Sudah lama saya dengar Surabaya punya hutan mangrove, tak jauh dari tengah kota. Namun perjalanan ke sana kerap tertunda karena berbagai alasan. Paska mengunjungi Taman Wisata Alam mangrove di Muara Angke yang lumayan mahal, diikuti kunjungan ke kawasan mangrove pantai selatan di Samas, Jogjakarta, niat saya menjenguk mangrove kota sendiri semakin bulat. Sekedar tahu, membandingkan, dan bisa berbagi kisah.

Pagi tadi, berbarengan dengan matahari terbit, meuncurlah saya dan ketiga teman menuju kawasan mangrove di Wonorejo. Kami menuju ke STIKOM, melalui gang kampus itu hingga melewati gedung IPH, markas taksi Orenz, lurus melaju di jalan beraspal, terus melalui jalan tanah ala offroad yang digenangi air, bekas hujan beberapa malam lalu.

Plank ‘Ekowisata Mangrove’ membentang di mata, gubuk-gubuk pemacing dan warung sesekali nampang, hingga akhirnya mencapai ‘Dermaga Wisata’. Dua kedai penjual makanan menyambut di kanan jalan. Perahu-perahu yang bisa disewa masih dalam persiapan. Sebuah papan bertulis ‘Dewasa Rp 25.000,  Anak Rp 15.000’. Sayang, masih terlalu pagi buat berperahu. Sedikit siang mungkin jika pengunjung banyak, perahu rela membelah air.

Kami tak sendiri. Di sana ada beberapa pasang pengendara sepeda balap, seorang malah masih bocah. “Nggak capek bersepeda ke sini, Dik?” tanya saya takjub, mengingat jalan masuk ke tempat wisata lumayan jauh dan bergelombang.

“Biasa saja,” jawabnya malu-malu.

Paska menyeruput kopi pertama, memberi salam tiga ekor kera di dermaga, kami pun bergerak. Sejenak melalui jalan tanah, sebelum mengikuti trek dari kayu yang dibuat oleh penyelenggara kawasan wisata. Nikmat juga. Mendengar celoteh pertama burung, melihat hewan-hewan kecil seperti ikan mirip kutuk, kadal, kepiting berkaki biru. Juga aneka buah dan bebungaan.

Ekowisata Mangrove Wonorejo (EWM) dikelola oleh Lembaga Ekowisata Wonorejo dan Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM) Kecamatan Rungkut. Wisata mangrove ini menjual rehabilitasi, edukasi, dan rekreasi. Begitu kata brosur.

Pagi itu kami sebagai pengunjung yang datang ke sini tak dikenai bea masuk, hanya  diminta ongkos parkir kendaraan. Yang berperahu saja yang mesti bayar ongkos sewa perahu. Ajaib! benar, ajaib jika saya bandingkan dengan pengalaman masuk Taman Wisata Alam Muara Angke di Jakarta. Bea masuknya Rp 10.000, dan jika membawa kamera dikenai lagi tariff Rp 500.000. Ajajajaja…

Kawasan EWM nyaris belum tersentuh. Alami. Setidaknya ada 187 jenis burung menghuni kawasan ini. Selain itu mudah ditemui monyet jenis laut atau monyet berekor panjang yang jinak dan tidak suka mengganggu. Memandang mangrove di Wonorejo pagi ini, saya harap kawasan ini tidak menjadi terlalu komersil sehingga tujuan pelestarian dan edukasinya tak terganggu. Ya, sebagai Arek Suroboyo bangga juga saya melihat kota saya masih menyisakan hutan ala pedalaman. Benar, bangga!

Advertisements