Makanan Khas

Sebelum memulai perjalanan, Kiki menyiapkan bekal buat kami semua. Sekotak maccaroni schotel buatannya dan beberapa air mineral gelasan. Sedang Indry dan Linda membawa biscuit dan permen. “Susah cari makanan di jalan,” alasan mereka.

Memang agak susah jika hendak keliling Madura. Toko atau warung makanan hanya ditemukan di tengah kota. Begitu memasuki perkampungan, jalan raya pedesaan, atau antar kota, susah menemukan warung. Bahkan di kawasan wisata, sulit ditemukan penjual makanan.

Namun di kota besar seperti Surabaya, banyak orang Madura yang berjualan makanan. Di daerahnya sendiri, susah. Ini berhubungan dengan kebiasaan penduduk asli Madura yang tidak suka jajan. Kerap saya temui dalam perjalanan, entah naik kereta api atau bus, penumpang asal Madura dipastikan membawa air minum dan bekal makanan dari rumah.

Usai memborong batik di Pasar Bangkalan, kami berniat melongok ke dalam pasar. Tujuannya membeli buah-buahan dan aneka makanan tradisional. Kiki nyidam sarikaya, Indry dan Linda ingin membeli krupuk singkong. Saya sendiri hendak mencari sirsak dan abu kayu.

Saya sebenarnya alergi dengan penjual asal Madura di pasar. Mereka suka menaikkan harga setinggi langit, memaksa kita berhenti melihat barang jualannya, dan kalau kita tak berminat membelinya, mereka memaksa kita menawar. Bahkan hanya melirik barang jualannya, dianggapnya kita tertarik. Kapok deh.

Pengalaman buruk saya terulang di pasar ini. Kiki dan Indry tertarik dengan setumpukan buah srikaya. “Berapa sekilonya?” tanya mereka.

“Lima belas ribu,” jawab si penjual ketus.

“Sepuluh ribu nggak boleh,” tanya Kiki. Nyidamnya sudah seleher. Menurutnya harga itu kemahalan, sama dengan harga di pasar dekat rumahnya, Pacar Keling.

Setelah tawar menawar yang alot, akhirnya penjual merelakan srikayanya dengan harga sepuluh ribu sekilo. Kiki membeli dua kilogram. Kami pun melanjutkan melihat-lihat. Beberapa meter dari penjual pertama, ada lagi penjual srikaya. Buahnya besar-besar dan bikin ngiler yang melihat. Harganya, Rp 6.000 per kilogram. Ahay!

Saya pun hampir terjerumus saat menawar buah sirsak. Sirsak kecil itu dihargai Rp 10.000. Untung Indry menolong, rupanya dia paham bahasa Madura. Akhirnya saya mendapat sirsak dua kali ukuran sirsak pertama dengan harga Rp 7.000.

“Pokoknya kalau ketemu orang Madura jangan lupa ngomong mattor sakalangkong, kalau nawar bilang aja seghemmi’,” kata Indry. Sedikit-sedikit paham juga dia bahasa Madura, mungkin karena suaminya keturunan Madura.

Tapi apa itu mattor sakalangkong? Rupanya, ucapan terimakasih. Kalau seghemmi’? “selawe,” kata Kiki, yang berarti dua puluh lima. Saya tertawa. Mana ada srikaya sekilo dua puluh lima rupiah, bisa dikira menghina kita.

Keluar dari pasar dengan seabreg gembolan, kami berniat menuju Tanjungbumi. Namun di perjalanan, rencana berubah. Kami hendak singgah di sebuah pantai di  dekat Torean, kemudian menuju ke Slopeng di Sumenep.

Sepanjang perjalanan kami melihat warung yang menjual bebek goreng yang lebih dikenal dengan nama Sinjang. “Mampir nggak ya?” tanya Indry.

‘Masih kenyang,” jawab saya, teringat dua potong maccaroni schotel yang saya santap di rumah Kiki. Kawan lain pun mengaku masih kenyang. Kami berharap menyantap sinjang dalam perjalanan pulang nanti.

Di tengah perjalanan, menjelang kota Pamekasan, perut mulai terasa melilit. Indry pun melirik penjual  rujak di tepi jalan. Matanya mencari-cari mana penjual rujak yang lapaknya bersih dan nyaman dihampiri.

Pilihan jatuh kepada seorang ibu yang sedang melayani seorang ibu juga. Lapaknya bersih walau di pinggir jalan. Kulupan seperti kangkung, taoge, mentimun, juga kedondong, papaya muda, mangga muda, serta bengkoang terletak di tampah besar. Ada juga lontong, dan kerupuk yang menggantung di sudut. Sayang tak ada cingur alias rebusan hidung sapi yang kenyal-kenyal itu.

Rujak Madura berbeda dengan rujak cingur yang biasa saya beli di Surabaya. Petisnya berwarna kecoklatan. Bumbu kacangnya banyak, dan tak memakai rajahan pisang kluthuk, campuran kencur dan daun jeruk purut. Jadi kurang sedap di mulut saya yang lapar rasa ini. Kami memesan empat bungkus untuk dimakan di tempat dan satu bungkus dibawa pulang, plus krupuk kuning yang menggantung satu plastik. Total, kami harus membayar Rp 16.000. Melongo! Iya, melongo saking murahnya.

Pulang dari Madura di malam hari, kami kehabisan bebek goreng sinjang. Akhirnya mampir di warung makan yang menjual bebek goreng biasa, nasi rames atau krawu, dan bakso. Walau kecewa, perut pun kenyang. Lain kali pasti kami kejar si sinjang itu. Pasti!

 

Advertisements