Tags

,

Kasus lapindo mungkin sudah terlupakan, namun para korbannya tak mau dilupakan. Mereka membuat kawasan semburan lumpur ini menjadi kawasan wisata baru untuk menghidupi keluarga mereka. Sayang, terlalu mahal.

Belum pukul 7.00 ketika mobil yang kami tumpangi tiba di bandara Juanda, Surabaya. Kawan saya Pipin langsung menghambur keluar. Menjemput kawan jepangnya yang hanya dikenalnya via facebook. Tak lama Pipin muncul dengan seorang perempuan jangkung berjalan di sampingnya.

dekat situ rumah saya mbak, kata yanto, tukang ojek itu./foto: ary amhir

“Halo..saya Yumi, Yumi Ishimoto,” katanya ramah dalam bahasa Indonesia yang patah-patah. Saya mengangguk, membiarkan mereka duduk di jok belakang. Mobil melaju kembali membelah jalanan Surabaya yang mulai padat.

“Kemana kita Pin?” tanya saya.

“Lapindo saja, Mbak. Kami mau wisata ke Lapindo,” jawab Pipin. Aneh-aneh saja, pikir saya. Bencana kok dijadikan wisata. Namun saya tak mau membantah. Hari ini saya jadi guide yang mengantar mereka, para tamu . Jadi apapun yang mereka inginkan harus saya penuhi.

Lima belas menit kemudian kami memasuki kawasan lapindo, Sidoarjo. Rupanya banyak juga pengunjung tempat ini, terlihat dari deretan mobil yang memanjang di sebelah kiri jalan. Bahkan ada dua bus wisata segala. Wadow..! Setelah memarkir mobil, kami bertiga keluar.

“Sepuluh ribu Mbak untuk tiga orang,” kata lelaki yang duduk di kursi anak tangga menuju tanggul, sambil menjulurkan kaleng sumbangan wajib. Bayar toh, kok mahal amat, pikir saya. Tak urung saya segera mengulurkan uang, karena kedua kawan saya sudah ngeloyor duluan.

Setelah naik undak-undakan, saya langsung kesengsem dengan pemandangan di atas tanggul. Sejauh mata memandang, hanya  tanah kering merekah, lautan lumpur kering yang meluas. Pada beberapa bagian padang kerontang ini ada juga yang masih mengeluarkan ledakan. Asap tinggi berwarna hitam membumbung ke langit. Di bagian lain nampak rumput kuning setinggi leher manusia. Bahkan di sini pun tanaman hijau enggan tumbuh, kalau tumbuh pun enggan menghijau, pikir saya.

Beberapa sepeda motor berseliweran, nyaris menabrak saya. Rupanya mereka tukang ojek yang hilir mudik membawa penumpang.

“Mari Mbak saya antar, temannya tadi sudah ke sana,” sapa seorang tukang ojek. Saya menggeleng, menolak halus. Saya masih ingin termangu, menyelami apa yang ada di depan saya.

“Mbak, temannya sudah pergi ke sana. Mereka menyuruh Mbak untuk ikut ke sana,” lagi-lagi seorang tukang ojek menghampiri. Dan lagi-lagi saya menolak. Aneh, pikir saya, mana mungkin teman saya mau nyuruh-nyuruh saya. Kenapa tukang-tukang ojek ini memaksa saya naik ojeknya. Tak bolehkah saya sendiri, atau berjalan kaki di tempat ini.

Kurang sepuluh menit sudah sepuluh tukang ojek datang menghampiri. Saya jadi terganggu. Kali ini datang tukang ojek ke sebelas, menawarkan jasa. “Saya mau jalan saja, Mas,” tukas saya ketus, capek terus-terusan menolak.

“Naik ojek saya aja Mbak, cuma sepuluh ribu,” katanya merayu. “Ayolah Mbak, duitnya buat beli susu anak saya nih.” Suaranya pelan.

Iba juga saya. “Anaknya berapa Mas?”

“Dua Mbak, umur delapan dan dua tahun,” jawabnya. Wajahnya memelas.

“Saya orang sini lho Mbak, rumah saya dekat masjid itu,” jawabnya sambil menunjukkan sisa atap masjid di kejauhan.

“Keluarganya tinggal dimana sekarang?”

“Di penampungan Mbak, dekat Porong.”

“Ayo Mbak saya antar, saya tunjukkan rumah saya,” bujuknya lagi setengah memaksa. Terpaksa saya ikut. Sepanjang perjalanan singkat itu saya banyak bertanya. Rupanya Yanto, tukang ojek itu senang menjawab keingintahuan saya.

Yanto merupakan salah satu korban lapindo. Dulu dia dan istrinya bekerja di sebuah pabrik di wilayah itu. Sejak semburan lumpur lapindo, bukan saja dia kehilangan rumah, tapi juga pekerjaan. Karena pabriknya ikut-ikutan terkubur lumpur. Padahal saat itu istrinya sedang hamil. Bersama ratusan warga sekitar, mereka kemudian menghuni penampungan sementara di tepi jalan masuk kota Porong.

“Wah, kalau ingat saat itu saya mau nangis rasanya Mbak. Tapi ya sudah, mau apalagi. Apalagi rumah itu saya bangun dari nol, saya tukangi sendiri.”

“Tapi dapat ganti rugi kan?”

“Yang punya sertifikat tanah dapat, Mbak. Tapi mbayarnya nyicil,” jawabnya.

Yanto sudah menerima ganti rugi tahap pertama. Rp 65 juta. Tak sebanding dengan luas tanah dan nilai bangunan rumah di atasnya.

“Duitnya cuma cukup buat beli tanah saja Mbak. Sekarang saya lagi nunggu pembayaran ganti rugi kedua, buat merantau ke kalimantan.”

“Kenapa mesti ke kalimantan, kan bisa buka usaha di sini,” tanya saya.

“Ada kawan nawarin saya buka restoran di sana, tapi saya nggak punya sangu,” jawabnya.

“Ooo… tapi kan sudah ada tanah di sini Mas,” saya merasa aneh. Kalau saya jadi Yanto mungkin duit 65 juta tadi sementara saya buat cari kontrakan dan modal kerja. Ah, tapi kan manusia lain-lain, pikir saya.

“Itu buat tabungan Mbak. Nanti kalau saya ingin pulang ke Jawa, sudah ada tempat. Tinggal bangun rumah saja,” tambahnya.

Dari Yanto pula saya tahu kalau semua tukang ojek, tukang parkir, dan peminta sumbangan di kawasan lapindo, adalah para korban lumpur lapindo. Sebagian korban ini memiliki sertifikat tanah, sehingga dijamin mendapat ganti rugi. Namun banyak korban yang tidak memiliki sertifikat tanah, sehingga sama sekali nggak dapat apa-apa.

Baru lima menit naik motor, ada orang menjulurkan kaleng sumbangan.

melintas lumpur/foto: ary amhir

“Mbak bayar lagi, lima ribu, buat korban lapindo,” lagi-lagi saya mengulurkan lembaran rupiah.

Ketika akhirnya saya bertemu dengan kedua teman di dekat masjid yang tinggal kubahnya, seorang laki-laki kembali mengulurkan kaleng sumbangan. “Sepuluh ribu Mbak. Temannya tadi belum bayar. ” Byuh-byuh, kok sumbangan melulu sih.

Saya melihat kedua teman saya nampak bernarsis ria, mejeng sana mejeng sini, cari pose yang menarik untuk dipotret. Bahkan Yumi, perempuan Jepang itu sangat menikmati pemandangan ‘kerontang’ dan menangis dari tanah yang merekah. Enjoy banget sih.

“Mbak sini, bawa botol aqua nggak?” panggil Yanto tiba-tiba.

“Memangnya ada apa Mas, mau minum ya?” saya sodorkan aqua yang tinggal separo isinya.

“Bukan, kalau ada botol kosong Mbak bisa bawa air ini,” katanya sambil menunjuk sebuah semburan baru. Airnya berwarna hijau.

“Buat apa, sampeyan ini aneh-aneh saja,” sergah saya heran.

Lho air ini bisa untuk ngisi tabung elpiji yang kosong Mbak. Kami di penampungan dan beberapa warga di dekat sini menggunakan air semburan buat ngisi tabung elpiji,” katanya bersemangat.

“Ah, yang bener saja. Ini kan cair, elpiji kan gas,” sanggah saya, tak percaya.

“Bawa aja Mbak, atau ambil batu di dalamnya. Nanti kalau lampu mati disumet aja, kan nyala.”

Usul membawa air semburan saya tolak, tapi saya terima beberapa butir batu agak basah. Batu-batu itu saya masukkan plastik, lalu saya kantongi.

Tak berapa lama kami pun pulang. Beberapa meter menjelang pos ojek, Yanto menghentikan motornya.

“Mbak, duitnya buat beli susu berikan di sini saja. Nanti kalau diberikan di sana, saya mesti bagi dengan teman-teman.” Oalah... tapi saya ulurkan juga duit dua puluhan ribu. Sudah terlanjur janji sih. Apalagi saya tahu anaknya yang umur delapan tahun putus sekolah. Yanto..yanto..

Begitu sampai pos ojek, dua tukang ojek mendekati saya. “Mbak, ojek temannya belum bayar. Katanya Mbak yang akan bayar.” Sialan, lagi-lagi saya dikerjain teman saya. Lagi-lagi saya ulurkan tiga puluh ribu. Kayaknya, wisata ‘bencana’ kali ini benar-benar bencana buat saya. He..he..

nb. batu itu saya nyalakan pake korek api waktu lampu mati, ajaib nyala juga. tapi cuma sebentar hehe..

Advertisements