Selama ini saya begitu terhipnotis dengan perjalanan keluar kampung halaman, sehingga melupakan indahnya kampung sendiri. Benar. Saya terpukau ketika melawat ke Maluku,  Sumatra, Kalimantan, Flores, atau Jawa bagian Barat. Ketika seorang kawan menawarkan perjalanan singkat ke Wonosalam, Jombang, setengah ragu saya terima ajakannya.

Di penghujung April Tinta mengajak saya mengunjungi temannya yang sedang melakukan program anak kota saba desa, mirip pendidikan lingkungan di Wonosalam. Kebetulan temannya aktif di lsm lokal, Ekoton.  Sepintas saya dengar ceritanya bahwa akan diadakan tanam pohon kemiri di hutan desa itu esok hari. Serupa program konservasi air. Wah, kedengarannya maut sekali! Ingatan saya pun melayang ke Cijapun, sebuah pedalaman di selatan Sukabumi, tempat seorang kawan menggarap tanah kritis berbukit-bukit seluas 40 ha. Kebetulan di Cijapun juga banyak pohon kemiri. Ah, saya jadi ingin membandingkan.

Sudah sore sekali ketika kami tiba di Terminal Bungurasih. Setelah naik bus yang ternyata patas  bertarif Rp 20.000 (kemahalan, biasanya hanya Rp 6000), akhirnya kami turun di Mojoagung lebih pukul tujuh malam. Dua kawan Tinta datang menjemput dengan dua motor. Maka kami pun melaju, membelah dusun yang di kanan-kirinya hutan, menuju Desa Panglungan. Malam yang gelap, ditambah rintik hujan, membuat pemandangan terhalang. Yang saya rasakan hanya, kami menuju wilayah berbukit-bukit, mungkin mendaki lereng gunung, karena udara dingin menusuk kulit. Kelak saya tahu kalau desa yang kami tuju berada di lereng Gunung Anjasmoro.

Tiba di tempat, saya baru paham kalau kawan-kawan Ecoton sedang mengadakan kegiatan dengan kawan Rotrex untuk melakukan penghijauan di dua desa, Beji dan Mandiro esok pagi. Saya tak hendak mencampuri urusan mereka, dan lebih suka menghabiskan malam di markas Ecoton, tepat di seberang villa, dan ngobrol dengan beberapa kawan aktivis lingkungan.

Nama Wonosalam bukanlah asing buat saya. Itu daerah penghasil durian yang terkenal di Jawa Timur. Tapi Wonosalam lebih dari itu. Dalam bukunya Kepulauan Nusantara, Alfred Russel Wallace menyebut-nyebut Wonosalam dalam pengembaraannya tiga bulan ke Jawa, pada July-Oktober 1861. Wallace segera terkesan dengan daerah yang digambarkannya berada pada ketinggian 1000 kaki dari permukaan laut, yang harus  melalui hutan lebat menuju ke sana. Wonosalam pada saat itu adalah daerah burung-burungan, dan paling terkenal adalah merak Jawa. Wonosalam di masa Wallace dikelilingi perkebunan kopi, rumpun bambu, dan rumput kasar.

Malam itu Amir, yang menjadi penggerak Ecoton menjelaskan bahwa Wonosalam itu unik. Setiap desa memiliki potensi yang menonjol dan berbeda. Ada desa yang terkenal dengan ternak ayamnya, ada yang menghasilkan durian, kopi, coklat, atau lainnya.

 Pagi saya buktikan. Ketika matahari mulai terbit, saya lihat pohon cengkeh ada di mana-mana. Sayang, hujan yang kepanjangan membuat cengkeh enggan berbunga. Tapi kami sempat sarapan buah coklat. Di musim yang salah mangsa ala climate change ini, gagal panen terjadi di seantero negeri, termasuk Wonosalam. “Hanya kopi dan coklat yang berhasil berbuah, serta sedikit pohon durian,” jelas Rizka, si peneliti Ecoton.

Menghantar mereka yang menanam pohon saat itu, tahulah saya bahwa revitalisasi hutan dengan tanaman penumbuh air terus dilakukan lsm setempat dan penduduk desa. Mereka mulai menyadari fungsi hutan bagi desa mereka dan mengimpikan ada merak Jawa seperti masa Wallace dulu. Setidaknya ada 45 jenis tanaman yang menjadi penyimpan air, seperti bendo, cembirit, aren, gondang, kayu bulu, kemiri, mindi, dan suren.

Memasuki hutan di kawasan Beji hari itu saya temukan beberapa tumbuhan primer. Hutan di sini mirip hutan larangan. Beberapa pohonnya berumur puluhan tahun. “Sempat ada acara tebang menebang di sini. Untung warga segera menyadari kekeliruan ini,” tambah Amir, ketika kami melewati beberapa mata air yang sempat diselamatkan. Suasana singup membuat hutan ini benar nyaris angker. Kata penduduk setempat memang begitu.

Lain lagi ketika kami menuju hutan di kawasan Desa Mandiro. Hampir semua tumbuhan disanasengaja ditanam. Kesadaran warga Mandiro begitu tinggi untuk mengembalikan fungsi hutan seluas 6 ha itu. Di tengah hujan yang mengguyur siang itu, acara tanam menanam kemiri dan aneka jenis pohon terus berlangsung.

Ketika orang rajin menanam, saya lebih suka mengamati pengambil rumput. Wonosalam juga memiliki sentra sapi perah. Sayang, harga susu sapi murni ini begitu murah, Rp 3000 per  liter. Padahal kalau sudah diolah menjadi susu bubuk, harganya bisa belasan kali lipat. Kaya juga pemilik pabrik susu instan itu.

Sempat saya amati kandang-kandang ayam menghampar di areal kebun jagung. Kata Pak Har, produk ayam potong di Wonosalam mencapai 3 ton per hari. Dan kotoran ayam menjadi pupuk bagi ladang jagung. Dengan begitu, tak ada yang benar-benar menjadi limbah.

Jelang orang pulang, saya sempatkan belanja kopi. Bukan biji kopi yang terbaik, karena bentuknya sangat lembut. Harganya Rp 20.000 per kilogram. Ah, saya tak peduli. Setidaknya saya bisa mencicipi kopi lokal. Tak tahu saya apakah ini kopi yang dikisahkan Wallace dulu. kalau iya, wow!

Advertisements