Beberapa waktu lalu, sepulang dari Karimun Jawa, saya dan kawan sengaja bermalam di kota Jepara. Kami ingin menjajal kota ‘Kartini’ itu sekaligus mengunjungi museumnya yang kesohor.

Museum Kartini ternyata terletak di tengah kota, tepatnya di Jalan Alun-alun No.1. Bentuknya sederhana, berupa bangunan rumah biasa. Kalau tak membaca papan nama yang bertuliskan Museum RA Kartini mungkin kami takkan tahu kalau itu sebuah museum.

foto : dok. ary amhir

Ketika kami tiba, museum sangat sepi. Dengan ragu, saya dan tiga kawan masuk. Rupanya museum selalu sepi pengunjung, sama seperti nasib museum lainnya di Indonesia. Setelah membayar karcis Rp 2000, kami pun dipersilakan masuk.

Sekilas, saya baca brosurnya bahwa  museum ini dibangun di atas lahan seluas 5.210 meter persegi, dan terdiri dari empat ruang.

Ruang pertama berisi koleksi peninggalan Kartini seperti foto-foto Kartini, perkakas rumah tangga, juga radio, mainan, piring, hingga kereta kayu.

Ruang ini sungguh sesuai untuk kilas balik mengenang hidup Kartini. Memahami perjuangan Kartini mendobrak tradisi walau akhirnya menyerah dengan menikahi lelaki yang sudah beristri. Meski berhasil mendirikan sekolah buat perempuan, hidupnya berakhir tragis setelah melahirkan bayinya. Sebuah kontradiksi yang menjadi bahan perenungan dan pemikiran.

Ruang kedua berisi segala hal yang berkaitan dengan RMP Sosrokartono, sedang dua ruang berikutnya memamerkan barang peninggalan  sejarah di kabupaten Jepara beserta aneka kerajinan Jepara.

Saya ingin bercerita tentang ruang kedua yang istimewa di mata saya. Yah, memasuki ruang kedua mata saya tercekat dengan sebuah tulisan di papan kayu. Isinya,

Dan siapakah yang lebih banjak dapat berusaha memajukan kecerdasan budi itu. Siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia ialah wanita. Ibu. Karena haribaan ibu itulah manusia mendapatkan didikannya yang mula-mula sekali.

ruang kartini /dok.pribadi
ruang kartini /dok. ary amhir

Sungguh penulisnya sangat menghargai harkat seorang ibu, wanita, begitu pikir saya. Rupanya tulisan ini buah pikiran Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak Kartini. Seperti Kartini, Kartono juga cerdas. Kecerdasan yang mereka wariskan secara turun temurun dalam keluarga. Kakek dari pihak ibu, KH Madirono, adalah seorang guru agama di Telukawar, Jepara.

Kartono merupakan orang Indonesia pertama yang kuliah di Universitas Leiden, Belanda. Dia sarjana Indonesia pertama. Dia juga menguasai sekitar 25 bahasa asing, bahkan menyandang beberapa jabatan diplomatik di Eropa. Kartono sempat menjadi koresponden New York Herald saat berkecamuk perang dunia pertama di Eropa. Mungkin dia juga wartawan Indonesia yang pertama.

Setelah menghabiskan 29 tahun hidupnya di Eropa sejak 1897, Kartono akhirnya kembali ke Indonesia. Jadi ketika Kartini wafat tahun 1904, Kartono sedang melanglang buana ke Eropa.

Apa yang memanggil Kartono pulang ke Indonesia ? Apa benar dia hanya ingin mengamalkan ilmu dan pengalaman yang didapatnya di Eropa, atau ada hal lain yang lebih penting? Pertanyaan itu lagi-lagi mencuat dari pikiran saya.

Ketika kembali ke Indonesia, Kartono mendirikan sekolah dan perpustakaan. Dia melanjutkan cita-cita Kartini untuk mencerdaskan bangsanya. Kartono juga membuka rumah pengobatan Darussalam di Bandung. Dia kemudian lebih dikenal sebagai dokter air putih, karena selalu mengobati pasiennya menggunakan air putih.

Memasuki ruang kedua museum, aura Kartono begitu melekat. Semua benda Kartono tersaji di sini, termasuk ruang semedi. Pelan saya rasakan hawa dingin berhembus di kulit tangan dan pipi. Suasana lebih mirip sunyi ketimbang tenang. Saya banyangkan seorang lelaki tampan bermata tajam dengan gaya bangsawan Jawa yang anggun menatap langkah kaki saya. Tatapannya mampu membaca apa yang ada di otak saya, termasuk kegelisahan terdalam saya.

Itulah mata lelaki tampan yang pernah gundah karena lama hidup di negeri orang. Mata lelaki yang tak berdaya memperjuangkan nasib adiknya sendiri. Mata lelaki yang egois karena memilih menghabiskan sebagian besar masa mudanya di Eropa ketimbang mengabdikannya di tanah airnya.

lukisan RPM Sosrokartono/dok.pribadi

foto: ary amhir

Penyesalannya ini kemudian ditebusnya dengan mengabdikan sisa hidupnya untuk bangsanya. Sebagai pendidik, tabib, dan penolong, dia mencoba mengangkat penderitaan para jelata di sekitarnya.

Ini dia lelaki tampan yang begitu hormat dan memuja ibunya, MA Ngasirah. Lelaki tampan yang pasrah melihat ayahnya RM Adipati Ario Sosroningrat, menikahi perempuan lain  demi mendapatkan jabatan Bupati Jepara. Lelaki yang kemudian memilih melajang hingga akhir hidupnya.

Ini juga lelaki yang lalu menjadikan Kartini sebagai sumber inspirasi. Yang mengabdikan sisa hidupnya untuk negaranya, yang sabar menerima kecaman bangsanya sebagai komunis, padahal lebih tepat dirinya disebut humanis. Lelaki yang didera kelumpuhan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 1952. Kalau jasa adiknya Kartini begitu diagungkan, sedang jasa Kartono dibiarkan hilang tanpa jejak.

Ketika meninggalkan ruang kedua, mata saya lekat menangkap sebuah tulisan ‘Kemenangan seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri’. Tulisan yang mengingatkan bahwa perjuangan bangsa masih panjang, karena masih dalam proses  menemukan jati diri keindonesiaannya.

Sore itu, ketika meninggalkan Jepara menuju Jogjakarta, pikiran saya tak pernah lepas merenungkan kata-kata bijak Kartono. Saya belajar banyak hal darinya.