Mereka perempuan biasa, yang direpotkan dengan sekolah  si upik esok hari atau mantenan si anu malam nanti. Namun alam telah menempa mereka menjadi perempuan luar biasa. Terlalu dini kawin, hamil, dan beranak. Kulit pun mengasap, kasar, hitam, dan mengeriput cepat dimakan cuaca, ditelan kemiskinan, dan dibalut kesederhanaan. Mereka tak kenal pensiun, apalagi menggantungkan hidup pada anak cucu.Dan ketika diterjang bencana, mereka bahu-membahu tegak meneruskan hidup.

Di sebuah angkringan beberapa ratus meter arah utara jalan ringroad utara Kota Jogjakarta, Yu Redjo ramah melayani pelanggannya yang datang sore itu. Wedhang gedang ala Merapi menjadi suguhan favoritnya. Sebagian besar pelanggannya, adalah anak-anak gunung kenalannya di lereng Gunung Merapi. Dulu, untuk menikmati minuman ini, mereka harus berkunjung ke Bebeng, daerah wisata di lereng Merapi. Di sana, dalam dinginnya alam, wedhang gedang hangat sungguh terasa nikmat. Kini, rasa kangen tak perlu diarak terlalu jauh.

Senyum tak putus menghias wajah Yu Redjo. Menutup murung luka hati karena rumah, ternak dan tanahnya dihanguskan letusan dan awan panas Gunung Merapi. Ya, ini letusan keempat yang menimpanya. Letusan terbesar yang membuatnya kehilangan segalanya. Tiga letusan yang dulu, katanya, hanya membuatnya terusir sementara. Menghuni barak pengungsian beberapa waktu. Yang ini, mengubur hartanya, untung  tidak mimpinya.

Awal tahun 90-an, saat pertama mengenal Merapi, saya terkenang keramaian Kinahredjo di  akhir pekan. Puluhan pendaki gunung datang, berbondong menggunakan motor. Mulanya mereka sekedar bermalam, merayakan malam mingguan atau sekedar naik gunung. Kemudian mulai terlibat langsung dengan aktivitas penduduk, membangun komunitas. Mereka membantu membangun pos pendakian, pengadaan pipa air bersih, membantu bibit tanaman, dan lainnya. Bahkan juga memerlukan datang jika ada hajatan di salah satu rumah penduduk.

Saya, satu di antara mereka. mulai menyadari peran dominan para perempuan lereng Merapi. Mereka tak sekedar ibu rumah tangga yang mengurusi rumah dan anak-anaknya, tapi juga istri yang membantu suami menopang ekonomi keluarga. Ekonomi tradisional lereng Gunung Merapi bukanlah pertanian murni. Tak ada sawah di sini. Sayur dan buah hanya ditanam seputar pekarangan rumah. Itu pun  sekedar. Paling hanya pisang, labu siam, terong, tomat, atau cabai. Kalau ada tanah kosong, penduduk lebih suka menanaminya dengan rumput gajah. Beternak dan mencari rumput, menjadi mata pencarian utama.

Angkringan Yu Redjo di Ring Road Utara

Hampir di setiap rumah ada ternak peliharaan, entah kambing atau sapi perah. Dua tiga ekor sapi perah, menjadi sumber keuangan harian keluarga, yang mampu menghasilkan 8-10 liter susu per sapi per  hari. Susu segar ini kemudian ditampung koperasi susu Dusun Kaliadem.

Pernah saya menginap di rumah Yu Redjo, sambil mengamati aktivitas hariannya. Sebelum subuh dia sudah bangun, membawa sabit, menuju hutan terdekat untuk merumput. Setengah enam pagi dia sudah sampai di rumah, membopong sepikulan besar rumput, siap memberi makan ketiga ekor sapinya. Setelah membersihkan rumah, memasak sekedarnya, dia lalu membersihkan kandang dan memerah susu sapi. Sebelum pukul tujuh, susu segar satu ember sudah dikirimnya ke koperasi. Pulang ke rumah, sejumput senyum terselip di bibirnya, sambil memamerkan uang  Rp 20.000 di balik kutang. Berkahnya hari itu.

Ketika matahari mulai menghangat, sekitar pukul 9.00, bersama perempuan Kaliadem lainnya, Yu Redjo tenggelam menambang pasir di Kali Bebeng. Untuk satu truk pasir yang dihasilkannya selama lima hari, dia diupah antara Rp100.000-Rp125.000.

Tengah hari dia beristirahat. Makan, mengurus rumah dan cucunya, lalu mulai menambang lagi menjelang sore. Sementara suaminya lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengurus pekarangan, mencari rumput buat kambing-kambing mereka. Di akhir pekan seperti Sabtu-Minggu, kegiatan menambang pasir berganti menjadi menjaga warung makanan di kawasan wisata Bebeng.  Dia berharap rejeki datang dari para tamu, sambil merehatkan tubuh yang lelah.

Yu Redjo hanyalah satu di antara ratusan perempuan lereng Merapi. Ada Bu Panut, Lek Udi, Bu Pudjo, Ngatiyem, Wati, dan lainnya. Ketika menambang pasir terasa melelahkan, mereka berganti kerja menjadi pengumpul tanaman obat di hutan. Hutan Merapi kaya akan tetumbuhan seperti kina, cabe jawa, sambiloto, pegagan, kayu manis, cengkeh, dan buah pinus. Bahkan jika terpaksa, mereka menjumputi rumput kering dan eidelweis jawa untuk dijadikan suvenir dan dijual kepada pengunjung wisata Merapi.

Walau hidup begitu keras, tak ada persaingan di antara perempuan ini. Mereka justru bahu-membahu, saling memberi informasi jika ada rerumputan baru yang lebih segar, atau tanaman yang laku dijual. Begitu juga jika ada tanaman baru yang laku dijual dan kebetulan ada di sekitar hutan lereng Merapi. Dua minggu sekali mereka mengadakan arisan, sebagai ajang pertemuan sekaligus membahas permasalah aktual Dusun Kaliadem.

Ketika ada sebuah keluarga yang mengadakan hajatan, entah khitanan atau pernikahan, perempuan dusun kembali saling bantu. Ada yang memasak, ada yang menyiapkan perangkat pesta. Mereka pun saling berlomba memberi sumbangan. Terkadang jumlah sumbangan dirasa memberatkan, karena harus berhutang atau menjual kambing. Agar tidak malu dengan tetangga, kata mereka.

***

Ketika Merapi meletus Oktober 2010, kembali Yu Redjo dan penduduk Dusun Kaliadem mengungsi. Setelah berkali-kali pindah ke tempat yang lebih aman, mereka akhirnya terdampar di Balai Desa Sarihardjo, di tepi Jalan Palagan Tentara Pelajar, beberapa ratus meter dari ringroad utara. Bersama ratusan orang, dia dan suaminya tinggal di sana. Ada wajah sedih menggantung di wajahnya, bercampur kepasrahan dan ketegaran hidup, ketika bertemu kami.

Seorang relawan memberi pelatihan kerajinan tangan

“Sudah sering aku mengungsi kalau Merapi meletus, tapi kali beda. ini letusan yang paling parah. Tak tahu aku berapa lama harus tinggal di sini,” katanya membuka percakapan. Yu Redjo terbaring kelelahan, didera diare dan mual-mual. Penyakit ringan yang banyak diderita pengungsi ini, kata dokter yang hari itu bertugas, sebagai tanda stress awal.

Suaminya duduk di samping, di antara gulungan barang bantuan para donator dan sedikit yang sempat diselamatkannya. Beberapa kenalan menengok, memberi semangat. Yu Redjo hanya tersenyum. “Keadaanku baik-baik saja. Aku hanya butuh kegiatan agar tidak menganggur dan banyak pikiran,” keluhnya. Mungkin keluhannya mewakili keluhan ratusan bahkan ribuan pengungsi saat itu.

Beberapa hari kemudian, keinginannya terkabul. Para sukarelawan mulai mengadakan berbagai kegiatan dan pelatihan kepada para pengungsi. Membuat tas, merangkai bunga kertas, menjahit, dan membuat aneka perhiasan dari manik-manik. Yu Redjo dan beberapa perempuan paruh baya nampak kesulitan mengikuti beberapa pelatihan, seperti membuat kerajinan dari manik-manik. Mata yang mulai kabur jadi penghalang. Terbiasa bekerja keras seperti mencari rumput, menambang pasir, kini tiba-tiba bermain dengan jarum dan benang, sungguh terasa menyiksa. Justru mereka nampak riang kalau diminta membantu memasak di dapur umum.

Seorang anak gunung, mantan pendaki yang dulu kerap menyatroni Merapi, memiliki ide. Ferry, nama kawan itu, menyarankan kawan-kawannya untuk membantu memodali setiap pengungsi Merapi asal Kaliadem, agar memiliki pekerjaan selagi menunggu rumah dan tanah mereka dibangun kembali.

Dengan bantuan sedikit uang dan sebuah angkringan dari Ferry dan teman-teman, Yu Redjo dan beberapa pengungsi temannya membuka lapak makanan. Hanya angkringan sederhana, yang menjual makanan kecil seperti mi rebus, gorengan, nasi ala kadar, dan minuman khas Merapi seperti wedhang gedang. Ferry mengundang teman-teman pencinta Merapi datang ke warungnya. Minum wedhang gedang sambil bernostalgia. Dengan cara sederhana itu, satu dua pengungsi Merapi diselamatkan.

Beberapa teman lain meniru usahanya. Ada yang merekrut beberapa pengungsi untuk dipekerjakan pada usaha garmen atau kerajinan. Menyediakan lapangan kerja massal bagi seluruh pengungsi tidaklah mudah. Mengharapkan bantuan pemerintah, lama turunnya. Namun mempekerjakan satu dua orang dan melibatkan banyak usahawan kecil, tentu lebih mungkin dilakukan. Dengan cara ini, warga Jogja membantu warga lain yang terkena musibah. Mereka saling menguatkan. Para perempuan perkasa merapi pun kembali hidup tegak. Jadi, siapa bilang nilai kesetiakawanan  sudah menghilang di abad modern ini ?