Tags

, , ,


Siapa sangka kalau usnea alias lumut janggut, resuk angin, kayu angin, kantung udara, menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat pegunungan, khususnya mereka yang tinggal di kaki Gunung Argopuro, Situbondo. Sudah bertahun-tahun para petani di Desa Bremi maupun Baderan berprofesi ganda. Di musim kemarau mereka akan memanen pergi ke lereng-lereng gunung, memanen lumut janggut berkarung-karung. Lumut janggut rupanya menjadi komoditi ekspor yang laku keras di negeri Perancis.

www.rbgsyd.nsw.gov.au

lumut janggut/ foto: ary hana

Supriyadi, salah seorang perambah lumut janggut yang saya temui menjelang pos pendakian Sentor, mengaku butuh waktu 4-5 hari untuk memenuhi kedua karungnya dengan lumut janggut ini. Lumut ini kemudian dijual kepada seorang pengepul yang kebetulan kepala desanya sendiri, Giman, dengan harga antara Rp 30.000-Rp 40.000 per karung. Jika lumut janggut yang terkumpul sudah banyak, Giman lalu mengekspornya ke beberapa negara, di antaranya Perancis.

Dua kali sebulan Supriyadi dan kawan-kawannya menyambangi Argopuro untuk mengumpulkan lumut janggut ini. Sekali jual, mereka bisa mengantongi uang Rp. 800.000-Rp 1.000.000 dari hasil dua karung lumut janggut. “Hasilnya lumayanlah bisa untuk gantungan hidup,” kata petani kubis ini.

Lumut janggut memang tumbuh subur di di pegunungan berapi, baik yang masih aktif maupun sudah mati, namun kawahnya masih mengeluarkan gas belerang. Di Gunung Argopuro, lumut janggut banyak ditemukan di kawasan hutan pinus, sekitar 5-15 km menuju puncak. Lumut ini tumbuh menempel pada cabang dan ranting pohon pinus yang tua dan tinggi. Bentuknya menjurai mirip janggut kakek-kakek dan berwarna hijau pucat keputihan. Mungkin karena itu disebut juga lumut jenggot, bukannya lumut mak lampir hehe..

Lumut janggut ini juga banyak ditemukan di Pasar Bringharjo, Jogjakarta. Entah darimana asalnya, mungkin juga dari lereng Gunung Merapi, berkarung-karung lumut janggut dijual di sini sebagai bahan obat tradisional. Menurut sang penjual, lumut janggut baik dikonsumsi sebagai obat tradisional melawan sakit batuk dan infeksi saluran pernafasan. Beberapa perusahaan jamu tradisional seperti Sidomuncul menggunakan lumut janggut pada salah satu ramuan produk jamunya.

Dari hasil penelitian Dr Mumu Sutisna, ahli ekologi tumbuhan dan peneliti ITB, ekstrak usnea akan menghasilkan asam urat yang menjadi bahan dasar antibiotika. Sedang Jessica Godino, dalam bukunya Red Moon Herbs menyatakan kalau usnea mampu memperbaiki dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Jessica bahkan merekomendasikan resep tonik buatannya yang dikatakannya ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti infeksi saluran pernafasan, sinusitis, bronchitis, pneumonia, batuk, flu, infeksi saluran kencing, ginjal, keputihan, herpes, hingga mereka yang terjangkit HIV.

Ingin tahu resep tonik buatan Jessica ? Mula-mula masukkan usnea ke dalam semacam askan atau termos minum, rendam dalam vodka 100% selama seminggu. Sari usnea yang tersimpan ke dalam vodka ini kemudian pisahkan dan simpan ke dalam botol. Sari inilah yang diminum jika terserang penyakit. Sayangnya Mbak Jessica tak menuliskan takaran yang pasti untuk diminum jika terserang penyakit tertentu.

Di negara-negara maju, lumut janggut ini sudah dikembangkan sebagai salah satu bahan antibiotik modern. Seperti yang dilakukan oleh Finlandia, Swedia, Jerman, atau Perancis. Sayangnya pemerintah kita belum melirik komoditi potensial ini, malah membiarkan negara lain menikmatinya. Padahal Indonesia merupakan sumber lumut janggut dan tanaman obat lain yang melimpah. Sayang bukan?