Tujuh tahun lalu saya pernah berkunjung ke Pegunungan Menoreh tanpa sengaja. Bermain ke rumah kawan di Desa Bumi Segoro. Letaknya di timur Candi Borobudur, sekitar 2 km melipir sawah.

Beberapa kali saya ke rumahnya. Terbiasa. Bukan karena bapaknya yang ramah dan kesepian itu dermawan, menyuguhkan aneka jenis makanan dan ikan kolam di meja makan. Bukan juga karena hawa di sekitar candi begitu meremukkan sumsum tulang.

lembar kisah tahu di ladang tembakau

Saya senang ke rumahnya karena harus berjalan kaki menyusuri areal persawahan hijau. Lalu saya akan melewati padang jerami yang teramat luas. Di sana bebas lepas kerbau-kerbau merumput. Jika saya melewati tempat itu di sore hari, akan saya jumpai iring-iringan gajah menuju ke Borobudur. Debum kaki gajah menyentuh jalanan sungguh melekat di pikiran saya. Bam bum memburatkan debu dan aroma pekat tanah.

Di pagi hari, gajah-gajah ini berjalan beriring dari Hotel Amanjiwo –hotel terbaik dan termahal di dunia– sambil menggendong penghuni hotel, wisatawan asing, untuk melihat sunrise di Borobudur. Di sore hari gajah-gajah pun dikandangkan kembali ke lokasi candi budha terbesar itu.

Suatu hari bertamu seorang lelaki di rumah kawan saya. Dia berasal dari atas bukit. Rumah kawan saya termasuk dalam rangkaian pegunungan Menoreh. “Indahkah di atas?” tanya saya ingin tahu.

Tamu itu langsung menawari saya naik ke atas, menginap di rumahnya malam itu juga. Sungguh kesempatan yang tak akan saya sia-siakan. Maka ketika maghrib menjelang, saya ikut dengannya mengendarai motor honda GL, naik ke puncak bukit.

Menoreh yang saya kenal malam itu adalah sebuah keramahan, secangkir teh panas dan aneka jajanan tradisional. Di rumah lelaki yang baru beberapa jam saya kenal, saya diperlakukan bak tuan putri. Mendapat kamar tidur tersendiri –setelah penghuninya dengan suka rela menyingkir– dan jamuan aneka makanan.

Sebelum matahari terbit keesokan harinya saya meninggalkan keluarga baik hati itu. Berjalan menuju ke puncak bukit, kemudian menuruni jalan, menuju rumah teman jauh di bawah entah dimana. Ternyata butuh empat jam mencapai  rumah kawan. Saya melalui banyak desa yang menyajikan pemandangan khas Jawa tempo dulu. Ketika matahari baru terbit, nampak antrian perempuan dan anak-anak mengambil air, di sebuah mata air yang dihubungkan pipa persis di tepi jalan.

Saya melalui pertigaan sebuah pasar tradisional. Banyak perempuan, dengan kostum tradisional jawa, kain batik panjang dan kebaya, menunggu angkutan umum datang. Angkutan umum sangatlah langka di sini. Hanya ada dua kali sehari, itupun di hari pasar. Rupanya saat saya turun bertepatan dengan hari pasar. Pantaslah lumayan ramai.

Sempat saya memandang barisan cengkeh yang dijemur di halaman rumah. Biji cengkeh diletakkan tinggi di atas empat pasak kayu, dilapisi plastik. Saya juga melalui kebun-kebun cengkeh dan sawah yang luas. Sempat saya melalui kebun tembakau di kawasan lumayan datar. Di sela-sela tanaman tembakau nampak pembuat genting dengan tungku besarnya, dan hamparan kayu bakar yang dijemur memanjang. Namun yang paling berkesan adalah menemukan pembuat tahu di antara kebun tembakau.

Menjadi pembuat tahu rupanya lebih menguntungkan ketimbang bertanam tembakau, walau kedelai bahan tahu ternyata diimpor dari Amerika. Ini semua karena harga tembakau yang makin terpuruk. Tembakau yang dulu pernah dihargai Rp 50.000 per kg kini hanya Rp 5.000 saja. Itu sebabnya banyak petani tembakau di Pegunungan Menoreh beralih menjadi petani sawi, kubis, wortel, dan kacang panjang. Ada juga yang menanam tembakau, namun tak banyak lagi. Mereka tak mau habis-habisan merugi.

Masih terekam dalam memori saya tong dan ember hitam besar yang dipergunakan untuk merendam kedelai, memasaknya, hingga mencetak kotak-kotak putih tahu. Sempat saya baui tahu yang baru dicetak. Segar, sedikit langu, dan nampak sempurna jika digoreng. Sama sekali tak berbau Paman Sam.  Kenangan akan aroma tahu itulah yang menuntun saya untuk kembali lagi ke Menoreh kali ini.

Advertisements