Tags

,


Walau orang Indonesia, saya lebih kenal Penang dibanding Medan.  Bagi saya, Medan hanya kota persinggahan, kampung bapak. Beda dengan Penang, tempat saya tinggal dan bekerja selama empat tahun di Malaysia. Rasanya saya kenal setiap lekuk tubuhnya, detil tariannya, karena setiap libur pasti saya habiskan menjelajah pulau kecil ini dengan berjalan kaki.

Balai Kota Penang/dok.pribadi

balai kota Penang/foto: ary amhir

Ketika seorang kawan meminta saya menggambarkan tentang Medan, saya jadi bingung. “Baca saja blog atau buku tentang Medan, kan banyak,” usul saya.

Singgah beberapa hari di Medan tak meninggalkan kesan khusus di hati. Kota besar yang bising, semrawut lalulintasnya, multi etnis, banyak bangunan tua, dan enak makanannya. Itu kesan yang saya tangkap. Kisah baru bisa bergulir ketika si teman menyuruh saya ‘membaca’ Medan dan Penang sebagai sister city.

Multi Etnis

Apa kesamaan Medan dan Penang yang menonjol? Multi etnis! Itu menurut saya. Di Penang berkumpul beragam etnis, mulai Cina, India, Arab, Melayu, juga Eropa. Di Medan pun sama, ada Batak, Jawa, Melayu, Karo, India, Arab dan lainnya. Kondisi ini tak lepas dari sejarah kedua kota ini. (Maaf, kali ini saya mengamati Penang sebagai kota. Padahal bisa juga berarti negara bagian atau pulau. Sebetulnya sebutan kota lebih tepat ditujukan buat George Town, pusat kota di Penang. Tapi entah mengapa umum menganggap Penang itu George Town dan George Town itu Penang).

Masjid Raya Medan/foto: ary amhir

Dalam naskah Hamparan Perak disebutkan bahwa Guru Patimpuslah yang pertama kali membuka sebuah desa yang kemudian berkembang menjadi Medan. Medan sendiri dalam bahasa Melayu berarti tempat berkumpul, karena di situlah dulu menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah, mulai Hamparan Perak, Sukapiring, Binjai, dan lainnya untuk berdagang dan berjudi.

Ketika Haru ditaklukkan Majapahit, maka mengalirlah suku-suku dari atas bukit seperti Karo ke  sekitar pantai Langkat, Serdang, dan Deli. Suku Simalungun ke pantai Batubara dan Asahan, serta Suku Mandailing ke pantai Kualuh, Kota Pinang, Panai, dan Bilah.

Pedagang asal Arab dan India banyak berinteraksi dengan Kerajaan Deli paska Haru. Ketika perkebunan-perkebunan di Sumatera Utara dibuka abad 19, kehadiran kuli kontrak asal  India, Cina, maupun Jawa, memperkaya Medan sebagai kota multi etnis dan kultur.

Bagaimana dengan Penang? Ketika Francis Light menancapkan bendera Inggris di Penang  tahun 1786, dia menamainya ‘Prince of Wales Island’. Light sebenarnya sudah berdagang di Penang sejak 1722, bahkan menikah dengan perempuan lokal berdarah Portugis, Martina Rozells. Penang lalu menjadi bagian dari India.

Penjual bunga sepanjang Mahariamman Temple/dok.pribadi
Penjual bunga di Penang/foto: ary amhir

Light membangun pemukiman di  timur laut tanjung pulau dan memberinya  nama ‘George Town’, untuk mengenang Raja George III yang memerintah Inggris. Tanjungnya diberi nama Tanjong Penaigre, karena dipenuhi pohon besi atau penaga yang keras.

Penghuni pertama pulau itu adalah pemimpin kelompok Melayu, muslim Tamil, Arab, Cina selat, dan komunitas Euroasia dari Phuket, Aceh, Malaka, dan pesisir Kedah. Di tahun pertama, orang Melayu keturunan Kedah menjadi kelompok mayoritas. Mereka membersihkan hutan lalu bermukim di sana. Ada juga orang Eropa, Arab, Armenia, Yahudi, Burma, Thai, Bugis, Ambon, Jawa, Aceh, Rawa, Minangkabau, dan orang-orang kepulauan sekitar: Tamil, Malabar, dan kelompok India selatan, Canton, Hokkien, Haka, Teochew, Hainan, dan kelompok cina selatan lainnya, termasuk juga orang Ceyclon, Sikh, Jepang, dan Filipina.

Penduduk Penang lalu dikenal sebagai multi etnis. Namun yang disebut orang Penang asli adalah peranakan Jawi dan Cina selat, yang memiliki percampuran budaya sehingga relatif mudah menerima pengaruh dari eropa dibanding kelompok yang lain.

Perkampungan India

Little India, begitu kami menyebut pusat orang India, Tamil maupun Hindustan, di Penang. Tersebar sekitar Lebuh Queen, Lebuh Chulia, dan Lebuh Pasar, berjajar bangunan, toko, rumah makan, maupun pemukiman India. Di  Lebuh Chulia misalnya, ada Masjid Kapitan Keling yang dibangun tahun 1800. Bangunan India muslim banyak tersebar di Lebuh Chulia, berdampingan dengan toko-toko China.

Di lebuh Queen, ada sederetan kecil toko India, bercampur dengan toko Cina, maupun perkantoran. Kuil Mahamariamman menjadi penanda adanya pemeluk Hindu di sini. Ketika perayaan Festival Navarithri, patung Dewa Mariamman akan diusung keluar, dan bunga ditebarkan.

Toko DVD di Lorong Zainul Arifin/dok.pribadi

toko di lorong Zainul Arifin/foto: ary amhir

Deretan toko dan rumah makan India banyak ditemukan di Lebuh Pasar. Mereka menjual baju, perkakas, CD dan DVD lagu-lagu India, hingga makanan India. Cobalah datang kemari ketika malam. Musik India membahana, perempuan bersari lalu-lalang di jalan, dan asap dupa pun memenuhi udara. Satu dua turis asing berkeliaran. Penang benar-benar menjadi milik orang India.

Di Medan, kita mengenal Kampung Madras di Jalan Zainul Arifin. Saya sempat ke sana di siang terik. Sebuah jalan di samping Sun Plaza, yang dipenuhi aneka toko dan warung makan India. Saya sempat ngobrol dengan seorang tukang parkir di depan Kuil Shri Mariamman. Saya panggil dia anne, menyamakan panggilan orang Tamil atau Keling di Penang. Dia tersenyum lebar sambil menyuruh masuk ke dalam kuil. Sayang perayaan Thaipussam baru saja berlalu. Kuil pun sunyi, hanya menyisakan seorang perempuan Keling penjaganya yang terduduk kelelahan di depan pintu.

Saya susuri lorong Zainul Arifin. Terpesona pada sebuah toko DVD yang kedua pintunya bergambar Dewi Hindu. Lagu dan film Sarukh Khan paling laris dijual. Sarukh Khan kan best seller. Di depan toko DVD ada ruang praktek dokter. Dr M Bala Krishnan namanya. Sangat India. Di samping praktek dokter berdiri warung makan. Martabak India dan roti canai menjadi menu utamanya. Saya jadi teringat tandoori chicken, menu utama restoran Nasi Kamdar di Lebuh Chulia.

Pecinan

Penang tak bisa dipisahkan dari orang Cina. Sejauh mana mata memandang bertebaran orang Cina. Komunitas Cina menjadi penghuni mayoritas di sini, disusul India dan Melayu. Sekali waktu datanglah ke pasar pagi yang digelar di lorong menuju Komtar, misalnya lebuh Campbell. Mulai pukul 8 pagi sudah ramai orang menggelar barang dagangan. Semua ada. Tumpah ruah. Mulai pakaian dalam, kaos, celana, jam tangan, hingga sayur, buah, ikan, dan aneka penganan.

Pecinan di samping Komtar/dok.pribadi
Pecinan samping Komtar/foto: ary amhir

Dulu, saya selalu menunggu Minggu pagi untuk mendapatkan celana jeans bekas. Kebetulan penjualnya, dua lelaki keturunan India, hanya menggelar dagangannya di hari Minggu. Aneka pakaian bekas dikeluarkannya. Harganya berkisar dari 5-10 ringgit. Kalau pandai memilihi bisa dapat baju layak pakai yang bagus. JCeana jeans yang sudah empat tahun saya pakai sekarang juga produk sana.

Kalau melalui Lebuh Stewart, Lebuh Muntri maupun Lebuh King, kita akan disuguhi bangunan Cina lama. Mulai toko kelontong, rumah, warung makan, hingga bangunan bersejarah. Di Lebuh King misalnya, ada sebuah bangunan yang dulu menjadi markas pelarian Dr Sun Yat Sen, namanya Chong San Wooi Koon. Di sinilah dulu lelaki yang dikenal sebagai Sun Chong San ini berkumpul dengan pendukungnya, menyusun strategi, hingga akhirnya bisa mendirikan negara Cina Nasionalis Taiwan.

Bagaimana dengan Medan? Pecinan Medan lebih dikenal di kompleks Kesawan, tepatnya di Jalan A. Yani. Ada Tjong A Fie Mansion, peninggalan Cina terkaya di Medan era keemasan tembakau Deli. Saya sempat mampir ke sana. Saat itu sedang digelar pameran tentang kedatangan Cina pertama di Medan. Pengunjung dipungut bea Rp 45.000 lalu digiring masuk ke ruangan yang penuh foto lama tentang orang-orang Cina di Medan.

Tjong A Fie Mansion/dok.pribadi
rumah Tjong A Fie/foto: ary amhir

Bagunan Cina lain adalah vihara Kong Hu Cu di sebelah stasiun kereta api dan vihara Mahayana. Ada juga sih beberapa bangunan lama milik orang Cina, namun biasanya sebagian sudah dipugar menjadi baru. Soal makanan, kita bisa menikmati aneka makanan Cina di waktu malam, saat perkantoran di Kesawan tutup.

Yang patut diperhatikan pula, banyak orang Medan yang pergi ke Penang. Sebagian datang sebagai pasien rumah sakit swasta di Penang yang terkenal bagus pelayanannya dan murah ongkosnya. Sebut saja Lam Wah Ee Hospital, Adventist Hospital, atau Island Hospital, lebih 60 persen pasiennya adalah warga Indonesia yang tinggal di Medan. Sebagian warga Medan di sana adalah para pekerja, baik buruh pabrik maupun konstruksi. Ada juga pedagang dan pelaku bisnis besar.

Sementara itu warga Penang pun banyak yang ke Sumatra Utara sebagai pelancong. Sebagian lagi pelaku bisnis, misalnya pemilik perkebunan kelapa sawit. Tak percaya? Silakan ngobrol dengan Cina Penang kalau sedang di Medan. Atau kalau berada di Penang, masuklah rumah sakit swasta dan berkenalan dengan pasien asal Medan.