Naik kereta api. Itu cita-cita pertama saya. Muncul saat belum genap tiga tahun. Keinginan yang terwujud beberapa bulan kemudian, saat Bapak membawa saya pulang ke Medan. Opung meninggal. Bapak yang tentara mengambil cuti panjang. Sebulan. Dari Malang ke Jakarta kami naik kereta api. Alangkah indahnya melihat besi hitam itu melaju. Jijaz.. jijaz.. jijaz.. tuuuut..

Tanpa sadar saya dendangkan lagu ciptaan AT Machmud,

Naik kereta api tut tut tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama

Cepat keretaku jalan tut tut tut
Banyak penumpang turut
Keretaku sudah penat
Karena beban terlalu berat
Di sinilah ada stasiun
Penumpang semua turun

Kelak, ketika dewasa, kereta api adalah kendara dewa saya. Mulanya saya pilih naik ekonomi kala masih mahasiswa. Ketika mulai bekerja, dan kondisi kantong membaik, saya pilih bisnis. Tak tahan duduk berlama-lama di atas kursi keras ala ekonomi. Pinggang pegal pantat panas (p4) kata karib nan jauh. Belum lagi jika sesak penuh, bernafas pun susah. Maunya marah melulu.

 

Kadangkala saya naik eksekutif. Biasanya dalam perjalanan jauh, seperti Surabaya-Jakarta. Sekali sekala. Ngadem di AC. Namun sejak eksekutif minus makan, ogah naik itu lagi. Cukuplah bisnis, terjangkau, nyaman –apalagi kalau menggandeng eksekutif– lumayan cepat, dan sesuai dengan gaya hidup sederhana saya.

Saya tak peduli berita kereta api tabrakan. Apa itu peristiwa Bintaro, atau Anggrek vs Senja Utama Solo. Saya tak terpengaruh berapa ratus korban mati, terhimpit gerbong hingga tak berbentuk lagi. Kereta api adalah kendara dewa saya. Angkutan massal yang menyelamatkan puluhan mungkin juga ratusan ribu orang setiap hari. Apalagi saat mudik lebaran. Sekali dua kecelakaan tak masalah bukan?

Ingat kereta api ingat jasa kolonial Belanda. Tanpa mereka mungkin kita terlambat merasakan lenggak-lenggok si ular tangga. “Ireng-ireng akeh sing nguyuhi“. Hitam-hitam banyak yang buang kencing di situ. Itu olokan almarhum sahabat saya, Herlambang Setiawan, setiap kali kami bertukar tutur tentang kereta api.

Adalah JP de Bordes dengan NV NISM-nya yang menjadi otak  pembangunan rel di Desa Kemijen, melahirkan jalur kereta api pertama, Kemijen-Tanggung sepanjang 26 km, pada 17 Juni 1864.  Sejak itu pembangunan jalur baru  marak . Tak hanya di utara Jawa, tapi juga selatan. Tak heran jika pada tahun 1900 ,  panjang rel kereta api mencapai 3338 km.

 

 

Rupanya Belanda sadar, kereta apilah transportasi massal masa depan Hindia Belanda, khususnya Jawa. Tak hanya mengangkut hasil tambang, perkebunan, tapi juga manusia. Bukankah waktu itu penduduk Hindia Belanda sudah terpusat di Jawa? Meski ribuan nyawa pekerja paksa melayang,  pembangunan rel kereta api jalan terus. Tak hanya di Jawa, bahkan juga Sumatra.

Terakhir saya naik kereta api 21 September lalu. Dari Pasar Senen Jakarta, hendak ke  Jogjakarta.  Lagi-lagi kelas bisnis. Karena nyaris terlambat tiba di Stasiun, serta sulit menangkap dengar pengeras suara, saya salah naik  kereta. Bukan Senja Utama, tapi jurusan Kutoarjo yang saya naiki.

Mulanya saya curiga. Gerbong kok begitu lengang. Hanya ada seorang pemuda duduk di seberang, menyudut. Saya tanya dia, “Benar ini kereta Senja Utama ke Jogja?”

“Benar,” katanya begitu yakin. Jadwal keberangkatan Senja Utama pukul 19.30, sedang arloji saya menunjuk 17.15.  Jadi saya pikir jam tangan saya terlambat 15 menit. Beruntung kondekturnya baik hati. Kami dipersilahkan turun di Cirebon atau Purwokerto untuk menunggu Senja Utama. Belakangan saya tahu ini kali pertama si pemuda itu ke Jogjakarta naik kereta api. Katanya ada wawancara kerja di Jalan Mangkubumi, dekat Stasiun Tugu.

Ada satu hal yang mengusik saya setiap kali naik atau turun dari kereta. Stasiun kereta api. Strata sosial rupanya berpengaruh terhadap  jenis kereta api maupun kelas penumpang yang menunggu di stasiun kereta.

Di Jakarta, ada pembedaan stasiun kereta api ekonomi plus bisnis dan eksekutif. Stasiun Gambir misalnya, dikhususkan bagi kereta api eksekutif. Sedang Stasiun Senen ditujukan buat kereta api ekonomi dan bisnis.

Jadi jangan bandingkan suasana di dalam stasiun. Yang satu lengkap dengan foodcourt dan nyaman buat menunggu, yang lain mirip pasar ikan. Yang satu penuh orang petentang-petenteng travel bag bermerk, yang lain berteman kardus. Tak masalah.

Di Jogja, lagi-lagi pembedaan strata sosial ini terulang. Stasiun Tugu untuk kereta api eksekutif plus bisnis, sedang Lempuyangan buat kelas ekonomi. Fisik bangunannya bak bumi dan langit. Yang satu megah, nyaman, dan ‘agak’ wangi, yang lain bau keringat plus pesing air kencing.

Sungguh bahagia orang Surabaya. Di Stasiun Gubeng segala jenis kereta api ditampung. Mau ekonomi, bisnis, atau eksekutif. Hanya, letak mereka dipisahkan. Begitu juga ruang tunggu bagi penumpang. Yang ekonomi di sebelah barat, yang bisnis dan eksekutif di timur. Namun penumpang bisa membaur. Mau beli tiket di timur atau barat terserah. Mau duduk menunggu di timur atau barat oke-oke aja. Yang penting kereta api ekonomi melalui jalur barat, sisanya di jalur timur. Jadi, jangan sampai salah naik kereta seperti saya.

 

Advertisements