Pembangunan suramadu telah membuat petani di Madura, khususnya Kabupaten Sumenep kehilangan tanah pertanian. Lahan subur mereka telah  dikapling-kapling bagi proyek real estate dan perhotelan. Para petani pun terancam kehilangan mata pencarian tradisional, dan bersiap menjadi tki.

Suramadu memang megah. Jembatan antar pulau sepanjang 5438 m dan dibangun dengan dana 4,5 T ini mampu membangunkan ekonomi Madura yang tertidur. Baru seminggu diresmikan, sudah ramai pedagang mendirikan lapak di kanan-kiri jembatan bagian madura. Mereka menjual apa saja, dari makanan, suvenir, oleh-oleh khas madura hingga batik. Suramadu mampu rupanya menghidupkan  ekonomi rakyat kecil, karena telah menjadi tujuan wisata yang baru.

lahan pertanian yang subur akan diubah jadi proyekperumahan dan  hotel
foto:ary amhir

Suramadu juga menggerakkan industri kerajinan pulau kerapan sapi. Berkat dibukanya Suramadu, batik madura di Tanjungbumi pun kebanjiran order. Kini semakin banyak orang dari Jawa datang ke Madura dan berbelanja batik, terutama di hari libur untuk berbelanja batik. Omzet produsen batik pun meningkat hingga 300 %.

Suramadu membuat tanah-tanah gersang yang biasa disebut tanah merah di sepanjang jalan kamal-bangkalan laku keras. Sudah banyak tanah yang dikapling untuk pendirian pelabuhan petikemas dan pabrik baru. Pembangunan pabrik di tanah tidak produktif ini diharapkan akan mendongkrak lapangan kerja di Madura, walau hanya sebagai buruh. Apalagi jika bisa mengurangi laju pengiriman tki dari tanah merah ini.

Suramadu juga membuka akses yang lebih besar kepada Sumenep, kota di ujung timur madura. Selama ini Sumenep seolah tumbuh sendiri, jauh dari ibukota kabupaten lain di jawa. Padahal APBD kabupaten Sumenep termasuk yang terbesar di jatim. Untuk tahun 2010 APBD-nya mencapai 910 M. Namun pembangunan di kabupaten satu ini nampak jalan di tempat. Garam yang dulu menjadi andalan Sumenep kini tak lagi primadona. Justru ada gudang tembakau milik PT Gudang Garam di sini. Juga  ada tambang LNG dan minyak bumi terbesar di Indonesia, tepatnya di sekitar Pulau Pagerungan dan Sepanjang.

Sumenep satu-satunya daerah di Madura yang memiliki tanah pertanian subur, tidak seperti tetangga maduranya di ujung barat. Tanah pertanian Sumenep bisa ditanami padi,sayur, bahkan tembakau. Dengan dibukanya Suramadu akses dari dan ke kota di ujung timur madura pun terbuka lebar. Banyak investor yang mulai melirik kota cantik ini. Sumenep memiliki potensi wisata yang luar biasa. Sebut saja pantai lombang dengan cemara udangnya, keraton, dan makam asta tinggi. Kota ini juga dikelilingi sentra tradisional yang menawan dan belum banyak diekspos, seperti batik, seni topeng, dan ukiran kayu.

Banyak investor melirik Sumenep, termasuk investor di bidang real estate. Mereka mulai memborong tanah pertanian di sepanjang jalan besar, mulai jalan beraspal memasuki kota Sumenep hingga yang menuju obyek wisata Asta Tinggi. Pemilik tanah yang dulu mengira harga tanah mereka hanya Rp 15000-Rp25000 pun diming-imingi harga tinggi. Kini per meter persegi tanah mereka dibeli dengan harga Rp100000-Rp 200000. Maka banyak tanah produktif yang semula menjadi areal pertanian kini beralih tangan ke para developer. Akibatnya bisa diduga, para petani tradisional pun kehilangan lapangan kerja. Tak ada lagi lahan yang bisa digarap.

“Dulu pemilik tanah menitipkan tanahnya ke petani dengan sistem bagi hasil. Tapi sekarang mereka sudah menjualnya buat proyek perumahan,” begitu keluh Abdul Muhajir, tukang ojek yang mengantar saya berkeliling. Muhajir amat menyesalkan hal ini. Karena lahan pertanian ini aktif berproduksi sepanjang tahun. Bisa menghasilkan padi, tembakau, dan sayuran. Kalau lahan pertanian ini berpindah tanah, maka orang Sumenep akan menggantungkan produk pangannya dari luar. Lebih dari itu, akan banyak petani yang kehilangan lapangan pekerjaannya.

“Mau kemana petani ini kalau tak ada kerja? Paling-paling ke Malaysia jadi tki,” tukas Muhajir sambil geleng-geleng kepala. Padahal, tujuan dibukanya Suramadu untuk meningkatkan ekonomi Pulau Madura, bukan mengusir penduduk asli keluar dari tanah kelahirannya dan menjadi tki. Andai bisa bersuara, para petani ini pasti akan menjerit, minta tanah garapannya dikembalikan.

Advertisements