Kabut mulai turun ketika kutinggalkan Curug Atin, sebuah air terjun alami di lembah yang mengapit dua bukit di Cijapun. Areal bekas perkebunan teh dan karet Cihaur ini memang kurang mendapat panas matahari. Di musim angin barat seperti ini, kabut turun dengan cepat. Angin pun sibuk menyapa. Lokasinya yang di ujung barat selatan jawa, dekat dengan Pelabuhan Ratu, membuat cuaca jarang ramah di Februari ini.

Kawanku sudah tak sabar menungguku berlambat-lambat dengan pemandangan sekitar. Dia bergegas meninggalkanku melalui areal persawahan sederhana di lembah bukit, berjalan menyusur perkebunan teh tua, menuju pondok tempat kami tinggal. Yang disebut pondok itu sebenarnya tiga rumah kecil berdinding anyaman bambu, tempat pekerja tinggal.

Ini adalah kunjungan pertamaku ke Cijapun. Selama hampir dua minggu aku tinggal di padepokan seorang petani yang menyebut dirinya malas. Oya, dia memang malas. Dan sepengamatanku, dia juga bukan petani biasa, baik dilihat dari jam kerja maupun kebiasaannya  sehari-hari.

Baiklah kuceritakan sedikit. Selama tinggal dengannya, kuamati si petani akan mulai tidur pukul 3 pagi, setelah menghabiskan berjam-jam waktunya di depan komputer, entah itu onlen entah menggarap cerita komik pesanan lsm lingkungan.

Curug Atin

Sekitar pukul 7 pagi dia akan terbangun, mencuci muka dan mulut, lalu menyeduh kopi panas (saya dengar dia sekarang sudah berhenti ngopi, diganti teh rakyat). Setelah merasa otaknya ‘melek’, yang pertama disentuhnya adalah komputer, browsing beritalah, cek emaillah, inilah, itulah.

Setelah matahari dirasanya mulai menghangat, si petani segera berganti kostum kerja, memasang sepatu sampahnya –kusebut demikian karena teringat pasukan kuning di kotaku yang selalu mengenakan sepatu dari plastic warna hitan dan tingginya hampir  menyentuh lutut– lalu menuju kebun. Parang disarungkannya di pinggang, pacul dipanggulnya, dan ikat kepala merah di kepalanya yang berambut panjang. Selalu begitu.

Aku tereringat para petani di tanah nenekku Jawa Timur. Di sana, petani berangkat ke sawah di pagi buta, tanpa alas kaki. Kemarin ketika mengunjungi Desa Blank Dalam di Aceh, orangtua kawanku yang petani sudah memulai aktivitasnya pukul 6 pagi, menuju sawah dengan bersandal jepit. Begitu mencebur ke tanah, kaki pun telanjang. Hari-hari mereka habis buat mengolah kebun dan sawah, sejak matahari terbit hingga terbenam. Nyaris tak ada waktu luang. Sungguh berbeda dengan petani kawanku satu ini.

Menjelang makan siang, sekitar pukul 11.30 wib kawanku akan kembali ke pondok. Ini waktu rehat, katanya. Maka dia duduk-duduk sambil minum kopi dan merokok. Begitu juga dengan para pekerja. Mereka menunggu hidangan nasi panas sebakul, plus sambal, kadang tahu atau ikan goreng dari empang, dan dedaunan mentah. Usai bersantap siang, mereka masih santai. Jelang pukul dua, jika cuaca terang, kembali mereka bekerja. Namun jika hujan, aktivitas bertani dilanjut keesokan harinya.

Pada saat itulah kulihat kawanku tenggelam di dunia maya. Memberi komentar pada satu dua blog yang memuat artikelnya, menyapa lewat jejaring social, kadang juga tidur sebentar. Jelang sore dia kembali berkebun. Mungkin dia sibuk menabur benih, mungkin juga mengaduk-aduk kompos, bisa jadi malah memeriksa kambing di kandang. Jelang maghrib dia akan memecah-mecah ubi kayu dengan lading, lalu memberi makan itik. Usai maghrib kembali dia berkutat di depan komputer hingga dini hari. Mencangkul di dunia maya, begitu alasannya.

Kadang acara mencangkul ‘maya’ ini diselingi petikan gitar, atau pembacaan dongeng tentang leluhurnya. Dia senang mengenang kampung halamannya. Keterikatannya dengan tradisi leluhurnya amatlah kuat. Petani memang tak bisa lepas dari ranah leluhurnya, tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Apalagi jika dia berasal dari keluarga petani. Laku hidup itu sudah ada dalam darah, dan siap dimuntahkan. Begitu ku memaknai hidup kawanku ini.

Makna Malas

Pernah kutanyakan makna di balik kata ‘malas’ itu. Kawanku lalu menunjukkan beberapa tulisannya tentang konsep petani jahat yang meliputi malas, pelit, serakah, sombong, dan berburuk sangka. Apa isi di balik ulasannya ini, silakan saja baca kisah Jadi Petani Mesti Jahat atau Petani Mesti Pelit ini.

Sekilas kupahami kemalasan sebagai mandirian. Petani malas adalah petani yang menolak dijadikan komoditas, entah sebagai konsumen pupuk buatan pabrik, konsumen obat penyemprot hama, atau bebenihan.  Mandiri berarti juga mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Ah, jadi teringat  ajaran Mahatma Gandhi tentang swadeshi, kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri kala rakyat India dijajah Inggris.

Beternak Itik

Pemikiran Gandhi dipengaruhi oleh David Henry Thoreau. Ya Thoreau, filsuf dan naturalis awal abad ke-19 ini dipuji karena keberaniannya melawan adat. Thoreau melepaskan diri dari ikatan masyarakat akademis di sekitarnya. Lulusan Harvard ini memilih hidup di tepi hutan, tinggal di sebuah pondok kayu, dan mengolah sepetak tanah untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Thoreau percaya alam telah mencukupi semua kebutuhan manusia.

Yang kusuka dari Thoreau adalah ajakannya agar manusia menggunakan sehari dalam seminggu untuk bekerja mencari uang, sedang sisa hari dihabiskan untuk menyenangkan diri dan jiwanya. Bandingkan dengan ajakan sehari mengingat Tuhan dan sisanya mengumpulkan materi, betapa jauh bedanya hahaha..

Kupandang kawanku. Nampak malas namun otaknya berputar keras. Andai tanah yang dikelolanya subur, tentu azas petani malas dan jahat alias organik yang diterapkannya akan berjalan mulus. Namun lahan di sini kritis, yang tanahnya  rusak secara fisika, kimia dan biologi  akibat terlalu lama dikepung tanaman monokultur, teh. Lahan di sini dulunya ada yang menjadi kebun pembibitan teh, ada yang bekas perkebunan teh, ada juga kebun teh yang terbiar. Tanah di sini tingkat keasamannya tinggi. Untuk memulihkan kondisi tanah seperti semula secara alami tidaklah mudah, butuh waktu yang relatif lama.

Kubaca laporan yang diangsurkannya. Selama 3 tahun mengelola lahan kritis ini, baru 30 ha dari 40 ha lahan di sini yang tersentuh. Itu pun baru 5 ha lahan yang mulai menunjukkan hasil. Apa saja yang telah dilakukannya untuk mengembalikan kesuburan tanah, bisa dilihat pada kisah tentang Climate Change in Cijapun.

Mengelola lahan kritis yang luas butuh dana besar untuk membeli bibit, membayar upah pekerja, dan pengeluaran sehari-hari. Kebun belum mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Walau ketika panen pisang datang, pisang diolah menjadi kripik lalu dijual ke warung makanan sekitar. Walau ketika panen papaya, buahnya dijual ke Bogor dan Jakarta. Ada banyak hambatan untuk memasarkan hasil kebun.

Pisang di kebun misalnya, kerap dicuri, sehingga hasil panen pun berkurang. Pepaya yang masak baru efektif dijual ke Jakarta jika jumlahnya minimal satu mobil pick-up. Kalau kurang dari itu, berat diongkos, sehingga keuntungan pun berkurang, bahkan merugi. Andai lokasi Cijapun dekat dengan pasar, mungkin bisa setiap hari menjual hasil kebun seperti sayuran, ubi, buah. Jarak rupanya berpengaruh terhadap bea transportasi dan pemasaran. Namun hambatan ini pantang melemahkan semangat kawanku.

Seperti daerah Indonesia lainnya, petani  di Jawa Barat Daya ini kurang dilirik keberadaanya.  Banyak angkatan muda desa lebih suka menjadi kuli bangunan di Jakarta atau mendaftar sebagai tki/tkw di luar negeri ketimbang bertani. Mental instan masih menguasai mereka.

Maka, tegak menjadi petani malas sungguh pilihan yang berani sekaligus susah. Walau tak ada kamus gagal, namun kemajuan lambat diraih. Alam yang sakit butuh waktu mengobati dirinya sendiri.

Memandang kawanku sambil meninggalkan Curug Atun sore itu, kulihat masa depan tanah ini. Menghijau kembali, subur, dan terpelihara. Air melimpah, hutan menjelma, dan marak orang datang tuk belajar sambil mencari tetumbuhan yang mulai menghilang. Adakah aku bermimpi?

Juga dimuat di kompasiana. Maaf lagi mentok!

Advertisements