Ini kisah tentang bumi Lorosae dan suka dukanya, tentang sebuah negara yang mulai tumbuh dan memapankan dirinya dengan segala anekdotnya.

Tiga minggu setelah kedatangan kami ke Dili, mesin dan peralatan bengkel yang dibeli dari Indonesia baru tiba di pelabuhan. Namun peralatan dalam dua kontainer besar yang dikapalkan dari Pelabuhan Perak Surabaya itu belum boleh dibongkar, menunggu ijin dan pemeriksaan surat dari pabean Timor Leste. Berbagai usaha kemudian dilakukan oleh John, bos muda,  dan kawan-kawannya untuk mempercepat proses pembongkaran ini. John ingin bengkel barunya segera dibuka, sehingga bisnisnya segera menghasilkan uang.

john dan seorang kawan
John dan seorang kawan

Dua kontainer besar itu sebetulnya tak hanya berisi mesin dan peralatan bengkel, tapi juga barang dagangan bengkel yang dipersiapkan untuk toko onderdil mobil nantinya. Semua barang ditaksir bernilai hampir Rp 500 juta. Jika mengikuti prosedur, John harus  menunjukkan fraktur pembelian semua barang kepada pihak pabean. Petugas lalu menetapkan pajak sebesar 10 persen dari fraktur pembelian ini. Setelah John melunasi pajak, baru kontainer boleh dibongkar. Itupun setelah melalui beberapa meja dan tanda tangan.

Minimnya pengalaman John di bidang bisnis, membuat pemuda berumur 25 tahun ini menuruti cara ayahnya, Om Fran, untuk segera mengeluarkan barang dari pabean dengan cara ilegal. Menurut cerita mereka yang kenal Om Fran, sebelum kemerdekaan Timor Leste,  Om Frans adalah seorang kontraktor yang sukses. Namun kesuksesannya memborong proyek jalan dari pemerintah Indonesia dilakukan dengan cara licik dan hitam. Berbulan-bulan dia membawa pekerjanya ke hutan-hutan dan gunung untuk membuat jalan. Namun ketika jalan telah selesai dan uang proyek telah dibayar, Om Frans tak jua membayar upah pekerjanya. Hal ini membuat banyak pekerjanya lari karena tak tahan.

Hari itu Om Fran mengusulkan untuk memalsu fraktur pembelian, sehingga jumlah uang yang dikeluarkan lebih kecil. Cara menyuap pegawai pabean tak bisa dilakukan, karena petugas pabean anti suap. Maka dibuatlah fraktur pembelian kedua dengan total harga tinggal sepertiga fraktur pembelian pertama. Setelah dihitung, pajak yang dikeluarkan sekitar 8-9 ribu USD. Om Fran nampak tak senang dengan hal ini. Dia lalu meminta bantuan pekerjanya, A Hong, untuk mengatasi masalah ini. A Hong, keturunan Cina berkewarganegaraan Timor Leste ini dikenal memiliki jaringan yang kuat dengan orang pemerintah. Cina miskin ini juga dikenal ulet, pandai bergaul, dan gampang mengulurkan bantuan. Maka kini taktik A Hong yang digunakan. Mula-mula A Hong menghubungi beberapa teman sepermainannya di pabean untuk dimintai bantuan. Kepala pabean dibujuknya dengan janji mobilnya akan dicat ulang oleh bengkel kami. Kepala pabean ini lalu dia undang datang ke bengkel, berjumpa dengan John dan Om Fran, bahkan dijamu makan. Kepala Pabean lalu memberi usul bagaimana caranya agar kontainer cepat dibongkar tanpa masalah.

Di malam pelepasan kontainer, John, A Hong, dan beberapa kawan membawa beberapa kardus bir. “Untuk apa?” tanya seorang kawan. “Untuk memuluskan usaha pembongkaran kontainer,” jawab A Hong sambil tersenyum nakal.

Beberapa kawan lalu bercerita. Malam itu A Hong menraktir semua penjaga pabean dengan bir, mengajaknya minum sampai mabuk. Dengan cara itu, mereka mudah membubuhkan tanda tangan untuk melepaskan kontainer.

Tengah hari keesokan harinya, telepon genggam John berdering. Dia nampak  berteriak suka cita. Tak lama kemudian dia sibuk memerintahkan anak buahnya untuk bersiap-siap di pelabuhan, menunggu kontainer dibongkar. Di siang terik itu kawan-kawan kami dijemur di pelabuhan selama berjam-jam. Jam tiga siang dua buah kontainer tiba di bengkel kami. Kami pun sibuk membuka, membongkar, dan mengangkuti barang-barang di dalamnya dan memindahkannya ke dalam rumah. Selama seminggu kami memiliki banyak pekerjaan. Memasang alat-alat bengkel, menyiapkan toko, menghitung harga setiap jenis barang yang akan dijual.

Sebulan tinggal di Dili, bengkel dan toko akhirnya dibuka, namun masalah tidak hilang begitu saja. Beberapa kali saya melihat kepala pabean mondar-mandir di bengkel kami, sambil menengok mobilnya yang sedang dicat. Mungkin dia mengagumi bentuk mobilnya yang nampak kinclong sekarang. Setelah mobil kinclongnya dicat pun dia masih sering datang. Minta tune up mesinlah, isi olilah, tentu saja dengan gratis. Terakhir dia datang setelah mobilnya mendapat kecelakaan, ditabrak mobil lain dari belakang. Nampaknya servis yang diminta dari John adalah servis seumur hidup, jasa dari mengeluarkan kontainer dulu.

Siasat bir ternyata juga ampuh digunakan untuk mempercepat perpanjangan visa kami. Saat itu John membawa kami ke perbatasan, untuk memperpanjang visa turis sekaligus menjemput Om Fran dan kawannya. Hanya empat orang yang dibawanya, dan  sekardus bir. Sampai di perbatasan, Saya dan tiga kawan segera menyeberang untuk memperpanjang visa. John lalu menjemput Om Fran dan kawannya. Sebagai ucapan terima kasih, John hendak memberi amplop berisi uang kepada polisi perbatasan TL. Namun mereka menolak dengan tegas. Begitu John menawarkan sekardus bir VB, polisi itu menyambutnya dengan gembira. “Oh kalau itu boleh, terimakasih ya,” kata salah seorang dari mereka.

Dua hari kemudian, saat John membawa kawan-kawan kami yang hendak memperpanjang visa, sikap polisi perbatasan menjadi lebih ramah. Berkat sekardus bir tentunya.