Ketiganya luar biasa di mata saya. Muda, bersemangat, dan punya tekad kuat untuk melestarikan seni tradisi. Mereka berusaha sendiri, bahu-membahu dengan rekan seide, tanpa mengharap bantuan pemerintah, dan hasilnya memang nyata. Mereka mampu membangkitkan seni tradisi yang semula nyaris terlupakan, bahkan melestarikannya dengan membuat muda-mudi setempat peduli akan kebudayaan leluhurnya. Berikut sedikit kisah tentang mereka.

Edhie Suranta Surbakti namanya, bertubuh subur, ramah dan rendah hati. Dengan senang hati dia memandu saya mengelilingi kota Kabanjahe, blusukan keluar masuk desa wisata Lingga, padahal saat itu dia sedang sibuk mengelola sebuah warnet baru.

edhie dalam sebuah acara di medan/dok. edhie surbakti

Edhie adalah nara sumber tradisi dan kebudayaan Karo yang menarik. Anak muda ini memiliki koleksi foto-foto lama tentang kebudayaan Karo di masa lalu. Misalnya rumah adat, kebiasaan, perkembangan pakaian perempuan Karo sejak pra kolonial, masa kolonial, hingga merdeka seperti sekarang. Belum lagi foto tradisi awal Karo seperti pemakaian anting, upacara pembakaran mayat, rumah adat lama, dan sebagainya.

“Saya mau menginventarisasikan semua hasil kebudayaan Karo di masa lalu Kak, agar tak dilupakan generasi Karo di masa mendatang,” akunya.

Bukan saja berbentuk foto dan tulisan, inventarisasi ini termasuk mendokumentasikan dalam bentuk video rumah adat lingga, upacara tradisional yang masih digelar saat ini, juga revitalisasi upacara atau tari-tarian lama. Semua dokumentasi ini merupakan bentuk kepeduliannya di dalam Sanggar Ersada, yayasan yang didirikannya.

Bersama Egi Sitepu, Edhie sebelumnya aktif menulis tentang Karo, baik budaya, aktivitas masyarakat Karo maupun hal lain di media digital Sora Sirulo.net. Masih kurang puas,  Edhie juga menyebarkan berita tentang kebudayaan Karo lewat radio yang didirikannya,  Radio Karo Access Global.

Siapakah Edhie?

“Semasa mahasiswa saya malas, tapi waktu pulang kampung justru terpacu memajukan masyarakat Karo,” katanya di perjumpaan pertama saya.

Lajang ini pernah kuliah di Fisika Terapan Universitas Padjajaran. Tak sampai lulus, dia pulang ke kampung halaman dan berkiprah seperti sekarang. Justru akunya, saat di kampung halaman inilah dia terpacu, termotivasi, untuk belajar terus. Tak melulu soal fisika, tapi juga komputer, jaringan, dan budaya.

Pada beberapa kesempatan, Edhie kerap membawa muda-mudi Karo memamerkan tari tradisi di hadapan tamu-tamu asing di sebuah hotel. Di sana, bersama kawan-kawan pemusik, dia mengiringi muda-mudi yang menari lewat Gondang Karo. Edhie juga pernah melatih tentara bermain drama. Nampaknya melestarikan tradisi, sambil terus berkarya buat masyarakat Karo, sudah menjadi pilihan hidup cucu Reno Surbakti ini.

*****

Suatu siang di sebuah warnet, saya berkenalan dengan seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Hitam kulitnya, kasar telapak tangannya. Tak mengesankan dia seorang pencipta alat musik maupun pemusik handal. “Maaf terlambat, ngelas dulu tadi,” katanya kepada Edhie Surbakti, kawannya.

bangun sedang bermain Gondang Karo/foto : dok. bangun tarigan

“Memang tukang las, Bang?” Pertanyaan bodoh yang saya lontarkan selepas menjabat tangannya. Kelak saya tahu dia adalah sedikit etnomusikolog yang konsisten mengabdikan ilmu yang dipelajarinya. Dia terus menggeluti musik tradisi yang tak mampu menghidupinya.

Di saat kawannya sealumni memilih pekerjaan lain yang lebih punya masa depan, Bangun Tarigan justru setia menekuni musik Gondang Karo atau Gondang Lima Sidalinen. Dia tak hanya pandai memainkan, tapi juga menciptakan alat musik.

Lalu bagaimana dia menafkahi dirinya? “Bengkel las,” itu jawabnya. Belakangan, jika harus menyelesaikan alat musik pesanan, dia akan berhari-hari duduk di bengkel lasnya. “Makanya mata saya sering merah dan tangan saya kasar,” akunya.

Bersama Edhie, Bangun juga melakukan kaderisasi musik tradisi ke anak-anak muda. “Di sini aneh, kalau kita melakukan workshop untuk pengenalan musik tradisional, susah untuk mencari yang berminat. Padahal kita bayar peserta workshop, bukannya mereka yang bayar,” keluhnya.

Bisa dimaklumi, musik tradisi kalah pamor dibanding musik modern yang menggunakan drum, gitar, keyboard dan lainnya. Belakangan musik Karo ini kalah dengan Gondang Keyboard yang mampu menirukan suara Gondang Karo. Lebih praktis dan mudah dimainkan, walau sensasinya masih kalah dengan yang asli.

Untuk menarik minat para penerus musik tradisi, Bangun kerap mementaskan Gondang Karo di hotel-hotel, bahkan melakukan show ke luar negeri. Pamor musik tradisi pun naik, semakin banyak orang asing yang suka dengan Gondang Karo. Ironis memang, saat di negeri sendiri tersingkir, justru musik tradisi dihargai di luar negeri.

Nasib Bangun tak lebih baik dibanding musik tradisi yang coba dilestarikannya.  Seniman loyal ini nyaris tak mendapat perhatian pemerintah di daerahnya. Padahal Karo butuh ketrampilan dan tenaganya. Baru Maret 2010 Bangun diberdayakan menjadi guru SMAN SAGI, mengajar mata pelajaran ekstra seni musik, khususnya musik tradisional Karo. Sebentuk penghargaan yang datang terlambat pada alumni etnomusikologi USU ini.

*****

Di suatu senja, saat saya kebingungan mencari Taman Budaya di Medan, sebuah sms masuk. “Letaknya di dekat perguruan tinggi Nomensen, Mbak.” Saya pun melaju, ganti angkot beberapa kali, jalan kaki, hingga memasuki pelataran Taman Budaya. Sepintas, mirip Taman Budaya di Jogjakarta. Namun yang ini lebih terbuka.

kompas.com
thompson dalam acara di danau toba/sumber:kompas.com

Seorang lelaki dengan rambut disanggul, menyambut saya. “Saya Thompson, Mbak.” Sederhana tuturnya, sapanya ramah. Nggak terlihat kalau dia satu di antara seniman Batak yang cukup terkenal. Thompson lalu berkisah tentang Opera Batak yang digelutinya dan PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) yang digarapnya di Siantar sejak 2005.

Opera Batak menggaung di Sumatra Utara sejak 1920-an hingga akhir 1980-an. Seni pertunjukan ini muncul sebagai bentuk transisi budaya dari upaya mempertahankan tradisi dan masuknya pengaruh dari luar. Unsur tradisi dalam Opera Batak dikenal melalui instrumen musikal seperti gondang uning-uningan yang dipadu dengan seruling yang bernada diatonis.

Tarian Batak atau tortor, juga ditemukan dalam Opera Batak. Begitu juga ende, vokal dalam tradisi Batak yang berupa lagu atau nyanyian yang bersifat hiburan dan cerminan untuk berbagai suasana tertentu. Di dalam Opera Batak, lirik-lirik ende terkadang masih disertai dengan pantun-pantun Batak dan perumpamaan yang bernama umpasa dan umpama. Opera ini dicampur folklore atau sejarah batak.

Istilah Opera Batak sendiri dilemparkan oleh Pastor Ompu Bornok Diego Van Den Biggelar ketika menonton pertunjukan keliling tarian serta gendang Batak. Di Eropa, opera adalah sebutan bagi drama yang dinyanyikan dengan gerak tarian. Ada penyatuan  musik, nyanyian, tarian, dan lakon. Namun di dalam Opera Batak, hal ini terpisah.

Pada tahun 2002 dilakukan revitalisasi Opera Batak di Tarutung. Sekitar 20 peserta dilatih dan melahirkan Group Opera Silindung. Sejak saat itu gaung Opera Batak kembali, bahkan TVRI Sumut sempat menayangkan 33 episode Opera Batak Metropolitan.

Siapakah Thompson?

Lelaki muda ini mulanya dikenal sebagai pemain teater. Sejak terbentuknya PLOt, selain menjadi aktor dan sutradara dalam Opera Batak, kerap didapuk menjadi manajer produksi. Untuk itu, dia harus bergerilya mencari dana dan sponsor sebelum pertunjukan, mengatur segala hal yang berkaitan dengan pementasan.

Kata Thompson, ada perbedaan penting antara aktor teater di Medan dan Jawa, Jogjakarta misalnya. “Di sini money oriented. Seorang aktor, walau baru, harus digaji agar rajin berlatih. Beda dengan di Jogja.”

Money oriented ini memberi pengaruh positif, karena membuat sang aktor menjadi bertanggung jawab pada tugas dan perannya. Thompson pun mencanangkan setiap pertunjukan tidak merugi. “Paling tidak bisa membuat pemain Opera Batak survive, walau upahnya tak bisa digunakan untuk membeli rumah.”

Berbagai upaya pun dilakukan lulusan Fakultas Sastra USU ini untuk mengangkat nasib seniman. Misalnya dengan membantu secara finansial seniman Opera Batak yang sudah lanjut usia. Selain itu melakukan promosi yang memadai agar pementasan yang digelarnya mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Yah, bukan masanya nasib seniman teater selalu mengenaskan seperti dulu.

Bertemu langsung dengan ketiganya, dan tak cuma membaca berita atau karyanya saja, membuat saya jadi semakin termotivasi untuk terus menggali budaya nusantara,  mendokumentasikannya, dan menyebarkannya ke masyarakat luas. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau peduli pada budaya leluhur dan nenek moyang?

*diambil dari buku ’30 Hari Keliling Sumatra’