Tags

,


Di malam hari, Tenggarong bak lautan cahaya. Kerlip sinar lampu ada di mana-mana. Mulai jembatan yang membelah sungai, kantor pejabat kabupaten, keraton sultan, hingga sebuah pulau wisata di tengah anak Sungai Mahakam. Mata pun silau memandangnya.

Indahnya !” Kata itu yang pertama kali terlontar saat saya memasuki ibukota Kutai Kartanegara, sebuah kabupaten di Kalimantan Timur. Mobil  yang  kami tumpangi, meluncur memasuki jembatan yang dipenuhi ratusan, mungkin juga ribuan lampu. Jembatan ini mengingatkan saya akan kemegahan Golden Gate yang cuma saya kenal lewat gambarnya. Hanya, yang ini lebih pendek dan membelah anak Sungai Mahakam.

foto : nugraheni

bermandi cahaya di depan jembatan/foto: nugraheni

Belum puas berdecak kagum, mata saya menyambar sebuah pulau emas di tengah jembatan. Dari jauh, pulau kecil itu bak miniatur disneyland yang dipenuhi lampu warna-warni. Setiap cottage, hotel, bangunan, patung hingga  kabel kereta gantung di pulau itu dihias dengan rangkaian lampu. Ketika bersinar, cahaya yang jatuh ke air sungai membentuk bayangan indah. Seperti kelokan pelangi.

“Itu Pulau Kumala, artinya batu yang bersinar ” jelas seorang teman yang lama tinggal di sini. Selain Pulau Kumala, katanya, Tenggarong kaya akan obyek wisata yang wah dan hebat. Semua berkat Syaukani, mantan bupati yang terlibat kasus korupsi dan baru mendapat grasi dari presiden itu.

Ketika menjadi Bupati Kuker, Syaukani memang memiliki obsesi untuk mengangkat citra Tenggarong sebagai kota yang besar, modern, tak kalah dengan metropolitan di Jawa. Dalam perjalanan kali ini, saya seperti napak tilas peninggalan Syaukani. Kemana pun saya memandang, ada peran Syaukani di situ, dan selalu ada orang yang menyebut-nyebut jasanya.

Ikatan dengan Jawa

Nama Tenggarong tak bisa dipisahkan dari Kutai, kerajaan tertua di Indonesia yang didirikan pada abad ke-5 M. Mulanya, Kutai Martadipura yang menganut Hindu itu beribukota di Kutai Lama. Lalu ibukotanya dipindahkan ke Pemarangan. Pada abad ke-13 M berdiri kerajaan tandingan, Kesultanan Kutai Kartanegara yang menganut Islam. Setelah menyingkirkan kerajaan lama, rajanya,  Sultan Aji Muhammad Muslihuddin lalu memindahkan Ibukota kerajaan ke  Tepian Pandan atau Tangga Arung, yang berarti rumah raja. Tangga Arung kemudian lebih dikenal sebagai Tenggarong.

Ketika berkeliling kota, saya merasa seperti berada di rumah. Begitu banyak orang Jawa tinggal di sini. Seolah telah terjadi jawanisasi di Tenggarong. Bahkan, orang Bugis dan Banjar ikut-ikutan menggunakan nama Sumiyati, Partini, atau Pardi. Warung makan Lamongan, Tulung Agung, Madiun atau Bakso Solo pun ada dimana-mana.

Kalau kita perhatikan, ada kemiripan antara nama raja dan sultan  Kutai dengan nama tokoh di Jawa. Misalnya, nama Sultan Aji Pangeran, Parikesit,  Mangkunegoro. Kesultanan Kutai juga memakai gelar kebangsawanan seperti tumenggung, raden, demang, dan  kiai. Prajurit  penjaga keratonnya pun disebut ponggawa dan pangkon.

Kemiripan ini bukan suatu kebetulan. Dalam sejarah Kutai, orang Kutai menurunkan dua suku: Melayu dan Dayak. Dulunya, mereka berasal dari 5 puak, yaitu  Puak Pantun, Punang, Pahu, Tulur Dijangkat, dan Melani. Puak Pantung, Punang dan Pahu lalu berasimilasi dengan pendatang dari Bugis dan Banjar membentuk suku Melayu. Sedang Puan Tulur Dijangkat menurunkan suku-suka Dayak, seperti Dayak Tunjung, Bahau, Benuaq, Mondang dan Penihing.

kodisi kutai kertanegara di masa lalu/sumber: http://www.kutaikertanegara.com

Kesamaan sebagai orang Melayu inilah yang membuat penduduk Kutai menerima pendatang dari Jawa dengan tangan terbuka. Sejak jaman Majapahit, Banten, hingga Megawati. Para pendatang umumnya bekerja di sektor informal, seperti menjadi pedagang, membuka warung dan restoran kecil dengan harga tak jauh berbeda dengan di Jawa. Ada pula yang memegang pucuk pimpinan di beberapa instansi penting pemerintahan. Rendahnya kualitas sumber daya manusia Kutai, mendorong mereka bersikap terbuka terhadap intelektual Jawa, dengan harapan mau menurunkan ilmunya di sini.

Sesungguhnya, pendatang asal Jawa inilah yang menghidupkan perekonomian Tenggarong. Orang Jawa perantauan ini rajin, ulet. Mereka mau bekerja apa saja, seperti berkebun, berjualan makanan, menjadi tukang kayu dan bangunan. “Beda banget perangainya dengan penduduk asli yang malas, suka nongkrong, ndugem, dan  bersenang-senang, tapi maunya kerja di perusahaan pertambangan. Padahal sekolah pun mereka nggak lulus” kata Nugraheni, seorang insinyur yang bekerja di Tenggarong.

Mungkin karena penduduk asli dimanja oleh alam membuat mereka malas. Tanah yang mereka miliki penuh kandungan batubara, sehingga dihargai mahal. Uang pun mengalir ke tangan tanpa perjuangan berat. Pantas jika mereka lebih suka ongkang-ongkang kaki ketimbang berjuang menghadapi hidup.

Menghidupkan Masa Lalu

Kesultanan Kutai berakhir pada tahun 1960. Namun 41 tahun kemudian kesultanan ini dihidupkan kembali, dengan sultannya H Aji Muhammad Salehuddin II.  Tujuannya bukan untuk membangkitkan feodalisme di daerah, tapi melestarikan warisan sejarah dan budaya Kutai sekaligus mendukung sektor  pariwisata.

“Di masa Mulawarman dulu, Kutai pernah jaya. Kini pun bisa, lewat pengembangan sektor pariwisata,” begitu ungkap Syaukani di masa jayanya, di sela-sela acara peresmian 13 obyek wisata Kutai medio April 2003. Itulah saat pertama saya berkenalan dengannya. Waktu itu tubuhnya masih bugar, gagah, dan berwibawa. Dia nampak ramah walau dikelilingi para ajudan dan pengawalnya. Melebihi presiden pokoknya.

Obsesi membangkitkan kejayaan masa lalu inilah yang mendorong Syaukani merealisasikan mimpinya. Dia membangun planetarium, keraton baru buat sultan, menara pencakar langit, hotel-hotel. Namun yang paling terkenal adalah resort Pulau Kemala dengan kereta gantungnya. Semua proyek tadi bernilai lebih Rp 350 M. Nilai yang fantastis buat sebuah kabupaten kecil di Kalimantan !

pulau kumala di malam hari/sumber: http://www.kutaikertanegara.com

Saya sempatkan mengunjungi keraton baru malam menjelang Festival Erau. Seorang pangkon, prajurit penjaga, menyambut kami dari balik pintu gerbang yang tertutup rapat. “Mau apakah adik-adik ini?” tanyanya ramah. Begitu tahu niat kami yang hanya ingin memotret sambil melihat-lihat, dia membuka pintu gerbang, dan menyilakan kami melihat-lihat luar istana. “Tapi jangan masuk, karena baru dipersiapkan untuk Festival Erau,” tutur  pangkon asli Dayak Tunjung ini.

Istana bernama Kedaton Koetai Kartanegara ini  meniru istana kayu peninggalan Sultan Alimuddin (1899-1910). Bangunannya terdiri dari dua lantai, berandanya terbuat dari kayu ulin yang dihiasi dengan ukiran khas kalimantan. Di depannya, berdiri patung lembuswana (sapi bersayap, yang menjadi lambang khas kutai). Di malam hari, semua lampu yang memenuhi gapura, dinding dan  atap istana menyala, memberi kesan emas pada keraton ini. Butuh waktu 3 tahun untuk menyelesaikan keraton bernilai Rp 80 M ini.

“Sultan masih tinggal di keraton lama,” jelasnya. Seorang teman menjelaskan, Sultan Salehuddin II enggan tinggal di keraton baru karena terlalu gemerlap. Ia memilih tinggal di keraton lama, meski sejak tahun 1960 tempat itu berubah menjadi Museum Mulawarman.

Ketika melihat keraton lama, saya memahami alasan sultan. Walau berumur dan arsitekturnya lebih sederhana, keraton karya arsitek Belanda itu nampak anggun dan berwibawa. Dari depan keraton kita bisa langsung memandang ke anak sungai Mahakam.  Sedang ruang dalamnya dipenuhi peninggalan lama seperti  alat musik, senjata perang tradisional seperti toyak dan mandau, aneka peralatan upacara, dan kerajinan khas Kutai. Ketika kembali ke mari, Sultan mungkin merasa kembali ke leluhurnya.

Pamor Syaukani

Ketika Syaukani menjabat Bupati Kuker di awal 2000-an, Tenggarong berkembang pesat. Percepatan pembangunan dilakukan Syaukani. Dia membangun jalan tol yang menghubungkan Samarinda-Tenggarong. Jalan yang sangat luas dan mulus. Lebarnya lebih sepuluh meter. Dia juga memperbaiki jalan tembus dari arah Balikpapan ke Samarinda yang melalui Loa Janan dan Loa Ulu

Jalan raya di dalam kota dicor beton, jadi sangat nyaman dilalui. Syaukani menyadari kalau Kuker kaya tambang batubara, dia lalu membuat peraturan yang memaksa perusahaan batubara memberikan sebagian sahamnya untuk dibeli daerah. Dengan begitu pendapatan daerah Kuker bertambah besar. Lebih dari itu, Syaukani juga dermawan. Dia rajin membagi-bagikan sembako dan duit kepada penduduk Kuker yang miskin. Pantas dia dielu-elukan sebagai pahlawan oleh penduduk Kuker, walau di mata nasional dia seorang koruptor kelas kakap.

Kadang saya berpikir Syaukani itu seumpama Robin Hood bagi mayoritas warga Kuker. Mengorupsi uang negara puluhan milyar tapi membagikannya kepada penduduk setempat. Maka meski Syaukani masih dalam masa penahanan kala itu, putrinya Rita Widyasari terpilih sebagai Bupati Kuker Mei 2010 lalu. Masyarakat Kuker berharap Rita mampu meneruskan tradisi Syaukani yang giat melakukan pembangunan fisik dan membagi-bagi sembako.

Di era kepemimpinan Rita, Kuker mulai berbenah. Misalnya, di bidang ekonomi dengan mengundang investor membangun Tenggarong. Hasilnya, Hotel Lesung Batu dan Singgasana sahamnya dibeli oleh Bakri. Lalu Pulau Kumala dikelola oleh El John yang pernah sukses mengelola TMII dan Ancol.

Siang itu, tatkala seorang lelaki menawari saya menyebrang ke Pulau Kemala, saya memandangnya dengan ragu. “Berapa ?” tanya saya. “Sepuluh ribu saja,” jawabnya. Lama pulau itu tidak terawat. Sejak Syaukani masuk penjara, tak ada lagi yang peduli dengan Pulau Kumala.

Dulu, di depan Pulau Kumala menghampar perkampungan dan warung-warung milik orang Jawa. Kini sudah banyak gedung dan rumah bagus bermunculan. Kala itu saya ingat Syaukani ingin menggusur perkampungan di situ karena dianggap merusak pemandangan. Yah, sungguh kontras membandingkan kemewahan yang ditawarkan Pula Kumala dengan kondisi perkampungan tadi.

Saya melihat patung Lembuswana yang duduk. Pembangunan patung ini sempat menimbulkan kontroversi. Masyarakat setempat menganggap posisinya yang duduk membuat kondisi Kuker mandeg paska Syaukani ditahan. Harusnya patung itu berdiri. Ah, aneh-aneh saja, pikir saya. Namun apa yang tak aneh di bumi Kuker ini. Logika kita dibuat  jungkir balik di bumi Mulawarman.

Sepintas, saya memandang ‘Golden Gate’ yang tidak sendiri di malam hari. Ada dua jembatan lagi yang membelah sungai Mahakam. Yang satu amat biasa, dekat dengan perkampungan Bugis yang dulu kumuh. Sedang yang lainnya langsung menuju ke balai kota dan pusat pemerintahan. Meski tidak sebesar dan semegah ‘Golden Gate’, tiang-tiang jembatan masih berhiaskan lampu.

Saya buka mata hati lebar-lebar. Mengimbangi mata saya yang silau oleh aneka bangunan di kota cahaya itu. Sempat terlintas pertanyaan, andai Mulawarman masih hidup, apa yang dia rasakan? bangga, bahagia, atau malah sedih?