Kali kedua saya ke Pegunungan Menoreh dengan anak-anak Relung (sebuah LSM lingkungan di Jogjakarta). Ada Asta dan Benu. Berenam kami naik motor mengelilingi desa-desa binaan mereka, di antaranya Samigaluh dan Kalibawang.

Pada saat itu Relung memiliki program pertanian organik di beberapa desa, diantaranya mengusahakan padi tanpa pupuk kimia. Beras organik ini kemudian dijual langsung ke konsumen. Lumayan juga hasilnya karena beras mereka jelas lebih mahal harganya ketimbang beras yang ada di pasar.

Tak banyak kesan yang saya dapat dalam kunjungan sejak pagi hingga sore hari itu. Satu yang terpatri kuat, orang Menoreh itu kreatif, mampu mengoptimalkan sejengkal tanah untuk menghidupi mereka. Dalam tanah sempit itu ada semua, padi, sayur, buah, pakan ternak. Pokmen tumpuk undung, kata orang Jogja.

Orang Menoreh juga sangat ramah, keramahan khas pedesaan Jawa yang tulus ikhlas tanpa pamrih. Nyaris tak pernah kami mampir ke sebuah rumah tanpa ditawari makan. Bukan sekedar penganan kecil, tapi makan besar. Keluar dari sebuah rumah, buah tangan tak pernah tinggal. Ada saja yang melekat, salak pondoh, buah rambutan, kacang tanah. Pulang dari Samigaluh, rangsel pun penuh sesak oleh telo pendem.

Dalam obrolan santai dengan penduduk, tercetus keluh akan berbagai masalah yang mereka alami. Diantaranya serbuan monyet-monyet ke kebun. Monyet nakal ini mencuri apa saja. Pisang, kacang, pepaya. Bisa dipastikan monyet hutan sekitar Pegunungan menoreh telah kesulitan mendapatkan makanan. Hutan menipis cepat, sebagian malah berubah menjadi lahan kritis. Sebagian lagi dibuka menjadi tanah perkebunan dan pertanian. Akibatnya, monyet pun menyerbu perkebunan penduduk. Jadi jangan salahkan monyet.

Penduduk pusing tujuh keliling. Namun manusia lebih licik dari monyet. Mereka pun membuat perangkap, untuk menjebak dan menangkap para sun go kong ini. Moyet yang tertangkap kemudian dicincang. Dagingnya dimasak menjadi abon, lalu dipasarkan ke Jogja. Jadi jangan heran jika suatu waktu abon ‘cap sapi’ yang Anda beli kok rasanya lain, serta efeknya membuat panas tubuh meningkat. Itu karena ‘sapi’-nya adalah daging monyet.

Rabu, 22 September 2010  kembali saya mengunjungi Menoreh. Bernostalgia, mengais-ngais kenangan yang tersisa, ditemani kawan Aji dan Gugun. Ibarat membaca ulang karya SH Mintardja, Api di Bukit menoreh. Hanya sayangnya saya tak menemukan api. Beberapa tempat kami satroni. Mulai Sendang Sono, makam pahlawan negara Nyi Ageng Serang, beberapa tempat persembunyian Pangeran Diponegoro saat melakukan gerilya melawan Belanda, hingga pertapaan Sultan Agung yang terkenal, Puncak  Suroloyo.

Meninggalkan makam Nyi Ageng serang, berkendara kami melalui jalan setapak. Di halaman sebuah rumah, pandangan kami beradu dengan seorang nenek renta. Dia sibuk menjemur sesuatu.  Biji nangka. Kami tertegun. Bukan oleh isi dua tampah terbentang di hadapannya. Tapi oleh penampilannya. Ada daging sebesar semangka menggantung di lehernya. Nenek itu menderita gondok.

Saya pun tergerak, mendekati si nenek. Ada keinginan mengabadikan keadaannya, namun ada juga kehendak tak menjadikannya sebagai obyek penderita semata. Saya meminta ijin memotretnya. Nenek itu tersenyum, mengiyakan. Usai memotretnya, saya angsurkan selembar doi ke tangannya. Saya tak mampu membantunya banyak.

“Nak purun mbetho gendis? Kamu mau gula merah?” tanya si nenek penuh rasa terimakasih. Sejenak saya teringat cerita kawan Pantja yang bekerja di HIVOS –sebuah LSM milik Belanda– bahwa Menoreh dikenal sebagai penghasil gula merah. Saya tolak tawaran si nenek, meski sempat digerundeli Aji dan Gugun. Lalu kami meninggalkan tenpat itu sesegera mungkin.

Banyak pertanyaan memenuhi kepala. Mengapa masih saja terdapat penderita gondok menahun seperti tadi di jaman serba internet ini? Menoreh tidaklah jauh dari peradaban. Mendapat garam beryodium tidaklah susah. Keluarga si nenek bisa turun, berbelanja seminggu sekali ke pasar untuk membeli garam beryodium.

Gondok, penyakit pembesaran kelenjar tiroid dapat dicegah jika asupan mineral yodium cukup dikonsumsi tubuh.  Penyakit ini kerap diderita di daerah pegunungan atau daerah dengan tingkat ekonomi rendah. Saya pandang Menoreh, daerah pebukitan, pegunungan, yang jauh dari laut. Daerah potensi gondok. Daerah yang sulit akses transportasi umumnya, penduduk pun mengandalkan kepada motor.

Apa hal ini yang membuat si nenek tak mendapatkan suplai yodium yang cukup? Karena tak sempat turun ke pasar membeli garam beryodium, atau tak mampu membeli ikan-ikanan dan kerang-kerangan yang kaya akan yodium? Entahlah! Apa tak ada petugas yang mau sidak, turun langsung ke rumah-rumah penduduk untuk mendata sekaligus mengetahui kesulitan umum penduduk desa-desa di Menoreh? Entah juga. Tiba-tiba saya merasa hidup di negara Emang Gue Pikirin, Lu-Lu Gue-gue.