Ancaman Abrasi Pantai

Sepuluh tahun lalu saya pernah melakukan tur sepanjang pantai utara Madura. Dari timur ke barat, mulai Pantai Lombang, Slopeng, hingga ke Ketapang. Saya teringat sepanjang perjalanan yang menghubungkan  Lombang dan Slopeng, sejauh 20 km, hanya menyaksikan hamparan penambangan batu kapur besar-besaran.

Bukit kapur di kiri saya terbelah, sebagian melompong karena habis dipotong. Ada juga yang separo terpangkas, membentuk bangunan mirip reruntuhan pyramid ala Mesir. Bau kotoran manusia menyeruak ke mana-mana. Rupanya, para penambang membuang hajat sembarangan di tempat terbuka, di sela batu dan pohon yang jarang-jarang.

Akhir Januari kemarin kembali saya menyisir pantai utara Madura, mulai Bangkalan hingga ke Pantai Slopeng. Begitu memasuki Ketapang, lagi-lagi saya melihat penambangan batu kapur.  Gunungan batu kapur kini sudah rata dengan tanah, beberapa di antaranya  menjelma menjadi  lubang menganga. Kulit bumi seperti dikeduk, diambil batunya.

Beberapa truk parkir di sepanjang tepi lubang, siap memuat bata putih yang sudah terpotong rapi. Bata ini  laku dijual sebagai bahan bangunan, menggantikan bata merah. Harga bata putih 10 tahun lalu mencapai Rp 150.000 per 1000 bata. Kini bisa dua kali lipat.

Jika di kanan jalan bukit kapur berubah menjadi lobang penambangan batu kapur, di kiri jalan berjejer truk pengangkut pasir yang ditambang dari pantai. “Wah, orang Madura memang kreatif,” pikir saya. Alam yang susah dan kehidupan yang keras mengajarkan mereka untuk memanfaatkan apa saja yang bernilai ekonomis untuk bertahan hidup.

Setahu saya, tanah di Madura tidaklah subur. Hanya sedikit tanah di bagian timur yang bisa diubah menjadi arela persawahan dan perkebunan tembakau. Itu pun sawah tadah hujan. Sedang mayoritas tanah di Madura hanya bisa ditanami ubi kayu di musim penghujan.

Kerasnya kehidupan ini membuat penduduk Madura kreatif untuk bertahan hidup. Sebagian memilih merantau ke pulau-pulau lain yang dianggapnya subur.  Bisa ke Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. Mereka tak selalu menjadi petani, kebanyakan malah pedagang. Lapangan kerja yang identik dengan ‘kotor’ dan ‘berbahaya’ seperti pemulung dan berdagang barang bekas menjadi keahlian mereka.

Banyak juga perantau Madura yang menjadi tki di Malaysia atau Arab. Di Malaysia, mereka umumnya bekerja di sektor konstruksi dan biasanya berstatus illegal. Di Arab, perempuan Madura menjadi pembantu rumah tangga, sedang yang lelaki menjadi sopir.

Sementara yang bertahan tinggal di pulau ini harus pandai-pandai menyiasati alam. Memanfaatkan apa pun di sekitar mereka, termasuk menjadi penambang pasir di pantai dan batu kapur.
Sayangnya semangat orang Madura menyiasati alam yang keras ini berbuah kerusakan lingkungan. Penambangan pasir lepas pantai menimbulkan abrasi yang parah di pesisir utara Madura. Di Kecamatan Pasean, Pamekasan, misalnya,  penambangan pasir menyebabkan abrasi pantai dan puluhan rumah warga ambruk tahun 2010 lalu. Terjangan ombak membuat tangkis laut yang bersifat semi permanen hancur.

Hal yang sama terjadi di Kecamatan Batumarmar, perbatasan Kabupaten Sampang dan Pamekasan. Karena pasir terus ditambang, maka terjadi pendalaman bibir pantai. Gelombang laut menjadi semakin kuat menghantam tanggul dan tanah di kawasan pemukiman nelayan.

Di Desa Padandang dan Panaongan, Kabupaten Sumenep, abrasi pantai membuat bibir pantai yang dulunya berjarak 30 meter, kini tinggal 5 meter. Kalau penambangan pasir diteruskan, bisa jadi pantai menghilang dan Madura akan terkikis dari utara.

Selain batu putih, pasir pantai utara yang umumnya berwarna putih ternyata memiliki kelebihan dibanding pasir sungai atau gunung. Pasir Madura mengikat lebih sedikit semen, sehingga lebih irit sebagai bahan bagunan. Tak heran jika banyak orang di pulau ini berlomba-lomba mengeduk pasir pantai. Gampang saja, tinggal ambil pasir di pantai tak bertuan, angkut ke truk, dan jual. Satu truk pasir dihargai sekitar Rp 200.000 – Rp 300.000. Kini, pasir sangat dibutuhkan karena pesatnya pembangunan fisik paska pembukaan Jembatan Suramadu.

Ketika abrasi pantai makin menjadi dan berakibat buruk, pemerintah daerah setempat mulai bertindak. Penambang pasir liar ditangkap lalu disuruh menandatangani surat pernyataan untuk tidak menambang pasir lagi. Jika mereka ditangkap kedua kalinya, akan dikenai denda. Jika tertangkap lagi, akan dipenjara.

Bentuk hukuman ini rupanya tidak efektif. Jika serombongan orang ditangkap karena menambang pasir illegal, serombongan penambang baru akan muncul. Begitu seterusnya. Apalagi yang menambang pasir umumnya kurang berpendidikan, menandatangani surat pernyataan tak ada efeknya. Begitu juga dengan sangsi denda. Mereka umumnya miskin, sehingga terpaksa petugas keamanan melepaskan mereka lagi.

Pemerintah kurang menyadari bahwa penambangan pasir pantai dilakukan semata-mata karena alasan ekonomi. Jika hendak melarang penambangan pasir, maka beri mereka alternatif pekerjaan lain. Selain itu perlu ditanamkan kesadaran lingkungan kepada penduduk sekitar.

Untuk menanggulangi abrasi yang makin memburuk, pemda lalu mencanangkan beberapa tindakan. Pertama, jambore mitigasi mangrove. Pemerintah menghidupkan kembali hutan mangrove di kawasan pantai utara, khususnya Kabupaten Pamekasan yang tingkat abrasnya paling parah. Mitigasi mangrove pernah sukses di Pantai Camplong, bagian selatan pulau.

Kedua, program cashew belt (sabuk jambu mete). Ketika mengelilingi Madura kemarin, kami melewati jajaran pohon mete sejak dari Tanjung Bumi, Ketapang, Sampang, Waru, Pamekasan, hingga Sumenep. Umumnya pohon-pohon mete di sini sudah tua umurnya, antara 30-40 tahun. Selain bernilai ekonomis, mete juga dapat menahan abrasi pantai serta cocok ditanam di lahan berkapur seperti Madura.


Advertisements