Ada lima buku yang harus saya baca dan baca ulang karena kebutuhan, jadi bukan semata karena haus pengetahuan atau punya waktu luang. Kelima buku tersebut adalah :

  1. Manusia Langit, sebuah novel etnografi karya JA Sonjaya terbitan Kompas Tarian Ombak
  2. Novel karya Gerson Poyk terbitan Kakilangit Keliling Indonesia
  3. Sebuah catatan perjalanan karya Gerson Poyk dan diterbitkan libri
  4. Jonathan Livingstone Camar karya Richard Bach dan diterjemahkan oleh Balai Pustaka
  5. Henry David Thoreau: The Man Who Would Be Free, karya James Playsted Wood dan diterbitkan oleh Ladder Edition

Buku yang saya rencanakan bisa tuntas terbaca selama bulan Desember ini ternyata hanya terjamah beberapa lembar saja. Saya bingung mau mulai dari mana, semua nampak menarik. Namun setelah membaca beberapa lembar, kadang timbul rasa malas, jengah, bosan. Jadilah saya berlama-lama pindah dari satu bab ke bab lain.

Saya beli ‘Manusia Langit’ karena ingin tahu jenis novel etnografi itu seperti apa. Rupanya buku ini berisi kisah seorang arkeolog yang melakukan penelitian purbakala ke Nias. Di sana dia mengalami perbenturan masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai tradisi yang dikandung orang nias. Bisa saya simpulkan, etnografi di sini memang merujuk kepada suatu etnis, etnis Nias. Jadi berbeda dengan etnografi sebagai metode penelitian, karena ada novel etnografi yang tak berhubungan dengan etnis tertentu.

Buku ‘Camar’ dan ‘Thoreau’ merupakan koleksi lama saya. Saya tertarik membaca ulang guna menggali ingatan sekaligus menambah wawasan pada artikel yang hendak saya tulis. Saya kagum kepada Thoreau yang sudah menerapkan harmoni dengan alam dalam kehidupannya pada abad 18. Saya suka jalan kebebasan yang ditawarkan Camar, agar tidak takut berbeda dari orang lain demi mencapai prestasi tertinggi.

Tentang Gerson Poyk, saya baru mencari-cari bukunya setelah seorang teman bercerita tentang kepiawaian Gerson menggambarkan Halmahera dalam salah satu bukunya, ‘Sang Guru’. Sayang buku lama tersebut tak terlacak, tapi saya menemukan ‘Tarian Ombak’. Gaya bercerita Gerson yang khas, agak menjemukan kadang, saat melukiskan istri yang bengis, membuat saya kerap jengah. Novel TO begitu kaya akan fantasi, padahal selera saya membumi. Ini memperlambat saya membaca. Kadang saya hanya membolak-balik halamannya saja.

Beruntung buku kedua, sebuah catatan perjalanan, amat menarik dan jenaka. Gerson berkisah tentang pengalamannya sebagai wartawan yang meliput ke berbagai tempat di Indonesia. Walau gaya penulisannya personal, namun buku ini sangat memikat, humanis, dan segar. Kapan lagi saya yang suka berpetualang ini bisa belajar menulis humoris dan tricky ala Gerson.

Saya tak berani berjanji kelima buku itu akan tuntas saya baca Januari. Sebuah novel Laura Esquivel yang tipis dan menurut kawan memikat saja, ‘Like Water for Chocolate’ baru saya tuntaskan enam bulan. Saya memang pembaca yang malas.

Advertisements