Akhirnya kapal Kencana yang saya tumpangi merapat juga. Saya pun merapatkan jaket membungkus tubuh. Angin laut di malam hari ganas juga. “Sandar !” teriak seorang awak kapal, membangunkan yang terkantuk hingga gelagapan meraba barang bawaannya. Segera saya angkut satu-satunya rangsel, menyusul Hambali hendak turun.

Hari itu, Rabu 6 Januari 2010, saya pasrahkan hidup saya kepada Hambali, seorang penumpang yang baru saja saya kenal. Dia mengajak saya tinggal di rumahnya sementara, sebelum melanjutkan perjalanan keliling pulau-pulau kecil siang nanti.

Ragu saya keluar dari dek kapak. Di luar gelap gulita, tak ada terang yang menunjukkan kami telah mendarat di sebuah pulau. Hanya kerlip-kerlip lampu kecil yang kemudian saya tahu antrian truk dan angkot untuk membawa barang dan penumpang dari kapal.

“Sudah empat hari listrik mati, PLN kehabisan solar,” kata istri Hambali, yang menjemput kami dengan putrinya. Saya jadi ingat kemarin ada kapal pengangkut bahan bakar terbakar di dermaga Kalianget. Tapi itu bukan alasan untuk menggulitakan pulau seluas 188 km persegi ini selama empat hari, bahkan lebih.

“Biasanya kami bisa menikmati listrik sejak pukul 6 petang hingga 4 pagi,” tutur Hambali. Sedang di siang hari, pulau Kangean, Sapeken, Pagerungan, Sepanjang, dan 54 pulau lainnya tak dialiri listrik. Ini berarti bahwa radio, teve, komputer untuk perkantoran, dan lain kegiatan yang menggunakan listrik benar-benar tak ada di siang hari. Jadi jangan harap mendengar lagu-lagu mengalun dari sebuah rumah atau pegawai kantor sibuk mengetik. Pegawai, guru, bahkan petugas puskesmas, harus ekstra bekerja di malam hari jika berkaitan dengan pembuatan laporan atau urusan administrasi.

Beruntung di Kangean tak ada industri. Industri tki mungkin yang ada. Mayoritas warga  Kangean menjadi tki di Malaysia. Sedang yang tersisa di pulau bekerja sebagai nelayan, petani, atau pedagang. Untuk mengetahui apakah sebuah keluarga ada yang menjadi tki atau tidak gampang saja. Lihat model rumahnya. Kalau rumahnya terbuat dari bata, dindingnya dihiasi keramik yang indah dan ada parabola di depan rumah, bisa dipastikan itu rumah tki. Rumah gaya Malaysiaan begitu orang Kangean menyebutnya. Di dalam rumah itu dipastika perabotnya lengkap dan mewah. Sebuah sofa gaya eropa mutakhir, almari es, teve 24 inci beserta DVD dan salon besar. Sayangnya, peralatan elektronik mutakhir itu lebih banyak sebagai pajangan karena tak ada listrik.

“Kalau mau rumah benderang, kulkas dan teve menyala, ya pakai genset,” tambah Hambali. Beberapa rumah dan toko memang mengandalkan genset berbahan bakar solar itu. Namun harga solar sungguh mahal, bisa mencapai Rp. 6000 per liter. Itupun susah didapat. Padahal mayoritas penduduk membutuhkan solar, baik pemilik genset maupun pemancing dan nelayan yang pergi mencari ikan di malam hari.

“Kalau mau solar, beli aja ke pegawai PLN tuh. Mereka kemarin nawarin saya solar. Harganya miring, hanya Rp 4000-Rp5000 per liter,” kata Agus, teman Hambali.

“Solar dari mana, Pak?” saya heran.

“Ya solar buat PLTD, Mbak. Dari mana lagi,” jawabnya ringan.

Menurut Agus, pegawai PLN yang bekerja di Kangean mayoritas adalah pegawai honorer. Gaji mereka pun minim, hanya Rp 600.000 – Rp. 700.000 per bulan. “Dari mana mereka dapat duit untuk menyicil kredit sepeda motor supra yang angsurannya Rp. 500.000 perbulan?” tanyanya. Saya cuma manggut-manggut.

Malam itu saya lihat Didin dan Febri, dua anak Hambali asyik bermain ke rumah tetangga yang punya genset. “Nggak belajar?” tanya saya. Mereka menggeleng.

“Malas, nggak ada lampu,” jawab Didin, Mereka lebih suka berkumpul di rumah tetangga yang terang, menonton teve sambil ngobrol-ngobrol.

Tak berapa lama istri Hambali sibuk menyalakan dua buah lampu minyak. “Susah kalau benar minyak tanah jadi dihapus pemerintah. Kami tinggal di pulau kecil, bukan di Jawa,” keluhnya.

Menurutnya, kehidupan sehari-hari mereka sangat tergantung pada minyak tanah untuk memasak. Bahkan ketika harga minyak tanah mencapai Rp 7500 per liter, dia tak keberatan untuk membeli. “Dalam lima hari saya butuh tiga liter minyak tanah,” katanya.

“Kenapa tak pakai kompor gas?” saya heran. Dia menggeleng cepat.

“Di sini ada keluarga yang habis dilumat gas yang meledak. Kami semua jadi takut, ” alasannya. Apalagi nyaris tak ada pasokan gas dengan tabung 3 kilogram di pulau ini. Pantas dia begitu ketakutan kalau minyak tanah tak ada di pasaran.

Rupanya bukan hanya solar dan minyak tanah yang langka, tapi juga bensin. Ketika akan mengantarkan saya ke Kayuaru keesokan paginya, Hambali harus putar-putar dulu keliling Arjasa, satu dari tiga kecamatan di Kangean, untuk mencari bensin. Bensin akhirnya didapatnya di sebuah warung dengan harga Rp 8000 per liter. Wow, mahal sangat, pikir saya. Tak heran kalau ada rumah yang menimbun bensin atau solar, sebagai persediaan di saat darurat.

Saya hanya berpikir, jika listrik kerap alpa hadir, bagaimana membangun perekonomian pulau yang sebetulnya potensial ini. Ada kebun jati yang cukup luas di timur, ada tambang fosfat yang belum dimanfaatkan, juga potensi wisata seperti gua kuning dan gua hitam, lautnya pun mengandung gas alam dan minyak. Bahkan di Pagerungan ada PT Energi Mega Persada yang bergerak dibidang eksplorai minyak dan gas bumi di laut Kangean. Hasil eksplorasi diantaranya untuk memenuhi pasokan listrik di  di Jawa-Bali. Sungguh ironis karena pulau pemilik sumber energi jutru kekurangan listrik.

Tanpa listrik, bagaimana memajukan pendidikan generasi mudanya, membuat mereka bisa belajar di malam hari? Kemajuan akan terhambat jika dunia pendidikan pun dihambat. Kondisi gelap yang lebih sering terjadi akan mematikan kehidupan di kepulauan terpencil ini.

Ketika meninggalkan pulau itu menuju Sapeken, sayup-sayup terdengar pesan istri Hambali. ‘Hati-hati lho di perjalanan. Sekarang kondisi tak aman, banyak maling dan begal. Gelap-gelap begini membuat orang nekad.” Saya pun tercenung sejenak. Kegelapan telah meningkatkan angka kejahatan di pulau ini. Saya hanya bisa berharap, Dahlan Iskan si direktur PLN yang baru mau juga sidak ke pedalaman, melihat kenyataan yang ada. Sebelum pulau ini kosong melompong ditinggalkan penghuninya, atau disewakan  ke negara lain.