Tags

, , , ,

Apa sih hubungan antara ari-ari (tembuni) dan jalan hidup anak manusia? Apa benar ari-ari hanya ada satu, dan akan menghilang setelah bayi selapan? Bagaimana dengan tembuni yang disimpan di bank untuk obat masa depan? Suatu tanya yang sekilas mampir di kepala.

Ini sebuah tulisan lama yang saya perkaya. Tulisan berdasar pengalaman dan pengamatan di masa lalu. Dimulai saat saya mendapat pekerjaan untuk mengedit semacam majalah dwiwulan terbitan Singapura, majalah kesehatan yang memusatkan pada bank ari-ari alias cordlife bank. Kata ‘ajaib’ di majalah itu, ‘Simpan ari-ari bayi Anda, demi masa depan dan kesehatan bayi Anda.’

Soal ari-ari sebagai obat, pernah saya baca di Time. Ari-ari bisa digunakan untuk transplantasi jaringan, bahkan juga sebagai bahan kosmetik penghalus wajah. Negeri Cina sudah melakukan hal ini. Krim ari-ari beredar luas waktu saya tinggal di Malaysia dulu.

Saya ingat pengalaman ketika melakukan perjalanan ke Madura. Hari itu langkah saya tertahan menuju dermaga, ketika menjumpai beringin besar di tepi jalan. Beringin itu tak hanya menaungi pekuburan rakyat di sisi kirinya, tapi juga puluhan ari-ari (tembuni) yang digantung dan digeletakkan di sekeliling batang pohon. Ari-ari ini ada yang dibungkus memakai tas kresek aneka warna, ada pula yang dibuntel kain batik perca lalu dicantolkan ke batang pohon pakai paku. Penduduk  Bujuk Tamoni, Desa Batuan, Sumenep,  sedang melakukan ritual, tahlilan, berkaitan dengan ari-ari ini. Ritual yang berlangsung berabad-abad ini mereka lakukan sebagai tanda terimakasih kepada leluhur yang telah memuluskan jalan pasangan tuk memiliki keturunan.

Apa yang terjadi? tanya saya kepada seorang lelaki di situ.

pohon yang dipenuhi ari-ari
pohon ari-ari/foto: ary hana

“Kami sedang mendoakan anak kami dan saudara kembarnya. Kelak jika anak kami mengembara, akan ada saudara yang menemani dan melindunginya,” jawabnya. Tapi kenapa tak dikubur di ibu bumi? protes saya. “Karena kebiasaan ini sudah diturunkan sejak lama,” tambahnya. Kebiasaan yang hanya terjadi di sebuah kampung menuju Asta Tinggi, kawasan pekuburan keraton di Sumenep.

Bertahun lalu, saat hidup di antara keluarga tki di Malaysia, seorang perempuan keturunan Madura yang menikah dengan lelaki Bugis-Muna sedang melahirkan bayinya. Setelah dipotong, ari-ari bayinya lalu diletakkan di sebuah batok kelapa kosong, dan digantung di atas rumahnya. Baunya wow.. menyengat. Mungkin mereka lupa membubuhkan garam dan asam banyak-banyak. Konon kedua bumbu dapur itu dipercaya mampu mengusir bau busuk.

Saya sempat bertanya kepada ibu yang melahirkan tadi, kenapa tak menguburkan ari-ari bayinya. “Kata suamiku hanya di kampunglah kami boleh menguburkan ari-ari ini di tanah, agar anakku selalu kembali ke rumah walau sudah berkelana kemana-mana,” jawabnya. Kalau dipikir, jika ari-ari itu dikubur di rumah kongsi tki itu tinggal, bisa-bisa anaknya akan menjadi tki selamanya. Nggak bisa pulang ke tanah air. Kasihan dong !

Ibu saya  pun menguburkan ari-ari adik-adik saya di halaman rumah. Jika anak lelaki, ari-arinya akan di kubur di halaman depan, namun jika perempuan, maka ari-ari dikubur di halaman samping. Hingga bayi selapan, ari-ari akan diterangi lampu dan kerap disiram garam kasar di sekitar rumah dan ari-ari. Apa maksudnya? Saya sendiri tak paham dengan tradisi ini.

Pernah saya tanyakan kepada ibu. Jawabnya, “Biar adem dan membuat si bayi tenang karena saudaranya telah kembali ke ibu bumi. “Ari-ari yang dibuang begitu saja, seperti pada kasus ibu yang telah membuang bayinya, akan selalu penasaran dan mengganggu saudara kembarnya.

Sempat lampu yang dipasang di atas ari-ari keponakan saya padam selama beberapa hari, gara-gara kabel putus. Boleh percaya boleh tidak, keponakan yang baru nerumur beberapa hari itu menangis, menjerit-jerit tiap malam usai maghrib. Dia pun susah tidur. Ketika lampu sudah diperbaiki, si ponakan kembali pulas tidurnya. Ah.. semoga saya tak terjebak dalam takhyul πŸ˜€

Ari-ari yang ditanam di halaman rumah, konon,  juga merupakan pengharapan, agar kelak anak yang dilahirkan tak lupa akan kampung halaman. Boleh melangkah, berkelana kemana-mana, tapi jangan lupa pulang ke rumah. Sayang ari-arik saya ditanam di sebuah bukit, sehingga saya lebih suka naik gunung daripada berada di rumah.

Ari-ari konon memiliki kekuatan magis. Kawan saya  mencicipi secuil daging ari-ari anaknya ketika bayinya lahir. Entah diberi bumbu dulu atau digoreng, yang jelas dia mengaku memakan ari-ari anaknya. Efeknya sungguh luar biasa. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan anaknya. Hubungan bapak dan putrinya ini begitu hidup. Seolah ada telepati di antara mereka.

Ada kisah kawan dari Kalimantan berkenaan dengan ari-ari anaknya. Si tembuni digantungkan di langit-langit rumah dan disimpan di sabut kelapa. Mirip seperti yang dilakukan kawan saya yang tki.  Genap selapan, ternyata si tembuni lenyap begitu saja. Sabut kelapa itu kosong. Katanya, si ‘saudara’ bayi ini telah kembali ke rahim ibu, siap menghidupi ‘calon’ bayi berikutnya. Karena ari-ari yang dimiliki perempuan itu hanya satu, sebagai jalan makanan bagi calon bayinya selama di perut nanti.

Entah mana yang benar, saya tidak tahu. Yang jelas, saya amat menikmati semua ritual dan hal yang berkaitan dengan mitos ari-ari ini

Adakah cerita lain yang berkaitan dengan ari-ari? Saya sungguh tertarik mendengarnya. Semoga bukan karena mitos ini saya diberi nama ari yang dalam bahasa jawa berarti adik (padahal saya anak pertama). Oya kemarin saya sempat ke bank plasenta, si ari-ari masih tersimpan rapi padahal sudah dua tahun umurnya. Belum sempat saya tanyakan apakah si ibu ari-ari tadi masih bisa hamil lagi atau tidak?

Advertisements