Bagi masyarakat Kasepuhan Banten Kidul di Desa Sirnaresmi, lereng Gunung Halimun, hidup bergulir bak siklus padi. Karena aktivitas sehari-hari mereka tak bisa lepas dari ‘titisan’ Dewi Sri. Padi tak sekadar menjadi makanan pokok, namun sudah menjadi roh kehidupan itu sendiri. Roh yang membuat manusia menghargai alam.

Fajar baru merekah, namun Nini Lendah sudah sibuk luar biasa. Sebagai canoli padaringan (tukang nyiuk beras),  dia harus mengambil beras dari leuit (lumbung padi) desa untuk dimasak oleh para wanita yang dipimpin Ibu Samariya, bagi seluruh desa. Walaupun sibuk, semua senang hati merayakan panen, puncak upacara adat Seren Taun.

Di rumah Abah Ajat, kokolot (kepala adat) kasepuhan, para tamu terus berdatangan. Mereka adalah warga kasepuhan yang tinggal di luar Desa Sirnaresmi. Ada yang dari Bogor, bandung, Jakarta, bahkan luar Jawa. Mereka membawa persembahan berupa hasil panen atau bahan makanan, sebagai tanda pengakuan atas kekuasaan Abah Ujat, sekaligus menghadiri upacara yang berlangsung sekali setahun ini.

Warga yang lain berkumpul di tanah lapang. Sebagian menikmati sisa-sisa keramaian pasar malam yang digelar semalam. Yang lelaki mengenakan pakaian adat berupa ikat kepala, kemeja putih dan celana hitam. Sedang yang perempuan berkebaya. Barisan penari dan pemusik tanjidor pun siap mengiringi acara ampih pare ka leuit (memasukkan padi ke lumbung).

Panen setahun sekali

Masyarakat kasepuhan boleh bangga, ketika krisi ekonomi melanda Indonesia, dampaknya nyaris tak mereka rasakan. Tak satu pun di antara mereka yang kelaparan, karena persediaan padi melimpah. Padahal mereka cuma menanam padi setahun sekali. Namun hasilnya mampu mencukupi lebih 4000 jiwa penduduk desa. Bagaimana mungkin?

foto sudah laku, tinggal covernya saja/dok. ary amhir

“Kami tak pernah menjual padi. Pamali itu, melanggar adat,” jelas Bukhori, sekretaris adat sekaligus juru sawah kasepuhan.  Berdasarkan hukum adat yang mereka anut sejak abad ke-16, padi harus disimpan di leuit (lumbung). Ada leuit pribadi yang dimiliki setiap rumah, ada pula leuit milik desa. Setiap warga wajib menyerahkan padi ke leuit desa. Dan padi ini hanya bisa diambil untuk keperluan desa. Pada saat upacara adat misalnya, atau ketika ada bencana kelaparan. Pantas kalau warga tak pernah kelaparan.

Padi bagi warga Halimun bernilai sakral, karena itu tak boleh diperjualbelikan. Menanamnya pun harus dilakukan pada waktu tertentu. Bahkan sejak benih ditanam hingga siap dipanen selalu diiringi dengan upacara adat. “Agar mendapat berkah dari Tuhan yang Maha Kuasa,” begitu alasan Bukhori. Karena menjadi makanan pokok, padi harus diperlakukan dengan rasa hormat dan kasih sayang.

Benih yang ditanam merupakan jenis padi lokal. Setidaknya ada 52 jenis, terdiri dari padi putih dan merah. Masyarakat kasepuhan percaya bahwa menanam padi lokal lebih menguntungkan ketimbang padi jenis unggul. “Bulirnya besar-besar. Walau hanya sekali panen, hasilnya tak kalah dengan yang dua tiga kali panen dalam setahun,” tambah Andri, anggota Rimbawan Muda Indonesia yang punya program di desa ini.

Ada seorang peneliti IPB yang meneliti pola pertanian di Sirnaresmi. Menurutnya padi lokal lebih tahan terhadap hama, mudah perawatannya, tak butuh pupuk kimia, dan rasanya pun ena asal langsung dimakan begitu selesai ditanak. Pertanian organis rupanya sudah lama diterapkan di kasepuhan.

Peduli lingkungan

Patuh pada hukum adat bukan berarti hidup secara bar-bar atau ketinggalan zaman. Justru sebaliknyam berkat menganut hukum nenek moyang inilah, warga kasepuhan dapat bertahan hingga sekarang. Ini karena hukum warisan Kerajaan Pakuan Sunda ini sejalan dengan alam, Para warga diajak menghargai lingkungan tempat tinggalnya sejak dini.

Contoh betapa serasinya hukum adat dengan alam adalah pada pengaturan hutan. Orang kasepuhan mengenal tiga jenis hutan: leuwang kolot atau hutan tua, leuwang sempalan, dan leuwang titipan atau hutan keramat. Warga hanya boleh menjamah leuwang sempalan, sedang leuwang titipan hanya boleh digunakan jika ada perintah nenek moyang. Dengan begitu bencana banjir akibat erosi hutan tak mereka kenal.

Ironisnya, 37.000 ha kawasan hutan yang dikelola pihak perhutani di desa ini justru kondisinya rusak berat. Warga kasepuhan juga terampil memanfaatkan tanag. Tak ada tanah pekarangan yang kosong. Semua disulap menjadi kebun sayur, kandang ayam dan kambing, serta sedikit taman bunga-bunga. Sementara tanah yang dekat sungai atau sumber air dijadikan empang. Dengan begitu mereka memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, tak bergantung pada pihak luar.

Dalam membangun dan mengatur rumah pun, prinsip memanfaatkan alam mereka jalankan. Banyak rumah warga yang dibangun dengan kayu atau bambu. Ruang tamu biasanya berupa hamparan tikar bambu, untuk memasak mereka menggunakan tungku dan kayu bakar. Rumah dibangun berbentuk panggung dengan ketinggian beberapa cm dari atas tanah. tujuannya untuk menghindari hewan berbisa seperti ular dan kelabang. Atap rumah terbuat dari daun rumbia agar bisa menyesuaikan diri dengan cuaca yang berubah-ubah. Dengan begitu, kala di luar panas menyengat, di dalam rumah justru berasa sejuk. Dan jika hujan mengguyur, di dalam rumah terasa hangat.

Meski kampungnya menjorok ke dalam, penduduk kasepuhan terbuka menerima pengartuh luar. Mereka tak menolak tata pemerintahan seperti kelurahan, asal tak mencampuri hukum adat. Mereka juga menerima uluran tangan bidan desa dan dokter, meski ada dukun yang mengobati orang sakit, atau ma beurang yang menolong ibu-ibu melahirkan. Posisi seorang guru amat mereka hormati. Mungkin karena mereka sadar masih banyak penduduk yang buta aksara. Lulusan SMA cuma satu dua di Desa Sirna resmi.

Sebetulnya desa di Kecamatan Cisolok Sukabumi, Jabar ini tak benar-benar terasing. Kita bisa menjangkaunya dengan bus atau angkot jurusan Pelabuhan Ratu-Pasir Cikuray, lalu turun di Cicadas. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1,5 km. Para tamu yang datang, terutama di saat upacara adat akan disambut dengan ramah. Mereka bisa tinggal di rumah tetua kampung dan belajar indahnya hidup berdampingan dengan alam dari masyarakat yang sederhana ini. (Tulisan ini pernah dimuat di majalah Familia).

 

Advertisements