Tak ada yang paling kutunggu seperti saat berbelanja ke  Pasar Colmera. Tak semegah Plaza Indonesia memang karena bentuknya lebih mirip Pasar Palmerah. Tapi inilah pasar tradisional terbesar di Dili. Di sini aku bisa menemukan aneka barang dan kebutuhan asli Indonesia. Mulai sabun, sampo, rokok, hingga sayur-mayur, buah, dan bumbu dapur. Itulah sebabnya di awal bulan, setelah menerima gaji, bersama kawan-kawan aku selalu berbelanja ke sini. Sekedar menyalurkan rasa kangen barang rumahan dan menemukan suasana lain.

Terletak di tepi jalan besar Rua Sao Sebastiao, hiruk-pikuk pasar sudah dimulai sejak pukul enam pagi dan baru berakhir pukul sepuluh malam. Di kedua ruas jalan ramai orang menjajakan  sayur-mayur, tempe, tahu, dan buah, berhimpitan dengan para pebelanja, dan taksi yang lalu-lalang menawarkan jasanya kepada mereka yang selesai berbelanja. Bagi mereka yang punya sedikit waktu, berbelanja di pinggir jalan cukup sudah. Namun yang punya banyak waktu dan sedang mencari barang dengan harga murah, akan memilih berjalan masuk ke dalam pasar. Setelah melalui los-los penjual sayur, buah, tembakau yang cukup panjang, menjorok hingga lebih 200 meter, akan kita temui kios-kios belanja seperti yang banyak terdapat di pasar-pasar di Jawa.

kalau ini gambar pasar di beccora

Di sinilah aku bisa menemukan sayur ala Indonesia, tak hanya daun ubi, pepaya, atau kubis dan wortel yang sehari-hari kami makan. Kami juga menjumpai ketimun, selada, kacang panjang, kecambah, terung, dan lainnya. Aneka bumbu dapur seperti lada, ketumbar, kemiri, laos, kunir, sereh, terasi, dan daun salam, komplit tersedia. Untuk sayur dan buah, harganya bisa 5-10 kali lipat harga di Indonesia. Seikat besar bayam misalnya, dijual tiga dolar Amerika, setara dengan Rp. 30.000. Bandingkan harganya yang hanya Rp. 3000-5000 di pasar Tanah Abang. Lima biji tomat buah juga tiga dolar, bandingkan dengan harga tomat yang Rp.5.000 sekilo di Hero. Harga sayur dan buah di Dili memang selangit, begitu juga tempe dan tahu. Enam potong tahu putih tiga dolar, 3 plastik tempe ukuran sedang jugatiga dolar. Bayangkan kalau kocek tak cukup tebal, mana mungkin bisa berbelanja setiap hari ke sini. Kami pun hanya kemari 1-2 kali sebulan. Di hari biasa kami lebih memilih berbelanja ke pasar dekat rumah yang lebih kecil walau harganya relatif mahal. Sedikitnya pilihan di sana membuat mata tak gatal membeli semua.

Di antara penjual sayur dan buah, ada kios-kios yang menjual kebutuhan sehari-hari seperti sampo, sabun, kecap, minyak goreng, gula, beras, telur, aneka biskuit, sirup, mi instan, yang semuanya buatan Indonesia. Memang tak semua merk Indonesia ada di sini. Umumnya yang dijual adalah mek terkenal dan laku di Timor Leste. Mi instan misalnya, hanya ada merk indomie dan supermie. Sirup merk ABC, sabun mandi merk lux, giv, sampo merk sunsilk dan clear, sedang pasta gigi merk pepsodent. Harga aneka barang ini bervariasi, biasanya dua-tiga kali lipat harga di Indonesia. Sabun lux misalnya dijual tiga dolar untuk empat buah, sampo lima dolar untuk ukuran 300 ml. Sedang gula dua dolar untuk sekilonya.

Tak hanya kebutuhan pangan, kebutuhan sandang pun didatangkan dari Indonesia. Tentu saja yang dijual di pasar adalah sandang kelas kambing. Tapi harganya tetap dua-tiga kali lipat harga di tanah air. Aneka daster dan celana batik kelas Malioboro ada di sini, juga berbagai sandal dan sepatu. Juga ada aneka bedak dan kosmetik seperti pounds krim pemutih, bedak johnson, dan lainnya. Harganya bisa tiga hingga lima kali lipat harga Indonesia.

Mungkin yang asli produk Timor Leste di pasar ini adalah aneka ikan dan daging segar, seperti daging ayam dan sapi. Sekilo daging sapi dijual antara lima hingga delapan dolar, daging ayam dijual perekor. Seekor ayam biasanya dihargai lima dolar.

Banyak orang memilih belanja ke Pasar Colmera di malam hari agar mendapatkan harga yang murah. Seikat kacang panjang di malam hari hanya dihargai dua dolar, begitu juga cabe dan tomat segar dijual separo harga. Para pemilik rumah makan, warung makanan, biasanya memilih berbelanja di malam hari untuk menghemat anggaran. Favorit kami adalah membeli tempe di los paling ujung. Rasa tempenya enak dan cocok dengan selera, maklum penjualnya orang Jawa yang terjebak tak bisa kembali ke Indonesia paska jajak pendapat dulu. Banyak orang Jawa yang terjebak dan menjadi penjaja makanan di Pasar Colmera. Mereka berjualan nasi, aneka penganan, dan makanan khas seperti tempe dan tahu.

Pasar Colmera hanyalah contoh sederhana ketergantungan ekonomi orang Timor Leste terhadap barang buatan Indonesia. Mata uang boleh dolar Amerika, pemerintahan boleh berkiblat pada Portugal dan anggaran belanja bergantung pada bantuan Umniset, namun untuk memberi makan perut jutaan rakyat Timor Leste, mau tidak mau, diakui atau tidak, mereka amat bergantung pada tetangga terdekatnya, Indonesia. Tetangga yang sempat dimusuhi, dibenci, dan jadi sasaran balas dendam warganya di awal pemisahan paska jajak pendapat. Mustahil rasanya untuk memberi makan perut jutaan rakyat Timor Leste harus mengimpor makanan dari Australia atau Portugal, sementara rakyat negeri ini belumlah mampu menyokong kebutuhan hidupnya sendiri.

Kondisi ini rupanya amat disadari oleh Xanana Gusmao, bapak Timor Leste yang pernah menjadi Presiden. Itulah sebabnya dalam setiap wawancara dan pidato, Xanana selalu berkata Indonesia tetangga dan sahabat Timor Leste, bukan musuh. Akankah kesadaran ini mampu menghapus kebencian sebagian mereka yang bercokol di pemerintahan sekarang? Entahlah, yang jelas Timor Leste takkan bertahan dalam kebencian, tanpa mampu membangun ekonominya sendiri.