Tags

, ,


Sukuh lebih dikenal sebagai candi erotis, yang mempertontonkan sex secara vulgar. Padahal Sukuh adalah bentuk kerinduan akan Sang Pencipta, dan pergulatan manusia mencari jati diri.

Setelah berkilo-kilo berjalan menyusuri kebun cengkeh dan kayumanis, sampai juga kami di Candi Sukuh. Biasanya banyak ojek mondar-mandir di sepanjang jalan desa. Namun hari itu kami benar-benar sial. Tak satu ojek pun muncul, sementara hujan setia mengguyur. Untunglah ketika memasuki kawasan candi di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kabupaten Karangayar, Jawa Tengah, hujan mulai reda. Namun kabut tipis yang menyelimuti atap dan sela-sela bangunan candi menghalangi pandangan mata. Membuat situs seluas 5.500 meter persegi di lereng barat Gunung Lawu itu semakin magis.

Bentuknya Unik

Sejak ditemukan oleh Johnson, pejabat Residen Surakarta pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles tahun 1814, keelokan dan keunikan Candi Sukuh mulai mengundang minat para peneliti dan seniman manca negara. Diantaranya HN Sieburg, perwira sekaligus seniman Perancis yang telah mendata dan membuat sketsa puluhan candi di jawa. Dalam bukunya Quinze ans sejur a Java Sieburg menulis kalau Sukuh tidak seperti umumnya candi-candi di Pulau Jawa yang kental dengan pengaruh india. Sukuh tampak lebih tua dan berhubungan dengan agama saba, semacam pemujaan terhadap matahari dan bintang.

Alasan Sieburg, candi utama Sukuh berbentuk piramida dengan sebuah teras sempit di puncaknya. Sepintas mirip dengan bangunan pemujaan dewa matahari milik suku Indian Maya di Meksiko. Bangunan utama ini didukung oleh dua pelataran luas yang dihubungkan dengan semacam punden berundak. Punden berundak sendiri berasal dari budaya megalith di jaman prasejarah.

Relief dan patung-patung di candi yang berada 970 m dari permukaan laut ini dipahat secara kasar, sederhana, dan setengah telanjang. Jadi tak sehalus dan serumit relief dan patung di candi-candi lainnya. Patung Bima misalnya, hanya digambarkan mengenakan cawat dengan rambut digulung bentuk supit urang jawa. Relief manusia dan hewan juga digambarkan telanjang, apa adanya, tanpa embel-embel dan hiasan pemanis. Unsur Indonesia yang kuat inilah yang membedakan Sukuh dengan candi-candi lainnya. Berdasarkan prasasti yang ditemukan,  Sukuh dibangun sekitar 1416-1459 M, di akhir masa pemerintahan Majapahit. Jadi Sukuh merupakan candi hindu yang kuat unsur Indonesia aslinya.

Kuatnya unsur asli Indonesia ini dijelaskan Denys Lombard, sejarawan Perancis, dalam bukunya “Nusa Jawa: Silang Budaya“. Menurut Lombard, pendirian Sukuh merupakan wujud pencarian orang jawa akan tokoh penyelamat, agama baru. Kejatuhan Majapahit dan masuknya Islam, membuat sebagian manusia jawa menjadi gamang akan agama yang dianutnya, yaitu Hindu dan Budha yang berasal dari India. Mereka lalu berpaling kepada agama nenek moyang, kekuatan leluhur. Itulah yang mendasari lahirnya Sukuh.

Tokoh penyelamat memang banyak menghiasi pahatan dan relief di pelataran kedua candi. Seperti tokoh Bima dalam kisah Dewaruci yang menceritakan pencarian Bima akan gurunya yang berakhir pada dirinya sendiri. Juga tokoh Sadewa yang mencoba menyelamatkan ibunya, Dewi Uma, dari kutukan yang merubahnya menjadi Dewi Durga. Atau tokoh Garudeya yang menebus dosa ibunya, Dewi Winata, dan menerbangkannya ke angkasa. Meskipun tokoh relief bersumber dari kisah Mahabharata, cara penggambarannya sungguh khas Jawa.

Mitos Kesuburan

Berjalan menuju pelataran pertama, belum-belum langkah kami terhalang pagar kayu yang terkunci rapat di pintu gerbang. Terpaksa kami berjalan memutar, melewati undak-undakan. Rupanya pagar itu untuk menutupi pahatan lingga –alat kelamin lelaki– dan yoni –alat kelamin perempuan– yang mencuat di balik pintu gerbang. “Ada kepercayaan kalau relief ini bisa digunakan untuk mengetahui keperawanan seorang perempuan. Makanya ditutup dengan pagar, agar tidak dilangkahi orang untuk coba-coba,”  jelas Jondhil, kawan saya.

Relief dan patung tentang lingga dan yoni memang banyak menghiasi teras pertama candi. Begitu juga dengan relief yang menggambarkan hubungan antara lelaki dan perempuan. Membuat Sukuh dijuluki candi erotis atau candi porno. Aneka mitos dan kepercayaan yang berhubungan dengan relief ini pun hidup dan menyelimuti candi ini selama berabad-abad. Seperti mitos tentang kesuburan, kemakmuran, keperawanan, kejujuran, dan kesetiaan seorang perempuan seperti penjelasan Jondhil di atas.

Untuk mencegah pengkultusan dan penjarahan tangan-tangan yang tak bertanggung jawab, dinas purbakala setempat sengaja memboyong sebagian relief dan patung lingga-yoni ke lokasi khusus yang tertutup, beberapa meter dari lokasi utama candi. Hanya para peneliti dan arkeolog yang diijinkan masuk ke sana. Sedang wisatawan biasa hanya bisa memandang dan memotretnya dari luar.

“Memang Sukuh kaya relief lingga dan yoni, hal yang membuat candi ini berbeda dengan candi lainnya. Padahal kalau kita simak lebih jauh, pemaknaan relief lingga-yoni tak berhenti pada hubungan antara lelaki dan perempuan, tapi juga pada nilai kesuburan dan penciptaan manusia,” kata Jeannie Irma, kawan lulusan arkeologi UGM yang pernah meneliti Candi Sukuh.

Di masa lalu, kata Jeannie, pendirian bangunan suci seperti candi dan punden berundak selain untuk memuja dewata, juga untuk ritual kesuburan dan kemakmuran. Mungkin karena  sebagian besar tanah Jawa di masa itu masih berupa hutan belukar. Maka semakin subur manusia, semakin banyak anak yang dilahirkannya, sehingga mampu menyediakan banyak tenaga untuk mengolah tanah. Sementara semakin subur tanah yang diolah, semakin berlimpah panen yang dihasilkan. Sehingga membuat manusia hidup makmur. “Itulah sebabnya mengapa ritual kesuburan menjadi begitu penting,” tambahnya.

Belajar dari Sukuh

Menjelang 1 Suro, Sukuh ramai dikunjungi peziarah. Sebagian adalah sisa-sisa penganut hindu-jawa yang hendak mendaki Gunung Lawu. Sisanya, mereka yang datang dengan niat tertentu, seperti ingin memiliki anak dan hidup berkecukupan. “Tapi ada juga yang datang cuma iseng pacaran sambil membuktikan apakah pacarnya perawan atau tidak,” cetus mbok penjual sate di kawasan candi. Untungnya yang seperti ini tak banyak. Sebelum masuk, pengunjung harus menemui juru kunci candi untuk meminta ijin dan membayar retribusi.

Hari ketika kami datang, hanya segelintir pengunjung yang nampak, para wisatawan asing. Dibanding dengan candi besar seperti Borobudur dan Prambanan, Sukuh memang kalah pamor. Apalagi lokasinya terpencil sehingga sulit dijangkau angkutan umum. Pengunjung yang tak membawa kendaraan sendiri amat bergantung pada ojek yang tak tentu keberadaannya, apalagi di musim hujan seperti ini.

Sebetulnya Sukuh tak kalah menarik dengan candi-candi lainnya. Letaknya yang di lereng gunung, membuat pemandangan di sekitar Sukuh begitu enak dipandang dan dinikmati. Deretan pohon cemara yang menghijau dan hawa sejuk pegunungan mampu menangkan pikiran dan menentramankan hati yang gundah. Mungkin itu yang membuat para empu dan resi di masa silam kerasan bersemedi di sini, untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci. Di sepanjang perjalanan, deretan kebun cengkeh dan bunga mawar liar sungguh menyegarkan mata.

Kita bisa belajar tentang nilai kehidupan di masa lalu dengan mengamati hamparan relief dari teras ke teras, Di teras pertama misalnya, kita bisa belajar tentang penciptaan manusia melalui lingga dan yoni. Replika organ intim manusia ini dipajang bukan semata untuk ditertawakan, dipandang jijik, atau untuk membangkitkan nafsu. Tapi sebagai peringatan agar manusia menggunakannya secara benar, untuk meraih kesuburan, melahirkan anak. Karena dari sinilah manusia diciptakan untuk mengisi dunia.

Sedang teras kedua yang berisi patung dewa hindu, cerita batara kala, atau tokoh penyelamat seolah mengajak manusia berkorban, menyucikan diri agar bisa dekat dengan Sang Maha Suci. Relief di sini seolah juga menggambarkan kerinduan manusia akan dewata, Tuhan, sehingga apapun dilakukan manusia demi menggapai Tuhan yang disimbolkan berada di teras tertinggi, teras ketiga.

Rupanya, kerinduan manusia akan sosok penyelamat, sang pencipta, yang dilandasi oleh kegamangan dalam menjalani kehidupan, tak hanya milik orang modern. Tapi juga  dirasakan berabad lalu oleh penghuni lereng Gunung Lawu. Mungkin kerinduan inilah yang menuntun kami mengunjungi Sukuh kali ini. (pernah dimuat di majalah familia,oktober 2004)