Tags

, ,


Anda bisa menipu turis asing itu atau wisatawan lokal yang tak tahu seluk-beluk Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, tapi Anda tak bisa menipu saya. Sunrise di Bromo itu lebih indah ketimbang Pananjakan. Sunrise yang langka. Golden sunrise.

Kata-kata itu yang ingin saya teriakkan kepada para makelar jeep yang hilir-mudik di depan penginapan kami malam itu. Melihat kami berdelapan, dengan dua bule asal Inggris, dipikirnya gampang menipu kami. No Way-lah!

Harga yang ditawarkan pun beragam. Dari yang Rp 400.000 per jeep, turun menjadi Rp 275.000 per jeep isi 6 orang, hingga Rp. 75.000 per orang. Hey, kami bukan komoditi, bukan barang dagangan. Sudah belasan kali saya naik Semeru lalu turun ke Bromo, seperti melihat pantat saya sendiri ! Saya ngamuk.

Namun saya harus mengalah. Tak satu pun kawan saya pernah menginjak Pananjakan. Hanya Sekar yang pernah ke Bromo, sekali, itupun lima tahun lalu. Setelah negosiasi yang amat alot, disepakati bahwa satu jeep berisi 6 orang disewa Rp.275.000. Sedang 2 orang lainnya dikenakan bea Rp 75.000/orang. Itu belum termasuk tiket masuk. Walau menggigil saking marahnya, saya menyerah. Kan tujuan perjalanan ini untuk bersenang-senang, having fun !

Ingatan saya jadi melayang ke tahun 1991, saat pertama kali naik Semeru-Bromo. Bersama lima kawan plus 3 kawan adik, kami naik ke Ranu Pane-Ranu Kumbolo-Puncak, dan turun lewat jalur yang sama. Turun dari Ranu Pane, kami berjalan kaki sampai ke sebuah papan bernama ‘Ngadas’, yang menunjuk arah kanan. Lalu berlarian kami, berpesta pora bak layang-layang lepas, terbang menuruni punggungan bukit curam, menuju gurun pasir Bromo.

Menyenangkan sekali! Kami menjelajah gurun pasir beberapa jam, lalu naik ke puncak sebuah bukit, salah satu punggungan Bromo. Bukit itu sangat terjal, jalannya pun sempit, hanya cukup untuk sepasang kaki. Namun kiri-kanan bukit dipenuhi eidelweis ‘beludru’, iya.. beludru. Tangkai dan bunga eidelweisnya halus, lembut, selembut beludru. Ada lapisan putih di batangnya.Setelah sampai di puncak, kami berjalan melipir, dan sampailah ke ujung kawah Bromo tepat di atas anak tangga.

Dua tahun kemudian pengalaman ini saya ulangi, dan beberapa tahun kemudian saya ulangi lagi, lagi, dan lagi. Naik Bromo dalam perjalanan turun Semeru, melalui jalan yang berbeda, lewat punggungan nun jauh di sana.Tapi hutan di punggungan yang penuh eidelweis itu tak pernah saya temui. Konon kabarnya hutan itu terbakar dan musnah pada kebakaran Semeru-Bromo. Saya sedih. Tak lagi menemukan eidelweis beludru.

Tapi saya juga senang. Petualangan mendaki punggungan Bromo yang berkelak-kelok ala gurun Nevada menyedapkan pandangan mata. Pernah kami naik bertiga, saya, Puspa dan Norman, dua teman dari fakultas Teknik Kimia UGM.

Saya tak tahu kalau Puspa phobia ketinggian. Ketika melipir kawah yang tipis dia menangis, berteriak-teriak ketakutan, bahkan berjalan sambil mbrangkang. Kami tertawa campur panik. Tak mungkin surut ke belakang, lebih mengerikan jalannya. Mau tak mau harus maju, sambil menikmati tangis dan teriak ketakutan Puspa.

Bromo ketika itu tidak seborju saat ini. Turun dari Bromo kami bisa ngecamp di dekat candi. Tidur di dalam tenda atau membuat api unggun di luar. Kini? Ada larangan membuka tenda di lautan pasir. Para camper hanya boleh membuka tenda di atas, di rerumputan depan hotel yang dikhususkan bagi para campers. Atau sewa aja losmen. Paling murah Rp 90.000 dan hanya diisi maksimal 2 orang. Anehnya ketika ada kegiatan seperti outbound besar-besaran PT anu, kok diperbolehkan membuka tenda di lautan pasir ? Aneh !

Pernah pula saya ke Bromo naik angkutan umum atau bermobil dengan teman. Pada masa itu kendaraan pribadi boleh naik sampai ke puncak Pananjakan lalu turun ke kawah Bromo. Kini? Jangan harap. Harus, wajib, menyewa hardtop atau jeep yang disediakan penduduk. Saya tahu maksudnya agar masyarakat Tengger menikmati cipratan berkah wisata Bromo. Tapi mbokyao jangan memaksa, dan menaikkan tarif seenak udelnya. Memangnya semua yang berwisata ke Bromo itu konglomerat? Punya duit ratusan juta di bank?

Sedikit mendongkol, saya bersama tujuh kawan malam itu menyewa rumah penduduk untuk dijadikan tempat menginap. Ada dua kamar, sebuah ranjang di depan dan sofa. Plus kamar mandi berair penuh. Tarifnya Rp 250.000/malam. Lumayanlah daripada menyewa kamar hotel yang jelas mahal buat ber-8. Tak berapa lama datang tiga turis asal Polandia bergabung. Whiskey yang dibagikannya cukup menyemarakkan suasana.

Sesuai perjanjian, jeep akan menjemput pukul 04.00 dini hari. Ada masa tuk sejenak terlelap, walau berhimpit-himpitan. Tak mengapa, justru membuat badan hangat di saat udara menggigil.

Pukul 4.00 kami telah siap. Berdelapan kami diangkut dua jeep yang berbeda. Membelah gurun pasir Bromo, mendaki perlahan menuju puncak Pananjakan. Tersadar saya bahwa Bromo tak pernah sepi turis. Hari itu ada seratusan  lebih turis  asing. Padahal bukan malam  Minggu dan bukan hari libur. Dunia terbalik! Sampai di Penanjakan belum pukul lima pagi. Sunrise masih belasan menit lagi

Tapi apa saya bisa melihat sunrise? Bullshit! Yang saya lihat cuma pantat dan kaki para bule jangkung yang memadati pagar. Halagh! Jadi buat apa susah-susah saya ke Pananjakan. Toh sebetulnya sunrise yang saya saksikan di Puncak Semeru lebih indah. Tapi mengapa pula saya mau naik ke Penanjakan? Lagi-lagi saya menggerutu, membodohkan diri.

Kawan saya Sekar, yang lama tinggal di Darwin Australia, mengaku sunrise Pananjakan tidaklah istimewa. “Yang begitu sering aku lihat dekat rumahku di Darwin. Aku justru rindu awan keperakan di Bromo, sunrise-nya yang kuning gading, kepakan debu keemasan sepanjang tangga naik.”. Yaaa.. akhirnya saya tidak sendirian. Puas berfoto bareng, lihat ini itu, akhirnya kami turun ke Bromo, jelang enam pagi.

Acara di Bromo yang terang bisa diramalkan. Seperti ritual yang selalu diulang. Berjalan dari Puri ke anak tangga bagi yang merasa kuat. Yang malas, naik kuda saja. Untung hari itu cerah setelah beberapa hari diguyur hujan. Pasir di Bromo pun mengeras. Menggapai bibir kawah bukan lagi masalah. Paling lama 30 menit sudah sampai di atas jika tidak ada yang nggandoli. Bersama Sekar, saya berjalan meniti pasir. Sesekali bereksperimen mengambil foto tentang  bayangan. Ya bayangan kuda, ya bayangan orang, dan tentu saja bayangan kami berdua.

Namun ada yang mengganggu kenikmatan kami. Penyewa kuda berkali-kali menegur kami, memaksa kami menaiki kudanya. Dari harga Rp. 50.000 turun menjadi Rp.10.000 ketika jarak ke anak tangga semakin mendekat. Gigih sekali mereka. Saya tertawa, geleng-geleng kepala. Tak tahukah mereka bila kami menginginkan privacy, kesendirian dalam menikmati perjalanan? Apa semua pengunjung Bromo harus manja, naik kuda mereka. Saya jadi takut, jangan-jangan beberapa tahun ke depan kami wajib naik kuda menuju tangga Bromo, atas nama kesejahteraan masyarakat sekitar. Jadi mirip kejadian dengan jeep beberapa tahun lalu.

Sampai di Kawah Bromo saya hanya menyaksikan sedikit asap letupan, pemandangan Gunung Batok, Puri, dari jauh. Panoramic! Matahari sudah meninggi. Bau belerang menebar kemana-mana. Penjual eidelweis yang sudah dicat warna-warni menjulurkan tangannya. Saya rindu eidelweis beludru, bukan yang sudah bau cat artificial ini. Puas mengelilingi kawah, kami pun turun. Jeep menunggu hanya sampai pukul 09.00.

Lagi, saya turun sambil berlari. Serasa terbang. Mumpung pengunjung berkuda masih di belakang. Kalau kuda-kuda itu sudah lewat, susahlah awak bergerak bebas. Belum lagi debu yang mereka terbangkan, dan bau khas pantat kuda. Saya ayunkan dua tangan ke samping sambil berlari. Mengatur langkah kaki. Merasa inilah satu-satunya kenikmatan yang tersisa, kala masih bebas berjalan kaki ke Bromo. Dalam hati saya berjanji. Andai ke Bromo sekali lagi, akan saya teriakkan, “Maaf, saya mau ke Bromo, bukan ke Pananjakan !”