-pulau kecil, kejarlah pantai di saat sunrise. Keindahan laut, perahu, nelayan, geliat kehidupan air biasanya muncul di waktu pagi. Sementara geliat manusia pulau kecil, justru meningkat menjelang petang.

Saya nikmati dermaga Jailolo, mengambil gunung kembar di Ternate-Tidore yang dipisahkan Pulau Maitara. “Hati-hati Ci, jangan sampai jatuh,” seorang lelaki bertubuh gelap tegap menegur. Saya tertawa, tertatih-tatih melipir tepi dermaga. Meleset sedikit memang bisa masuk ke laut sih.

Puas bermain di dermaga, saya berjalan ke arah Payo. Perut melilit. Saya berharap menemukan warung nasi. Sia-sia. Jangan harap menemukan warung nasi di desa-desa Jailolo. Warung makanan hanya berderet di dekat pasar dan menjelang pelabuhan, tempat orang ramai berkumpul. Lebih mudah menemukan kios bensin dan toko kelontong ketimbang warung makanan.

Setengah putus asa, saya mulai bimbang. Antara ingin kembali ke arah semula menuju dermaga atau melanjutkan perjalanan. Saya ingin ke desa-desa adat seperti Gamtala, Lolori, Saboso, atau Porniti. Tiba-tiba saya melihat tanah lapang yang luas dengan beberapa ekor sapi berkeliaran. Lapangan itu di belakang halaman rumah penduduk, dan dikelilingi pohon kelapa. Namanya Lapangan Soa Jawa, di Desa Gamala.

Puas berbincang dengan sapi, saya panggil tukang ojek untuk mengantar saya ke desa adat. Tawar menawar terjadi, Rp 50.000, tak boleh kurang. Okelah pikir saya, cukup mahal untuk waktu 3 jam. Tapi tak ada pilihan lain. Hanya ojek yang bisa menghubungkan desa-desa di Jailolo. Angkot hanya menghubungkan desa tertentu sepanjang pesisir saja, bukan desa dalam atau ke gunung.

Rupanya Iso, tukang ojek saya cerdas, sigap, dan sangat menguasai medan. Dia juga guide yang bagus. Bukan saya yang menentukan bagian mana yang harus difoto, tapi dia. Bahkan dia menerangkan berbagai kebiasaan dan adat suku Jailolo. Dia juga menguasai sejarah sultannya yang hilang. Nggak rugi bawa dia keliling Jailolo.

Seperti maluku umumnya, di Jailolo ada dua jenis desa, desa kristen dan islam. Desa nasrani masih memelihara rumah adat. Di depan setiap rumah adat, selalu berdiri gereja. Ini yang saya amati di Desa Hokuhoku kiye, Toboso, Zaitun, Lolori, maupun Gamtala. Fungsi rumah adat ini seperti balai pertemuan bagi masyarakat. Misalnya jika digelar upacara adat, pesta atau makan adat.

jailolo2
tifa di sebuah rumah adat/foto: ary amhir

Setiap rumah adat dilengkapi beberapa buah tifa. Panjang alat musik tabuh ini bisa lebih satu meter, terbuat dari kayu enau, dengan diameter lebih dua puluh centimeter. Saya diberi kesempatan menabuh tifa oleh beberapa penjaga rumah adat, menarik juga ternyata bermain dengan tifa raksasa.

Banyak aturan dibuat untuk rumah adat. Di Desa Lolori misalnya, bagian barat rumah adat dikhususkan buat lelaki, sedang bagian timur untuk perempuan. Namun di saat tak ada acara, rumah adat jadi tempat berkumpul warganya, duduk-duduk, menunggu tukang sayur, atau melihat-lihat baju yang dibawa tukang kredit.

Sepanjang perjalanan, saya bertemu dengan penjual sayur keliling. Ketiadaan angkot membuat ibu-ibu malas berbelanja ke pasar. Naik ojek pun mahal. Jadi mending tunggu abang sayur di pagi hari.

Sepanjang perjalanan, saya melihat hamparan cengkeh yang dijemur di halaman rumah penduduk. Beberapa penduduk sedang mengupas pala. “Tapi cengkeh murah Kak, hanya Rp 2500 per kilo. Kalau pala kering bisa mencapai Rp 40.000,” jelas Iso. Lebih mahal lagi kenari. Hanya sekaleng susu kental manis harganya Rp 10.000. Belakangan saya tahu yang dimaksud Iso cengkeh basah, bukan yang sudah kering dijemur.

Puas melihat, ngobrol dengan warga tentang rumah adat, saya menuju ke desa paling ujung, Merambati. Ini desa muslim, terletak di pesisir barat pantai. Menuju desa ini kami melewati kebun buah-buahan. Mulai sirsak, alpukat, nangka, jambu, hingga mangga ada di sepanjang jalan. Lalu sebuah masjid, Masjid Parada namanya, menyambut kami.

Tak berapa lama rumah-rumah di selingi pohon kelapa bermunculan. Sesekali kami berjumpa dengan perempuan yang menggendong soloi – keranjang barang khusus wanita- di punggung. Isinya macam-macam. Ada ubi, kayu, atau sayur. Kalau keranjang barang lelaki namanya poludi.

“Ini garangkusu Kakak, tanaman untuk memasak ikan, biar kuahnya sedap,” Iso menunjuk semacam rerumputan yang tumbuh di tanah. Ah, semacam serai, pikir saya. Kami memang melewati semak-semak garangkusu di antara tanaman ubi kayu. Di Jailolo, ubi kayu pun dibuat sagu. Namanya sagu putih. Sedang sagu dari tanaman sagu disebut sagu coklat.

Sejenak kami singgah di sebuah pantai, di pekarangan penduduk. Ngobrol dengan tiga bocah yang bermain di atas tumpukan kelapa, yang hidungnya berleleran ingus. Saya coba mengecek hp, tak ada sinyal. Semalam di Jailolo pun kartu telkomsel saya tak bersinyal. Katanya hanya indosat yang bisa ditangkap di sana.

Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju pantai yang dihuni istana sultan. “Kita ijin dulu, agar motretnya jadi. Kalau nggak ijin, foto terbakar semua,” lagi-lagi Iso mengingatkan. Memasuki halaman rumah sultan, kami melalui beberapa puing bangunan dan rumah. Seorang perempuan tua menyambut kami sambil tertawa. Dia duduk di depan pintu rumah. “Good morning,” katanya ceria.

“Wah.. saya orang Indonesia kok,” jawab saya. Lalu seorang perempuan lain keluar, sambil menggendong anaknya. Iso ngobrol dengan perempuan itu. Dia tersenyum dan menyuruh kami melihat-lihat pantai. Sementara perempuan yang menegur saya tadi mendekat, mencoba mengajak ngobrol. Sayang kami segera berlalu.

“Itu tadi salah satu istri sultan Jailolo lama Kak. Dia gila dan diasingkan di sini,” jelas Iso. Saya melongo. Padahal ramah sekali perempuan tadi. Kayaknya dia paham bahasa asing.

Iso mengajak saya mengelilingi pantai. Kotor. Penuh dengan guguran daun-daun kering. Dua rumah adatnya roboh. Ada beberapa botol bir tergeletak di bawah pohon kelapa. “Dulu tempat ini bersih, indah, karena sultan sering berkunjung ke sini. Kami pun kerap main kemari.” Ada nada sedih dalam suara Iso.

Putra asli Jailolo ini lalu berkisah tentang hilangnya Sultan Jailolo selama beberapa waktu. Kini, Sultan Jailolo sudah ditemukan kembali, namun sedang bermukim di Ternate. Pemda setempat berencana menghidupkan kembali simbol istana dan Sultan Jailolo, sebagai kebanggaan masa lalu. Bahkan beberapa waktu lalu digelar Festival Jailolo yang dihadiri beberapa media asing dan biro perjalanan luar negeri.

“Nanti kubawa Kakak ke makam Panglima Banau, orang yang menggerakkan rakyat Jailolo melawan Belanda saat kami kehilangan sultan,” janji Iso. Saya mengangguk.

Puas eksplorasi sepanjang pantai, kami pun pamit pulang. Lagi-lagi perempuan tua ramah  itu menegur kami. Dia langsung berakting begitu saya memegang kamera. Memandangnya saya jadi sedih. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi kejayaan Jailolo tentu masih hidup dalam ingatannya. Jailolo.. ah.. Jailolo. Kerajaan besar Maluku di masa lalu yang kalah pamor dengan Kerajaan Ternate, kini mencoba hidup kembali. Padahal di kenangan perempuan gila itu Jailolo mungkin tak pernah mati. Apakah kita harus gila lebih dulu untuk memahami keemasan sejarah?

Advertisements