Tags

,


Sudah hampir dua minggu saya di Maluku utara, sudah keliling tidore, halmahera utara, tengah, dan barat. Bahkan sudah ke Morotai, Maitara -pulau di uang seribu- dan pulau kecil lainnya. Kalau Ternate sih rasanya sudah 70% sapu bersih, tinggal Gunung Gamalama dan makam Baabulah saja. Bahkan di pantai sekitar sweering menjadi tempat idola kongkow dan motret tiap sunrise dan sunset.

wal1
Jalan Santiong, lokasi rumah kediaman Wallace/foto: ary amhir

“Lhap!” Tiba-tiba saya tersadar. Saya belum mengunjungi rumah Wallace. Iya, si bapak evolusi yang kalah pamor dengan Charles Darwin itu. Maka siang itu, ketika mendung, saya putuskan mengunjungi bekas kediaman Wallace. Apapun yang terjadi, saya harus menemukan jejak Wallace di Ternate.

Dimana rumah Wallace? Pusing juga menentukannya. Berdasarkan literatur yang saya baca, ada banyak versi tentang letak rumah si Wallace. Wallace menggambarkan rumahnya tak jauh dari kota (kedaton sultan Ternate maksudnya). Di belakang rumahnya ada kebun yang menyambung ke hutan di atas sampai ke puncak gunung.

“Di bawah rumahku adalah benteng Portugis dan di bawahnya lagi ada tanah terbuka sampai ke pantai, dan lebih jauh daripadanya terdapat kawasan tempat tinggal orang pribumi yang membentang sepanjang satu mil ke arah timur laut. Kira-kira di tengahnya terdapat istana Sultan yang sekarang merupakan gedung baru yang hampir runtuh…” begitu pengakuan Wallace yang ditulis Tim Severin dalam bukunya, ‘The Spice Island Voyage, The Quest for Alfred Wallace Who Shared Darwin’s Discovery of Evolution’.

Ada yang mengatakan rumah Wallace bersebrangan dengan Masjid Keraton. Sedang menurut analisa M Adnan Amal dalam bukunya ‘Kepulauan Rempah-Rempah’, rumah Wallace – sebetulnya sih rumah Van Renesse van Duivenbode, konglomerat Belanda saat itu– di Jalan Santiong, tepatnya di gedung Asuransi Jiwasraya.

Diguyur hujan yang tak deras, mula-mula saya meluncur ke Masjid Keraton. Di seberangnya tepat berdiri kantor ‘Oranje Tour and Travel’. Inikah? pikir saya. Tanpa membuang waktu saya segera memotretnya.

Setelah mengunjungi Keraton Ternate dan motret anak-anak yang telanjang berendam di sumur tujuh –semacam Taman Sari di Jogjakarta–, saya lalu meluncur ke Jalan Santiong. Hujan mulai deras mengguyur, namun saya tak peduli. Entah mengapa hujan di Ternate menurut saya tak sederas dan sebasah di Surabaya. Nyamuknya pun menggigitnya tak segatal dan sepedih nyamuk di kota pahlawan.

Tepat di daerah Santiong, di atas Benteng Oranje -setahu saya ini benteng Melayu yang kemudian dipugar oleh Belanda, bukan benteng Portugis. Apa Wallace salah menuliskan nama benteng? — ada papan nama yang bertuliskan ‘JL. ALFRED RUSSEL WALLACE’. Saya melaju melalui lorong tersebut, sampai ke ujung hingga berganti nama lorong. Tapi tak saya temukan kantor Asuransi Jiwasraya.

Saya cuma menemukan dua kantor asuransi, Asuransi Wahana Tata dan Asuransi Jasindo. Mana yang benar??? Pusing, hiks !