Awalnya saya bingung membaca komik karya Peter Van Dongen ini. Mungkin karena terbiasa membaca novel, sehingga kurang bisa mengapresiasi komik grafis. Mungkin juga karena kisah ini belum berakhir, tapi bersambung ke buku berikutnya, Rampokan Celebes. Namun saya coba ulas sedikit.

Di bagian awal, diperkenalkan 7 tokoh yang mengukir kisah dalam buku ini. Yakni si Johan Knevel, Frits de Zwart, Antonie Van Daalen, Erik Verhagen, Chris Jonker, Bennie Riebeek, dan Lisa Mangar.

Lalu digambarkan kondisi Hindia Belanda (Indonesia) di awal kemerdekaan. Patut dicatat bahwa penggambaran penulis adalah Hindia di mata orang Belanda, penjajah. Cara pandang ini yang harus kita pakai untuk memaknai isi komik ini. Kalau tidak, logika kita akan terbalik.

Komik dibuka dengan kisah kembalinya pasukan Belanda ke Hindia tahun 1946. Dilukiskan Hindia yang tercabik paska pendudukan saudara tua Asia, Jepang. Konon, Belanda datang untuk menegakkan peradaban barat di tengah masyarakat Hindia, untuk mengubah Hindia menjadi surga, dan memberantas virus nasionalisme yang ditularkan Jepang, ‘Asia untuk rakyat Asia’.

Virus ini menurut Belanda telah mengubah pribumi yang damai menjadi para pembunuh. Maka dikirimlah pasukan Belanda ke Hindia, yang terdiri dari tentara sukarela dan para wajib militer. Di antara mereka terdapat Johan Knevel, Belanda totok yang pernah menetap di Celebes; lalu Frits de Zwart, pedagang yang terkena wamil; dan Erik Verhagen, Belanda totok yang besar di perkebunan Jawa.

Gambar apik, rapi, dan detil mengiringi dua kawan –Knevel dan Zwart- mengelilingi Batavia. Mulai dari pelabuhan Tanjung Priok, kampung Cina di Glodok. Detil gambar menunjukkan betapa pasukan gurkha –orang-orang Sikh India- ada di mana-mana, lalu tukang cukur bawah pohon, toko obat ‘Po An Ho. Di sepanjang jalan pribumi berpakaian camping, pengemis menadahkan topi, dan pengamen yang memainkan gamelannya. Hahaha.. eksotis!

Saat singgah di rumah makan sambil minum-minum, Knevel berkisah tentang dongeng yang didengarnya dari pengasuhnya di masa kecil, Babu Ninih. Kisah tentang rampokan tarung macan di Blitar. Delapan macan kumbang dan harimau dilepas dalam sebuah laga, dikelilingi penonton yang dipersenjatai dengan tombak dan lembing.

Ketika Knevel pingsan karena mabuk, Zwart berkenalan dengan Bennie Riebeek yang mengaku wartawan. Riebeek lalu menawari Zwart memasok barang ilegal ke toko Babah Ong.

Pada bab II adegan dibuka dari markas militer Belanda di Batujajar, Bandung. Mayor Antonie Van Daalen cemas karena seorang prajuritnya, Erik Verhagen, tak sampai ke Jawa. Verhagen yang punya hubungan dengan komunis ini dianggapnya desersi. Dia mengeluhkan hal ini kepada bawahannya, Sersan Chris Jonker.

Sementara itu Knevel dan Zwart sedang melakukan konvoi menuju Batujajar. Mereka dihadang hujan deras, jalanan rusak, disuguhi perempuan yang sedang mandi, dan bom tarik peninggalan Jepang yang dipasang gerilyawan Hindia.

Suatu hari Van Daalen menugasi Knevel dan Zwart mengawal Lisa Mangar, gundik sekaligus pembantunya, mencari piringan hitam baru di Pasar Atom. Zwart tak menyiakan kesempatan untuk memasok bensin ilegal ke Ong. Sedang Harwoto, pembantu Ong,  kepergok menyadap pembicaraan rahasia antara Riebeek dan seseorang di rumah Ong. Dia pun dibunuh.

Bab III dibuka dengan larinya Lisa dari pengawalan Knevel dan Zwart. Knevel mengejar Lisa, tapi malah menemukan Verhagen dalam acara penguburan dua gerilyawan. Knevel lari, lalu menemukan Lisa. Mereka bermalam di sebuah gubuk.

Sedang Tuan Ong diperiksa polisi karena kematian pembantunya. Ong menyebut nama Riebeek, orang terakhir yang bersama Harwoto. Dia lalu dibebaskan. Di tokonya, berlangsung keributan yang menuntut balas atas kematian Harwoto.

Sementara Zwart mencari bantuan. Bersama Jonker, keduanya mencari Knevel. Namun hanya menemukan pemakaman dua gerilyawan. Dengan biadab, Jonker menggantung mayat gerilyawan itu dan melemparinya dengan lembing, lalu menangkap rombongan pemakaman dan membawanya ke kota.

Adegan berpindah letika Ong sampai di tokonya, lalu dikeroyok para pekerja. Pada saat itu muncul Riebeek alias Burt Diekker, sang pengkhianat, menyelamatkannya. Dalam kericuhan, Riebeek melarikan diri. Toko Ong meledak karena bensin selundupan milik Zwart. Zwart pun ditangkap.

Di bagian lain, Lisa terpisah dari Knevel karena banjir. Lisa lalu mencari Knevel di sepanjang aliran sungai. Dia ditemukan tentara Van Daalen. Sementara Knevel ditangkap orang Cina pembunuh Harwoto dan Riebeek. Karena mengantongi dokumen Verhagen, Knevel pun dikira Verhagen yang komunis seperti mereka. Ia pun selamat.

Ah, ternyata setelah mengurai kisah ini, saya baru memahami komik Rampokan Jawa ini. Komik ala penguasa kolonial dalam memandang Hindia yang didudukinya. Bahkan sampai sekarang, mengingat Van Dongen menuliskannya sejak 1991 hingga 1998. Versi Indonesianya sendiri baru terbit tahun 2005 lalu.

Yang saya herankan mengapa di masa sekarang masih ada Belanda yang menganggap tujuan mereka menjajah Hindia itu baik, menegakkan peradaban barat. Padahal jelas-jelas mereka mengisap kekayaan negeri permai ini. Belanda yang miskin menjadi kaya berkat perdagangan rempah-rempah, lalu perkebunan dan batubara dari Hindia.

Namun, saya anggap saja si  pembuat komik, Van Dongen, hendak bernostalgia dengan Hindia Mooi, dalam pandangan Nederlandnya. Hahaha..