Tags

, , , ,


Namanya aroweli. Di Jawa ia dikenal sebagai bangau bluwok. Ia termasuk binatang langka. Habitatnya dijaga ular dan buaya. Salah satu habitat mereka adalah rawa aopa, kawasan rawa-rawa amat luas di Sulawesi Tenggara.

Mengamati satwa langka di habitat aslinya pasti penuh liku. Salah satu yang termasuk menantang adalah mengamati kehidupan burung aroweli (Mycteria ceneria) di Rawa Aopa, kawasan rawa-rawa amat luas di Sulawesi Tenggara. Betapa tidak; medan yang harus dilalui untuk mencapai rawa tempat hidup mereka tergolong sulit. Belum lagi harus berhadapan dengan buaya dan ular ketika dalam perjalanan mencapai tempat tujuan.

daerah tiga gunung/foto: ary hana

Rawa Aopa berada di Desa Aopa, yang bisa dicapai dari Kendari, ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara, dengan angkutan umum selama sekitar dua jam. Ditemani Roland dan Chuank dari Mahacala, Universitas Haluoleo, dan Pak Membale, jagawana yang menjaga resor Aopa, penulis bersama rekan Heni dan Rina mulai melakukan pengamatan. Bekal pengamatan lumayan lengkap, tiga binokuler, satu monokuler, tiga kamera lengkap dengan lensa tele, dan konverter yang disambungkan ke ke monokuler.

Sore hari, 24 September, pengamatan dilakukan di sekitar Pulau Harapan. Alasannya, banyak penduduknya mengaku kerap melihat aroweli. Data Wetland juga menyebutkan, aroweli sering muncul di Pulau Harapan sebelum terbang ke arah jembatan Aopa. Dengan perahu berkapasitas tujuh orang pengamatan pun dimulai.
Penelusuran dilakukan di kawasan Rawa Aopa.

Mengarungi rawa ini sungguh memerlukan keahlian khusus, terutama kemampuan mengingat rute yang telah ditempuh. Kalau tidak, bisa tersesat. Maklumlah, luas Rawa Aopa mencapai 40.000 ha, dan kawasan Taman Nasional Rawa, Watumohai. Maka peran Nahkoda perahu amat penting.

Pemandangan wilayah perairan yang dilalui mula-mula lumayan menawan. Ada teratai merah dan tanaman air lainnya. Sayangnya, setelah dua jam mengarungi rawa, si aroweli tak tampak juga.

Baru keesokan harinya pengamatan dilakukan lagi dengan rute berbeda dengan sebelumnya. Kali ini pengamatan dilakukan dari daratan Pulau Harapan yang harus dicapai dengan bersusah payah. Perairannya penuh semak-semak air dan gelagah setinggi 1,5 – 2 m yang harus ditebas agar bisa dilalui. Daratan pulaunya pun penuh semak-semak di jalan setapaknya dan semut merah di pohon-pohonnya. Menara pengamatan pun sudah roboh diterjang badai. Terpaksa pengamatan dilakukan dari atas pohon. Lagi-lagi upaya keras belum membuahkan hasil. Yang tampak justru bangau putih.

Di hulu ada, di hilir pun ada

Titik terang mulai terlihat ketika bertemu dua nelayan di Tanjung Mokaleleo, Pulau Banten. Keduanya mengaku baru saja melihat seekor aroweli. “Kalau mau cari aroweli, kalian mesti ke hilir, karena di sana sedang ‘banjir’. Burung itu suka tempat-tempat bersih, tidak banyak rerumputan seperti di sini,” tutur salah seorang dari mereka.
Informasi yang memberi harapan ini membulatkan tekad untuk melakukan penyisiran ke arah hilir. Namun, sebelumnya perlu untuk menuntaskan pengarungan wilayah rawa taman nasional, yakni ke hulu.

hamparan teratai/foto: astarina

Tak terduga sebelumnya bila perjalanan ke Osu Dolu Sumba (dalam bahasa Tolaki berarti Gunung Tiga Cabang) di daerah hulu ini bakal memakan waktu seharian. Penelusuran menggunakan dua perahu kecil berkapasitas 3 – 4 orang. Pesertanya pun berkurang lantaran Ronald dan Chuank tak bisa ikut dan digantikan Okto. Pengarungan dimulai pukul 08.00. Perahu harus didayung selama lima jam untuk bisa mencapai Gunung Tiga Cabang

Sepanjang rute yang dilalui, cuaca selalu berubah-ubah. Beberapa jam panas terik yang menyengat kulit hingga perih. Tiba-tiba berganti dengan hujan deras, sampai-sampai jarak bibir perahu dan permukaan air cuma tinggal setebal silet dari sekitar 5 cm saja saat tidak ada hujan. Perahu terbalik atau tersesat juga menjadi bagian dari petualangan mencari keberadaan aroweli kali ini.

Medan yang dilalui pun amat beragam. Mula-mula berupa lorong sempit dengan pohon di kiri kanan. Lalu, padang air tanpa batas, karena sepanjang mata memandang yang tampak Cuma air.

Setelah beberapa rintangan dan alangan dilalui, perairan tenang dengan pemandangan Osu Dolu Sumba akhirnya berhasil dicapai. “Hati-hati, biar tenang daerah ini penuh bokeo (buaya) dan ular. Apalagi kalau musim bertelur tiba,” ujar Sunardi, bocah kecil penunjuk arah dalam perjalanan ini. Peringatan ini membuat bulu kuduk spontan berdiri.
Memang, perairannya bersih. Tak ada rumput teratai atau gelagah. Cuma rumput yang mengapung di hamparan air jernih. Cabang-cabang pohon mati berwarna hitam juga terlihat di kiri-kanan rute.

Rasa capek mengarungi perairan terobati ketika seekor aroweli tampak sibuk mencari ikan. Pemandangan yang membuat kami gembira luar biasa. Setelah beberapa dayung kemudian, akhirnya satwa langka yang dicari-cari berhasil ditemukan di habitat aslinya. Belasan aroweli bertingkah di atas rumput liar mencari ikan. Tubuh eloknya tampak bersinar terkena cahaya matahari.

Sementara, jauh di belakang, di atas pohon-pohon mati yang menjulang, puluhan aroweli bertengger, seolah-olah sedang mandi matahari. Itulah pemandangan yang dicari-cari. Kesempatan untuk mengamati dengan binokuler dan kamera, serta mengumpulkan data pun dilakukan. Namun yang menyedihkan, di sebuah pondok pencari ikan ditemukan jejak berupa kaki dan sayap aroweli yang baru dibantai.

Meski sudah bertemu, pengamatan terhadap aroweli masih ingin dilakukan lagi. Kali ini tujuannya daerah hilir dan dilakukan keesokan harinya. Perjalanan di kawasan luar taman nasional ini tak kalah seramnya, terutama kala hujan. Bahkan, salah sebuah perahu sempat digoyang tubuh buaya yang sedang berenang. Daerah hilir memang dikenal banyak buayanya karena dekat muara, yang menjadi pertemuan laut dan sungai.

Daerah pertama yang dituju adalah Puri Ala dan Ngapawalanda (artinya pelabuhan belanda). Kabarnya, dua daerah ini merupakan persinggahan aroweli dalam mencari ikan. Namun, ternyata tak satu pun aroweli dijumpai. Menurut pencari ikan di sana, burung-burung ini hanya mampir pada bulan-bulan tertentu ketika teratai dan rerumputan terendam air. Bukan pada saat teratai mekar indah seperti saat ini. Meski begitu beberapa aroweli terlihat terbang di ujung Jembatan Aopa. Mereka menuju Punggulahi, batas daerah hilir.

Selanjutnya, penelusuran diarahkan ke savana di Lonowulu yang masih termasuk kawasan taman nasional. Di tempat berjarak sekitar 120 km dari Desa Aopa ini dijumpai tujuh ekor aroweli yang sedang istirahat di rerumputan pada tengah hari. Mereka datang dari arah barat daya. Dari ukuran tubuhnya, tampak cuma dua ekor yang dewasa. Sisanya masih anak-anak. Mungkin mereka satu keluarga. Setelah satu jam merumput, mereka pun terbang ke arah hutan bakau di Pantai Lonowulu.

Bodoh-bodoh cekatan

Bila diperhatikan, tubuh aroweli lumayan jangkung. Tingginya bisa mencapai 1 m. wajahnya genit, karena pipinya merah seperti baru dibedaki. Padahal kepalanya botak. Paruhnya kuning dan seluruh tubuhnya dibalut bulu putih, kecuali ujung sayap berwarna hitam.

Si burung langka ini memiliki banyak julukan. Orang Jawa menyebutnya bangau bluwok lantaran suaranya yang berat dan serak. Penduduk sekitar Rawa Aopa lebih suka memanggilnya lerung (dari bahasa Bugis), atau aroweli (dari bahasa Tolaki, bahasa suku asli di Sultra). Nelayan setempat malah mengejeknya sebagai burung bodoh lantaran “kebodohan” mereka dalam mencari ikan.

Ketika berada di perairan dangkal, mereka justru sibuk menggesek-gesekan kakinya ke rerumputan. Karuan saja, ikan di sekitarnya segera tahu kalau ada yang memburu dan cepat-cepat kabur.

Namun, sebodoh-bodohnya aroweli, dia masih cekatan juga. Dengan paruhnya yang panjang dan melengkung, segera dipatuknya seekor ikan. Lalu dengan cuek dia melahap hasil tangkapannya.

Begitu cueknya, si aroweli menjadi sasaran empuk bagi nelayan rawa Aopa yang sedang menunggu pukat di pondok-pondoknya di hamparan rawa. Tubuh aroweli besar. Seekor aroweli kira-kira sama dengan tiga ekor ayam jago. Itu sebabnya mereka sering memburunya sebagai pengganti ayam di kala lebaran.

Berbagai literatur dan data lembaga penelitian belum satu pun mengungkapkan habitat burung ini di Indonesia. Yang ada cuma identifikasi aroweli di Semenanjung Jambi, pesisir timur Sumatera Selatan, Pulau Rambut di Kepulauan Seribu, dan Sulawesi.

Belakangan diketahui aroweli pernah muncul di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian selatan. Kawasan Rawa Aopa, Sulawesi Tenggara, juga menjadi menjadi tempat hidup mereka, meski ancaman selalu datang dari pemburu liar yang membuat keberadaan mereka semakin langka. (pernah dimuat di majalah intisari n0.477)