Batik Madura

Ini perjalanan saya yang entah ke berapa puluh kali ke pulau garam. Pukul delapan setengah kami berempat meninggalkan Jolotundo, Surabaya, menuju Jembatan Suramadu. Padat merayap, begitu suasana jalan. Untungnya ketika memasuki jembatan antar pulau terpanjang se-Asia Tenggara itu, jalan berubah menjadi bebas hambatan. Tujuan kami jelas pagi ini, mencari batik madura.

Keluar dari Jembatan Suramadu, mobil diarahkan ke kota Bangkalan. Rencananya dari Arosbaya kami menuju Tanjung Bumi, desa yang dikenal dengan kerajinan batik tulis maduranya. Belakangan ini batik madura naik pamor dibanding kawannya batik jawa. Kenapa? “Batik madura berani bermain di detil, perniknya banyak dan warnanya ngejreng,” kata teman saya yang keturunan Madura.

Benar juga. Di jejaring sosial macam fesbuk, banyak dipasarkan batik madura dengan harga ratusan ribu. Di pameran dan mal-mal, kerap diusung pameran batik madura. Harganya mulai Rp150.000 hingga jutaan rupiah. ‘Halah,’ pikir saya, ‘batik kok mahal amat. Mending duitnya dibelikan nasi pecel atau bebek, bisa kita makan enak selama sebulan.’

Namanya juga pelesiran dengan mak-mak, kali ini yang diburu batik dengan harga miring. Sebelum menuju Tanjung Bumi yang terkenal dengan batik gentongnya, kami berencana mampir ke Pasar Bangkalan. Ternyata ketika melewati Jalan Raya Ketengan, kawan saya Indry sudah mengajak berhenti. Dia hendak singgah di sebuah toko batik di pinggir jalan.

Memasuki toko Sumber Rejeki, kami celingukan mengintip harga. Di luar dugaan, harga batik yang dipajang relatif murah. Batik cap-capan misalnya dijual sekitar Rp60.000 – Rp65.000 untuk kain sepanjang 2,6 meter. Sedang batik tulis mulai Rp75.000, tergantung kerumitan motifnya. Batik warna hijau justru lebih mahal harganya. “Karena proses pembuatannya lebih susah, Mbak,” kata si penjual.

Merasa baru sekejap masuk kawasan Madura, Indry enggan belanja. Hanya cuci mata, membandingkan harga. Dasar mak-mak! Di toko kedua harga batik dibandrol mahal. Paling murah Rp150.000. Yang menyebalkan, baru saja kami menginjakkan kaki di toko itu, sudah ditanya dua lelaki penjaganya,”Orang Jakarta, ya?” Seolah-olah dengan mencap kami orang apa, dia bisa menentukan harga seenak udelnya. Menyebalkan!

Oya, ada keanehan yang saya amati. Setiap kali memasuki toko, kami mesti melepaskan alas kaki. Iya, ini aturan wajib yang tak tertulis. Naik ke lantai toko, copot sepatu, sandal, atau apapun. Jadi jangan coba-coba melanggar. Mungkin karena di lantai toko itu pemilik dan penjaga menggelar karpet, duduk-duduk, bahkan tiduran menunggu datangnya pembeli.

Puas melihat dua toko, kami putuskan memacu mobil ke Pasar Bangkalan, tapi lupa arah. Kiki pun turun dari mobil, bertanya kepada seorang pejalan kaki. “Pak, dimana letak pasar?” tanya Kiki.

“Pasar lama atau baru?” balik yang ditanya.

“Kalau pasar baru dimana?” tanyanya kebingungan. Lelaki itu memberinya ancer-ancer, arah yang harus dituju.

“Kalau pasar lama?”

“Pasar lama sudah tutup.” Ndagel!

Hari itu Rabu, pasar sepi. Kami segera menuju kios batik pertama yang tertangkap mata. Seorang lelaki muda dan 2-3 penjaga menyambut kami. Ramah sekali dia, bagus pelayanannya. Dia menunjukkan semua jenis batik madura, mulai yang termurah hingga yang termahal. Rupanya dia tak mau menipu pembeli, segera ditunjukkannya mana batik cap-capan mana yang lukisan tangan atau batik tulis. Termasuk, mana batik yang dibuat di atas kain halus atau kain murahan.

Indry, yang sejak awal mau memborong batik buat temannya, tak henti mencecar lelaki itu dengan pertanyaan. Mulai dari motif,  harga, hingga komentarnya yang super cerewet. Namun lelaki itu meladeninya dengan sabar. Sungguh berbeda dengan penjual asli Madura pada umumnya. “Saya dulu pernah kuliah, jurusan ekonomi. Lulus!” katanya. ‘Pantas,’ pikir saya, ‘karena dia begitu terbuka dan bersahaja. Berbeda dengan tipikal orang Madura pada umumnya.’

Secara garis besar, Jauhari, nama pemilik Toko Merdeka ini, menjelaskan batik madura memiliki kekhasan tersendiri. Selain warnanya ngejreng, kerap dalam selembar kain berpadu dua warna yang kontras seperti hitam dan merah atau hijau dan hitam. Batiknya juga ekspresif, dibuat dengan teknik colaten yang kasar dan tidak rapi.

“Semakin banyak warna dalam sebuah kain, semakin detil motifnya, harganya juga semakin mahal,” jelasnya. Beberapa batik yang diambil Indry menonjolkan motif seperti sisik ikan, burung, kerang, sulur-suluran dan bunga, atau rumput laut.

Kawan saya Linda terpesona dengan batik cap bermotif ramai. Tiga warna tumpah di sana, merah, hitam, dan biru. Benar-benar warna norak, bikin mata melek. Batik itu dibandrol dengan harga Rp40.000. Murah!

Sementara saya lebih suka batik bermotif burung yang digores kalem dalam dua warna, hitam dan merah. Harganya juga Rp40.000.

Indry memborong aneka motif batik hari itu. Semua batik tulis. Dia mengambil aneka warna ngejreng seperti hijau, merah, atau biru. Harganya berkisar antara Rp65.000 – Rp95.000. “Nanti batik ini kubawa ke Jakarta, mau kujual ke teman. Kau tahu berapa harga yang ditawarkan di toko batik onlen? Antara Rp200.000-Rp250.000. Bahkan kalau sudah masuk ke mal-mal dan plaza-plaza di Jakarta paling murah tiga empat ratus ribu. ” Saya menggeleng-gelengkan kepala, gumun.

Jauhari menawarkan batik khas Tanjungbumi, batik madura bermotif gentongan. “Kalau sampeyan mau yang bagus, yang di atas ini. Terkenal di mana-mana. Tapi harganya sejuta,” katanya sambil menunjuk langit-langit. Sebuah batik bermotif bunga dan sulur-suluran berwarna coklat, hitam, merah, dan biru tergantung di sana. Begitu khas, tapi kenapa mahal?

“Pembuatannya khusus itu, Mbak. Mesti beberapa kali celup agar warnanya sempurna. kalau sering dipakai dan dicuci, semakin cerah warnanya. Makanya mahal,” jelas lelaki yang juga memiliki usaha jahit pakaian ini.

Linda tertarik dengan sarung dari batik madura. Harganya lumayan murah, antara Rp25.000 – Rp30.000. “Buat siapa, Lin?” tanya saya. “Buatku dong, masak buat suamiku,” katanya terkekeh. Dasar mak-mak, nggak bisa lepas dari sifat narsis!

Selain aneka corak kain batik, di kiosnya yang mungil, Jauhari juga menjual aneka pakaian batik. Mulai kemeja, rok, baju atasan perempuan dan lainnya. Semua nampak indah dan cerah, etnis sekali. Sayang beberapa di antaranya modelnya terlalu kuno dan kaku, tak mengikuti tren masa kini. “Di sini orangnya masih kuno, sukanya model-model begini,” akunya. Padahal pembelinya kan bukan hanya dari Madura, tapi juga kota di Jawa. Sayang sekali!

 

Advertisements