Tags

,

Naik Semeru lagi? Rasanya tubuhku mau melayang mendengar ajakan itu. Maklum sudah lama nggak jadi orang gunung. Namun melihat semangat adik-adik mapala yang mau ke Semeru, terbit juga keinginanku. Paling nggak aku mau ngetes kekuatan fisik. Masih mampu nggak naik gunung setinggi  3676 meter itu.

memancing di ranu kumbolo/foto: ary hana

Seminggu kemudian berangkatlah kami ber-12, 4 cewek, 8 cowok ke gunung tertinggi di Jawa itu. Kami naik kereta ekonomi ke Surabaya, disambung bus menuju terminal Arjosari Malang, lalu naik colt ke Tumpang, dan berakhir dengan jeep ke Ranu Pane. Masih transportasi yang sama, jalur yang sama sejak pertama aku naik semasa awal jadi mahasiswa.

Di Tumpang aku sempatkan belanja ketimun dan bengkoang banyak-banyak. “Buat apa Mbak, mau latihan beban ya?” tanya si kriwul Yayak, anak teknik geodesi. Aku cuma tersenyum. Memang rangselku semakin berat. Kutaksir lebih 10 kilo. Mampus rasanya. Tapi apa boleh buat. Demi bersenang-senang di Oro-oro Ombo.

Pukul 3.00 sore kami sampai di Ranu Pane. Tanpa membuang waktu, begitu selesai lapor petugas BKSDA, kami langsung berjalan menuju Ranu Kumbolo. “Biasanya 3-3,5 jam perjalanan sampai pondok di tepi danau,” kataku menjelaskan, ingat pengalaman sebelumnya.

Kenyataannya kami menempuhnya hampir 6 jam. Kekuatan tim yang tidak merata, ditambah hujan yang beberapa kali mengguyur, sungguh memperlambat perjalanan. Kulihat Wina, anggota termuda dalam tim kami, tersendat-sendat jalannya. Mungkin dia kurang melakukan latihan fisik. Padahal rangselnya tidaklah berat sangat. Terpaksa Barkah, ketua rombongan, membawakan rangsel Wina.

Aku berjalan di depan dengan Asta, diikuti Rina, Wiwid, dan Yayak. Di tengah ada Indra, Aji, Roni, Arif, dan Adi. Sementara Barkah dan Wina paling belakang. Kelak selama perjalanan, rombongan selalu terbagi dalam tiga tim. Tim pertama kami sebut lemah syahwat, tim kedua lemah mental, dan tim terakhir lemah fisik.

Kami berjalan memutari punggungan atu menuju punggungan yang lain. Kadang mendaki kadang menurun. Mulanya jalan setapak cukup terang. Jadi tak ada alasan untuk tersesat. Sempat kami melalui jembatan dan sungai kecil. Sempat pula menembus hutan lebat dan harus sering membungkukkan badan karena ranting pohon menyentuh dada. Tak jarang terpaksa ngesot atau mbrangkang lewat terowongan celeng, babi.

Hujan yang sekejap datang sebentar hilang membuat pening kepala. Nggak enak pakai raincoat, jas hujan yang melekat di badan. Panas. Gerah. Akhirnya kukeluarkan payung. Lumayan. Baru kali ini naik gunung memakai payung kelihatan seksi.

Ketika hari mulai gelap muncullah berbagai masalah. Aku yang rabun dan Asta yang tebal kacamatanya kehilangan arah. Berpedoman danau yang nampak dari atas, kami potong kompas. Berbekal cahaya senter seadanya kami berjalan turun. Lalu menyusuri tepian danau. Kadang meloncati batang pohon dan akar yang tumbang, kadang meraba-raba pepohonan.

Tubuh kami basah kuyup. Menggigil dan kelaparan dimakan hujan dan udara dingin. Beberapa kali melangkahi batang kayu kurasakan kakiku bergetar hebat. “Jangan kram.. jangan kram.. Belanda sudah dekat,” hiburku menyemangati diri sendiri. Yang kumaksud Belanda adalah pondok pendaki di ujung danau.

Begitu mencapai pondok, kami kecewa. Rupanya sudah banyak pendaki yang menginap di dalamnya. Terpaksa, dengan tubuh menggigil kami memasang tenda sambil menunggu yang lainnya datang. Yang perempuan kemudian berganti baju di dalam tenda. Sedang yang lelaki cukup di luar tenda. Tanpa malu-malu para pejantan melepas baju basahnya, cuma cawetan. Mereka berlarian menghangatkan badan sebelum akhirnya berganti dengan baju kering. Dasar keturunan Darwin!

Setelah badan terasa hangat, kami pun mengeluarkan mie instan, beras, dan sopini. Acara memasak untuk makan malam pun dimulai. Walau nasinya agak keras, ngletis, rasanya tetap enak di perut. Lapar sekali, sih. Selesai makan malam, minum susu dan mencuci peralatan makan, kami pun bersiap tidur di dalam tenda. Sleeping bag digelar, badan bergelung, lalu balapan mendengkur. Badan yang teramat lelah membuat mata langsung memberat begitu kepala menyentuh ‘bantal’.

Tanjakan Cinta

Bagiku tak ada yang mengalahkan kecantikan Ranu Kumbolo di waktu pagi. Apalagi saat mentari bersinar cerah. Kabut menguap dari permukaan danau, perlahan terangkat dari dua bukit di ujung danau. Pucuk-pucuk pinus seolah batang gulali yang memburatkan pelangi. Sebagian hitam, coklat, dan hijau, sebagian lagi berwarna biru, kuning dan kemerahan. Pagi itu Ranu kumbolo nampak ramah. Bunga rumput pun tersenyum berayun dengan tarian kumbang dan kupu.

“Ayo bangun.. bagun,” teriakku. Kami berencana melanjutkan perjalanan ke Arcopodo pagi ini. Semakin pagi semakin baik karena bisa sampai di Arcopodo pukul 3-4 sore dan langsung ngecamp.

Pagi itu kami sarapan nasi, indomie, kornet goreng, dan kopi. Tak kenyang benar karena akan dipakai jalan. Takut suduken, perut serasa ditusuk-tusuk, kata orang Jawa. Setelah packing, memasukkan barang ke dalam rangsel, kami pun siap berjalan. Sebuah bukit tinggi menjulang di hadapan.

“Itu tanjakan cinta,” kataku. “Barang siapa yang bisa terus berjalan tanpa berhenti hingga di atas bukit, jika sedang jatuh cinta akan berakhir bahagia,” jelasku mencoba menyemangati mereka.

“Kalau sedang naksir gimana?” tanya Wiwid.

“Niatkan saja dalam hati, agar yang kau taksir membalas cintamu. Tapi jangan sekali-kali berhenti saat berjalan,” jawabku sambil menatap bukit di hadapanku. Jujur saja, 3 kali naik Semeru belum pernah aku berhasil menaklukkan tanjakan cinta di hadapanku. Namun kegagalanku takkan kuumbar ke adik-adik angkatan di depanku. Selain malu juga takut melemahkan semangat mereka.

Satu persatu mereka mulai berjalan naik. Dimulai dari Wiwid, Roni, Adi, Yayak, Indra, Aji, Asta, dan terakhir aku. Aku yakin diriku nggak bakalan kuat. Dulu ketika seumuran mereka saja nggak kuat, apalagi sekarang. Dengan tenang kuperhatikan langkah mereka satu persatu. Mula-mula dengan semangat mereka berjalan, seperti ngebut dikejar setan. Begitu sampai di tengah nafas pun jadi ngos-ngosan. Namun mereka enggan berhenti. Iya, siapa sih yang mau putus cinta.

Wajah mereka mulai membiru, nafas pun memburu., nyaris habis. Langkah jadi gontai. Lalu.. “bruk” jatuh terduduk di tengah jalan. Satu per satu tumbang. Ada yang jatuh terduduk bersandarkan karier, ada yang berhenti sambil mengatur nafas. Setelah kuat, mereka berjalan lagi. Di atas bukit tanjakan cinta kemudian kami ngakak, terbahak-bahak. “Kalau begini caranya nggak ada pendaki gunung yang sukses cintanya,” protes Yayak.

Irisan bengkoang mulai kubagikan, penebus dahaga. Kami masih tertawa sambil memandang Oro-oro Ombo dari atas, savanah luas tanpa batas. “Ayo jalan lagi, Belanda masih jauh,” kataku. Memang, Arcopodo masih 6 jam lagi. Setelah savanah kami harus melalui hutan, kali mati, lalu mendaki lurus menuju Arcopodo. Kami pun bangkit meneruskan perjalanan. Sayup-sayup kuingat sajak pendaki gunung dalam kenangan,

do not fall in love
with beautiful girls in the city
because her feeling and mind
like the weather in the mountain

hi girls in the city
do not fall in love with the climber
because he always thinking the beauties
only grow in the mountain
Advertisements