Aih.. saya sudah malas nulis, mirip enggan campur renggang. Namun si Mak Gaul ajak menantang. Bukan lewat latah novel Blackbook-nya yang sudah saya baca penggalan awalnya tahun lalu, bukan! Novel yang kelam, bikin yang membaca  seperti saya belum-belum sudah muram duluan. Apalagi saya kurang bisa menghayati zat psikotropika. Hiks..

Namun, awal Maret 2010 ada sebuah cerpen menggelitik yang ditulisnya. Dialog dengan Si Butut namanya. Cerpen yang ratingnya saat itu menduduki posisi tertinggi di Kompasiana.

Dialog dengan Si Butut berkisah tentang percakapan seorang pemilik HP dengan HP bututnya. Percakapan yang berkaitan dengan ego dan eksistensi si pemilik HP dalam sebuah jejaring sosial yang konon bernama fesbuk. Saya cuplik saja teguran si HP,

“Aku setuju kalau kamu bilang kamu tidak terobsesi dengan Facebook. Masalahmu lebih dari sekedar itu. Kurasa kamu terobsesi ingin mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekitarmu. Kamu ingin dilihat dan dipandang sukses, walaupun kamu belum ada apa-apanya. Jadi satu-satunya jalan, kamu manfaatkan status di Facebook untuk menaikkan harga diri dan gengsi kamu. Kadang kamu ngomongin mobil kamu dengan kedok kamu seolah-olah mengeluh kalau mobilmu sedang rusak. Kadang kamu ngomongin kerjaan kamu yang super sibuk dan berhubungan dengan orang-orang penting dengan kedok seolah-olah kamu capek banget kerja seperti itu setiap hari. Kadang kamu ngomongin rumah kamu yang asri dan luas dengan kedok seolah-olah kamu kesepian berada di rumah seluas ini. Hahahaa…aku tahu persis kamu cuma mau memperlihatkan pada seribu dua ratus temanmu di Facebook kalau kamu punya mobil baru, punya pekerjaan bagus dan punya rumah besar. Ya kan?”

 

Tak penting saya mempermasalahkan isinya sekarang. Saya lebih suka mengamati kejelian penulis dalam mengamati segala hal di sekitarnya. Pengamatan yang tajam, dituangkan dalam kisah sederhana dan ringan, bernada humor pula. Dialek ‘loe gue’ jadi penanda bahwa kejadian ini berlangsung di kota besar. Metropop gitu lho!

Tak sedang membandingkan, saya pernah membaca cerpen John Updike, cerpen yang ditulisnya tahun 1970 dan terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan media Amrik saat itu. Judulnya ‘Christmas’s Gift’, berkisah tentang seorang ayah yang membelikan hadiah buat putra satu-satunya. Gaya tutur Updike begitu dingin, sinis, dengan latar belakang kondisi manusia metropolis ala Amrik yang kental. Pada akhir kisah tahulah saya si ayah telah bercerai dengan istrinya. Olalala…!

***

Metropop identik dengan tema-tema citylife yang ringan. Penggemarnya tentu saja makhluk perkotaan atau mereka yang memimpikan hidup di perkotaan. Awal 2005, ada novel metropop yang menarik perhatian saya. Sophie Kinsela penulisnya, dengan bukunya ‘Shopaholic’. Tema buku SK berkisah tentang perempuan lajang perkotaan, sukses, mandiri, cantik, tapi selalu bermasalah dengan cinta, dan memiliki kebiasaan hidup boros. Tema yang sangat membumi untuk melukiskan perempuan perkotaan masa kini. Novel ini laris manis, apalagi selalu berakhir dengan happy ending. Seolah mampu menampung kegelisahan makhluk perkotaan.

Di Indonesia, kita juga punya Alberthiene Endah dengan novel-novel bertema serupa. AE, yang saya kenal ketika sama-sama bekerja di Femina, pribadi yang dinamis dan sangat mengota. Novel-novelnya merupakan gabungan pengalaman dan fantasinya. Kisah perempuan lajang yang sukses karir dan mendambakan cinta, lalu berakhir dengan bahagia ketika menemukan semua yang dipinta. Sangat AE. Ada yang menggolongkan karya SK atau AE ini bergenre chick lit, yang membidik pembaca jelang umur 20-30an. Novel yang sekali baca ini dianggap mampu melampiaskan impian pembacanya, sekaligus menghibur dan membahagiakan mereka. Tema yang ringan, kontekstual, dibalut optimisme, membuat penggemarnya pun membludak.

Kawan saya Mak Gaul, saya pikir juga memiliki kecenderungan metropop yang kuat. Dalam serial Resep Si Onis misalnya, dia gapai mengolah problem Onis dalam pertemanan makhluk metropolis abad 21, dalam dialog-dialog yang segar, ringan, dan humoris. Tinggal sedikit polesan, jadilah.

Ada sebagian orang yang menganggap sebelah mata tema metropop. Bagi saya itu soal pilihan, kecenderungan, dan habitat. Tergantung bagaimana menempatkannya saja. Karena, penggemar karya ‘casual ala fashion’ ini lumayan banyak. Bahkan keponakan kawan saya Miagina di Ternate, Ayu, sudah mulai menikmati teen lit dan chick lit. Padahal umurnya baru 11 tahun, kelas 5 SD. Wah.. nampaknya penggemar metropop bakal meluas, seiring dengan makin kompleksnya problematika kota besar. Yang penting, apa pun yang ditulis, penyajiannya enak. Biar cuma masakan berbahan tempe dan daun pepaya, kalau olah bumbunya oke, rasanya pun akan oke. Aduduhai..