Tags

,

Kalau berkunjung ke Balikpapan, jangan lupa singgah ke Kebun Sayur. Demikian pesan seorang teman tatkala mengetahui saya akan ditempatkan selama beberapa bulan di Kalimantan Timur. Setelah tinggal di sana, barulah saya mengerti mengapa teman tadi menyarankan ke Kebun Sayur.

balik1
penjual lampit/foto: jack

Sebagai kota transit, tak banyak yang bisa dinikmati dari Balikpapan. Pantai-pantainya memang menawan, sementara isi kotanya sendiri terkesan meniru kota metropolis yang mengandalkan kemegahan bangunan dan cita rasa yang ‘wah’. Mulai arsitektur gedung, pusat perbelanjaan, hingga gaya hidup penduduknya.

Tak mengejutkan memang, mengingat begitu banyak perusahaan minyak multinasional yang berkantor di sini. Ada Pertamina, Totalfinance Elf, Schumberger, dan masih banyak lagi. Di sini minyak disuling lalu dikapalkan ke penjuru dunia. Banyak di antara perusahaan ini membangun komunitas sendiri. Seperti perumahan, sekolah, fasilitas olahraga dan kebugaran, bioskop, dan pusat hiburan. Wajah bule pun ada di mana-mana. Bisa dikatakan Balikpapan merupakan wakil kota internasional di Kalimantan.

Bagi pelancong yang ingin merasakan nuansa khas Kalimantan, sungguh sulit menemukannya di sini. Paling-paling hanya patung burung enggang yang menghias halaman depan markas kodam, atau ukir-ukiran kayu yang menempel pintu gapura. Bahkan, warung makan dan restoran lebih berbau Sulawesi dan Jawa. Mulai pecel ponorogo, cotto makasar, atau ikan bakar. Baru setelah memasuki Kebun Sayur, wajah Kalimantan itu saya temukan.

Kebun Sayur tidaklah sulit dijangkau. Dengan menggunakan taksi -semacam mikrolet — atau sepeda motor, kita cukup lurus menyusuri Jalan Minyak yang membelah kompleks Pertamina. Jika mulai nampak kios-kios pasar di kiri-kanan tepi ruas jalan, berarti kita telah sampai di tempat ini. Mula-mula deretan kios itu memajang aneka buah segar dan sayuran. Mungkin dari sinilah nama kebun sayur lahir. Lalu pajangan berganti dengan aneka kain dan cendera mata khas Kalimantan, tanda bahwa kita telah memasuki areal ‘Malioboro’.

Di pintu masuk, aneka kerajinan dari manik-manik langsung menyolok mata. Ada tas-tas kecil dengan tali panjang, tempat tisu, kotak perhiasan, hingga tatakan gelas. Semuanya dirangkai dalam empat warna dominan dengan motif dayak : kuning, merah, hitam, dan putih. Harganya bervariasi. Sebuah tas dijual antara Rp 50.000-75.000, sedang tas gendong bayi milik suku dayak ditawarkan Rp 125.000. Tapi gelang kaki hanya dihargai Rp 3.000.

Kalimantan juga dikenal kaya dengan batu perhiasan. Bentuknya bisa berupa gelang, kalung, atau pernik rumah tangga. Seorang ibu yang menawar sebuah kalung dari rangkaian batu mirip jade, harus merogoh kocek Rp 100.000. Sementara putrinya, menaksir gelang dari batu berwarna biru. Gelang yang mirip dengan yang dijual di trotoar Malioboro, Jogjakarta.

balik2
aneka perhiasan dari batu/foto: jack

Jika terus berjalan ke belakang, akan kita temukan kios-kios yang khusus ditempati oleh pengrajin emas asal Martapura. Di sini, kita bisa langsung memesan perhiasan sesuai model yang kita inginkan. Bahan seperti emas, perak, batu permata, atau mutiara, bisa kita bawa sendiri atau memesan langsung pada pengrajin. “Untungnya memang kecil, apalagi kita harus bersaing dengan perhiasan yang dijual di toko. Tapi, saya jamin buatan kami halus dan indah,” promosi Abdul Khaidir, pengrajin yang sudah 30 tahun menekuni pekerjaannya.

Tak lengkap rasanya memborong perhiasan tanpa menoleh kain dan pakaian yang dijual di Kebun Sayur. Lagi-lagi, kain yang dipajang di emperan Malioboro juga ada di sini. Seperti kain pantai, celana dan hem batik, syal, atau yang lain. Tapi, ada juga batik yang kalau diteliti motifnya sungguh berbeda dengan batik Jawa. Itulah batik Kalimantan. Harganya tidak tanggung-tanggung, antara Rp 250.000-350.000 per lembar.

Pencinta sarung tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berburu sarung tenun samarinda aneka corak. Harganya mulai ratusan ribu hingga hanya Rp 25.000. Bahkan, jika Anda penawar yang mahir, harga yang tinggi bisa jatuh hingga beberapa puluh ribu rupiah. Namun Anda harus berhati-hati, karena banyak sarung tenun samarinda aspal beredar di sini. “Sarung tenun yang asli paling murah harganya Rp 150.000, Mbak. Kalau kurang dari itu berarti buatan mesin, bukan tenun tangan,” kata Maryati, seorang penjual. Ironisnya, banyak kain sarung yang buatan Surabaya, meski pada capnya jelas-jelas tertulis ‘Sarung Samarinda Asli’. Mungkin karena pabrik tekstil di Surabaya banyak, sehingga ongkos produksinya pun murah.

Bukan hanya sarung, songket Kalimantan pun indah warna dan motifnya. Tapi seperti sarung, songket ini rawan pemalsuan, terutama yang murah harganya. Karena keblinger harganya yang hanya Rp 25.000 sepasang (dengan selendang), seorang teman memborong songket ini hampir selusin. Untuk oleh-oleh, katanya. Betapa terperanjat dia tatkala menemukan songket dengan motif serupa dijual di pasar kecil di Wates, Jogjakarta, dengan harga Rp 20.000. “Wah, rupanya ini songket Wates, bukan Kalimantan,” katanya kesal dan penuh penyesalan.

Kalau ingin beli oleh-oleh berupa makanan, ada baiknya menuju bagian depan kios. Bermacam makanan impor, termasuk aneka kue, coklat, bahkan anggur ada di sini. Harganya relatif murah dibanding dengan harga di supermall dan swalayan di Pulau Jawa. Beberapa di antaranya malah tak ditemukan di Jawa.. Menurut sang pedagang, mereka mendapatkannya dari negara Malaysia dan Singapura. Entah bagaimana mereka mendatangkan penganan impor ini. Tapi mumpung di Kebun Sayur, sikaaat saja.

Advertisements