Gabungan antara pijatan tangan dan kaki ini begitu nikmat rasanya. Bisa ketagihan lho !

Saya tergolong maniak pijat. Dimana pun berada takk pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk pijat, apalagi kalau badan mulai pegal-pegal akibat banyak jalan. Berbagai gaya pijat dengan latar belakang etnis pemijat pernah saya rasakan.

pijat yuuuk

Waktu di Penang, saya pernah merasakan pijat ala Buton. Maklum yang memijat perempuan keturunan Buton. Begitu memegang kaki, tangan si ibu tukang pijat ini serasa mencengkeram. Sakitnya minta ampun, karena tulang kaki saya yang dijepit. Apalagi saat memegang kepala, serasa kepala saya dihantam ribuan palu. Pening deh ! Selesai pijat bukannya segar badan saya, malah berasa amburadul.

Saya juga pernah pijat ala dukun Muna untuk menghilangkan benjolan di kulit perut. Dukun lelaki itu mula-mula menyuruh saya menggerus merica, kemiri, dan batang serai. Bumbu dapur ini kemudian dicampur minyak kelapa lalu dioleskan ke bagian yang sakit. Dia mengurut bagian itu pelan-pelan, lalu menggosok-gosokkan telur ayam kampung ke benjolan tadi. Perut saya seperti perkedel saja baunya. Setelah dirasanya cukup, telur ayam kampong itu lalu dipecahnya. Nampak guratan-guratan garis kemerahan yang dikatakannya biang keladi penyakit saya. Efek pijat ini saya rasakan sesudahnya. Daerah sekitar benjolan menjadi panas, seolah aliran darah di sana menjadi sangat lancar. Sayangnya benjolan tidak hilang, karena itu tumor ganas. Hehe..

Pernah juga saya dipijat orang Osing di Banyuwangi. Mampus tubuh dibuatnya. Mungkin itu yang terakhir kali saya pijat dengan orang Osing, karena sakitnya ruarrr biasa, bahkan hingga beberapa hari kemudian. Tubuh saya mula-mula dilaburi minyak. Lalu digosok dari ujung mata kaki, punggung, dan leher dengan tangannya yang luar biasa cepatnya. Saya sampai menjerit kesakitan. Sepertinya tukang pijat itu mau menciptakan medan listrik di tubuh saya. Seram !

Ada juga pijat Jawa yang biasa kita kenal. Mula-mula tubuh dipijat untuk menghilangkan kekakuan. Lalu diolesi minyak dan dipijat lagi untuk mengendurkan otot-otot yang kaku dan terasa sakit. Pijatan seperti ini biasa disebut pijat penghilang rasa capek. Bisa membuat orang tertidur saking enaknya dielus-elus. Kalau tak beruntung, dan mayoritas begitu, pijat ala Jawa hanya sekejap terasa nikmatnya. Tapi kalau tukang pijatnya mahir, benar-benar ringan tubuh kita dibuat setelahnya.

Minggu pagi ini saya mencoba pijat Madura di Kalianget. Wow, inilah pijat paling enak yang pernah saya rasakan seumur hidup. Nyata juga khasiatnya. Ibu yang memijat saya umurnya baru 56 tahun, dan dia sudah memijat selama lebih 40 tahun. Jam terbangnya benar-benar tinggi. Apa saja kenikmatan yang dibaginya ke tubuh saya?

Mula-mula dia menginjak-nginjak tubuh saya dengan kedua kakinya. Mulai dari ujung jari kaki sampai ke punggung, bahkan pundak. Walau tubuhnya lebih besar dari saya, namun saya tak merasa kesakitan. Justru nikmat dan enak yang saya rasakan. Dia menginjak-nginjak dari kaki kiri dulu, baru kanan. Di akhir injakan, dia berhenti di ujung paha selama lima menit. Begitu injakan dihentikan, ada udara panas yang mengalir di bagian kaki yang diinjak tadi. Benar-benar panas rasanya. Kaki saya seperti di-charge saja.

Puas dengan urusan injak-menginjak, dia lalu mengolesi tubuh saya dengan minyak, lalu mulai mengurutnya. Mulai dari ujung mata kaki, naik ke betis, paha, pantat, pinggang, punggung, pundak, hingga berakhir di ujung pergelangan tangan. Wow, urutannya begitu terasa. Dia segera tahu bagian mana yang sakit, mana yang nggak beres. Kebetulan punggung saya memang problem, terlalu banyak duduk dan membawa rangsel berat saat bepergian. Dia mengulang urutan di punggung hingga tiga kali, hingga rasa sakitnya berkurang. Pijatan kemudian diulangnya dengan menggunakan injakan telapak kaki. Rasanya, wow ! Mungkin lebih nikmat dari orgasme, haha..

Lepas punggung, dia menyuruh saya berbaring dan mengurut kaki, perut, dada, baru kepala. Lagi-lagi saat mengurut perut saya, dia langsung tahu ada yang tak beres. Saya memang gampang sembelit kalau lagi melakukan perjalanan. Tangannya ditekan ke bagian perut yang paling sakit tadi selama beberapa menit, lalu dilepaskan. Lagi-lagi hawa panas menjalar ke seluruh perut. Saya jadi berpikir apakah dia menggunakan tenaga dalam ya? Untuk urusan pijat terlentang ini, jelas nggak ada bonus injakan kaki, hehe..

Setelah perut, ganti bagian kepala saya yang diurut. Ibu ini pake acara memelintir kepala ke kiri dan kanan saja. “Lemas saja, nggak usah mikir macam-macam,” perintahnya. Saya menurut. Lalu, “Krekkk !” Rasanya, wooooow… Kalau bukan ahlinya jangan deh coba-coba, bisa-bisa salah urat dan nggak bisa balik itu kepala hehe..

Total pemijatan berlangsung sekitar dua jam. Lepas dipijat, dia menawarkan mengoles lulur di seluruh tubuh saya. Biar harum dan segar badan saya, katanya. Setelah itu saya dilarang langsung mandi. “Tunggu paling tidak setengah jam, agar tak jadi penyakit,” nasihatnya. Nurut aja ah, biar selamat kata saya. Tahu nggak berapa ongkosnya? Rp 30 ribu saja. Wah, tahu begini saya akan mencari tukang pijat orang Madura saja. Sudah enak, wangi pula tubuh dibuatnya. Hehehe..

Advertisements