Sanggai la ai sanggai batitu, ngire mandore ngire manditu.  

Ningkinda ai ningkinda batitu, ada mandore ada manditu.

                Angin manakah yang bertiup ini, ia bertiup di sana dan di sini

                 Gadis manakah gadis ini, kadang mau ini dan kadang mau itu

Ah, hati seorang gadis serupa angin. Tak tentu apa maunya. Kadang mau ini dan kadang mau itu. Kadang begini dan kadang begitu. Begitulah yang terbaca oleh orang Bajo dalam sebuah syairnya, melukiskan hati perempuan serupa angin musim timur.

Untuk syair yang indah di atas, saya harus berterimakasih kepada Francois Robert Zacot, seorang antropolog asal Perancis, yang mendedikasikan waktunya dalam hitungan bulan hingga tahun, tinggal dan meneliti kehidupan orang Bajo di  Pulau Nain dan Desa Torosiaje, Sulawesi utara.

Apa yang dilakukan Zacot adalah hal biasa dalam bidang antropologi. Seorang antropolog terbiasa tinggal dengan obyek penelitiannya selama masa tertentu. Yang luar biasa, adalah cara Zacot menuliskan pengalamannya dalam buku ini. Tutur bahasanya begitu personal, mendalam, melibatkan perasaannya, pandangan penduduk lokal, serta dibumbui pemikirannya di setiap bagian yang ingin dibahasnya lebih jauh.

Inilah yang membuat buku ‘Orang Bajo, Suku Pengembara Laut’  menjadi karya luar biasa. Ketika seorang antropolog berhasil memasuki jiwa dan pemikiran obyek yang ditelitinya, dan menuturkannya dalam gaya yang tak menggurui ala ‘orang beradab’ memandang ‘orang tak beradab’. Bagi saya, buku ini mirip masterpiece, walau khalayak kurang menghargainya. Bahkan KPG sebagai pihak penerbit, pernah mengobral buku setebal nyaris 500 halaman dengan harga Rp 10.000.

Siapakah orang Bajo itu? Kabar keberadaan suku ini hanya mengalir dari mulut ke mulut. Konon, suku Bajo berasal dari Sulawesi. Keberadaannya pun sulit ditandai. Mereka hidup mengembara, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Perkampungannya selalu di atas laut.

Dua kali saya pernah menyisir keberadaan suku Bajo dalam perjalanan ke Pulau Komodo dan Flores di tahun 1993 dan 1999. Benar, saya bertemu dengan sedikit dari mereka. Berumah di sebuah perkampungan yang menjorok di atas laut di tepi pulau utama Komodo, juga sepanjang Labuhan Bajo. Namun sedikit interaksi yang mampu saya buat. Mereka banyak menutup diri, sengaja menghindar dari mata umum.

Lewat petualangan Zacot yang dituang dalam buku ini, saya lebih mengenal dan memahami orang Bajo. Keingintahuan saya di masa lalu terjawab sudah. Siapa mereka, bagaimana mereka hidup dan memahami semesta raya, apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka, apa anggapan mereka tentang dunia, semua indah diungkap Zacot dalam bahasa yang mengalir sederhana dan tuntas.

Zacot mampu menghadirkan kisah yang berasal dari perjumpaan pribadi antara masyarakat Bajo dan dirinya berdasarkan rasa kasih dan hormat, sebuah kesetaraan. Inilah cikal bakal yang mempertemukan dua kebudayaan, antara budaya yang dibawanya dari negeri asal dan budaya orang Bajo. Pertemuan yang mewujudkan karya indah ini.

Bagaimana kuatnya ikatan antara Zacot dan orang Bajo, dapat dilihat dari percakapan ini, “Kamu sudah lama sekali pergi,  tetapi seperti baru kemarin. Kamu di sini, kamu bagian dari kami, kamu telah berbagi semuanya dengan kami.” Sebuah percakapan yang dibuat orang bajo 7 tahun paska perjumpaannya yang pertama dengan mereka.

Penerimaan orang Bajo akan Zacot merupakan jalan keberhasilan Zacot mempelajari budaya mereka. Kemampuan seorang antropolog menyesuaikan diri dengan obyek yang ditelitinya, dengan menempatkan mereka sebagai saya, dengan membuka semua pintu pembeda mereka dan saya, tidaklah mudah dan murah. Totalitas Zacot dalam memahami dan mempelajari orang Bajo secara manusiawi, membuat karyanya mendekati apa adanya.

Ah, nampaknya saya sedang terkesima dengan Zacot. Bagaimana dengan orang Bajo sendiri? Dalam buku ini kita bisa mengenal kebiasaan orang Bajo, apa makna laut bagi mereka. Juga dilukiskan kepercayaan, mitos, dan asal mula mereka. Kita bisa mengembara bersama Zacot dan orang Bajo lewat buku, memahami pemikiran mereka, hingga akhirnya timbul hormat dan kagum akan kehidupan mereka.

Apa pendapat mereka tentang perahu yang menjadi rumahnya, sebuah cara hidup khas Bajo yang unik? “Rumah dan perahu itu sama saja. Di rumah atau di perahu kami tidak dapat berjalan. Jadi, kaki-kaki kami hanya terbiasa dengan cara hidup seperti ini. Tapi kami senang hidup begini. Orang-orang di dunia ini berbeda-beda. Apa yang membuatku bahagia berbeda dengan apa yang membuatmu bahagia.”

Lalu apa hubungan antara orang Bajo dan Bugis? “Orang Bugis menjadi kakak laki-laki dan orang Bajo menjadi adik perempuan.” (halaman 77)

Sebuah pernyataan yang mengandung rentetan sejarah yang panjang tentang hubungan persahabatan di antara dua suku di Sulawesi ini.

Seperti Zacot, saya pun merasakan kekhawatiran akan sergapan pengaruh luar, komersialisasi media yang mengancam keberlangsungan dan kesinambungan orang Bajo.  Sebuah keterbiasaan yang lambat laun bakal mematikan keberadaan dan peradaban mereka.

Semoga dengan membaca buku ini, bisa membantu kita memahami orang Bajo dengan baik, sehingga mereka tetap hidup nyaman di ranah ibu pertiwi.

Daya’ Subatang di billa ka santang,

Pa boko kami ka lana aloang

Lamong intangku pasananglakuku

Boe matakualo-aloang

                 Ikan tongkol dimasak dengan santan 

                 Kami bawa ke tempat menangkap ikan

                 Ketika kuteringat kata-kata tunanganku

                 Air mataku menitik alo-aloang 

Advertisements