Tags

,


Kalau mau melihat barisan itik terjun ke kolam, membentuk formasi kwek-kwek segitiga besar, datanglah ke Cijapun. Atau ingin memandang arak-arakan awan dari atas bukit-bukit menghijau dengan tangan sibuk mengusir nyamuk, bisa dari Cijapun. Atau mau merasai aneka ikan goreng kecil hasil mancing sendiri, boleh singgah ke Cijapun.

pemandangan di cijapun/dok. ary amhir

Tapi jangan berharap Cijapun itu seperti daerah di puncak, atau peristirahatan di Selabintana, atau di Kampung Pending. Jauh deh ! Tak ada penginapan nyaman, jalan yang enak dan mudah dilalui, atau kemudahan lainnya. Apalagi jika ingin menjenguk pertapaan si petani malas. Boro-boro mo nonton teve, sinyal hp aja itil alias ilang timbul. Jadi no contact kecuali via antena. Masih tertarik berkunjung ?

Ke Cijapun tidaklah sulit walau sedikit ribet. Dari terminal bus LeBus (Lebak Bulus) kita bisa naik bus menuju Sukabumi. Dari Sukabumi ganti angkot menuju terminal kecil Lembur Situ, lalu ambil L300 atau bus menuju Kiara Dua. Nah, perjalanan bisa dilanjutkan kemudian dengan ojek ke Cijapun.

Sepanjang perjalanan yang memakan waktu 7 jam itu tak selalu mulus. Ketika naik bus ke Sukabumi misalnya, jangan kaget kalau melihat ibu-ibu yang duduk di depan anda muntah. Saya bahkan dimuntahi seorang anak kecil dalam angkot menuju ke Lembur Situ. Lumayan, muntah makan siangnya membasahi bagian bawah celana jeans dan kaki saya. Lengket-lengket gimana gitu. Jijik? Jelas. Marah? Nggaklah, justru iba melihat anak kecil tadi pucat, campuran antara rasa pening dan takut saya marahi. Jadi akhirnya saya hadiahi senyum manis saja.

Yang paling menakutkan bagi saya justru waktu naik ojek. Jalannya meliuk-liuk, memutari punggungan bukit dengan beberapa bagian jalan aspal berlubang. Bahkan satu kilometer menuju timbuktu (meminjam istilah donal bebek untuk lokasi persembunyiannya), jalanan berupa batu yang dipadatkan disertai lumpur licin. Setengah mati rasanya, apalagi tukang ojek yang membawa saya tak biasa menuju persembunyian si petani malas ini. Berkali-kali dia bertanya, “masih jauh?” Halah, saya sendiri nggak tahu.

salah satu flora unggulan/dok. Ary Amhir

Akhirnya sampailah saya di bekas lahan kritis perkebunan teh. Ada 5 gubuk sederhana dengan kolam kumuh di depannya. Saya datang disambut kowekan angsa-angsa, dua perempuan, seorang diantaranya menggendong bocah, beberapa lelaki datang menyalami. Jujur saja, awalnya agak kaget juga. Tak seindah dalam bayangan saya. Kebun organik yang dimaksud hanya kawasan bukit gundul yang coba dihijaukan. Tapi pemandangan gugusan awan menari sepanjang perjalanan membuat saya bersemangat.

Si petani malas membawa saya memasuki pondoknya. Wadow, ini rumah atau sarang laba-laba. Debunya setebal lebih lima senti dan abu rokok dimana-mana. Walau semalaman begadang dan nyaris tidak tidur di dalam bus, akhirnya saya singsingkan lengan membersihkan ruang kerjanya. Dua jam ! Capek .. tentu saja, bau.. apalagi, tapi tempat kerjanya nanti kan jadi tempat kerja saya juga. Jadi kenapa mesti malas. Cukup dia saja yang malas.

Setelah itu mandi di kamar mandi yang baknya berupa ember besar. Dingiiiin… kemudian makan malam dengan lauk ikan asin dan lalapan dedaunan antah berantah. Hidup di antara 18 warga pertanian percontohan ini tidaklah mudah. Sederhana.. malah. Meski sangat sederhana, senyum di antara mereka selalu tersungging. Senyum tulus. Namun jangan harapkan sedikit kemewahan atau kemanjaan, no way-lah, di sini semua orang sedang berjuang, di garis terbawah menuju perbaikan. So, siap-siap singsingkan lengan.

Welcome to Cijapun !

* Cijapun, terletak di kawasan perkebunan Teh dan Karet Cihaur, desa Cihaur, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

**Satu dua tahun ke depan mungkin Cijapun akan berubah. Lebih hijau, ada pusat pertanian organik, tempat mereka yang berminat bertani organik dibimbing. Itu harapan saya.