Sudah lama saya ingin menulis tentang Papua. Namun rejeki belum menuntun ke sana. Untung saya temukan buku-buku yang mampu membawa saya sejenak mengembara ke sana, menciumi belantara di ujung paling timur Indonesia.

Titisan Bunga Anggrek

Adalah Teweraut, gadis Asmat yang menuntun saya menjelajah lewat buku karangan Ani Sekarningsih, berjudul ‘Namaku Teweraut’. Sebuah novel etnografi terbitan Yayasan Obor pada Juli 2000. Novel yang dibuka dengan kalimat indah,

Namaku Teweraut. Kata orang, artinya Anggrek cantik. Ketika melahirkan aku di bawah pohon bintang, Endew melihat beberapa utas anggrek sedang berbunga lebat.”

Maka dimulailah petualangan itu. Bagaimana si dukun, nDamero Jewetcowut melakukan ritual melindungi bayi Teweraut dari gangguan roh-roh jahil. Bagaimana Endew, ibu Tewe, harus diasingkan ke sebuah pondok darurat, jelang kelahirannya. Pondok yang dibangun ayahnya, nDiwi. karena menurut adat, selama persalinan dan masa nifas, tabu bagi seorang lelaki Asmat mendekati istrinya. Kalau dilanggar, bencana pun menghadang.

 

sampul buku

Lewat mata Teweraut, saya menjelajah hutan rawa-paya yang perawan. Sebuah daerah bernama Ewer, di tepi Sungai Pek yang bermuara di Sungai Asuwet. Asmat, yang berbatasan dengan Pegunungan Jayawijaya di timur laut, Taman Nasional Loretz di barat daya, dan kehidupan sedikit maju para pendatang yang berdiam di muara Sungai Asuwet di tenggara. Sebuah daerah yang kerap diguyur hujan berminggu-minggu sehingga tanahnya berlumpur, hingga jalan berapal mustahil terbangun di situ.

Satu-satunya penghubung Ewer  dengan dunia luar adalah sebuah landasan pacu yang dirintis para misionaris, untuk menerbangkan pesawat-pesawat mereka dari dan ke Asmat. Udara menjadi alternatif mewah keluar dari keterasingan, namun kerap dihantam cuaca tak menentu.

Ada juga Emprit, kapal perintis yang menghubungkan ibukota kecamatan dengan wilayah lain di Papua. Namun Emprit kerap menghilang berbulan-bulan, jika harus masuk dok di Semarang untuk perbaikan.

Lewat kisah Tewe, saya memahami adat Asmat, semisal hubungan antar keluarga, bentuk rumah adat dan aturan di dalamnya. Juga kisah tentang ayahnya yang bernama nDesnam, mantan panglima perang dan menjadi kepala klen. Serta ibunya, Cipcowut yang berpikiran maju. Sebagaimana diungkapkannya :

Aku beruntung lahir dari seorang perempuan yang mengerti arti sekolah bagi seorang gadis. Sekalipun aku tahu pasti, tidak mudah bagi Endew untuk menentang tradisi masyarakat.

Lulus SD, Tewe sempat mengenyam 8 bulan Sekolah Kesejahteraan Keluarga sebelum akhirnya pulang. Keterlambatan kapal perintis selama 6 bulan membawa 9 bahan pokok, membuat Tewe kurang makan dan kembali ke keluarganya.

Pada umur 15 tahun Tewe dijodohkan dengan Akatpis, lelaki gagah kepala dusun cabang sungai besar yang beristri enam orang. Walau menolak, Tewe tak mampu melawan kehendak ayahnya, nDesnam. Bagi ayahnya pernikahan Tewe merupakan simbol kebesaran dan kehormatan keluarga, yang ditandai dengan banyak dan beragamnya mas kawin dari pihak Akatpits.

Indahnya Tradisi Asmat

Daging manusia itu manis dan gurih, Nak. Caranya dengan mendiangkan telapak tangan dan telapak kakinya dengan digantung pada tongkat kaki tiga untuk memusatkan seluruh kegurihan saripatinya.

Inilah budaya mengayau, membunuh musuh, lalu memakan tubuhnya. Budaya yang kerap terekam kuat di otak orang luar tentang Papua di masa lalu, dan khususnya Asmat. Namun benarkan semengerikan itu?

Orang-orang tua dulu yakin, bahwa dengan menghimpun roh-roh koran melalui upacara tonggak leluhur dan memakan daging musuhnya, seseorang merasa yakin mampu menghimpun roh-roh yang banyak itu untuk ketangguhan diri pribadi. Namun sesungguhnya upacaranya sendiri tidak segampang memenggal kepala orang. Harus ada penyebab yang jelas. Harus melalui serangkaian upacara sakral yang panjang, yang intinya adalah pembalasan dendam karena jatuhnya korban pada perang antar kampung.

Kelak, upacara ini dihapuskan karena larangan pemerintah dan rohaniawan yang ketat mengawasi. Namun sangkaan adanya kebiasaan mengayau ini sulit dilenyapkan dalam pola pikir nelayan dan pendatang.

Dengan indah, Ani berkisah tentang mula asal tradisi mengayau itu dan berhubungan dengan ritual mBis, pembuatan patung Asmat yang terkenal itu, lengkap dengan nyanyian sakralnya :

mBis, aduhai sayang, tidurmu dalam gelap di atas kotoran keluang, adik tercinta, di dalam rumah. gelap pekat, mencengkeram menggulungmu dalam kotoran keluang. dalam rumah gelap pekat, tubuhmu bergulung-gulung dengan kotoran keluang, yooo…

Ah, masih banyak lagi keindahan tradisi Asmat yang dikisahkan Ani. Kalau saya ungkapkan semua, jangan-janagn malah membuat Anda malas membaca bukunya. Ha ha ha …

Melihat Dunia

Tewe, nDiwi, Apatkit dan 27 orang Asmat terpilih mewakili misi kebudayaan Asmat ke Eropa. Di bawah asuhan Mama Rin mereka dilatih di Jakarta selama beberapa bulan, untuk mempersiapkan misi ini.

Dari sebuah kampung di rimba yang terpencil, dengan kebutuhan hidup yang sangat sederhana, orang Asmat menjelajah Batavia yang super sibuk dan modern. Hidup menjadi rumit dan melelahkan. Mereka seolah tersesat di rimba keramaian yang memusingkan kepala. Diikat aturan dan kebiasaan baru.

Ketika sudah mulai terbiasa dengan kehidupan ibukota, mereka mulai menjelajah negara Eropa yang jauh lebih maju, tertib, dan terbuka. Lagi, kebingungan terjadi. Semua ini digambarkan dengan sangat detil dan manusiawi oleh penulis. Layaknya film The God Must Be Crazy saja. Walau penggambaran ini tidak untuk menertawakan orang Asmat.

Dalam lawatan ini, terbit tanya Tewe. Apa benar motivasi misi budaya ini untuk menunjukkan kepada dunia tingginya budaya Asmat, atau justru sebaliknya, semata buat tujuan komersil.

Penonton pertunjukan budaya Asmat pun terpecah dua. Mereka yang benar-benar menghargai budaya dan keberadaan orang Asmat secara apa adanya, serta mereka yang menganggap orang Asmat memalukan alias tak beradab.

Namun yang menarik adalah tutur Ani paska misi budaya. Orang Asmat yang telah melihat dunia takkan sama dengan yang selamanya tinggal di rimba tepi sungai Pek. Ada yang hilang dari benak mereka, ada yang kosong dan getir.

Dunia di luar tak selalu cocok buat mereka. Radio berbatre yang mereka bawa sebagai oleh-oleh ternyata segera tak berfungsi ketika kehabisan batre dan tak ada duit membeli batre yang baru. Begitu juga sepeda anak tak bisa digunakan di tanah berlumpur Asmat. Belum lagi efek psikologis yang tak terkatakan.

Di pihak lain, bumi Papua sedang menghadapi eksplorasi besar-besaran dari pemilik modal. Dan orang lokal mirip suku Asmat tak diikutkan dalam eksplorasi dan pembangunan ini. Padahal merekalah yang pertama menerima dampak buruknya.

Walau berakhir tragis dengan kematian Akatpits maupun Tewe, secara keseluruhan Ani berhasil menggambarkan bumi Asmat dengan indah, detil, tanpa dibumbui nada cengeng dan melankolis. Pembaca diajak membaca dengan hati, pikir, tanpa perlu menghakimi siapa yang salah atau benar.

Modernisasi tak bisa ditolak. Bumi kaya sumber daya alam seperti Papua cepat atau lambat akan dijarah pemodal, dan penduduk asli macam orang Asmat akan terkena dampaknya. Diperlukan upaya serius untuk mempersiapkan orang Asmat, baik fisik, mental, secara budaya untuk menyongsong modernisasi yang tak bisa ditolak ini. Juga perlu memberikan pengertian kepada pendatang akan kearifan lokal di sebalik budya Asmat ini.

Sayangnya yang terjadi kini adalah pembangunan menggerus masyarakat adat, lalu orang-orang mirip Asmat terpinggirkan. Kebijaksanaan politik dan ekonomi pemerintah kita memang berat sebelah.

Wokeh, selamat menikmati membaca buku ini. Semoga mendapat manfaat.

Ditulis jelang hari buku sedunia 23 April 2011